Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 173 : Hotel


__ADS_3

[Selamat malam, dengan resesionis ada yang bisa dibantu.] Selly yang merupakan resepsionis lobby hotel mengangkat telepon dari kamar nomor 713.


[Lampu mati.] Tamu hotel mengatakannya dengan singkat.


[Baik Bu, tekhnisi kami akan ke sana.] Selly menjawab, lalu telepon dimatikan.


“Siapa Sel?” Supervisor hotel bertanya.


“Room nomor 713 mati lampunya, paling kartunya lepas dari peyangga, suruh tekhnisi dateng ke sana ya Pak.”


“Nggak, nggak usah.”


“Loh kok gitu Pak Ted?” Supervisor itu bertanam Teddy.


“Ya, nggak usah, nanti kalau ada telepon dari room itu lagi, kamu kasih saya ya.”


“Iya Pak Ted, jadi nggak apa-apa ya kita nggak kirim tekhinisi. Yakin ya?”


“Ya Sel, dah kamu istirahat dulu gih, ini kan jam istirahatmu.” Sekarang jam 8 malam, sebenarnya waktu istirahat untuk shift dua adalah jam 7 malam, karena jam masuk kerja itu dari jam tiga sore sampai jam 12 malam. Tapi karena banyak pekerjaan, jam istirahatnya jadi mundur.


Selly istirahat di pantry hotel khusus karyawan, pantry tidak terlalu besar, hanya terdiri dari satu meja makan besar dan beberapa bangku. Pantry ini khusus untuk karyawan makan karena letaknya ada di dekat lobby tempat Selly bekerja.


Selain Selly ada beberapa orang lagi yang ternyata istirahatnya telat juga, ada yang makan, ada yang solat, ada juga yang sekedar ngobrol. Selly ikut nimbrung dengan yang sedang sibuk ngobrol. Ada dua orang wanita dan tiga orang pria, mereka terdiri dari pramusaji, housekeeper dan juga tekhnisi.


“Gue bingung deh.” Selly tiba-tiba berkata di tengah obrolan mereka, yang lain tiba-tiba jadi penasaran.


“Kenapa?” Salah satu wanita yang bekerja sebagai housekeeper itu bertanya.


“Tadi ada telepon dari kamar 713, dia bilang mati lampu. Gue janjiin tekhnisi bakal dateng, tapi pas gue minta ijin sama Pak Teddy nggak dikasih, katanya biarin dia aja yang tanganin, terus gue istirahat deh. Gue jadi kepikiran, kalo dia bener-bener butuh gimana?” Selly ingat kejadian tadi sebelum dia istirahat.


“Sel, elu udah berapa lama sih kerja?” Tanya housekeeper itu lagi dengan serius.


“Enam bulan.” Selly memang baru masuk di hotel ini, tapi pengalaman kerja sebagai resepsionis hotel sudah cukup banyak, dia juga pandai bergaul, jadi semua orang bisa cepat dekat dengannya.


“Selama enam bulan ini baru pertama kali kamar 713 telepon lu ya?”


“Iya, kenapa emang?” Selly bertanya.


“Udah cek status kamar?” Masih housekeeper itu yang bertanya.


“Ya pasti occupied lah, orang dia nelpon dari telepon di room itu kok.” Selly merasa dianggap junior sehingga tidak mengerti SOP perhotelan.


“Habis ini, habis istirahat, elu cek lagi di sistem ya, itu kamar occupied atau kosong.” Housekeeper dan yang lain hanya berkata seperti itu, setelahnya Selly tidak membahas lagi, dia merasa aneh sekali, apa senior ini mencoba untuk mengajarinya, terserahlah, Selly dan yang lain akhirnya kembali ke tempat kerja mereka lagi.


Pak Teddy masih di meja resepsionis, dia sendirian.


“Pak, mau gantian istirahat?” Selly menawarinya istirahat, walau jam istirahat telah selesai, tapi sudah jadi rahasia umum kalau atasan bisa saja tidur saat jam kerja, apalagi posisi ini sudah malam, jarang ada yang checkin.


“Ya Sel, saya istirahat di dulu di office ya, kalau ada apa-apa kamu telepon saya, itu Supri di depan nemenin kamu ya.” Maksud Teddy adalah security hotel yang posisinya duduk di depan hotel.


“Iya Pak.” Selly tersenyum dan melihat kepergian Teddy dari lobby.


Kalau malam suasana hotel memang sepi, sekarang sudah jam sembilan, restoran hotel juga bersiap akan tutup, menunggua satu dua tamu yang masih menyelesaikan makan.


Selly tiba-tibat teringat perkataan housekeeper tadi, katanya dia harus cek di sistem tentang status kamar itu.


Selly akhirnay beranjak ke layar komputer yang letaknya berada di tengah meja, ini memang hotel bintang tiga, peralatan penunjang kerja tidak terlalu banyak, jadi di lobby hanya ada satu komputer yang mengakses sistem hotel.


Selly membuka sistem dan melihat status kamar 713 itu, saat sudah melihat statusnya, dia terdiam.


“Kok, kosong, statusnya kosong.” Selly mulai berdebar, dia menelpon housekeeper yang tadi bertanya padanya apakah sudah mengecek status kamar itu pada sistem.


[Mbak! kamarnya kosong!] Selly tidak dapat menahan suaranya, cukup terdengar hingga satpam akhirnya menghampiri Selly.


[Kan udah gue bilang, lain kali, kalau mau angkat telepon, cek dulu ya, itu kamar statusnya apa, jangan main asal angkat, apalagi pas kamu di shift dua dan tiga, harus lebih waspada.]


[Emang kenapa Mbak?]


[Udah dulu ya Sel, gue mau kerja dulu, elu ama security kan?]


[Iya Mbak, nih Pak Supri di sini.]


[Yaudah, jangan mikir yang enggak-enggak, tetep fokus ama kerjaan ya.] Lalu housekeeper itu menutup telepon, dia melanjutkan pekerjaan.

__ADS_1


“Kenapa Mbak Selly, tadi kok teriak? Sampai kaget saya.” Securty bernama Supri itu bertanya.


“Ini Pak, mmm, tadi sebelum saya istirahat room 713 telepon, katanya mati lampu, tapi kata Pak Teddy nggak usah dikirim tekhnisi ke sana, trus saya istirahat. Barusan setelah istirahat saya cek lagi, ternyata kamar itu ... kosong!” Selly merinding.


“Oh 713, iya memang kamar itu iseng.”


“Hah? kamar iseng? Maksudnya?”


“Mbak Selly kan udah pernah kerja di hotel, masa nggak tahu hal kayak gitu, udah  jadi rahasia umum lah.”


“Apa maksudnya ... hantu?” Selly memberanikan diri menyebutnya walau dengan berbisik.


“Iya, apalagi? Mana mungkin sesama pegawai mengerjai, itu terlalu berlebihan.” Security tampak tenang, tapi Selly jadi ketakutan.


“Saya sebelumnya kerja di hotel juga Pak, memang ada sih cerita begitu, tapi nggak sampai sefrontal barusan, menelpon dan juga mengatakan sesuatu, berarti tadi saya bicara sama ....”


“huss! Udah jangan dilanjutin ya Mbak, sekarang Mbak jaga aja di sini, kalau ada apa-apa panggil saya aja, saya di depan.”


“Pak, di sini aja.”


“Lah, kan tempat kerja saya di depan pintu lobby Mbak, nanti kalau Pak Teddy tahu saya bisa kena omel. Kenapa emang? Takut ya?” Pak Supri bertanya dengan nada mengejek.


“Iya Pak, saya takut.” Selly memohon.


“Ntar juga biasa kok, tenang aja.” Pak Supri akhirnya kembali lagi ke depan.


Entah kenapa sejak tahu kamar 713 itu, lobby yang tadinya tidak terasa besar, menjadi sangat besar dan malam ini terasa sangat sepi dari biasanya, bahkan jam dinding berdetak lebih kencang hingga suara detiknya terdengar di kuping. Itu membuat Selly semakin takut, dia berdiri dan melihat ke segala arah, sepi. Tentu saja, ini sudah malam.


Waktu berlalu, jam menunjukan jam sebelas malam, satu jam lagi, shift selly berakhir, biasanya dia dijemput oleh suaminya saat pulang nanti jam dua belas malam.


Padahal tinggal satu jam lagi, tapi ini kenapa terasa lama sekali. Selly dari tadi hanya fokus melihat ke arah security yang terlihat mengantuk di bangkunya. Selly heran, kenapa security itu bisa tetap tenang padahal malam ini begitu sunyi. Apakah karena ini adalah malam pertama Selly diganggu, sementara yang lain sudah sering diganggu jadi biasa?


Di tengah-tengah menanti jam pulang, tiba-tiba lift berbunyi, tanda kalau ada yang turun dan hendak keluar ke lobby, jam sebelas malam. Selly lega, itu pasti housekeeper atau pegawai lain, karena jam segini mana ada orang yang mau ke lobby, untuk apa? sudah malam.


Selly tersenyum, paling tidak dia bisa mengajak ngobrol housekeeper itu sambil menunggu jam pulang kerja.


Lift terbuka, Selly berdiri dan hendak menyambut teman kerjanya, tapi, dia kecewa, bukan housekeeper yang keluar dari lift, tapi seorang wanita, tamu ternyata, pasti ada keperluan yang membuat dia harus turun.


“Ada yang bisa dibantu?” Selly menyapa seperti biasa.


“Boleh minta tolong?” Tanya wanita itu.


“Iya, ada yang bisa saya bantu?” Selly mengulang lagi.


“Mati lampu” Selly mundur, entah kenapa mendengar itu dia merasa suaranya sangat mirip dengan yang menelpon dari kamar 713 itu, “kamar 713.” Tamu itu kembali berbicara, dia memberitahu nomor kamarnya.


Selly semakin mundur, dia tidak bisa memalingkan wajahnya, tubuhnya kaku seperti waktu berhenti.


Sementara tamu wanita itu yang tadi terlihat sangat cantik dan anggun menjadi pucat, dia tersenyum, senyumnya sangat lebar, makin lama wajahnya semakin mendekat, tapi aneh, tubuhnya masih tetap di sana. Tapi wajahnya ... tidak, lehernya semakin panjang hingga wajah wanita itu dan wajah Selly sangat dekat, Selly menangis tanpa suara, dia masih saja tetap tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


“Haiiii?” Bisik wanita yang lehernya telah melewati meja resepsionis sedang tubuhnya masih di tempatnya, di balik meja sebrang selly yang telah mundur sampai tubuhnya menempel ke dinding.


“Lampu mati,” bisiknya lagi.


Selly menangis walau dalam diam, airmatanya banjir, dia berusaha kerasa untuk berteriak tapi tidak bisa.


Berusaha meminta tolong tapi juga masih tidak bisa bicara.


Wanita berleher panjang itu akhirnya menjauh, leher itu kembali berukuran normal dan wajahnya telah kembali ke tubuhnya, saat dia akhirnya kembali ke lift dan lift tertutup, Selly akhirnya bisa berteriak.


“Tolooonnggg! Toloooongggg!” Security dan Teddy berlari hendak menghampiri, sementara Selly sudah jatuh terduduk tapi terus berteriak minta tolong.


Begitu Security itu sampai dan tidak lama Teddy sampai pada Selly, mereka membangunkan Selly mendudukkannya di bangku kerja.


“Minum dulu Sel.” Teddy memberikan minum dari gelas yang biasa Selly pakai untuk minum di tempat itu.


Selly minum sembari tetap meminta tolong tapi sudah berbisik, beberapa orang ikut berkerumun karena teriakan selly cukup kencang, sehingga menarik perhatian semua yang sebenarnya ada di dekat situ cuma terpisah ruang saja.


“Ada apa Sel?” Tanya Teddy.


“Pak, Pak! tadi ada ... ada ... dia ... itu ... lampu ... 713!” Selly masih sangat ketakutan dan bingung harus bicara apa, tubuhnya bergetar hebat bahkan mulai menggigil.


“Istigfar Sel! Istigfar!” Teddy memberi kode pada Security untuk mengambil sesuatu.

__ADS_1


Supri sudah paham, dia berlari ke dapur hotel dan tidak lama kembali, dia membawa minuman di gelas berwarna hijau.


“Minum ini dulu Sel.” Teddy memaksa Selly meminumnya.


Selly terpaksa meminum itu karena Teddy langsung menaruh gelas itu di mulu Selly.


Agak mual karena Selly merasa meminum air yang diperas dengan rumput, sangat tidak enak, tapi dia terpaksa menghabiskannya karena Teddy benar-benar memaksanya minum itu.


“Yang lain balik lagi ya, jangan sampai ada tamu aygn lihat kita berkerumun gini, nanti jadi nggak nyaman mereka.” Teddy meminta semua orang kembali.


Saat sudah sepi yang tersisa hanya Selly, Teddy dan Supri. Teddy akhirnya bebicara.


“Kamu lihat dia ya?” tanya Teddy.


“Pak, kenapa sih nggak ada yang kasih tahu saya tentang wanita itu?” Selly marah.


“Sel, itu bukan informasi formalitas yang harus kamu tahu, itu juga bukan bagian materi dari training, jadi saya tidak memiliki kewajiban untuk memberitahu rumor itu.” Teddy membela diri.


“Pak, itu bukan rumor, Pak Supri liat nggak sih wanita yang tadi keluar dari lift!” Selly kesal karena Supri tidak sadar Selly telah meminta tolong dalam kekakuan tadi.


“Tidak Mbak, saya selalu dengar suara lift, bahkan tadi tidak ada suara lift, saya dengar Mbak Selly berteriak, baru saya ke sini, saya benar-benar tidak melihat dan mendengar apapun.”


“Tapi tadi ada wanita itu, dia itu ... dia ...”


“Berhenti! Jangan ceritakan yang kamu lihat, cukup kamu telan saja. Ingat, jangan membuat rumor semakin bertambah banyak di hotel ini.”


“Rumor! Rumor itu berlaku untuk hal yang tidak benar Pak, tapi ini nyata! Saya bisa melihatnya bahkan merasakan betapa dinginnya tubuh itu!” Selly protes.


“Kalau itu nyata, kenapa hanya kamu yang lihat, sementara Supri bahkan tidak mendengar suara lift?” Teddy memandang Selly dengan wajah tegang.


“Pak ....”


“Selly, sekarang sudah jam kamu pulang, kamu mau diantar pulang? Biar nanti Supri antar kamu pulang dulu.”


“Tidak Pak Teddy, saya kan dijemput suami saya.” Selly menolak.


“Sel, kamu kenapa!” Suaminya Selly yang bernama Rudi tiba-tiba ada di dalam hotel.Biasanya dia akan menunggu di luar hotel.


“Kok kamu di sini?” Selly bingung.


“Iya, kamu nggak keluar-keluar, jadi aku masuk, takut ada apa-apa.”


“Iya tapi ini kan baru jam ... astaga! Jam 2 malam!” Selly baru sadar ternyata sudah jam dua malam.


“Saya juga bingung, kenapa kok kamu masih di sini padahal sudah jam dua malam, resepsionis penggantimu mana?” Teddy bertanya.


“Saya nggak tahu Pak.” Selly bingung.


“Iya Pak, tidak ada yang datang juga dari tadi, apakah dia ... mengundurkan diri lagi?” Security keceplosan.


“Supri, kembali ke tempatmu!” Teddy kesal karena Supri keceplosan, sulit mencari pegawai untuk hotel ini, pasti yang bekerja tidak lama lalu mengundurkan diri, ini pengganti Selly malah tidak ada kabar.


“Sel, pulang dulu sama suamimu ya, saya kasih kamu cuti dua hari, kalau sudah enakan, kamu balik kerja lagi, istirahat dulu. Ini bawa pulang, minum rutin sebelum solat subuh dan setelah solat magrib. Mengerti?” Teddy memberikan bungkusan yang berisi dedaunan.


“Pak, tapi ....”


“Selly kita pulang aja ya, Pak Teddy kan udah kasih kamu keringanan. Yuk!” Suaminya menarik Selly agar berhenti bertanya dan memintanya ikut pulang.


Sementara Sellya masih sangat penasaran kenapa tadi Pak Supri bilang kemungkinan resepsionis rekan Selly kemungkinan resign tanpa ijin? Dan kenapa dia berkata seolah itu biasa saja.


Sepertinya Sellya harus cari tahu sebelum memutuskan tetap bekerja di sini.


_______________________


Catatan Penulis :


Balik ke 5 sekawan ya Gengs. Yuk yang kangen ama mereka kita mulai lagi ke kisah baru.


Semoga ketakutan, sama kayak aku.


Baru sadar, ini malam jumat loh, pantas aku merinding disko.


Komentar ya kalau kalian merinding juga.

__ADS_1


__ADS_2