Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 111 : Hartino 5


__ADS_3

Pak Mulyana dan Hartino kembali melalui dua pohon yang dijadikan portal untuk masuk dimensi lain, begitu keluar bertepatan dengan azan maghrib berkumandang, maka Pak Dirga merasa lega, dia tidak perlu takut sahabatnya kenapa-kenapa.


“Kamu Hartino kan?”


“Iya Pak.” Hartino menjawab pertanyaan Dirga.


“Yaudah yuk, kita harus segera menemui ibumu.” Lalu mereka bertiga kembali ke kantor angkot Mulyana.


Begitu sudah dekat dengan angkot, ibunya Har berlari, dia memeluk anaknya dengan sangat erat sambil menciumnya, dia juga menangis karena bahagia, anaknya telah kembali, dia tidak dapat berfikir apa masih bisa menjalani hidup jika Hartino tidak ditemukan.


“Ketemu di mana Pak?”


“Bu, sebaiknya kita pergi dari sini dulu, ini sudah maghrib, kita solat dulu baru akan saya jelaskan semua.”


“Kalau begitu, mari kita ke rumah saya Pak.” Mamanya Har menawarkan untuk datang ke rumahnya.”


“Apa tidak menganggu, bagaimana dengan papanya Har?” tanya Dirga.


“Saya sudah berpisah dengan papanya Har, kami hanya tinggal berdua, jadi tidak ada masalah, lagian kit ini beramai-ramai jadi tidak akan menimbulkan fitnah.” Mamanya Har mengerti kekhawatiran Dirga dan Mulyana.


“Baik kalau begitu.” mereka berkendara ke ruma Hartino, hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai rumah.


Begitu sampai, mamanya Har mengantar Har untuk ganti baju, lalu makan, sementara tamunya dijamu dengan makanan serta kopi dan makanan ringan oleh pembantu di rumah itu, sedang mamanya Har juga ganti baju. Setelah selesai akhirnya mereka berkumpul di ruang tamu, pintu dibiarkan terbuka lebar dan semua lampu menyala, maklum omongan tetangg lebih menyakitkan dibanding dengan kenyataan bahwa mamanya Har adalah janda.


Kopi menemani obrolan mereka, semua orang sudah kenyang, tadi sengaja mamanya Har meninggalkan tamunya untuk makan berdua saja agar tidak sungkan sedang mamanya Har dan Har makan bersama. Sekarang mereka menikmati kopi dan makanan ringan yang sudah sejak tadi disiapkan.


“Kalau mau makan apa lagi, kasih tahu ya Pak, nanti kita belikan.”


“Bu, sudah cukup Alhamdulillah, terima kasih sudah diberikan tempat untuk solat, makan dan istirahat.” Dirga menjawab, sementara Mulyana hanya menyeruput kopinya saja.


“Baiklah kita akan mulai pada Hartino dulu ya, gimana Bu?” Mulyana berkata.


“Baiklah Pak, saya hanya ingin mengetahui apa yang terjadi.”


“Har bagaimana dia membuatmu akhirnya setuju masuk ke dunia itu?” Mulyana mulai bertanya.


“Waktu aku berada di belakang mama, aku melihat seorang anak kecil, dia berlari kea rah dalam hutan tapi arah berlawanan, aku bilang pada mama begini, Ma ada anak kecil, dia kayaknya tersesat, Har kejar dia dulu ya, mama menjawab iya, lalu Har kejar dia, melewati dua pohon lalu semua gelap, udara terasa pengap dan hutan seperti berkabut, lalu dari jauh aku melihat sumur, anak kecil yang Har kejar naik ke sumur, Har kejar dia mau tangkep biar nggak nyebur, tapi dia keburu nyebur, abis itu Har takut karena dia minta tolong, Har nggak berani nyebur juga, jadi Har ngumpet, tapi anak itu minta tolong terus pas Har ngelongok ke sumur, anak itu berubah menjadi menakutkan, tubuhnya menghitam, matanya putih semua dan rambutnya perlahan terbakar, Har takut, akhirnya Har ngumpet, sampai akhirnya Bapak datang jemput Har.” Har menunjuk Mulyana.


“Jadi apa yang terjadi dengan Har Pak?” Mamanay bertanya.


“Bu, apakah ada yang pernah meminta popok kain Har, tetangga, saudara atau kerabat lainnya?”


“Popok kain? maksudnya popok yang buat kotoran Har saat dia masih bayi?” mamanya bertanya.


“Iya betul yang itu.”


“Ada, dulu adik sepupuku pernah minta untuk anaknya yang baru lahir, dia kebetulan dari keluarga yang tidak mampu. Jadi aku berikan padanya karena dia meminta, aku juga memberikan beberapa baju bayi Har.”


“Apakah kalian saat ini sedang dalam pertengkaran?” tanya Mulyana lagi.


“Pertengkaran? tidak, saya tidak berterngkar dengan sepupu saya itu.” Mamanya Har bingung.


“Baiklah, saya akan menceritakan kejadiannya, siapa tahu ibu bisa memperkirakan siapa yang melakukannya.


Pertama, dia tidak akan pernah bermimpi itu lagi, karena dia sudah terlepas dari santet.”


“Astagfirullah! Har disantet? sepupus saya tidak mungkin santet Har, dia tidak punya cukup uang untuk membayar dukun, kami tidak punya masalah, ditambah aku juga rutin memberikan uang untuk kebutuhan sehari-hari sepupuku itu, tidak mungkin dia melakukannya. “


“Tapi itu kenyataannya, Har sedang disantet, pasti orang dekat karena dia menggunakan popok kain bekas Har untuk melakukannya.”


“Jadi perempuan yang menyeret Har itu yang hendak menyantetnya?” mamanya Har bertanya.

__ADS_1


“Bukan, dia justru melindungi Har.”


“Hah? maksudnya?” Mamanya bingung.


“Dia membawa Har jauh dari rumah ini pada jam yang sama setiap malam melalui mimpi, itu bukan mimpi, Har memang dibawa olehnya ke alam lain, setiap malam, karena pada jam dia diseret itu, santet kiriman sedang mampir ke rumah kalian, aku melihat sisa api di genteng rumah ini tadi saat masuk.”


“Astaga! ini benar-benar keterlaluan.”


“Beruntung Har tidak kosong, dia punya khodam yang mengirimnya Pelindung agar bisa mencegah santet itu, tentu atas izin Allah.”


“Tidak kosong? khodam?”


“Ya, Har memiliki kemampuan yang tinggi saat ini, dia mungkin sudah terbuka mata batinnya, nanti kalau dia sudah akhil baligh, maka khodamnya akan turun untuk menamaninya, setelah itu dia bisa banyak membantu orang.”


“Tidak! Har tidak akan meneruskan hal itu.” Mamanya tegas mengatakan keberatan.


“Bu, kita bicarakan itu nanti, sekarang harus ditemukan dulu yang mengirim santet, karena Har tidak mungkin melawan dukun itu sendirian, saya harus mengejar dukun itu dan menghentikannya menyantet Har.”


“Baiklah, apa yang harus aku lakukan sekarang.”


“Kita harus bertemu dengan sepupumu yang mengambil popok kain itu, tanyakan, apakah ada orang yang meminta popok bekas Har itu padanya.”


Mereka bergegas ke rumah sepupu mamanya Har itu, dengan angkot, Mulyana dan Dirga tidak ikut masuk ke dalam rumah saat sampai, hanya mamanya Hard an Har saja.


Setelah menunggu selama setengah jam, mereka akhirna kembali ke angkot.


“Bagaimana?” Mulyana penasaran.


“Tidak ada yang minta, tapi popok kain itu ada yang robek saat dijemur kena paku, lalu popok itu dibuang begitu saja olehnya di tempat sampah.”


“Buntu Yan,” Dirga berkata,


“Siapa aja bisa ambil popok kain itu kan?”


“Ada tidak, saudara yang benci pada Har?” Mulyana mulai meluaskan tersangka.


“Sebentar ku ingat dulu, oh ya, ada satu orang, dia dari pihak mantan suamiku, dia adik mantan suamiku, dia bukannya tidak suka pada Har, cuma dulu saat kami baru sama-sama melahirkan, banyak sekali keluarga yang membandingkan anak kami, Har tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan cerdas, lalu orang-orang mulai menghina anak adik mantan suamiku itu, mereka membandingkan dan memberikan label buruk pada anak itu, akhirnya kami sempat bertengkar karena dia bersikap kasar pada Har, dia melarang Har main dengan sepupunya karena dia tidak mau anaknya dibanding-bandingkan dengan Har. Setelah itu, hubungan kami tidak pernah kembali baik.”


“Cemburu atau iri, bisa jadi landasan yang kuat untuk melakukan hal buruk, seperti mencelakai Har. kita ke rumahnya.”


Mulyana lalu pindah ke depan, kursi kemudi bersama Dirga, sementara Har dan mamanya duduk di kursi penumpang.


Begitu sampai, semua orang turun, Dirga dan Mulyana mendampingi Har dan mamanya untuk bertemu dengan adik perempuan mantan suami mamanya Har.


“Adik papanya Har masih tinggal dengan mantan bapak dan ibu mertuaku karena suaminya berlayar, apa aku harus menjelaskan semuanya dengan jelas pada mereka?”


“Kita tidak datang untuk berdiskusi Bu, aku tidak butuh pengakuan, tapi aku butuh bukti, makanya kita ke sini, saat ini yang terpenting adalah Har, jadi tidak perlu pikirkan yang lain.”


Mamanya Har mengangguk mendengar itu.


Mereka mengetuk pintu, kakeknya Har membukakan pintu, neneknya Har dan adiknya segera dipanggil begitu ibunya Har meminta bicara dengan mereka.


mereka semua berbicara di ruang tamu.


“Kedatangan kami ke sini adalah untuk memberitahu kondisi Har.” Mamanya Har membuka pembicaraan.


“Kondisi Har? apakah sebahaya itu sampai kau harus datang malam-malam begini?” Adik papanya Har bertanya dengan ketus.


“Kalau tidak, untuk apa aku repot ke sini?” Mamanya Har menjawab dengan wajah sini walau senyum disematkan.


“Jadi, bagaimana kondisi Har?” Kakeknya bertanya, dia tampak khawatir,

__ADS_1


“Har disantet.” Mamanya Har langsung pada intinya.


“Hah, kalau Har disantet, kenapa elu ke sini? lu pikir di sini ada dukun yang bisa nolong?” Adik papanay Har meninggikan suara.


“Kami tidak mencari dukun di sini, tapi kami mencari pelakunya.”


“Apa! elu bawa gerombolan gini buat apa? lu mau nuduh gue yang santet Har?”


“Nggak ada yang bilang elu pelakunya, atau elu ngerasa karena elu yang lakuin?” Mamanya Har seperti biasa masih bersikap tenang, walau sudah sangat ingin menampar wanita ini.


“Gue nggak gila ya, masa iya keponakan gue mau gue santet, walau gue nggak suka orang bandingin anak gue sama Har, tapi dia tetap keponakan gue, gue bukan orang kayak gitu.” adik perempuan papanya Har berteriak mengatakannya.


“Kalau bukan kau, siapa lagi? kau yang paling tidak suka padaku dan Har, jangan berlindung dibalik darah yang mengalir, padahal hatimu busuk.” Mamanya Har tidak bisa menahan lagi, dia sudah sangat sabar selama ini pada adik ipar perempuan menyebalkan ini.


“Aku tidak melakukannya, kau harus buktikan kalau aku memang aku yang lakukan, bukankah kau adalah Master Hukum yang terhormat, lalu bagaimana mungkin kau datang ke sini seenaknya?!”


“Kau! semoga anakmu tidak menderita seperti anakku ya.” Mamanya Har sudah tidak dapat menahan emosi lagi.


“Pergi kalian, atau aku panggilkan satpam kampung untuk mengusirmu!” Mantan adik ipar itu berteriak seperti orang gila, dia benar-benar tidak mau mengaku.


Har menarik ibunya, Dirga dan Mulyana ikut pergi.


“Bagaimana ini Pak Mulyana? Pak Dirga, apa yang harus aku lakukan untuk melindungi Har dari santet itu?”


Mereka sudah ada di angkot lagi.


“Aku akan memasang apgar ghaib di rumah ibu, tapi itu hanya bisa menahannya sementara, sementara itu aku akan mencari cara membalik santetnya.” Mulyana memberikan solusi.


“Baiklah Pak, terima kasih banyak ya, oh ya, soal biaya, berapa yang harus saya siapkan?” Mamanya Har bertanya, karena mereka sudah hampir sampai rumah, jadi dia ingin menyiapkan uang yang dibutuhkan untuk menolong anaknya.


“Bu, Mulyana ini lebih kaya dari ibu, lihat, berapa orang di Jakarta ini yang punya telepon genggam? hanya orang-orang kaya bukan? uang bukan tujuan utamanya Bu, jadi tenang saja, kami menolong ikhlas dan tulus kok.”


“Alhamdulillah, terima kasih banyak, Har bilang terima kasih pada dua bapak ini, mereka bahkan lebih baik dari keluarga, karena mereka membantu kita, menemukanmu dan mencari jalan keluar, Allah kirim pertolongan untuk kita Har.”


“Makasih ya Pak, makasih banyak udah nolong mama dan Har.” Har kecil yang tampan berkata dengan wajah mengiba, Mulyana melihat, betapa tampan dan cerdasnya dia, sayang luka perceraian pasti telah membekas cukup dalam di hatinya, mata sendu itu tidak pernah bisa berbohong.


Mulyana sudah membuat pagar ghaib melalui media air di sekeliling rumah itu, dia dan Dirga pamit, tapi sebelum pamit dia meninggalkan pesan dulu pada Har, mereka bicara berdua saja di depan rumah.


“Har, kalau misalkan ada orang yang datang dan hendak mencelakai ibumu dan kamu, kau boleh menggunakan senjata itu, senjata itu tidak akan bisa direbut oleh orang lain, kau tidak perlu memiliki kemampuan, karena dia yang akan mengendalikanmu, kalau kita berjodoh, aku akan melatihmu mengendalikannya.


Tapi untuk sementara, golokmu akan menjaga, kau akan tidur nyenyak malam ini, tapi besok-besok tidak ada yang tahu.”


“Bapak nggak ke sini lagi?”


“Ke sini, tapi tidak bisa besok, karena ada beberapa kasus yang mirip sepertimu harus Bapak tangani jadi kamu harus sabar ya, lindungi ibumu Nak, dia hanya punya kamu, begitupun dirimu.”


“Iya Pak, makasih ya.”


Mulyana lalu pamit dengan Dirga, mereka naik angkot dan hendak pulang ke rumah masing-masing, mobil mamanya Har akan dikembalikan besok oleh Pak Dirga.


Sementara itu, Alka, Jarni dan Ganding masih terus berlatih di gua Alka.


_______________________________


Catatan Penulis :


Main tebak-tebakan yuk, siapa pelakunya? apa alasannya? tulis komentar ya di bawah, kalau ada yang  benar, aku akan kasih hadiah, tapi cuma satu orang aja ya, orang pertama yang jawab dengan benar, akan aku kasih hadiah, hadiahnya nanti aku umumin kalau udah ketemu pemenangnya ya, bukan uang bukan sesuatu yang bisa dijual lagi, tapi cukup menjadi kenangan.


Aku tidak akan curang, aku sudah memikirkan dan punya jawaban akhir dari part ini, jika ada yang tepat menjawab, aku tidak akan curang dengan mengubah jawabannya, makanya aku penasaran, ada yang bisa jawab nggak nih, cluenya udah deket banget.


Tapi jawaban harus dengan alasan ya, jadi nggak cuma satu karakter aja, tapi alasan minimal harus mendekati.

__ADS_1


Selamat menjawab, terima kasih.


__ADS_2