
TAHUN 1425
Ada salah satu kerajaan yang masyur, nama kerajaan itu adalah kerajaan Galihbarang Adijaya. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang Raja yang sangat arif dan bijaksana. Raja Adi Barang IX atau biasa dipanggil Maharaja Adi barang, pun kadang dipanggil Prabu Adi Barang, beliau memiliki satu Ratu atau Permaisuri dengan 33 selir, tentu memiliki selir pada jaman itu adalah hal yang biasa, memiliki selir tidak sampai Ratusan juga adalah sebuah kesetiaan dengan level yang berbeda.
Selir-selir itu didapat dari rampasan perang atau hadiah dari para pemimpin, yaitu putri-putri mereka sebagai jaminan atas kekuasaan yang dibagi dari kerajaan, putri-putri itu tetap menjadi selir dan tidak semua disentuh oleh Raja, karena dipelihara hanya untuk menjaga hubungan baik. Sedang Raja hanya mencintai satu Ratu, yaitu Permaisuri Prameshtungga Dahlia, Permaisuri Dahlia nama panggilannya.
Beliau adalah seorang Ratu yang sangat tegas pada urusan rumah tangga kerajaan, dia juga amat cemburuan.
Pada jaman itu, bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda kuno, tapi untuk mempermudah kita memahami bahasanya, mari kita gunakan bahasa Indonesia saja.
Permaisuri Dahlia Sangatlah tegas untuk urusan rumah tangga kerajaan, baginya semua orang harus tunduk pada peRaturan rumah tangga kerajaan, artinya tunduk pada perintah yang dia buat, karena semua peRaturan rumah tangga beliau yang buat.
Bahkan untuk urusan malam-malam Prabu haruslah dalam pengawasan ketat Permaisuri Dahlia, karena setiap selir dilarang tidur secara rutin dengan Raja. Hal ini dilakukan agar selir tidak memiliki kemungkinan untuk mempunyai anak dari Raja.
Sementara Prabu sangat menyayangi Permaisuri sehingga urusan rumah tangga kerajaan tidaklah turut campur tangannya, selama tidak ada pertumpahan darah, maka pemimpin rumah tangga kerajaan adalah Permaisuri Dahlia.
Seperti hari ini ketika rumah tangga kerajaan gempar karena selir baru diketahui telah berani mengundang prabu ke kamarnya. Selir baru itu memang sangat cantik dan masih sangat muda, umurnya bahkan belum genap dua puluh tahun. Tapi dia bukan sembarang perempuan, dia adalah anak dari pemimpin daerah, walau jaman itu sekolah belumlah dikenal istilahnya, tapi selir ini telah mampu membaca aksara kuno karena diizinkan oleh ayahnya untuk belajar seperti kakak-kakak lelakinya.
Walau dia dikenal pintar, ada satu hal yang mungkin akan membuat selir baru ini dalam bahaya, yaitu kenekatannya atas setiap keinginan yang harus dia dapatkan. Saat ini, dia sangat menginginkan seorang pria yang bermartabat, tampan, berkharisma dan tentu saja berkuasa, suami tidak sahnya sendiri yaitu Sang Raja.
Selir baru itu duduk bersujud pada Permaisuri karena dipanggil ke pendopo milik Permaisuri, wajahnya tidak diperkenankan untuk terlihat, karena dalam kerajaan hanya Permaisuri lah yang boleh memperlihatkan wajahnya.
“Selir Diah Ningrum, aku dengar kau mengirim utusan untuk mengundang Prabu bermalam di kamarmu?” Permaisuri menyesap minumannya di atas singgasana pendopo miliknya, sementara Diah tetap duduk bersujud dengan wajah tertunduk.
“Benar yang mulia Permaisuri, aku mengundang Prabu untuk bermalam, karena setelah satu bulan kedatanganku, belum sekalipun Prabu datang padaku.”
“Apakah itu perlu?” Permaisuri bertanya dengan dingin, bagaimana hal itu dipertanyakan sedang Diah adalah istri tidak sah barunya.
“Tidak perlu jika itu untukku, tapi untuk Raja, mungkin itu sesuatu yang harus kulakukan karena menunjukan baktiku pada Prabu negeri ini yang membawaku ke kerajaani, aku harus mengabdi, untuk itu aku kirimkan undangan bagi Rajaku yang mulia Permaisuri.” Selir Dahlia memang memiliki kemampuan berbicara yang cerdas, hal ini disadari oleh Permaisuri, makanya dia selalu meminta Prabu untuk menunda kunjungannya pada selir muda ini.
“Tujuanmu tentu sangat mulia wahai selir muda yang cantik jelita, tapi maaf, saat ini jadwal tidur Prabu telah menjadi hak dari selir lain, tentu aku tidak ingin menjadi tidak adil atas pembagian malam-malam Raja.” Permaisuri Dahlia memang menang pengalaman, mengurus begitu banyaknya selir Prabu, tentu tak mudah, ada yang nakal atau bahkan tidak tahu malu, makanya dia perlu menundukkan mereka semua.
“Baiklah Sri Permaisuri yang agung, apakah hamba yang rendah ini diizinkan kelak memenuhi tanggung jawab sebagai seorang istri bagi suaminya? Mengabdi pada Sang Raja alam sunda ini?” Selir Diah Ningrum kesal karena sudah tahu kalau tujuannya untuk bermanja dengan prabu tidak akan bisa terpenuhi.
Selir Diah kembali ke pendopo selirnya yang berisi beberapa orang selir lain, karena selir-selir tidak memiliki pendopo pribadi, mereka tidur bersama dengan selir-selir yang lain sesuai dengan tingkatan kebangsawanannya, semakin tinggi tingkat kebangsawanannya, maka pendoponya semakin luas dan teman selirnya juga hanya sedikit, paling banyak tiga orang saja.
“Ada apa Selir Diah? Kau terlihat muram?” tanya salah satu teman selir pendoponya.
__ADS_1
“Aku tidak apa-apa.” Diah berusaha menyembunyikan gundah gulananya.
“Kau tadi dipanggil Sri Ratu Dahlia bukan? apa dia memarahimu? Memakimu?”
“Tidak, untuk apa dia melakukan itu?” Dahlia terlihat semakin kesal.
“Karena kau berani mengirimkan surat undangan untuk Prabu Adi Barang, kau itu terlalu menggoda dan itu dilarang di sini, sangat dilarang keras.”
“Kenapa? Aku istrinya, aku boleh menggodanya sesuka hatiku.” Diah muda tenggelam dalam ego dan juga jiwa belianya.
“Hanya Permaisuri Dahlia yang boleh menggoda Prabu Adi Barang, kita ini hanya selir, istri tidak sah Prabu yang tugasnya menghibur Prabu, bukan menggoda Prabu, kau cari mati namanya, menabuh genderang perang dengan Sri Ratu Dahlia.”
“Aku tidak bermaksud menabuh genderang perang, aku hanya ingin bertemu kekasihku, aku sangat menginginkannya, makanya aku meminta ayahku mengajukanku sebagai selir dari Prabu, padahal banyak bangsawan muda yang sama kayanya denganku menginginkan aku, tapi aku tolak karena aku hanya ingin Prabu, maka dari itu, aku ke sini untuk bertemu dengannya, bukan menjadi pajangan bagi kerajaannya.” Diah terlihat sangat kesal.
“Selir Diah, kalau kau sangat ingin Prabu datang padamu, kau harus bersikap baik pada Sri Ratu Dahlia, hingga dia memberimu jadwal kunjungan tidur Prabu Adi Barang, tapi kalau kau seperti ini, kau tidak akan pernah mendapatkan jadwalmu.” Selir itu bermaksud menolongnya.
“Dia itu Permaisuri atau ibunya? Hingga untuk dekat dengan Prabu, aku harus mendekatinya, sungguh merepotkan, tapi akan aku coba, apa pernah ada yang berhasil?” Diah bertanya.
“Ada, tapi kau harus menjilatnya seperti tikus jalanan, jadilah kotor dan tidak menarik, maka dia tidak akan menyangka kau adalah ancaman, Permaisuri Dahlia sangat membenci wanita cantik dan muda, dia tak suka tersaingi.”
Diah lalu pergi ke luar, dia memiliki dua orang pelayan yang selalu mengikutinya, bisa dibilang orang kepercayaan, seharusnya, tapi sayang, orang-orang kepercayaan Selir adalah orang-orang milik Permaisuri Dahlia, sehingga apapun yang dilakukan oleh Selir akan menjadi hal yang selalu dilaporkan oleh para dayang itu.
Diah meminta dua dayangnya untuk menunggu di luar sementara dia ke bilik kamar mandi, itu hanya alasan, sebenarnya ada hal penting yang harus dia lakukan.
Saat sudah merasa aman, Diah lalu berjongkok, mengambil sesuatu dari balik kebayanya yang sangat indah itu, setelah bungkusan itu sudah dapat dia raih, Diah membuka bungkusan berkain hitam dengan kedua tangannya, ternyata itu adalah Kalacakra Junggel, jimat pembalik doa, seorang dukun keluarga yang telah turun temurun dipercaya membantu keluarganya dalam meraih semua keinginan, memberikan Rajah berisi Kalacakra Junggel, yaitu doa baik yang dibalik, kalau doa baik untuk kebaikan, maka ketika dibalik, maka doa itu menjadi bala yang akan menimpa target yang telah tuannya incar.
Diah menaruh Rajah itu di dalam bak mandi hingga air mandinya terkotori oleh Rajah tersebut. Ratu mungkin tak tersentuh, tapi semua orang di bawahnya pasti tersentuh. Bukankah, katanya, jika ingin meruntuhkan yang paling tinggi, maka mulailah menghancurkan dari bawah.
“Aku sudah selesai, bisa antarkan aku ke pendopoku lagi?” Diah terlihat sangat senang karena berhasil menaruh Rajah Kalacakra itu. Saat dia hendak kembali ke pendoponya, iring-iringan Prabu terlihat dari jauh, dua dayang Diah berusaha menyingkirkan Diah dari jalan Prabu, karena itu adalah titipan pesan dari Permaisuri Dahlia, terlambat ....
“Kakiku sakit! kakiku sakit!” Diah jatuh, tepatnya pura-pura jatuh. Kakinya baik-baik saja sebelumnya, dua dayang itu berusaha untuk menarik Diah, tapi Diah malah berteriak seolah diseret oleh dua orang dayangnya.
Iringan Prabu Adi Barang mendekat dan harus terhenti karena Diah terduduk di tengah jalan, menghalangi iringan.
“Menyingkir dari iringan Prabu.” Penjaga Prabu dengan tingkat tertinggi berada paling depan untuk memastikan jalan Prabu tidak terhalangi, dia kesal karena melihat seorang wanita terduduk dan menghalangi Prabu untuk lewat.
“Maafkan saya wahai Dorapala, aku adalah selir baru Prabu, sedang aku sekarang kesakitan, aku mohon maafkan aku.” Diah bersujud dengan wajah menunduk, tapi dengan sengaja membuka kakinya hingga terlihat betis selir itu di hadapan Prabu yang jaraknya hanya beberapa langkah saja.
__ADS_1
“Singkirkan wanita ini, Prabu harus melewati jalan ini.” Dorapala terlihat kesal karena begitu banyaknya agenda Prabu sehingga seharusnya tidak disulitkan dengan drama semacam ini.
“Maafkan aku Dorapala, kakiku begitu sakit, sampaikah hatimu membuat Selir muda yang tak kenal kerjaaan ini, jauh dari keluarga untuk menanggung sakit sendirian?” Diah masih berusaha untuk mendapatkan rasa iba dari Prabu.
“Dorapala Sajar, mundur.” Prabu Adi Barang terlihat gusar melihat Selir barunya kesakitan, mungkin iba karena wajah mudanya dan juga jauh dari rumah.
“Yang mulia Prabu, ada beberapa hal yang harus kita selesaikan, sehingga ....”
“Mundur kataku.” Prabu berkata dengan penuh penekanan. Dorapala menyerah dan akhirnya mundur.
“Wahai selir baru, tengadahkan kepalamu.” Prabu mendekati Selir itu.
“Bagaimana aku diperbolehkan menengadahkan kepala agar wajahku terlihat, sedang saat ini aku begitu terhina di hadapan tuanku, suamiku dan juga lelaki yang seharusnya aku muliakan karena utusan Tuhan.” Diah gadis yang tahu, bahwa ego seorang lelaki sangatlah tinggi, apalagi seorang Raja dan juga pemimpin Negeri Sunda ini.
“Aku Rajamu, aku berhak atas wajahmu, tengadahkan kepalamu, aku ingin melihat wajah selir baru yang berani membuat jalanku terhalang.”
Diah tersenyum dalam hatinya, karena saat ini, dia siap memperlihatkan wajahnya sembari membaca Rajah Kalacakra dihadapan Raja dan menyebutkan keinginannya. Jika sebelumnya Rajah itu dibaca terbalik, sekarang Rajah itu dibaca dengan tepat, sehingga ketika Raja melihat wajahnya, maka Rajah itu akan mempengaruhi penglihatannya pada selir itu.
Tepat saat wajah itu terlihat, Prabu mundur, dia lalu meminta Dorapala Sajar, membawa selir ini ke pendoponya dan obati dia, lalu berkata “Beritahu Permasuriku, bunga mawar di pendopo agung telah menghitam, aku ingin dia mengganti dengan tangannya sendiri.”
Setelah mengatakan itu Prabu lalu pergi, Dorapala mengikuti perintah Prabu dan meminta dua dayangnya menarik selir itu dengan paksa, memasukkannya ke dalam pendopo dan dilarang keras keluar dari pendopo.
Malam semakin larut.
Diah terlihat bersiap, dia memakai pakaian terbaiknya, dia yakin Prabu akan datang padanya malam ini, makanya dia meminta dayang-dayang untuk membereskan kamarnya agar bisa digunakan Prabu dan dirinya malam ini.
Diah membayangkan bagaimana nanti dia akan menggoda Prabu dengan tubuh mudanya, Rajah Kalacakra ini memang terkenal ampuh, tapi hanya orang tertentu yang bisa menghapalnya, sekali dikatakan dengan keinginan kuat, maka semua yang kau inginkan akan terkabul.
Malam tiba, Diah semakin tidak sabar untuk dipanggil ke pendopo agung Prabu Adi Barang.
____________________________________
Catatan Penulis :
Prabu Adi Barang, bukanlah Prabu yang ada di pabrik ya, ini dua orang berbeda dengan sebutan sama.
Kalau cari sejarahnya nggak ada ya di literasi manapun, ini adalah karangan Penulis, hanya waktunya saja mengambil dari sejarah kerajaan Sunda yaitu sekitar tahun 1400an.
__ADS_1