
“Jadi apa yang kalian dapat?” Aditia dan yang lain sedang berkumpul di markas ghaib, mereka akan membicarakan apa yang di dapat.
“Aku sudah mengumpulkan data dari keluarga Amanda ini, mereka sebenarnya dulu berasal dari keluarga yang cukup berada, tapi sayang ketika ayahnya hilang di laut, kehidupan keluarga mereka morat-marit. Ibunya bertanggung jawab pada semua biaya pendidikan anak-anaknya. Dia bekerja banting tulang agar anak sulungnya bisa kuliah, sayang anak itu tidak kuliah dengan baik dan tidak kunjung lulus.” Hartino menjelaskan yang dia dapatkan.
“Aku dan Jarni juga berkeliling ke tetangga tempat mereka tinggal, sebenarnya mereka tiggal di rumah itu belum terlalu lama, katanya dulu mereka tinggal di daerah lain dengan rumah yang sangat besar, tapi seperti yang dikatakan Hartino bahwa ayahnya meninggal dunia dan itu membuat keuangan keluarga mereka berantakan.
Tapi tidak ada yang berbeda dari keluarga itu Dit, semuanya seperti biasa saja. Ibunya bekerja serabutan, pekerjaan utamanya adalah cuci gosok di tempat orang, lalu kadang ikut membantu memasak di rumah tetangga yang hajatan, kadang membantu bebersih juga di rumah orang. Ibunya sangat pekerja keras.”
“Lalu bagaimana dengan Amanda? Kita sudah dengar tentang kakak dan ibunya, bagaimana dengan anak itu?” Aditia bertanya.
“Dia anak yang baik, dia bekerja , tidak seperti kakaknya yang kuliah, sepertinya karena tidak ada uang untuk kuliah makanya adiknya bekerja, sedang kakaknya yang kuliah. Amanda anak yang sangat baik, berbakti pada ibunya, beberapa hari sebelum ibunya meninggal Amanda yang menjaga ibunya, jika harus bekerja, Amandam menitip pada tetangga karena kakaknya tidak ada di rumah, beberapa tetangga mencemooh kakaknya, katanya dia tidak peduli pada keluarga itu.”
“Tapi yang kita lihat beda Nding, Alka menawarkan pekerjaan padanya, karena dia terlihat bersemangat mencari kerja.”
“Oh soal itu, berarti benar kata tetangga, kalau ada keributan yang terjadi pada saat hari kematian ibunya, katanya saat kakaknya pulang dan berkata menyesal pada ibunya, Amanda berteriak-teriak, dia mengumpat kakaknya dan melempar uang serta kalung, katanya kakaknya meminta itu sebelum ibunya meninggal, lalu kakaknya meminta maaf.
Mungkin sejak kematian ibu mereka, kakaknya Amanda jadi sadar, karena kejadian yang traumatis, biasanya seorang manusia jadi lebih mampu melihat hal buruk dalam dirinya, yang mungkin sebelum ini dia tidak mampu lihat.”
“Kalau begitu, kita terima saja ya, dia bekerja di perusahaan kita, coba saja dari lini terbawah, kalau memang dia memang niat kerja, pasti mau dengan tawaran kita.”
“Lini terdasar?” Ganding bertanya.
“Ya, Cleaning Services.”
“Tapi dia pernah menjadi mahasiswa Dit, apa tidak sebaiknya jabatan lain?” Hartino terlihat keberatan.
“Tidak, aku setuju dengan Aditia Har, kalau dia niat bekerja dan telah sadar bahwa dia memiliki tanggung jawab kepada adiknya, dia akan menerima pekerjaan apapun yang halal, kita tes dia selama tiga bulan saja, habis itu cari jabatan yang cocok untuknya, sesuai dengan jurusan yang dia ambil di kampusnya, kalau dia sabar dan tekun, aku akan bantu bayar kuliahnya.” Ganding justru setuju pada usulan Aditia.
“Apa itiu tidak terlalu kejam?” Hartino masih sangsi.
“Kalau tidak kejam, namanya bukan tes, tapi bantuan sosial!” Aditia meledek Hartino yang ternyata memiliki hati sangat lembut, padahal selama ini selalu terlihat gahar.
“Yasudah terserah kalianlah.” Hartino akhirnya menyerah.
...
“Sorry ya, gue udah susahin lu.” Amanda meminta maaf pada teman yang kamat kosnya dia tumpangi.
“Ngapain minta maaf? Elu bantu bayar kostan kok, ibu kos juga nggak keberatan. Jadi santai ajalah.” Temannya Amanda itu memang baik dan pengertian, mereka juga dua orang anak muda yang ulet dalam bekerja.
“Makasih ya, nggak semua orang baik kayak lu.”
“Makanya beruntung lu dapet temen kayak gue.” Temannya Amanda bercanda dengan meninggikan dirinya hanya agar Amanda tidak terlalu memikirkan budi yang sudah diberikan oleh temannya itu.
“Yaudah, gue mandi dulu ya.” Manda lalu ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu.
Sementara temannya masih menonton TV di kamar.
__ADS_1
Manda masuk kamar mandi dan menutup pintunya, dia sudah mengambil handuk dan baju, karena tidak tinggal sendiri, Amanda tahu diri, dia akan bersikap sesantun mungkin agar temannya tidak terusik dengan kehadirannya.
Manda membuat bajunya, lalu setelah semua baju ditanggalkan, Amanda mulai menyiram wajahnay terlebih dahulu, saat dia menyiram wajahnya, dia merasa ada hembusan angin yang terasa dari tengkuknya.
Amanda reflek melihat ke arah belakang, tidak ada apa-apa di sana.
Manda mulai merinding, tapi dia melanjutkan mandinya, mulai menyiram tubuhnya, dia terus fokus menyiram tubuhnya, mandi sudah selesai, dia lalu memakai handuk dan lanjut sikat gigi, saat menyikat giginya dia melihat ke arah kaca gantung yang menempel di dinding, kaca itu bagian bawahnya untuk menaruh pasta gigi, sikat gigi, sabun mandi.
Amanda fokus melihat ke arah kaca hingga tiba-tiba dia berteriak. Temannya lalu mengetuk pintu kamar mandi, Manda gemetar, hingga sesaat membeku, yang dia lihat di kaca sudah hilang, seiring dengan ketukan yang dilakukan oleh temannya.
Manda membuka pintu kamar mandi dan melihat temannya khawatir, dia membuat wajahnya sedatar mungkin.
“Sorry, tadi sikat gigi gue jatuh, gue kaget jadinay reflek teriak, kaget ya?” Manda berusaha tidak terlihat takut.
“Oh, kirain elu jatuh, soalnya tadi teriaknya kenceng banget padahal air kran masih nyala, suara lu ampe kedengaran ke luar.”
“Sorry ya.”
“Nggak apa Man, udah pake baju dulu deh, abis itu istirahat, hari ini kita capek banget kan.”
“Iya, makasih ya.” Amanda yang tadinya berniat untuk pakai baju di kamar mandi, buru-buru keluar dari kamar mandi dan memutuskan pakai baju di kamar saja, tapi tentu tidak bertelanjang bulat di hadapan temannya. Walau sama-sama perempuan, tetap saja mereka belum sedekat itu.
Manda dan temannya lalu tidur di kasur yang sama, tanpa ranjang, televisi masih menyala, Amanda tertidur duluan, sementara temannya masih menonton televisi.
“Man, sebelum tidur, itu kalungnya di kedepanin dulu, semalem elu ngigo tuh, gue pikir kenapa, tahunya elu kayak kecekek gitu, karena kalungnya kelilit ke belakang leher, jadinya ketat di bagian depan.” Temannya berkata.
“Iya, kemarin emang terasa kecekek, untuk elu bangunin.”
Tidak lama kemudian mereka terlelap.
Malam semakin larut, Amanda dan temannya sudah sangat nyenyak, kamar mereka sengaja dimatikan lampunya, televisi juga sudah dimatikan.
Suasananya begitu sunyi, tapi ada suara yang aneh, suara dari gaun yang diseret, semakin lama, suara itu semakin mendekat.
Suara itu bahkan sekarang ada di dalam kamar kos teman Amanda, tanpa Amanda dan temannya sadari, ada sosok perempuan yang sedang berjalan mengelilingi kasur mereka, walau kasur itu menempel pada tembok dan temannya Manda ada di sisi dinding, tapi sosok perempuan itu bisa berjalan mengelilingi mereka, karena tubuhnya tembus tembok, dia terus mengelilingi tubuh Manda dan temannya yang sedang tertidur lelap.
“Manda, bangun Nak.” Ibunya Manda membangunkan anaknya.”
Manda yang masih setengah sadar, akhirnya terbangun.
“Ibu, udah jam berapa emang sekarang?” Manda bertanya.
“Udah pagi, yuk bangun, mandi trus sarapan, udah ibu siapin sarapannya.” Ibunya Manda terlihat keluar dari kamar mereka.
Manda bangun lalu bergegas mengikuti ibunya ke dapur.
“Masak apa, Bu?”
__ADS_1
“Masak nasi goreng aja ya, yang gampang.” Ibunya berkata tanpa menoleh.
“Boleh, Manda mandi dulu ya.”
“Iya, bangunkan kakakmu sana, biar dia sarapan juga.”
“Iya Bu.” Manda lalu ke kamar kakaknya, dia melihat kakaknya masih tidur.
“Kak bangun, ibu bilang sarapan.” Manda berteriak, kakaknya bangun dan melihat ke arah Manda.
“Ibu udah nggak ada, Manda!” Kakaknya tiba-tiba berteriak dengan sangat lantang, Manda terkejut.
“A-a-apa maksudmu!” Manda hendak marah dan bingung, kenapa kakaknya bisa berkata seperti itu.
“Kak, Ibu ada di dapur kok, jangan ngo ... ngo ....” Manda baru tersadar bahwa benar ibunya telah tiada, walau dia tidak melihat pemakamannya karena pingsan, tapi dia ingat ibuhnya dibawa pakai keranda.
Manda lalu berlari ke dapur, ibunya masih di sana, dia sedang memasak membelakangi Manda.
“Ibu ....” Manda memanggil dengan hati-hati, bingung itu siapa yang ada di dapur.
“Kakakmu sudah bangun?” Ibunya bertanya masih dengan posisi membelakangi Amanda.
“Sudah Bu, ibu ... coba lihat Manda.” Manda berkata lagi perlahan.
“Ibu kan lagi goreng nasi, kamu mandi sana.”
“Ibu, Manda mohon lihat ke arah Manda.” Manda kali ini memohon, ibunya lalu berhenti menggoreng nasi, terlihat dari gerakan tangannya yang berhenti.
“Amanda mau liat ibu?” Ibunya bertanya, nadanya kali ini lebih dingin dari sebelumnya.
“Iya, Manda mau lihat ibu.” Manda masih berada di belakang ibunya, dia menangis karena takut dan juga berharap, bahwa kematian ibunya hanyalah mimpi belaka.
“Baiklah Nak.” Ibunya lalu perlahan membalik badannya, Manda melihat dari samping, lalu perlahan wajah itu semakin jelas karena menghadap ke arah Amanda.
Amanda terjatuh dan tidak mampu berteriak, karena apa yang dilihatnya sungguh mengerikan.
Manda melihat wajah ibunya menghitam, seperti gosong, Manda jatuh tapi tetap tidak kehilangan kesadaran, dia memperhatikan ibunya dan menyadari, bahwa perlahan tubuh ibunya ikut menghitam.
Ibunya lalu bicara dengan suara yang parau. "Sakit Manda ... tolong ibu, sakit ... panas, tolong Manda!" Ibunya berusaha mendekat, Manda akhirnya mampu berteriak, tidak dapat dipungkiei bahwa ibunya terlihat mengerikan.
Saat Manda berteriak, lagi-lagi temannya menggoncangkan tubuh Manda.
"Man! Bangun! Bangun Man." Temannya berhasil membangunkan Manda.
"Gue liat ibu kesakitan, gue liat ibu gosong mukas sama badannya, gue harus tolong ibu." Manda yang terbangun langsung terisak dan berkata begitu.
Temannya bingung dan menarik kesimpulan bahwa Manda masih berduka.
__ADS_1
Padahal tadi, temannya lihat Manda seperti tercekik kalung lagi, kalung ketat pada bagian depan leher Manda, mungkin karena tidurnya berganti arah, makanya kalung itu terlilit dengan kencang.
Walau kejadian seperti ini jarang terjadi.