
Setelah solat subuh berjamaah di rumah Pak Sukandar, Aditia bergegas memasukkan semua barang bawaan Bening ke mobil angkotnya. Ganding menuntun Bening untuk masuk ke angkot.
Alka, Jarni dan Hartino akan pulang.
Pak Sukandar dan Istrinya menciumi Bening sebagai tanda perpisahan sementara untuk hal yang jauh lebih baik. Ibunya menangis sesegukan, Pak Sukandar pun tidak mampu menahan haru.
“Tenang saja, Ayi orang baik Pak, dia akan membantu tanpa pamrih. Di sana Bening akan bertemu dengan anak-anak yang memiliki kemampuan yang sama dengan Bening. Bening akan menjadi perempuan hebat yang nantinya akan membantu banyak orang.” Aditia mencoba menenangkan.
“Insyaallah saya ikhlas, jika memang kehadiran Bening dalam hidup kami bisa bermanfaat juga untuk orang banyak.” Pak Sukandar memeluk anaknya, Bening terlihat tenang, dia sepertinya bisa menerima semua dengan baik, anak-anak dengan kemampuan khusus memang cenderung lebih dewasa dibanding seumurannya.
Setelahnya, Aditia dan Ganding pamit. Mereka mulai berkendara, Ganding dan Bening duduk di depan bersama Aditia, angkot memang punya ruang yang cukup besar di bagian supir.
“Nding, emang kenapa sih Alka nggak bisa ketemu sama Ayi?” Aditia bertanya.
“Wah, iya, kita ketemu Ayi ya, gue udah lama banget ga ketemu legendnya Karuhun.”
“Eh, jawab dulu.” Aditia kesal, Ganding malah membicarakan hal lain.
“Oh iya, jadi gini Dit, dulu utusan bapak yang mendapat amanah untuk mendamaikan. Dia pernah ajak kita ketemu Ayi, di markas AKJ.”
“Akademi Kharisma Jagat?”
“Iya.”
“Trus?”
“Utusan bapak itu mau gencatan senjata antara Ayi dan Kak Alka, tapi Ayi ngamuk begitu melihat muka Kak Alka, Ayi waktu itu memang sedang Hamil, mungkin bawaan bayi juga, tau nggak, cambuk Kak Alka putus, sebenarnya cambuk dia itu lebih panjang dari yang sekarang, tapi sudah diputus oleh Ayi dan waktu itu wajahnya setengah gosong karena Ayi menyerang tanpa ampun.”
“Serius, Ayi Mahogra, kan?”
“Emang siapa lagi di dunia ini yang berjuluk Ayi selain dia?”
“Trus, kasian banget Alka.”
“Kak Alka selalu bilang, bahwa ini adalah hukuman untuknya. Kita nggak boleh nyerang balik atau marah pada Ayi, karena kerusakan yang dibuat Kak Alka dan ayahnya, jauh lebih besar, beruntung Ayi tidak membunuh Kak Alka. Lagian, siapa juga yang mampu melawan Ayi, kita nih, cuma seujung kukunya Ayi kalau dalam soal ilmu perghaiban.”
“Ayahnya Alka? Maksudnya ayah jinnya itu?” Aditia bertanya.
“Iya, ayah jinnya.”
“Oh, ayahnya masih ada? Ibunya gimana?”
“Mereka berdua masih ada saat dulu itu, tapi … sayangnya dia mendatangi Kak Alka, hanya untuk ikut berperang.”
“Berperang? Maksudnya?”
“Ayahnya Kak Alka adalah salah satu jin Karuhun dengan ilmu tinggi kubu … Mudha Praya.” Ganding menyebut namanya dengan berbisik, nama yang sangat menakutkan untuk disebut karena saking jahatnya.
“Mu-mudha yang membuat aturan gila tentang pernikahan Kharisma Jagat? ayah pernah cerita kalau kita diharuskan menikah dengan sesama Kharisma Jagat, tapi ayah bilang, itu hanya adat dan aku berhak memilih jodohku.”
“Bukan dia yang buat, tapi dia yang melestarikan dan juga memaksa bahkan melakukan kegiatan hina untuk mendukung pemahaman gila itu.” Ganding meluruskan.
“Lalu apa hubungannya dengan Ayi yang membenci Alka?”
“Ayahnya Kak Alka salah satu Tetua dari kubu Mudha Praya, dulu dia sempat dikucilkan karena melakukan pernikahan menyimpang antara jin dan juga manusia, setelah Kak Alka lahir, ayah dan ibunya harus melakukan penebusan dosa pada para tetua karena pernikahan itu. Nah, dalam rangka penebusan dosa, ibu dan ayahnya Alka menghimpun sebanyak mungkin kekuatan untuk melawan Ayi. Termasuk merekrut Kak Alka sebagai bala tentara, Kak Alka yang ketika itu sangat bahagia telah didatangi ayahnya, nurut saja, tanpa menelaah lebih jauh, perjuangan macam apa yang ayahnya dan Mudha Praya timbulkan. Waktu itu kita baru ketemu kamu Dit. Kak Alka sering hilang, kita nggak tahu kenapa, belakangan kita baru tahu, dia ternyata diam-diam membantu ayahnya dalam peperangan itu."
“Tapi bukan salah Alka atas peperangan itu, seharusnya yang disalahkan adalah ayahnya, Alka tidak mengerti itu semua, dia ….” Aditia mencoba membantah.
“Pramudya Aksara, orang kepercayaan Ayi Mahogra, kau tahu kan kisahnya?” Ganding bertanya, sementara angkot masih terus berjalan ke markas Akademi Kharisma Jagat, di tengah hutan itu.
__ADS_1
“Iya tahu, namanya cukup tersohor.”
“Ayahnya Kak Alka yang membantu membunuh Pramudya Aksara dengan membuka jalan seorang Tetua yang membawa keris untuk menusuknya. Walau tujuan awalnya, katanya sih suaminya Ayi, tapi malah salah sasaran.”
“Tuhkan, berarti benar, yang salah ayahnya, kenapa Alka yang dimusuhi, kok Ayi nggak bijak sih!”
“Itu Dit masalahnya, Ayahnya Kak Alka membuka jalan bagi Tetua yang menghunus keris pada Malik suami Ayi, seorang lagi yang mengelabui banyak Kharisma Jagat dengan tembang Janapria, tembang cinta yang memabukkan sehingga musuh jadi berhalusinasi, hal itu yang membuat semua sekutu Ayi tidak melihat Tetua itu menghunuskan keris ke arah Malik, seorang yang melakukan tembang itu adalah … Kak Alka.”
Aditia menganga, dia terkejut, enggan mendengar kisah keseluruhannya, tapi dia harus tahu.
“Lanjut Nding.”
“Jadi waktu itu yang jadi target, kan, Malik tuh suaminya Ayi, tapi dihalangi oleh Pramudya Aksara, Kak Alka ketika itu juga ikut melempar cambuknya hingga kaki Pramudya Aksara terikat dan ayahnya serta seorang Tetua yang menghunuskan keris bisa berhasil menusuk Pramudya Aksara. Beruntung Kak Alka lalu lari ketika Malik menebas semua yang dia lihat, saat hampir saja Kak Alka akan diserang Malik, Ayi menangkap suaminya yang sedang kehilangan kendali karena melihat Pramudya tertusuk demi melindungi dirinya.” Ganding menarik nafas, cerita yang cukup panjang rupanya.
Aditia terdiam, tentu saja Ayi akan sangat marah melihat Alka, berarti hanya Alka yang berhasil lolos dan baik-baik saja setelah perang itu, padahal semua orang yang menjadi musuh Ayi ada yang gila dan kehilangan kekuatan.
“Katanya, Kak Alka dilepas karena untuk ukuran jin dia itu masih muda, dia dinilai tidak mengerti tentang makna perang ini, tapi syaratnya satu, dia tidak boleh menampakkan muka pada Ayi Mahogra, karena kalau Ayi melihatnya, Ayi pasti ingin menghabisinya, mengingat bagaimana kejamnya ayah Kak Alka dan seorang Tetua menusuk Pramudya Aksara.”
“Pantas Alka selalu berusaha menolong siapapun dengan tulus, rupanya dia sedang melakukan penebusan dosa.” Aditia berkata.
“Ya, kadang gue kasian, dia suka lupa makan atau istirahat, gue tahu, dalam hatinya dia menyesal, dia sangat marah sama dirinya yang dulu dan juga orang tuanya, tapi ayahnya sudah tiada dihabisi Malik, sedang ibunya menjadi gila. Kak Alka cuma pengen satu hal saat ini, menolong sebanyak mungkin orang, untuk mengobati rasa bersalahnya.”
Tidak terasa, mereka sudah sampai di pintu hutan, mereka akan dijemput oleh seseorang, tidak ada yang bisa masuk seenaknya ke markas besar AKJ itu, kita harus diundang dan dijemput.
“Assalamualaikum Kang, ini saya Aditia.” Aditia menyapa seseorang yang sedang duduk di batu, sekilas dia biasa saja, tapi untuk mata para manusia special, orang itu berbeda, ada bayangan yang menyertainya.
“Ikut.” Orang itu tidak banyak basa basi, dia hanya meminta Aditia ikut, mobilnya ditinggalkan, Bening di gendong oleh orang itu, begitu mereka masuk ke hutan, ada delman yang menunggu tanpa kusir, lalu perjalanan menuju markas AKJ dimulai, orang itu duduk di depan seperti kusir, tapi kuda itu bahkan berjalan tanpa arahan atau sabetan, dia jalan seperti sudah terbiasa, orang yang menjemput kami sepertinya dia adalah salah satu penjaga markas AKJ.
Begitu sampai, hutan yang gelap karena pohon yang begitu rapat, tiba-tiba terasa terang, gerbangnya penuh dengan lampu yang berwarna emas, ada banyak orang yang menjaga, sebentar, orang dan juga ‘mereka’ dengan bentuk berbagai macam.
Delman masuk, setelah masuk mereka dihadapkan pada lapangan yang begitu besar, Delman menyebrangi lapangan besar itu, indah sekali markas ini, sepertinya Ayi membuat sungai buatan di bagian kiri markas, dipinggir sungai banyak sekali anak-anak yang sedang belajar, entah belajar apa, karena mereka tidak memegang buku, mereka hanya sedang duduk dan menatap seseorang yang terlihat seperti pengajar tapi sudah sangat tua, tidak berdiri tegak, tapi mengambang.
“Turun semua, nanti diantar sama ibu ke aula, Ayi sudah menunggu.”
Mereka semua mengikuti seorang wanita paruh baya itu masuk ke ruangan yang disebut aula, ternyata aula itu terdiri dari beberapa meja panjang seperti meja makan dengan bangku yang mengelilinginya, semua terbuat dari kayu jati, Ayi memang suka kayu jati katanya kayu itu sangat tebal dan kuat, sama seperti para penghuni markas ini.
“Adit, duduk.” Ayi menyapa Aditia, Ayi terlihat pucat dan kurus sekali, sepertinya dia sedang menghadapi sesuatu yang berat.
“Ayi, Kak Malik mana?” Aditia bertanya.
“Sedang tidak ada, Adit duduk ya, mau makan atau minum?” Ayi bertanya, dia terlihat gusar saat Aditia bertanya tentang Malik.
“Tidak, Adit hanya mau mengantar Bening saja.”
“Oh ini Bening, cantik duduk di sini.” Ayi duduk di ujung meja, lalu Ganding dan Aditia duduk di samping kanan kirinya, Bening berdiri di samping Ayi, Aditia bergeser agar Bening duduk tepat di samping Ayi.
Ayi memegang wajah Bening.
“Wah dikunci sama abah ya, Sebentar Ayi punya hadiah.” Ayi Mahogra mengeluarkan sebuah batu, batu itu berwarna merah, wanginya seperti mawar.
“Terima kasih.” Bening menerima batu itu, batunya telah diberikan tali, sehingga Bening mengalungkan batunya.
“Ayi bukakan ya, tapi ingat, apapun yang Bening mau, Bening harus bicara, Ayi akan lindungi Bening, mengerti?” Ayi berkata, Bening mengangguk.
Ayi mengusap mata Bening dan seluruh wajahnya, lalu mata Bening berubah menjadi putih seluruh bagian.
“Assalamualaikum, Ratu Harum, aku adik dari Raja Bapati menyapamu.”
“Hmm, ngapain kamu di sini?” Nenek ratu itu bertanya.
__ADS_1
“Ratu sedang ada di markas AKJ, selamat datang.” Ayi tersenyum licik.
“Kau!!!” Nenek Ratu marah, tapi dia tidak dapat bergerak, kakinya Bening hanya terdiam saja, itu karena batu yang dia kalungkan, batu itu adalah penangkal Karuhun jahat, biasanya dipakai untuk mengendalikan nafsu jahat Karuhun.
Karena merasa berat, akhirnya Nenek Ratu keluar dari tubuh Bening, Bening melihatnya lalu terdiam, dia tidak takut, rupanya sudah ada penerimaan, Ayi menyadarinya.
“Bening kenal Ratu Harum?” Ayi menunjuknya.
“Nenek Ratu, kenal, dia bilang mau jagain Bening.”
“Trus, Bening bolehin?” Ayi bertanya.
“Iya.”
“Kau menipunya, seharusnya kau jelaskan apa maksud penjagaan itu, kau sengaja datang saat umurnya masih begitu kecil, dia belum mengerti.”
“Yang penting dia menerimaku, jadi aku berhak atas penjagaan itu!” Nenek Ratu kesal, dia duduk di atas meja dengan cara bersila.
“Bening suka makan bangkai tikus?” Ayi bertanya.
“Tidak, Bening tidak suka, jijik.”
“Tapi Nenek Ratu suka, kalau Nenek Ratu makan bangkai, Bening juga harus makan, karena Nenek Ratu ada di tubuh Bening.” Ayi memprovokasi Bening.
“Diam kau Ayi!” Nenek Ratu berkata dengan kesal.
“Bening nggak suka, Nenek Ratu jangan makan bangkai lagi ya.”
“Tapi Nenek Ratu suka maksa, Bening pasti dipaksa.”
“Ayi!!!” Ratu Harum hendak memukul kepala Ayi, tapi tidak bisa, karena Panglima keluar, dia mengaum dan memperingatkan Ratu Harum, tersentuh sedikit saja, dicabik-cabik tubuh tak kasat matanya.
“Kita harus membiarkan Bening memilih, kau tidak boleh memaksa, atau kau melanggar aturan Karuhun.” Ayi memilih cara licik, ternyata Abah Wangsa telah datang duluan dan memberitahu Ayi apa yang terjadi, Ayi memang cerdas.
“Aku tidak mungkin tinggal di sini! Semua jin di sini muslim! Aku tidak mau tinggal bersama kalian!” Ratu Harum berteriak.
“Semua terserah Bening, kau tahu kan, memaksa manusia di markasku, artinya penjara, kau juga pasti tahu, dibawah banyak sekali jin yang aku tawan, kau mau ke sana lihat-lihat?” Ayi menantang, Ratu Harum tahu, bahwa biar Ayi lebih muda, tapi dia seorang Ayi Mahogra, Ratunya para Kharisma Jagat, orang-orang yang dijaga Karuhun, Ratunya Bening, yang seorang Kharisma Jagat juga, maka dia tidak boleh melawan.
“Bening mau tinggal sama Ayi, Ayi wangi pandan, Bening suka wangi pandan, kayak kacang ijo yang ibu buat. Nenek Ratu, kita tinggal di sini ya, Nenek Ratu mau kan?” Bening memerintah, bagi Karuhun yang sudah diterima, mengikuti perintah adalah yang utama.
“Kau licik!” Ratu Harum kembali ke tubuh Bening, lalu Bening dibawa oleh seorang pengajar, dia akan dibawa ke kamarnya dan diperkenalkan dengan seluruh anak yang memiliki kemampuan seperti dia.
“Ayi, apakah Ayi sehat? Ayi pucat sekali.” Aditia bertanya.
“Belum saatnya Dit, nanti kalau sudah waktunya, kamu dan …,” Ayi menatap Ganding, “dan yang lainnya akan aku panggil ke sini, tapi saat ini, tetaplah bantu orang luar di sana, jika memang ada yang perlu dibawa kemari, bawalah tanpa sungkan. Tapi nanti jika saatnya tiba, kalian semua, berlima, ketika aku panggil harus sudah sangat siap, mengerti?” Ayi berkata lalu pergi.
Ada banyak hidangan di meja, katanya Ayi sudah menyiapkan makanan, sebelum mereka pulang, Aditia harus makan dulu bersama Ganding, tapi Ayi tidak bisa menemani karena ada jadwal mengajar.
“Dit, kalau kata Ayi kita berlima, berarti Kak Alka juga?” Ganding tersenyum lebar.
“Kayaknya sih iya, wah tapi akan ada kejadian besar apalagi ini?” Aditia lebih gusar dibanding dendam lama Alka dan Ayi.
“Makan aja dulu Dit, laper, kita belum makan dari pagi.”
________________________________________
Catatan Penulis :
Yang kangen Karuhun nostalgia aja di sini dulu, KARUHUN S2 akan ditulis setelah AJP kelar ya, mohon maaf yang udah menunggu, penasarankan, kenapa Ayi pucat dan apa yang terjadi sebenarnya di markas AKJ, sabar dulu ya, kita kelarin Novel AJP dulu.
__ADS_1
Jangan lupa untuk dukung novel Muka Kanvas ya, karena aku perlu dukungan kalian untuk membuat novel karya Muka kanvas semakin dikenal dan naik kelas.
Jangan lupa like, coment dan vote, terima kasih dukungan kalian selama ini yang selalu setia dengan semua karya Muka Kanvas.