
“Her, itu apa yang di belakang Nola?” Winda terduduk karena kaget.
“Bola api, kenapa ada bola api dibelakang Nola?”
“Bola api itu bisanya adalah media perang ilmu, bisa jadi juga kiriman santet atau pelet, apakah ada yang mengincar Nola?” Samidi bertanya pada Winda.
“Mengincar? Tidak tahu, tapi kami bukan Nola bukan seseorang yang menyebalkan, dia orang baik dan tidak macam-macam orangnya, semua orang bsia jadi punya musuh, tapi sampai mengirim santet atau pelet sih nggak mungkin.” Winda menampik kemungkinan yang disampaikan Samidi.
[Win, kamu di mana?] Nola mengirim pesan lagi.
“Nola kirim pesan lagi, aku harus gimana?” Winda bertanya.
“Bentar deh, tadi fotonya gimana?” Heru mengambil telepon genggam Winda, dia melihat dan memastikan posisi Nola, “dia ada di sini Win.” Heru menunjuk tempat Nola berada, itu hanya beda dua langkah dari Winda.
“Trus aku harus gimana, kita ada di tempat yang sama tapi ....”
“Di dimensi yang berbeda.” Heru melanjutkan.
“Kirim fotomu ke Nola, kasih tahu dia keadaan yang sebenarnya, tapi tanya dulu, apakah dia sadar kalau di diikuti oleh bola api?” Samidi memberi saran. Winda lalu mengirim pesan bertanya apakah Nola tahu kalau dia diikuti bola api.
[Hah, bola api? Aku tidak diikuti bola api, tapi aku bersama Bobby dan teman-teman Bobby]. Nola membalas pesan Winda.
“Dia bilang begini.” Winda menunjukan pesan yang Nola kirim.
“Berarti Bola api itu menipu mata Nola, mereka berwujud manusia, makanya Nola tidak takut, bilan padanay tentang dia yang terjebak di dimensi yang berbeda, jangan beritahu yang lain kalau dia sudah tahu terjebak di dunia lain, bilang saja agar yang lain tidak ketakutan, karena Nola ditipu oleh mereka, kita tipu balik melalui Nola.” Samidi kembali memberi saran.
“Kau yakin kalau bola api itu jahat, siapa tahu bola api itu baik. Menemani Nola agar bisa menemukan jalan keluar.” Winda mencoba mencari kemungkinan lain.
“Bola api itu refleksi kemarahan, jadi tidak mungkin mereka ingin menyelamatkan Nola, justru mereka ingin Nola terjebak di sana.” Samidi membantahnya, Winda jadi yakin kalau bola api itu jahat.
[Nol, lihat foto ini, aku juga ada tepat di tempat kau berdiri, tapi ... kita tidak bisa saling bertemu dan melihat, itu artinya ... kita berada di dimensi yang berbeda.] Winda mengirim foto di mana dia berada dan menamakan posisi dengan Nola.
Nola begitu menerima pesan itu langsung lemas, dia juga menerima pesan lagi dari Winda yang mengatakan bahwa Nola tidak boleh mengatakan pada Bobby dan teman-temannya bahwa mereka berada di dimensi yang berbeda, bahwa mereka terjebak di dimensi ghaib dibawa oleh bus hantu itu.
“Bob, kita sururi jalan ini saja ya, temanku tidak bisa menjemput kita.” Nola berkata dan memang menutupi dari semua orang kalau mereka sebenarnya terjebak di dimensi yang lain. Nola tidak mau mengikuti perkataan Winda yang meminta Nola masuk lagi ke bus atau masuk lagi ke hutan agar ketemu portalnya, Nola yakin kalau dia susuri jalan ini, dia akan menemukan portalnya, pintu di mana dia bisa kembali ke dunianya.
“Ayuk.” Bobby kembali mengulurkan tangan dan Nola menyambut uluran tangan Bobby, sebenarnya ini adalah kali pertama Nola begitu terbuka pada seorang lawan jenis, Arif saja sulit menembus pertahanan Nola, walau mereka cukup lama dekat, tapi Nola tidak kunjung menunjukan ketertarikan, tapi pada Bobby, Nola begitu terbuka, dia tidak memebrikan pertahanan sekuat pada Arif, apa karena mereka berada di nasib yang sama, makanya Nola bisa seterbuka ini.
Mereka mulai jalan lagi, Bobby tetap menggenggam Nola. Mereka menyusuri jalan, cukup lama berlari dan akhirnya menemukan salah satu bangunan.
“Ini bangunan apa ya?” Nola bingung.
“Ini fakultas Ilmu kedokteran Nol, kok kamu bingung?” Bobby heran kenapa Nola tidak sadar fakultas apa ini.
“Hah? kok bangunannya beda, maksudku seharusnya gedung pertama adalah bukan fakultas Kedokteran tapi Fakultas ....” Nola lupa, dia berusaha mengingat, tapi dia yakin bukan fakultas ini.
“Udah jangan banyak mikir, ayo kita masuk, aku akan telepon yang keluargaku, ini kali pertama kami bisa kembali ke gedung ini dan keluar dari bus itu, aku ingin telepon ibuku.”
“Hah? telepon pakai apa?” Nola bertanya.
“Telepon umum di kampus ini.”
“Hah? kamu kalau mau telepon pakai hpku aja, ini.” Nola memberikan telepon genggamnya, Bobby bingung karena tidak mengerti, tapi dia tetap menerima HP nola dan bingung.
“Gimana cara pakainya?”
__ADS_1
“Oh ya kekunci ya, bentar aku buka, kasih tahu aku nomor HP keluargamu.” Nola meminta nomor telepon keluarga Bobby dulu, ternyata Bobby memberitahu nomor telepon rumah, Nola tetap memencet nomornya dan memberikan teleponnya pada Bobby.
Bobby mengambil telepon itu dan ....
“Kenapa? kok dilempar HPnya?” Nola mengambil hpnya dan melihat, ternyata layarnya retak dan teleponnya mati.
“Panas, panas sekali teleponmu itu.” Bobby menjawab dan memegang pipinya.
“Hah? enggak kok, tuh kan mati, kita jadi nggak bisa hubungi yang lain deh.” Nola kesal tapi tidak bermaksud memarahi Bobby karena dia terlihat sangat kesakitan.
“Nol, itu apa sih aneh, kok malah kebakar pipiku, kamu tuh main santet atau dukun atau apa sih, kok punya benda aneh kayak gitu.” Pada jaman itu memang sudah ada HP, tapi tidak secanggih jaman ini, karena HP pada jaman itu juga tidak semua orang punya dan telepon umum masih jadi primadona, karena dalam pemikiran Bobby saat ini masih tahun 2005.
“Ayolah, cepet kita cari telepon umum, aku mau dijemput oleh keluargaku.” Bobby mengulurkan tangan lagi dan Nola kembali menyambut uluran tangan itu.
Bobby menarik Nola, saat mereka memasuk gedung, bau melati menyeruak.
“Bob, bau melati ini.” Nola memberitahu, yang lain juga sebenarnya mencium bau itu tanpa perlu diberitahu.
“Itu ada orang, yuk kita samperin.” Bobby dengan percaya diri ingin mendekati seseorang yang sedang duduk di dibangku taman di gedung itu, entah kenapa Nola merasa aneh, karena gedung itu terasa kosong dan dingin.
“Mbak maaf mau tanya, ini satpam masih ada nggak ya? saya mau melapor, kami ini orang hilang.” Bobby berkata pada orang yang sedang duduk di taman itu.
Tapi tidak digubrik, orang itu hanya diam saja, tidak menoleh sedikitpun, sisi kanan wanita ini saja yang terlihat oleh semua orang.
“Mbak!” Bobby sedikit mengencangkan suaranya.
“Kalian mau kemana sih?” Wanita itu akhirnya menjawab dengan suara yang serak, tapi itu semua tidak membuat Bobby dan yang lain ngeri, mereka justru lebih ngeri saat wanita itu akhirnay menoleh dan memperlihatkan sisi kiri wajah dan seluruh tubuhnya, wajahnya hancur, tak bersisa pada sisi kiri, dan tangannya bahkan tidak utuh lagi, begitu juga dengan kakinya.
Bobby buru-buru menarik Nola dan yang lain ikut lari, mereka masuk ke ruangan di dalam gedung itu.
“Bob, ada satu hal yang kalian belum tahu sebenarnya, maaf aku menyembunyikannya karena temanku Winda yang tadi aku hubungi dengan HP yang rusak tadi itu, bilang bahwa aku tidak boleh beritahu kalian, takut kalian ketakutan, tapi sepertinya aku harus jujur.”
“Ini soal apa Nol?” Bobby bingung.
“Ini soal ... kita, kita tidak dimensi manusia, kita berada di dimensi ghaib, dibawa oleh bus itu, Winda bilang kita harus masuk bus itu kembali dan memaksa supirnya untuk putar balik agar dikembalikan ke dunia nyata, atau masuk ke hutan.
Temanku Arif juga hilang, dia hilang saat ikut mencariku, dia hilang di hutan, kata Winda, kalau aku tidak mau ke bus, aku harus masuk ke hutan dan mencari Arif, karena mungkin Arif juga seperti kita terjebak di dimensi ghaib.
Tadi aku takut untuk kembali ke bus maupun ke hutan karena takut kita akan berputar terus dan kembali ke bus lagi. Jadi aku tidak beritahu soal dimensi ghaib dan juga soal Arif.” Nola merasa bersamah karena tidak jujur.
“Kau percaya pada temanmu Nol?” Bobby tidak marah, dia justru menyangkal perkataan Winda.
“Aku percaya padanya, di dunia ini, satu-satunya yang aku percaya adalah Winda.” Nola berkata dengan yakin.
“Aku tidak, karena ini duniaku, lihat, ini fakultasnya, tadi kita hanya ketemu setan, karena ini malam hari, nggak heran juga kalau tidak ada satpam di sini, kita temukan telepon umum, lalu hubungi keluarga kami, kita akan selamat Nol, aku akan antar kau ke keluargamu, itu yang aku yakini.”
“Bob, tapi tadi Nola mengirimkan fotonya padaku, dia berdiri tepat di tempatku berdiri pada waktu yang sama, tapi kami saling tidak bisa melihat. Aku ingin tunjukan fotonya tapi HPku kan rusak karena tadi kau lempar.”
“Nol, terserah kau percaya yang mana, aku atau temanmu, tapi tujuan aku dan temanmu sama, menyelamatkan kita semua, keluar dari labirin ini.” Bobby kembali hendak menyusuri gedung mencari telepon umum.
Nola ikut saja dulu, karena dia tidak bisa menampik, bahwa tujuan Bobby baik, makanya siapapun yang benar, tujuannya tetaplah baik.
Tapi kenapa Nola tidak memikirkan Arif yang saat ini bahkan berjuang sendirian, karena dia tidak tahu kalau Arif bersama Melati, Nola seperti tidak terlalu peduli dengan nasib Arif, padahal Arif hilang karena mencarinya, dia malah egois tetap menyusuri jalan mencari jalan keluar bersama Bobby.
“Nol, itu dia telepon umumnya, cepat!” Bobby senang karena mereka menemukan telepon umum dengan box berwarna biru, khas telepon umum pada jaman itu.
__ADS_1
Nola tertawa, “Masih bisa dipake nggak sih itu? lagian apa kalian punya koin?” Nola bertanya.
Begitu sampai di telepon umum, Bobby merogoh sakunya, dia mengeluarkan koin, lalu memasukkan koin itu ke tempat koin pada telepon umum, dia memencet nomor tapi ... tidak tersambung, tak ada bunyi sama sekali.
“Gimana?” Rendi bertanya.
“Nggak ada bunyi, apa rusak ya?” Bobby heran.
“Ya nggak ada bunyilah Bob, ini tahun berapa sih masih ada telepon umum!” Nola kesal karena di zamannya tidak ada telepon umum lagi, adapun tidak terpakai dan mungkin belum sempat di cabut oleh pemerintah setempat.
“Ya ini tahun 2005 lah Nol! Masih ada telepon umum makanya, emang di fakultasmu tak ada ya?” Bobby berkata, dia mulai muncur dan lemas.
“Kau kenapa?” Bobby heran karena Nola mundur dan jatuh terduduk.
“Kau bilang ini tahun berapa?” Nola bertanya lagi, air matanya tidak bisa dia bendung.
“2005!” Bobby dan yang lain serempak berkata.
Nola benar-benar lemas, karena dia baru sadar, kalau teman yang sedari tadi bersamanya adalah orang yang terjebak di bus itu dari tahun 2005, Nola menangis dalam diam, kalau orang-orang ini terjebak dari tahun 2005 dan tidak bisa kembali ke dunia mereka, lalu bagaimana dengannya, yang baru saja terjebak, apakah dia kan terjebak selamanya juga?” Nola menangis tak bersuara, tapi airmatanya tidak bisa dia tahan.
“Ayo cepet, kita harus cari telepon umum lain.” Bobby menarik tangan Nola dan menyeretnya ikut, dalam pikirannya Nola hanya sedang linglung dan ketakutan.
“Ada orang lagi tuh Bob.” Rendi melihat orang lain yang berjalan di kegelapan, tapi yang lain waspada, takut kalau itu bukan orang lagi.
“Perhatiin lagi, itu orang bukan?” Mita mengingatkan.
“Bobby mengangguk, mereka bersembunyi dulu dibalik tembok, untuk memastikan bahwa itu orang atau bukan.
Saat semakin dekat, ternyata itu adalah orang, karena memakai seragam satpam, tanpa ragu Bobby menarik Nola dan yang lain ikut, dia menghadang satpam itu untuk minta tolong.
“Pak tolong kami Pak, kami orang hilang, Pak tolong hubungi keluarga kami.” Bobby berkata dengan buru-buru dan pengharapan yang tinggi dapat segera mengakhiri semua ini.
Satpam itu diam, dia hanya menatap lurus kedepan dengan senternya.
“Pak!” Bobby memanggil lagi, satpam itu tidak menggubris, dia lalu hanya berjalan dan melewati Bobby dan teman-temannya saja, saat Bobby dan teman-temannya sudah dilewati, mereka mencoba mengejar, tapi tidak jadi, karena ... begitu punggung satpam itu terlihat, ternyata punggungnya sudah terkoyak, tidak hanya punggung, kepala bagian belakang juga sama, sudah hancur, seperti orang yang kecelakaan dan terlindas truk kontainer, sangat hancur tubuh bagian belakangnya.
“Setan lagi Bob.” Mita berkata dengan lemas.
Dititik ini Nola bahkan tak peduli apa yang dia lihat barusan, karena dia masih mencoba mencerna tentang orang yang menarik tangannya ini, dia adalah orang dari tahun 2005 yang tidak sadar terjebak selama ini.
Bobby kembali berlari masuk ke dalam gedung, dia menarik tangan Nola dan Nola tetap membiarkannya saja tangannya ditarik oleh Bobby.
...
“Sekarang banget Dit?” Ganding bertanya.
“Iya, aku denger suara dari dalam.” Aditia terbangun, mereka baru tidur berberapa jam, ini juga sudah sangat larut malam.
“Suara apa Dit?”
“Beragam, ada yang minta tolong, ada yang mengeram, ada yang berteriak tak jelas, ramai.” Dari luar gerbang Aditia berdiri dan melihat ke arah balik gerbang.
“Yaudah aku bangunin yang lain ya?” Ganding lalu balik ke angkot mereka hendak membangungkan semua orang, karena kalau Aditia bilang sekarang, pasti intuisinya mengatakan bahwa ada yang tidak beres di dalam.
Aditia memejamkan matanya, dia melihat seorang wanita sedang ditarik-tarik oleh sesosok pria yang seluruh tubuhnya mengobarkan api, selain itu di belakang wanita itu, dia melihat ada beberapa sosok lain juga yang mengobarkan api di seluruh tubuhnya.
__ADS_1
“Dendam ....” Aditia berkata dengan sangat khawatir.