
Lelaki itu berlari sambil berteriak minta tolong, tubuh kasatnya penuh luka hingga baju yang dia kenakan terkoyak, dia berlari seperti sedang dikejar sesuatu, hanya Aditia dan Alka yang melihat mereka.
“Baru kelar satu, udah muncul lagi aja!” Aditia kesal.
“Jangan ngeluh, masih bagus kita bermanfaat, itu kata Bapak.” Alka kesal karena Aditia mengeluh.
Mereka semua bergegas mengejar pria tak kasat mata itu, dia berlari ke arah pemakaman.
Lima sekawan mengejarnya,walau Jarni, Ganding dan Hartino hanya mengkuti langkah Alka dan Aditia.
Alka mengeluarkan cambuk apinya dan menyabet kaki lelaki yang berlari itu, lelaki itu terjatuh karena sabetan cambuk Alka.
“Dit, tangkep!” Alka berteriak, karena jarak Aditia yang lebih dekat dengan lelaki itu.
Aditia menangkapnya, lepas! Tentu saja, itukan arwah.
Ganding dan Hartino tertawa sampai jatuh melihat kejadian itu.
Alka menarik cambuknya yang masih melingkar di kaki lelaki itu.
“Kalian bisa lihat saya?” itu kata yang dia ucapkan pertama kali begitu Aditia mendekatinya.
Alka mendekat, wajahnya terlihat memar di beberapa bagian, tubuhnya idak kalah menyedihkan, pasti sakit sekali, dia seperti disiksa oleh malaikat maut, tapi kok bisa kabur? Ada yang aneh, itu yang Alka fikirkan.
“Berdiri Pak,” Alka berkata.
“Tolong saya Nak, mereka masih mengejar saya.”
“Siapa?” Aditia bertanya.
“Wajahnya seperti kambing, memiliki tanduk, kakinya seperti kuda, tubuhnya seperti manusia, mereka tidak berbicara hanya mengembek, tapi tidak berhenti menyiksaku.”
“Dia udah masuk neraka, Ka?”
“Ngaco! Surga, neraka, baru akan dihuni setelah kiamat, sekarang belum ada.”
“Lah terus dia kenapa?”
“Nding, Tino, Jarni, cover gue sama Bapak ini, Adit dibelakang gue, Jarni tabur bisa ularnya bikin lingkaran, jangan ada yang keluar lingkaran.
Lima sekawan mengambil posisi melingkar, Aditia dibelakang Alka, sisanya mengelilingi Alka.
Dari kejauhan terdengar suara mengembek, tapi bukan dari satu suara, terdengar seperti rombongan.
Tidak lama suara itu muncul, gerombolan makhluk aneh berdatangan, mereka terlihat aneh dan mengerikan, persis seperti yang bapak ini katakan, hanya ukuran tubuhnya terlihat dua kali kambing biasa.
Mereka tahu, Jarni sudah menabur bisa ular ghaibnya di sekeliling mereka. Kambing jadi-jadian itu tidak bisa mendekat, karena terasa panas jika terkena kaki.
“Serahkan lelaki itu.” Seseorang berbicara, seorang manusia! bukan arwah, bukan jiwa dan bukan makhluk penasaran. Ada pemimpinnya ternyata.
“Dia masuk ke wilayah pertolonganku, sudah tahu, kan, ini wilayah siapa?” Alka berkata dibalik tubuh Hartino. Karena tidak ada yang bisa memegang tubuh penuh luka ini selain Alka. Si perempuan setenah Jin dan setengah manusia.
“Saba Alkamah, mohon maaf kami memasuki wilayahmu, tapi lelaki itu adalah tahanan kami.”
“Tahanan? Apa kau malaikat maut yang diutus Tuhan?” Alkamah bertanya lagi.
“Saya hanya seorang hamba yang fasik. Bukan urusan Anda, kembalikan tahanan saya.” Dukun, dia pasti dukun. Itu yang Alka fikirkan.
__ADS_1
“Tidak bisa, dia berlari ke sini dan minta tolong, maka berdasarkan teritori, keputusan ada di tanganku.” Alka bertahan, walau dia tahu, akan sulit untuk melawan mereka.
“Kami tidak bisa menyerah begitu saja, kembalikan dia atau ….”
Alka melepas pegangannya pada lelaki tak kasat mata itu, lalu berdiri paling depan, Jarni bersiap untuk kemungkinan terburuk. Dia mengeluarkan ular dari tangannya dan melempar ular itu ke pundah Alka, ini adalah penjagaan.
Alka memperlihatkan cambuk yang berasal dari Mustika Anuman, dia menyabet cambuknya ke tana, terdengar suara yang menggelegar, kambing-kambing itu mundur melihat cambuk mengerikan itu.
“Ternyata yang mereka katakan benar, bahwa ada jin yang memiliki darah manusia. Saba Alkamah, dengan Mustika Anuman. Tapi kalau aku melepaskan lelaki itu, akan sama saja, karena maharnya tinggi sekali.”
“Bukan urusanku, bersiap semua.” Jarni mengeluarkan ular dari seluruh tubuhnya, ular-ular itu bertubuh kecil hanya sebesar jari telunjuk dan panjang hanya 20 centi, tapi jika dia menghinggap ke tubuh musuh, maka bisanya akan membuat musuh langsung jatuh dan musnah, khusus untuk jin, karena ini adalah ular ghaib.
Ganding dan Hartino bersiap, mereka bisa melihat kambing dan dukun itu tentu saja, karena kambing-kambing jadi-jadian itu adalah murni Jin.
Mereka keluar lingkaran, kecuali lelaki tak kasat mata itu, dia harus tetap di sana agar aman.
Alka menyabet cambuknya ke lelaki itu, dia mundur dan mengeluarkan keris yang cukup panjang, menghunusnya kepada Alka, tapi keris itu berhasil di halau oleh cambuknya, Alka menarik keris itu, tapi tidak berhasil, karena Mustika Anuman memang tidak bergitu kuat jika untuk manusia.
Sementara yang lain menghalau kambing-kambing jadi-jadian, kebanyakan lari karena melihat keris kecil milik Aditia dan diserang oleh ular Jarni.
Alka dan Dukun itu tarik-tarikan, Jarni yang telah selesai melawan kambing-kambing itu akhirnya melempar seluruh ularnya untuk menyerang dukun itu, karena dia dikeroyok, maka fokusnya teralihkan, keris di tangan terlepas, dia berusaha melepas ular-ular Jarni, setelah mendapatkan kerisnya, Alka melempar keris itu ke Aditia dan mulai menyabet Dukun dengan keras, karena efeknya bukan api, hanya pedih saja, seperti rotan.
Dukun itu kesakitan, sementara ular-ular ghaib Jarni terus menggigit seluruh tubuh Dukun, tidak ada bekas, tapi jelas, serangan ghaib lebih mematikan, dia kesakitan walau tidak ada luka di tubuhnya, dia lalu jatuh tersungkur dan muntah darah, berlari mengejar kawanan kambing-kambingnya, jin peliharaan manusia laknat!
Setelah memastikan semua aman, Jarni membawa lelaki tak kasat mata itu ke rumahnya atau guanya di tengah hutan itu.
Gua dan tempat paling aman, karena hutan itu kawasan kekuasaan Alka, semua jin ataupun orang yang ngilmu pasti tahu dan akan ijin dulu jika hanya ingin lewat, hanya manusia biasa yang tidak tahu keberadaan gua Alka, kalau diibaratkan, Gua Alka adalah lobby bagi hutan yang akan di kunjungi oleh manusia yang mau ngilmu atau jin yang telah tobat.
Semua sudah tenang, beberapa lanjut makan lagi, maklum gua itu adalah basecamp juga setelah warung dekat kuburan itu.
“Bapak darimana? Kenapa bisa dikejar mereka?” Aditia bertanya.
“Tidak tahu.”
“Loh kok? apa yang bapak ingat terakhir kali, kapan bapak meninggal, lalu ….”
“Meninggal? Saya belum meninggal!” Bapak itu berteriak.
“Mulai dari nama dulu deh, Bapak namanya siapa?” Alka bertanya.
“Saya namanya, Roni.”
“Tinggal dimana?” Alka lanjut bertanya.
“Di … di … saya … nggak inget.”
“Kok bisa?!” Aditia kesal. Alka memegang bahu Aditia, minta Aditia diam dulu, sepertinya Alka tahu asal muasal lelaki ini.
“Apa yang terakhir Pak Roni ingat?” Alka mencoba merajut kemungkinan yang sudah dia duga.
“Waktu itu saya tidur, lalu bangun-bangung sudah ada di suatu tempat, dikelilingi kambing mengerikan itu yang terus menyiksa saya, kadang pakai cambuk, kadang pakai pisau, kadang pakai panah. Mereka tidak berhenti menyiksa saya setiap hari, tidak diberi makan atau minum.”
“Tidak perlu, karena Bapak kan hanya ruh.” Alka sudah pada kesimpulannya, ini menjadi alasan yang lain tidak bisa melihatnya.
“Ruh?”
“Sebelum tidur, Bapak ingat apa yang bapak lakukan?” Alka masih bertanya.
__ADS_1
“Sebelum tidur, saya … saya tidak ingat.” Pak Roni menunduk, dia terlihat sedih.
“Ok, Bapak istirahat dulu, saya Saba Alkamah, saya akan membantu bapak bertemu dengan tubuh Bapak secepatnya. Jadi tidur dulu ya.”
“Tubuh saya?”
Alka tidak menjawab, dia memegang kening Pak Roni dan sekejap kemudian, dia tertidur. Terlihat sekali, dia selama ini tersiksa, tidak tahu sudah berapa hari, karena dia disekap dalam zona ghaib.
“Kumpul semua.” Alka mengumpulkan yang lain untuk bergabung di meja makan bundar milik Alka, kebanyakan mereka meeting soal perghaiban di sini.
“Jadi apa kesimpulannya, Kak?” Hartino duluan bertanya.
“Dia belum meninggal, kebanyakan ruh tahu saat dia sudah meninggal. Makanya ada beberap ayang kabur karena merasa ada yang tertinggal. Lalu jadi jiwa tersesat. Tapi ini berbeda, dia belum meninggal, makanya kalian nggak bisa lihat, dia bukan jin ataupun ruh orang mati yang biasa kalian bisa lihat karena mata batin atau mata ketiga kalian yang terbuka. Dia bukan dari kalangan itu.”
“Lalu dia apa, Kak?” Hartino mewakili semuanya.
“Ada dua kemungkinan, pertama dia adalah orang yang koma, kedua dia korban pelet atau santet. Semoga saja dia hanya seorang lelaki yang sedang koma.”
“Pantas kami nggak bisa lihat. Ternyata dia bukan makhluk ghaib, yang biasa mata batin kita lihat. Dia sedang lepas raga, secara terpaksa.” Ganding menarik kesimpulan.
Jarni bangun, dia sepertinya sudah lelah, lalu tertidur di kasur Alka.
“Loh kok?” Aditia bingung, Jarni bisa tiba-tiba saja begitu, bangun dan tidur.
“DIa kelelahan karena seluruh piaraannya sudah dilepas tadi, biarkan, aku akan menyuruh salah satu Jin di hutan ini untuk menyamar menjadi Jarni dan pulang ke rumahnya, orang tuanya lumayan over protective,” Alka menjawab.
“Kalau begitu, Tino sama Ganding tidur sini ya?” Hartino ikutan.
“Nggak! Udah pada gede juga! Pulang sana!” Alka mengusir keduanya, Alka memang definisi kakak yang paling disayang sekaligus ditakuti.
“Ah pilih kasih, selalu gitu.” Hartino kesal lalu pergi, dijemput oleh supir dan mobil mewahnya, Gandingpun sama.
Alka dan Aditia sudah di angkot lagi, Aditia bermaksud pulang.
“Kau menjaga mereka dari kecil?” Aditia bertanya. Alka lalu membuka pintu mobil penumpang pada bagian supir. Karena dia tahu Aditia ingin ngobrol dulu.
“Kan sudah kuceritakan, papak menemukan kami dari kecil, aku, lalu mereka, setiap kali kami kesulitan, bapak menolong, kata bapak, aku harus jaga mereka, karena orang tua mereka tidak mengerti dan tidak mau mengerti, jadi harus aku yang menjaga mereka, kalau bapak tidak bisa di sisi kami lagi. Mereka sering menginap di sini dulu, aku harus meminta teman-teman jinku menyamar menjadi mereka untuk pulang, alasannya karena mereka sedang sedih, kau tahu, saat ilmu turun dari leluhur di umur yang begitu muda, pasti mereka bingung dan takut, sementara orang tuanya tidak mengerti dan cenderung membawa ke Psikiater.
Seperti Jarni, yang lelah dengan obat-obat itu, orang tuanya tidak tahu, kalau ular-ular kecil itu adalah miliknya, Jarni kecil hanya tahu ular itu berbahaya, setiap puluhan ular mendatanginya, dia berteriak ketakutan, orang tuanya menyangka dia gila, karena yang bisa melihat ular itu hanya Jarni.
Jarni kecil fikir dia gila karena metode pengobatan yang salah, makanya dia takut sekali bicara, karena orang akan anggap dia gila. Bapak akhirnya menyamar menjadi tekhnisi AC dan datang ke rumah orang tua Jarni untuk membantu Jarni menemukan kemampuannya, mengajarkannya mengendalikan ular-ular itu, setelahnya Jarni lebih senang di sini, karena kami menerima dia apa adanya dan percaya dengan apa yang dia lihat dan dia dengar.
Jarni wanita yang cantik dan berkelas, aku kadang iri padanya, dia begitu anggun dan hebat.” Alka menjelaskan panjang lebar.
“Buatku, Alka yang jauh lebih hebat … Alka mengurus mereka semua, hingga mendapatkan hormat dan kasih sayang dari mereka dengan tulus, buatku Alka yang hebat, karena membantuku memecahkan masalah dengan bijak, tidak pernah mengeluh dan ….”
“Cukup Adit, bapak bilang, aku hanya boleh menjaga kalian, sudah cukup, selamat malam.” Alka tahu arah omongan Aditia, sungguh Alka juga memiliki hati yang sama, tapi amanah bapak jauh lebih penting, Alka tahu, bahwa bapak pasti tidak setuju jika Alka bersama Aditia, Alka tahu diri, untuk Alka bapak adalah Raja, Aditia Pangeran dan Alka adalah punggawa, pembantu Raja, tidak boleh melewati batas.
Aditia terlihat kecewa dengan apa yang Alka katakan, dia lalu berlalu pulang tanpa pamit.
Udara dingin hutan membuat lelehan air mata menjadi begitu kelam dari mata Saba Alkamah.
___________________________
Catatan Penulis :
Bantu Author buat naikin AJP ya, jangan lupa VOTE.
__ADS_1
Terima Kasih.