Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 564 : Mulyana 70


__ADS_3

“Kau ingin aku menjadi apa? sepertimu? Tidak bisa, jika menentang para Tetua akan mencelakakan hidup anak dan istriku kelak, maka aku takkan pernah menantangnya lagi. Tidak ada salahnya menikah dengan Kharisma Jagat bukan?”


“Aku tidak akan menentang itu, tapi jika akhirnya kau menikah dengan cara sepertiku, maka kau harus menjadi sepertiku agar anak dan istrimu selamat.”


“Apapun alasanmu, agar kami selamat, itu sungguh jalan yang keji, baiklah ini bukan hanya soal uang Yah, tapi ini soal nyawa orang yang harusnya kita jaga dari kasus ghaib, tapi kau malam menggiring dukun itu untuk tetap melakukan kejahatan dengan mencekakan orang?”


“AKU MENJAGA KALIAN, AKU ....”


“Dengan mengorbankan orang lain? Kau membuat semua orang celaka untuk menyelamatkan kami? Semua orang yang dukun itu celakai adalah anak, istri, adik, kakak atau  cucu seseorang yang disayang juga dan kau tidak peduli sebagai pelindung manusia di muka bumi ini!”


“Aku tidak pernah menyesal memiliki ibu yang bukan seorang Kharisma Jagat, tapi aku menyesal memilikimu yang memilih jalan yang salah, karena aku yakin, untuk kebaikan, Allah selalu buka jalan, kalau kau tak menemukan jalannya, hanya kau saja yang tergiur oleh bujukan setan.” Mulyana beranjak, tak mau lagi mendengar apapun yang dikatakan Drabya, dia ke kamarnya, membawa baju alakadar yang dia bisa bawa, melewati ayah yang sedang merenung.


“Aku akan pergi dari sini, aku hanya bawa baju beberapa potong saja, maaf, aku tak ingin menerima uang ataupun menikmati uang hasil upeti itu, yang sudah masuk tubuhku, biarlah, tapi yang sekarang aku takkan pernah mau untuk menerima apapun bantuanmu, aku akan membiayai kuliahku sendiri, aku juga akan mulai cari makan sendiri, kau bisa memegang prinsipmu, aku juga akan memegang prinsipku, terlepas menikah dengan siapapun, aku tidak akan pernah melalui jalan yang sama denganmu.”


Mulyana lalu berjalan ke luar, terlihat Aep yang sedang berjalan masuk, dia kaget karena wajah Mulyana terlihat sangat gusar dan dia membawa tas yang cukup besar.


“Kau mau ke mana? Ada kasus lagi? di luar kota?” Aep bertanya.


“Tidak, aku baru selesaikan kasus dan aku mungkin tidak akan pulang lagi, maaf. Tolong jaga ibuku ya, sayangi dia seperti dia sangat menyayangimu.” Mulyana hendak pergi, tapi Aep menarik tangannya.


“Kau ... sudah tahu?”


“Jadi kau juga sudah tahu soal upeti itu!” Mulyana kesal lagi, karena ternyata kakaknya sudah tahu, apakah ini yang membuatnya tidak ingin lagi ikut campur soal kasus ghaib?


“Kita bicara ya, baik-baik.”


“Tidak di sini.”


“Baiklah, kau mau ke mana?”’


“Kita ke tempat Dirga saja, dia sudah ngekost karena ibunya menjual rumah mereka dan tinggal di kampung halaman, kita ke sana saja.”


Aep mengangguk, mereka memakai motor Aep untuk sampai ke kostan Dirga, begitu sampai, Dirga terkejut, karena dia melihat dua kakak beradik tiba-tiba datang.


“Ada apa ini?” Dirga mempersilahkan masuk ke kamarnya yang tidak bisa dibilang kecil dan tidak bisa juga dibilang besar, cukuplah untuk ukurang seorang bujang yang sedang pelatihan kepolisian.


“Aku sudah pergi dari rumah orang tuaku, sementara aku menginap di sini ya, Ga. Nanti kalau sudah punya uang yang cukup, aku akan ngekost kamar sendiri, sekarang aku akan cari kerjaan dulu.”

__ADS_1


“Yan, kau sudah tahu ya?” Dirga tiba-tiba mengatakan hal yang sama lagi, seperti kakaknya.


“Jadi ... kalian sudah tahu dan tidak bilang padaku!” Mulyana kembali kecewa.


“Tidak Yan, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya, tapi aku bingung bagaimana memberitahumu, makanya aku sarankan kau untuk mengkonfirmasinya ke Abah Wangsa, karena jujur, aku juga baru tahu dari ayahnya Wulan saat mengantarnya untuk menemui Wulan di tanah kosong itu.” Dirga menjelaskan.


“Kalau kau, kau tahu sejak kapan?” Mulyana bertanya ada Aep.


“Hmm, aku sudah tahu sejak aku memutuskan tidak lagi menangani kasus ghaib, aku sempat bertengkar hebat dengan ayah, tapi ayah bilang dia akan berhenti begitu keadaan keluarga kita benar-benar aman, dia melakukan itu untuk kita semua, Yan.”


“Kau setuju padanya!” Mulyana kesal dengan perkataan Aep yang terkesan membela ayahnya.


“Awalnya tidak, tapi ... aku bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik dan baik, dia orang biasa dan aku sudah berusaha untuk tidak menaruh hati padanya, tapi apa daya, aku mencintainya, dia orang baisa, tidak paham soal Kharisma Jagat dan juga dunia ghaib, walau aku bukan Kharisma Jagat lagi, tapi aku berasal dari keluarga yang tidak biasa, maka jika aku membawa wanita yang aku cintai ke dalam keluarga kita, itu pasti membahayakan, aku sangat takut wanita yang aku cintai akan celaka, maka aku jadi mengerti apa yang ayah lakukan, walau salah, tapi dia dia memang butuh kekuasaan yang sangat besar, agar bisa melindungi semua keluarganya, maka semua dukun dan upeti itu menjadi dinding pertahanan baginya, agar para tetua yang menjunjung tinggi perjodohan adat itu, tidak bisa menerobos masuk ke dalam rumah keluarga kita dan kembali membuat kita celaka.


Ayah itu ayah yang baik dan hebat, walau dia bukan manusia yang bisa disebut baik karena dia membiarkan para dukun itu tetap praktek dan bahkan memasukkan mereka sebagai garda terdepan untuk melindungi keluaga kita dengan begitu banyak darah manusia yang mereka tumbangkan untuk uang.


Tapi Yan, pergi dari keluarga itu bukan sesuatu yang baik, perlindungan keluaga juga bagian dari kewajibanmu sebagai anak laki-laki di ruma, karena aku tidak bisa lagi menjaga ibu dari hal ghaib, kau tahu kan, kemampuan ghaibku sudah hilang sama sekali.”


“Tidak Ep, aku tak bisa kembali lagi ke rumah itu, karena aku malu, aku ....”


“Kau tahu Yan, aku iri pada kalian.”


“Tapi ayahmu melakukan apapun untuk menjaga keluarga kalian, termasuk menjadi buruk, karena pilihan utama ayahmu adalah keluarga kalian, bukan nama baiknya, bukan statusnya dan bukan uang.


Sedang ayahku, kau tahukan, istrinya hampir mati karena pesugihan yang dia lakukan tanpa sengaja, tapi membuat keluarga kami berantakan.


Setidaknya, buat ayahmu, keluarga adalah prioritas, dia melakukan ini untuk keluarga.”


“Tetap tidak Ga, untukku, apa yang dia lakukan fatal, aku takkan lagi meminta batuan kepada ayahku dan juga ibu, aku tak sudi uang haram dari membunuh orang yang dilakukan para dukun itu masuk ke dalam tubuhku, aku tak mau lagi makan dari upeti itu.”


“Yan, itu pilihanmu, tapi kau tetap akan menganggapku kakakmu kan?” Aep bertanya.


“Tentu saja kau kakakku.” Mulyana dan Aep berpelukan, sesuatu yang agak kikuk mereka lakukan, tapi membaut Dirga lega, karena Mulyana datang ke tempatnya, itu membuat Dirga tahu, betapa Mulyana benar-benar menghargainya sebagai seorang sahabat.


...


Waktu berjalan, hari berganti, Mulyana terus saja menangani kasus, dia masi intens dihubungi Abah, banyak kasus datang dari Abah, ayahnya masih sama, masih berhubungan dengan para dukun, hingga tak terasa masa kuliah sudah hampir selesai, Dirga juga sudah menjadi Polisi dengan pangkat yang tidak terlalu tinggi, dia sibuk dengan pekerjaannya, sementara Mulyana juga sibuk dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Mulyana masih tinggal di areal kamar kost Dirga, tapi sudah pindah kamar, Mulyana membiayai hidupnya dari bekerja di salah satu perusahaan ternama, walau hanya sebagai penasehat, dalam mengerjakan kasus, Mulyana pernah bertemu dengan seorang Direktur yang punya masalah dengan dunia ghaib di keluarganya, ada rekan bisnis yang menyantet keluarg Direktur perusahaan itu, Mulyana membantu menemukan orangnya dan membuat mereka berhenti mengerjai saingan bisnisnya, karena itu, akhirnay Direktu tersebut sangat percaya pada Mulyana dan akhirnya menjadikan Mulyana penasehat bisnisnya, setiap kali akan melangkah, Direktu itu pasti bertanya dulu pada Mulyana, semua intuisi Mulyana tepat, makanya dia digaji sebagai penasehat.


Mulyana awalnya menolak, karena dia tidak penah menarik upah atas bantuannya kepada para korban masalah ghaib, tapi Direktur itu berkata bahwa bantuannya bukan lagi soal keberkahan, tapi bantuannya sudah pada titik profesional, bukankah Mulyana juga kuliah binis, maka seharusnya yang dia lakukan sebagai penasehat bisnis menggunakan sedikit intuisinya sebagai Kharisma Jagat, bisa disebut sebagai pekerjaan yang profesional, maka dari itu Mulyana akhirnya menerima gaji itu sebagai bayaran atas pekerjaan orang biasanya dan tetap mengerjakan kasus seperti biasa, karena pekerjaannya sebagai penasehat bisnis tidak harus datang ke kantor.


Di sinilah dia bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik, wanita itu tinggal di dekat kostan yang dia dan Dirga tinggali, dulu pertama kali bertemu, saat Mulyana masih tinggal di rumah orang tuanya dan bermain ke tempat Dirga kost, tapi setelah Mulyana tinggal, pertemuan mereka makin intens.


Kebaikan hati, sikap yang santun dan ketulusan membantu Mulyana yang terlihat ‘miskin’ itu membuat Mulyana jatuh hati, dari hari ke hari, tertariknya menjadi sebuah cinta yang sangat dalam.


Walau Mulyana masih belum berani untuk mendekatinya, dia tetap mencoba mengaguminya dari jauh.


Kisah cintanya yang masih dangkal itu, berbanding terbalik dengan Kisah Aep yang semakin dalam, Aep akhirnya menikah, diam-diam, karena wanita itu orang biasa yang harus dilindungi, maka dari itu keluarga juga datang diam-diam tanpa ada yang tahu. Bahkan Mulyana tak datang, karena Mulyana masih dalam pantauan para Tetua, maka dia hanya bertemu Aep sebelum pernikahan, memberikannya hadiah dan terpaksa harus tidak datang, Aep paham karena hubungan mereka tidak pernah putus.


Aep dan istrinya tinggal bersama keluarga Drabya setelah menikah, mereka memang harus dekat dengan Drabya, agar bisa dilindungi.


Sayang pernikahan Aep tidak berjalan dengan baik, setelah menikah, istrinya Aep langsung hamil, kehamilan ini disambut bahagia oleh semua orang termasuk ibu dan ayahnya Aep, kebahagiaan mereka tak berlangsung lama, karena pada kehamilan yang ke 7 bulan, istrinya keguguran, persis seperti ibunya Aep, istrinya dikerjai, padahal sudah dijaga dari sisi manapun, tapi para pembenci Drabya masih menemukan cara untuk mengerjai istrinya Aep secara ghaib, dia dikirim santet setiap saat, entah oleh Tetua atau Hagir, karena pertarungan Hagir dan Drabya masih belum selesai.


Keguguran itu membuat rahasia keluarga Aep terkuak, istrinya Aep langsung dibawa pulang keluarganya, karena kondisinya setelah keguguran sungguh mengenaskan, tubuh hanya tinggal tulang dan anak yang mati mendadak di dalam kandungan, begitu dilahirkan dalam keadaan meninggal, tubuh anak itu membiru, dileher ada sebuah tanda melingkar seperti dicekik, disekujur tubuh banyak luka yang harusnya tak ada karena anak itu di dalam kandungan.


Aep terpukul, kondisinya parah, Drabya mendatangi Mulyana dan memohon agar dia pulang, karena serangan Hagir membuat Drabya kewalahan, Drabya memang menang dari para tetua itu, tapi sayang, dari Hagir, Drabya masih belum bisa menang, Hagir terus menyerangnya setiap malam, apalagi Hagir punya jin dengan ilmu tinggi yang setara dengan ilmu Abah Wangsa, wujudnya yang besar dan kuat, membuat siapapun dengan kekuatan ghaib yang tinggi menjadi ketakutan.


Menurut rumornya, Hagir bisa mendapatkan jin besar itu, karena dia menumbalkan istrinya, istri yang sudah melahirkan anak perempuan yang kelak jadi dukun wanita yang membuat lubang pada zona gelap di areal persawahan itu.


Mulyana terdiam sesaat, keluarganya hancur berantakan, ibunya mulai sakit-sakitan, Aep depresi karena kehilangan anak yang bahkan belum sempat dilahirkan, ditinggalkan istri yang sangat dia cintai dalam keadaan sakit karena dibawa keluarganya, padahal Aep sangat ingin merawat istrinya yang sedang kalut tapi bertahan untuk membiarkannya pergi, takut kalau istrinya akan bernasib sama seperti ibu kandungnya.


Maka Mulyana menatap ayahnya dengan lekat.


“Aku akan pulang, tapi aku mau kau berhenti menerima upeti itu.”


“Saat ini, bukan itu masalah utamanya, anakku. Ibu dan kakakmu dalam bahaya!”


“Berjanjilah padaku, kau akan berhenti mengambil uang upeti itu!” Mulyana memaksa.


“Baiklah, aku berjanjin takkan pernah mengambil uang upeti itu lagi.”


“Aku akan pulang, kita akan bertarung dengan Hagir dan memusnahkan jin jahat itu, siapa nama jin itu?”


“Kita harus cari tahu nama jin itu, kita harus cari tahu untuk menundukkannya.” Drabya menjawab.

__ADS_1


Apakah masih ada yang ingat, siapa nama jin besar yang mengerikan itu? yang kelak akan menjadi milik ....


__ADS_2