
“Bisa lepasin kaki gue nggak? bau lu, nggak mandi ya? Disuruh kerja terus ya?” Hartino berkata pada anak jin yang hinggap di kakinya seperti anak monyet, rupanya tidak seperti monyet, tubuhnya mungil mirip anak umur 5 tahun, wajahnya tua, lidahnya menjulur sampai ke lantai, tangannya lebih panjang dari kakinya, sedang kakinya terlihat membengkok keluar, jadi saat bergelendot di kaki Hartino, terlihat tidak presisi.
Anak jin itu mengetahui Hartino bisa melihatnya spontan melepas pegangannya pada kaki Hartino dan menangis, tangisnya membuat anak jin yang lain menoleh, mereka yang sedang bergelendot di kaki orang-orang seketika menangis bersamaan, nangis yang sangat bising bagi Hartino dan Ganding, sedang yang lain tidak dengar, tiba-tiba pemilik dari restoran berpenglaris ghaib itu keluar, dia tampak panik.
Dia lalu memberi kode pada anak-anak itu agar datang padanya, lalu anak-anak jin itu berlarian menempel pada si pemilik restoran, mereka menempel bertumpuk, Hartino dan Ganding melihat itu kesal, anak-anak jin diperlakukan seolah anak sendiri, digendong sampai menutupi seluruh badan pemilik restoran itu, dari mulai kepala sampai kaki.
Mendengar anak-anak itu menangis, lalu Jin yang berada di kasir dan dapir ikut keluar, kalau dihitung jin besar itu ada lima, tiga di kasir dan dua di dapur. Sisanya anak jin yang jumlahnya belasan.
Pantas restoran ini ramai tapi jelas membuat pengunjung yang makan di sini menjadi sakit secara batin, karena makan dari kotoran jin-jin itu. Orang-orang beriman pasti bisa merasakan kehadiran kotoran jin itu dan tidak mampu menelan makanannya, bagi mereka akan terasa sangat tidak enak makanan itu, tapi bagi yang imannya sedang turun, makanan itu akan terasa sangat enak, datang ke restoran ini juga akan terasa sangat menyenangkan, semoga kita terhindar dari restoran seperti ini.
“Keluarkan semua orang, atau aku akan memulai pertarungan saat ini juga.” Hartino berkata pada pemilik restoran, dia mendekatinya di dekat dapur.
Pemilik restoran paham, dia harus mengosonkan restorannya, lalu dia menyuruh para pegawainya meminta para pengunjung untuk menyudahi makannya tanpa membayar dan segera menutup restorannya.
“Kalian semua keluar, kalau tidak ingin babak belur.” Ganding meminta semua pelayan untuk keluar, dari lima pelayan, hanya dua yang tinggal, Hartino memastikan pintu depan sudah terkunci dengan aman, lalu mereka duduk di tengah ruangan, Ganding sudah menarik meja panjang ke tengah ruanga dan juga bangku, agar mereka duduk berhadapan.
Hartino duduk berdampingan dengan Ganding, sedang di sebrangnya Pemilik restoran duduk berdampingan dengan dua pelayan dan belasan jin di belakangnya, baik yang kecil maupun yang besar.
“Mau apa kalian kemari?” Tanya si Pemilik Restoran.
“Mau bersihin tempat ini biar nggak jadi sarang Jin Pak.” Jawab Hartino, nadanya meledek.
“Kalian mampu?”
Hartino tertawa, cuma orang yang lemah yang tidak mampu menakar ilmu musuhnya.
“Nding perlu keluarin senjata nih kayaknya, nggak bawa bala bantuan kita.”
“Ya terpaksa Har, daripada kita yang babak belur.” Ganding bersiap, dia dan Hartino menyingkirkan bangkunya dan berdiri, sedang para jin anak dan besar itu mulai mengelilinginya, keroyokan ternyata berlaku juga untuk pertarungan ghaib, kirain hanya untuk anak SMP saja.
Ganding mengeluarkan senjatanya, tombak trisula berukuran sedang, dia jarang sekali menggunakan senjatanya karena dilarang, dia hanya boleh mengeluarkan senjatanya jika keadaan benar-benar genting, sama halnya dengan Hartino, senjatanya adalah golok.
Alka hanya memperbolehkan Jarni dan cambuknya yang menghadapi musuh, karena senjata mereka mengerikan, pilihannya mati atau dibunuh ketika mereka berdua sudah mengeluarkan senjata, karena sampai saat ini hanya Aditia yang mampu mengendalikan senjata tajamnya tidak harus membunuh walau sempat menghabisi ruh yang akhirnya membuat dia kehilangan ilmunya, tapi sebenarnya dia sudah sangat mahir menggunakan senjata itu.
Untuk Ganding dan Hartino, senjatalah yang masih mengendalikan mereka, makanya Alka berpesan, hanya dalam keadaan genting saja mereka diperbolehkan mengeluarkan senjata.
Saat Hartino dan Ganding mengeluarkan senjata, para jin langsung nunduk dan ketakutan, mereka malah berlindung di balik tuannya, Ganding dan Hartino tertawa.
Tapi sudah terlambat bagi mereka untuk selamat, karena Hartino dan Ganding sudah mengeluarkan senjata, maka mereka semua harus terkena ujung senjata itu, karena memang sebrutal itu senjatanya.
Ganding memulai merobek-robek tubuh tak kasat mata itu dengan tombak trisulanya, dia terus menyerang tanpa ampun, sebisa mungkin tidak membuat mereka mati, cukup terluka parah, tidak pandang mulu, meskipun seorang jin yang bertubuh kecil, dia tetap melukainya, cukup mereka membuat manusia menjadi tamak karena kebodohannya.
Hartino tidak mau kalah, dia bertubuh tegap dan berwajah tampan serta berkulit putih ikut menyerang dengan goloknya, dia selalu mengincar bagian dada, karena kalau bagian leher, sudah dapat dipastikan, mereka akan mati, makanya bagian dada yang menjadi targetnya.
Mereka mulai membantai jin besar yang ternyata hanya berani meludahi makanan tapi begitu takut melihat senjata Hartino dan Ganding, mereka melukai kaki, tangan dan tubuh jin-jin besar itu, setelah semua jin di buat terluka dan bahkan tidak mampu berdiri lagi, Ganding menyiapkan botol-botol yang akan menahan mereka, dia memasukkan jin-jin itu satu persatu, sementara Hartino harus menghadapi dua orang pelayan dan mungkin jug asekaligus keluarga pemilik restoran ini, cukup mudah bagi Hartino yang menguasai banyak beladiri, dia meringkus tiga orang sekaligus, tentu dengan bantuan goloknya juga, walau tumpul bagi manusia, tapi benda tumpul bisa dijadikan senjata juga kan.
“Beres, sekarang kasih tau gue, apa yang lu pake buat menyogok jin-jin ini supaya mau menjadi budak lu di restoran ini?!” Ganding bertanya dengan kasar pada Sugiarto, Pemilik restoran.
“Ampun, ampun, sakit sekali,” Sugiarto kesakitan karena pukulan golok Ganding yang tumpul bagi manusia dan tajam bagi jin-jin itu, “aku memberi makanan kesukaan mereka.” Sugiarto menjawab.
“Apa makanan kesukaan mereka?” Ganding tahu, makanan kesukaan jin-jin adalah kotoran, tapi kotoran apa yang diberikan oleh Sugiarto untuk mereka.
Sugiarto menunjuk suatu tong yang terbuat dari plastic, tong itu tertutup dengan rapih, Ganding lalu ke belakang, arahnya ke dapur, di mana tong plastik itu berada.
Saat membuka tong plastic berwarna biru dan berpenutup putih yang cukup tinggi dan besar itu, Ganding langsung muntah-muntah.
“Sialan! Pembalut bekas! Brengsek!!!” Ganding muntah-muntah sambil mengumpat, dia tidak bisa berhenti mengingat betapa banyaknya pembalut bekas yang masih ada darahnya di dalam tong plastik itu, pantas jin-jin itu betah di sini, dikasih makan kesukaan mereka, menjijikan sekali.
“Apa Nding?” tanya Hartino yang masih sibuk mengikat tiga orang itu.
“Pembalut brengsek!”
__ADS_1
“Lah, masih ada darahnya?!”
“Iya!!!” Ganding muntah lagi.
“Busuk banget makanan mereka, pantas saja betah.” Hartino menimpali.
“Sekarang jin induknya mereka yang merupakan ibu dari para jin ini pasti segera datang, dia tahu anak-anaknya dalam bahaya, kita harus bersiap menangkapnya Har.” Ganding meminta Hartino bersiap.
Dalam hitungan dua puluh menit, jin induk itu datang, rupanya yang hitam menyelimuti restoran ini, suhu menjadi begitu dingin, Ganding dan Hartino tidak gemetar, karena tahu, mereka sudah memegang kartunya.
Jin induk itu berdiri mengambang di hadapan Hartino dan Ganding, dia akan mulai menyerang, tapi Hartino buru-buru mengeluarkan satu anak jin dan memegang lehernya.
“Kau maju, kau menyerang, kupenggal leher anakmu dengan golokku ini.” Hartino berkata dengan lantang.
“Manusia itu pengecut, selalu menggunakan umpan untuk menang.” Jin induk itu protes.
“Aku tidak mengancam aku akan melakukannya.” Hartino memenggal salah satu anak jin itu, mati satu anaknya, jin itu langsung menangis tersedu-sedu, mau jin ataupun manusia, bagi seorang ibu, kehilangan anak adalah sesuatu yang menyakitkan.
“Kau mau aku keluarkan satu anakmu lagi dan menghabisinya satu-persatu?” Hartino berkata dengan kejam, tanpa perlawanan jin induk yang merupakan ibu dari semua anak jin, baik yang besar maupun yang kecil dan telah masuk botol itu, akhirnya menyerah, dia ikut masuk ke botol dan meninggalkan tubuh Alya.
…
“Wah tahu gitu kita pegang yang Penglaris aja ya Ka, lebih mudah kayaknya.” Aditia protes.
“Justru Kak Alka sudah mengatur semuanya, mana mungkin dia kasih kita yang tidak bisa kita hadapi, yang berat pasti dikasih ke kamu.” Hartino menjawab protes Aditia.
“Curang.”
“Bukan curang, tapi bijaksana.” Ganding dan Hartino bersalaman tanda mencemooh Aditia yang selalu kebagian kasus berat.
"Kalian menyebalkan." Aditia ingin protes tapi dia tahu bahwa memang tugasnya untuk semua kasus yang berat, seperti peraturan tidak tertulis. Bahkan saat ini semua yang dikerjakan Aditia lebih mudah karena dia mengerjakannya bersama, tidak sendirian lagi seperti dulu.
...
Pesan masuk ke telepon genggam Aditia.
[Kembalikan istriku.] Aditia memang memberikan nomor teleponnya pada secarik kertas ketika menculik istrinya.
[Hutan Barat, jam dua belas malam, sendiri saja atau kau kehilangan calon tumbal.] Aditia menjawab, tidak ada jawaban lagi dari Agus, mereka berasumsi bahwa Agus setuju.
Lima sekawan datang ke hutan, jam sudah menunjukan pukul dua belas malam, ibu hamil dibawa dengan kursi roda.
Tepat jam dua belas malam, Agus datang, dia tidak sendirian, dia bersama beberapa preman yang berbadan cukup besar.
"Apa yang kalian mau?" Tanya Agus, sembari menyuruh anak buahnya membawa koper yang cukup besar.
"Berhenti melakukan Pesugihan." Jawab Aditia.
"Ini uang cukup untuk kalian anak muda, jumlahnya lima ratus juta, kalau kurang akan aku berikan lagi, serahkan istriku." Agus meminta.
"Uangmu tidak akan berguna untuk kami, uangmu hanya sepersekiannya dari yang kami punya, bagaiaman jika uangmu kami beli tiga kali lipat?" Soal menyombongkan diri Hartino jagoannya.
Saat mereka sedang berbincang tiba-tiba asap memenuhi tempat itu, lima sekawan diserang membabi buta, Agus membawa orang lebih banyak dari yang mereka perkirakan.
Perlahan asap sudah mulai hilang saat asap benar-benar hilang lima sekawan sudah terkapar, sedang ibu hamil sudah tidak ada di kursi rodanya.
"Mereka membawanya Ka!" Aditia berteriak.
"Ya, kita akan mengawasinya lagi." Alka bangun, sakit sekali badannya, asap itu pasti gas yang melemahkan tubuh mereka, Agus cukup pintar dan licik.
Alka dan yang lainnya kembali ke apartemen, lalu mereka beristirahat, lelah setelah dihajar oleh pasukan yang Agus bawa.
__ADS_1
Ada pesan masuk ke telepon genggam Aditia.
[Kalian bukan tandinganku.]
[Kami memang bukan tandinganmu.] Aditia menjawab pesan itu.
Lalu mereka semua tertidur.
Waktu berlalu sudah seminggu, Aditia mendapatkan kabar dari informan yang mengawasi runah Agus karena mereka tidak bisa terlly dekat lagi di rumah Agus, wajah mereka sudah sangat dikenali oleh orang sekitar Agus.
Kabar dari Informan itu adalah bahwa waktu penumbalan itu akan dimulai hari ini.
Lima sekawan langsung menuju lokasi.
Setiap kali Agus siap menumbalkan janin yang ada di perut istrinya, dia akan datang ke suatu rumah yang tidak diketahui oleh istrinya, disanalah ritual itu akan diadakan, ritual tumbal.
Jin yang menempel di tubuh Alya akan dipanggil lalu diizinkan mengambil janin yang telah dipersembahkan oleh Agus dengan cara masuk ke dalam perut ibu hamil itu dan mencekik lehernya hingga tewas tanpa disadati oleh istinya yang sedang hamil karena sedang tertidur seperti hari-hari biasa di kamarnya.
Makanya setiap kali anak-anak pertama hingga ketiganya Agus lahir dalam keadaan mati di usia kandungan yang keempat bulan, itu dilahirkan akan ada tanda terkecik dilehernya, asumsi medisnya adalah terlilit tali pusat, padahal tidak, itu adalah ulah jin jahat yang diizinkan Agus untuk mengambil anaknya sebagai persembahan sebagai ganti kekayaan, tumbal pesugihan.
Aditia sudah membekuk semua orang di rumah Agus dengan tembang mayit dari Jarni, Agus sedang dirumah tempat dia melakukan penumbalan, sedang ibu hamil yang Agus bawa dari Aditia dan kawan-kawan ada dikamarnya, masih dengan dua Bodyguard.
Jarni menembang lagi untuk menidurkan dua penjaga, Alka, Aditia dan Jarni masuk ke kamar dengan paksa, saat masuk, dia melihat sebuah jin yang sangat gelap sedang berusaha mendekati ibu hamil, dia sudah akan masuk ke perut ibu hamil itu, tapi tidak akan bisa ....
"Kau tidak akan bisa masuk, memang kau masih tidak sadar?" Adiia berkata.
"Siapa kalian?" Jin pemakan janin itu bertanya dengan suar yang berat.
"Masuk ke botol sini." Aditia membuka botol.
Jin itu berusaha menyerang Aditia, Aditia mengeluarkan keris mininya, Jarni bersiap dengan ularnya dan Alka tetap dengan tangan kosong tanpa kekuatan.
Mereka keroyok jin itu, pertama Aditia menikam bagian kepalanya, ular-ular Jarni mengikat tangan dan kakinya, terakhir Alka menendangnya dan jin pemakan janin itu tersungkur.
Dalam waktu sekejab, jin itu masuk ke dalam botol.
"Udah kelar, bangun lu." Aditia berkata pada ibu hamil yang sedang ada di kasur.
"Eh udah, lagi enak tidur juga." Jawab ibu hamil itu yang pelan-pelan berubah wujud menjadi jin dalam bentuk aslinya, jin penyanar yang sellau membantu lima sekawan menyamar menjdi mereka ketika tidak bisa pulang ke rumah.
Alka terpaksa merencanakan ini agar keselamatan ibu hamil terjaga, takut kalau Agus akan jauh lebih licin dan merencanakan hal yang membahayakan ibu hamil.
Benar saja, dia melempar gas beracun di hutan barat itu, untung ibu hamilnya palsu, seorang jin yang menyamar, kalau tidak, keselamatan janin bisa terancam, Agus tidak akan memikirkan anaknya sendiri, karena mereka hanya objek pertukaran untuk keserakahannya.
Lalu bagaimana dengan nasib ibu hamil? Ibu hamil itu masih ada di apartemen dan makan dengan baik, setelah ini dia akan tetap dijaga oleh Alka dengan penjagaan yang tidak berlebihan agar tidak angkuh, semua dilakukan untuk menjaga janinnya lahir dengan selamat.
...
Di tempat lain, Hartino dan Ganding juga meringkus Agus dan kawanannya bersama Pak Dirga.
Mereka akan ditangkap untuk karena kejahatannya.
Agus terkejut bukan main, dia fikir telah menang dari kawanan sinting itu, padahal dia dibiarkan menang hanya untuk memastikan kalau ritual ini berjalan seperti biasa, semua hanya jebakan agar Agus lengah dan merasa menang sehingga tidak sadar, telah membawa jin penyamar bukan istrinya dan melakukan ritual tanpa merasa curiga.
Tujuannya hanya satu, memancing agar jinnya datang kepada ibu hamil dan akhirnya tertangkap oleh Aditia dan kawan-kawan.
Sekarang tinggal satu, jin yang membuat seseorang jatuh cinta melalui pelet, ini agak sulit dan rumit karena masalah hati, apalagi pelet ini sudah berumur belasan tahun, apakah mereka bisa menolong orang dipelet? Haruskan menolong? Haruskah mengakhiri pelet ini sedang dua orang itu sudah menikah dan memiliki anak, jika pelet itu hilang maka rumah tangganya hancur.
Lima sekawna harus lebih bijaksana lagi mengerjakan kasus yang terkhir ini, kasus Alya, Dia Lagi.
Kalian yang baca juga harus bijak ya, jangan lupa selalu dukung kami dengan like dan komentar yang baik, terima kasih yang selalu dukung Author yang selalu berusaha update tiap hari.
__ADS_1
Selamat malam selamat hari jumat yang dingin ini.