
Butuh waktu selama satu minggu untuk Alka akhirnya pulih kembali beberapa kasus di selesaikan oleh kawanan, dengan membagi tiga kelompok.
Jarni dan Ganding, lalu Hartino dengan Alisha dan Aditia sendirian.
Saat ini sesi laporan pada pimpinan yang masih harus terbaring untuk memulihkan dirinya.
“Gadis itu bagaimana?” Alka bertanya pada Aditia yang mengembalikan anak gadis Almarhum Mbah Nur.
“Aku mengembalikannya pada ayahnya, ayahnya terlihat masih sangat sedih karena istrinya tiada dengan sebab yang tidak jelas, karena sampai terakhir dia bertemu, Mbah Nur masih sangat segar bugar. Setelah anaknya kembali dalam keadaan tidak ingat apapun, tidak heran karena jiwanya di tawan, yang dia ingat adalah, seorang lelaki datang bertamu menanyakan ibunya, lalu setelah itu dipersilahkan masuk, setelahnya dia lupa. Ayahnya sangat bahagia putrinya kembali dengan selamat, dia juga sempat melaporkan ke Polisi perihal anaknya yang hilang, tidak diketemukan walau sudah mencari ke berbagai pelosok desa.
Tentu saja, bagaimana bisa ditemukan kalau dia disembunyikan secara ghaib oleh dukun itu. Pasti tamu yang anak gadis itu ceritakan adalah dukun ayah Tinung.”
“Kau sudah memastikan bahwa dukun itu tidak akan kembali ke desa lagi?” Alka bertanya lagi.
“Tidak akan, terakhir aku dan Lais sudah melumpuhkannya, walau kami tidak bisa mengambil ilmunya secara menyeluruh, tapi kami bisa mengunci kekuatan itu.” Aditia kembali menjawab.
“Baiklah, berarti kasus Tinung kita tutup. Aku juga berterima kasih pada Jarni, kau hebat, dalam kasus Tinung, kita bahkan bisa membuat jin air terjun itu ikut ‘pulang’, aku tidak pernah menyangka, gadis kecilku sudah dewasa sekarang, mampu mengambil keputusan dengan tepat.” Alka salut pada apa yang Jarni lakukan, Jarni tersenyum bangga.
“Baiklah, sekarang, siapa yang mau melapor duluan tentang kasus yang kalian sudah selesaikan?” Alka bertanya.
Hartino mengangkat tangan, dia sepertinya sudah tidak sabar untuk bercerita pada Alka.
“Ya, Har boleh cerita sekarang.” Alka mempersilahkan.
HARTINO & LAIS
Mereka berdua menangani kasus jembatan penyebrangan yang selalu runtuh atapnya, hingga menimpa kepala orang yang melewati jembatan itu, beberapa terluka, sisanya ada yang meninggal juga karena atap jembatan itu sangatlah berat.
Hartino dan Lais datang ke jembatan itu, tengah malam, suasana sepi, lampu di jembatan penyebrangan itu nyala semua. Sementara di bawah mereka masih ada mobil dan motor yang lewat, maklum, Jakarta adalah kota sibuk, bahkan tengah malam masih saja ada yang berkendara.
“Kau sudah menyingkirkan khodammu kan?” Lais mengingatkan.
“Ya,” Hartino menjawab. Mereka sudah ada di ujung tangga paling atas, bersiap untuk belok kanan dan melewati langkah demi langkah jembatan itu. Hartino dan Lais melepas khodam mereka sementara, agar ‘penghuni’ jembatan mengganggu mereka layaknya pejalan kaki sebelumnya yang diganggu.
Langkah demi langkah, mereka berjalan hingga sampai bagian tengah jembatan, Lais memegang tangan Hartino.
__ADS_1
“Kau takut?” tanyanya.
“Kau gila! aku hanya sedang mendalami peran saja, seolah kita berpacaran, agar jin yang mengganggu semaki yakin kita pemudan dan pemudi biasa.” Alisha mencari alasan, padahal dia hanya ingin menggenggam tangan Hartino.
“Menurutmu, apakah semua orang yang lewat jembatan ini udah pasti pacaran, kan ada yang adik kakak, rekan kerja, atau hanya sekedar orang asing.”
Lais melepaskan pegangannya, dia kesal karena meresa ditolak oleh Hartino.
Saat mereka sibuk dengan urusan perasaan, mereka tidak sadar, bahwa di belakang mereka telah ada sesosok hitam bersiap, dia mengambil selembar plat besi yang menjadi atap jembatan itu, lalu melemparnya dengan kecepatan tinggi tepat ke punggung Hartino dan Lais.
Hartino yang menyadari bahwa plat itu seolah terbang dari belakang tubuh mereka, buru-buru menarik Lais agar tubuhnya tidak kena plat besi karena terhalang tubuh hartino.
Begitu plat besi itu menimpa punggung Hartino, mereka berdua terpental cukup jauh, hingga ke bagian ujung jembatan di tangga yang paling atas menuju turun.
Sosok hitam itu merangkak dalam kegelapan, karena begitu plat itu dilempar dari atas, lampu mati satu persatu, hingga tidak tersisa.
Sosok itu mendekati Alka dan Hartino, walau merangkak, dia bisa bergerak dengan cukup cepat.
Makhluk itu mendekati Hartino, dia mendekatkan dirinya ke tubuh Hartino dan tertawa cekikikan karena melihat Hartino terluka, lalu setelah melihat dari dekat korbannya, dia bermaksud pergi. Tapi tentu saja, tidak akan secepat itu.
Sosok itu berhasil menghindar karena sudah merasakan angin berhembus kencang, makanya dia sempat menghindar dari plat besi yang Lais lemparkan.
Makhluk itu berbalik, dia menatap Lais dengan tatapan bingung. Baru kali ini korbannya masih bsia bangun dan malah melempar balik plat besi yang dia lemparkan sebelumnya.
“Kau bisa melihatku?” Suara makhluk itu terdengar seperti kakek-kakek tapi sangat serak.
“Aku bukan hanya bisa melihatmu, tapi aku juga bisa menghabisimu, beraninya kau menyentuh dia!” Lais berlari, dia menendang makhluk itu dengan kakinya yang sangat kuat, kemarin bahkan dia bisa membuat pagar ghaib yang ayahnya Tinung buat bergetar saat dia tendang, sudah dapat dipastikan makhluk ini terpelanting dengan jarak yang sama ketika Hartino dan Lais terpelanting karena terkena lemparan plat besi itu.
Makhluk itu lalu berlari ke bawah jembatan dan menghilang. Lais ingin mengejarnya, tapi dia harus melihat keadaan Hartino dulu.
“Har!” Lais mengguncang tubuh Hartino. Hartino tidak bangun.
Lais merasa hangat pada bagian tangannya, dia melihat bagian tangan itu yang menopang tubuh Hartino, ternyata itu darah.
Lais lalu menggendong Hartino di punggungnya, Rania datang dengan mobil milik Lais, dia membantu Lais membaringkan Hartino di bagian belakang mobil sedan mewah itu.
__ADS_1
Lais naik di samping kemudi, di samping Rania. Asisten kepercayaannya.
“Dia kenapa?” Rania bertanya.
“Brengsek! Akan kuhabisi makhluk itu, aku akan mencarinya dan menebas lehernya!” Lais kesal.
“Tenang ... apakah kita harus ke rumah sakit?” Rania bertanya.
“Nggak, ke apartemen baruku saja, kau sudah mengisi furniturenya kan?” Lais bertanya, dia meminta Rania mengurus apartemen barunya, apartemen yang tidak terlalu besar, bertipe studio dan diisi dengan perabotan ala kadarnya, Lais hanya memiliki firasat, dia butuh tempat tinggal yang terlihat masuk akal, bukan tempat tinggal yang mewah.
Benar saja, kali ini dia akan membawa Harino ke apartemen itu. Karena dia tidak mungkin membaw Hartino ke apartemen mewah miliknya, bisa ketahuan kalau dia adalah Alisha.
Begitu sampai apartemen, Lais langsung menidurkan Hartino di sofa yang telah di lapisi oleh kain yang tidak tembus air.
Hartino ditidurkan dalam keadaan tertelungkup, karena punggungnya terluka cukup parah.
Rania sudah menyiapkan air bersih dan alkohol di wadah yang cukup besar untuk membersihkan luka Hartino sebelum mereka mengobati lukanya dan membalut luka itu.
Setelah membersihkan, Lais mengobati luka itu dan membalutnya, dia sesekali menyeka air matanya, ini pertama kalinya dia merawat Hartino. Karena kemarin saat mereka babak belur dihajar pasukan Ratu, mereka dirawat di rumah sakit bersama.
“Kenapa kau menangis?” Rania bertanya.
“Aku sedih, apa lagi?”
“Ini hanya luka kecil Nona, kau bahkan beberapa kali patah rusuk kerena mengejar lelaki ini, ini tidak seberapa!” Rania kesal.
“Rania, jangan terlalu keras bicaranya, dia bisa mendengar.” Lais menutup telinga Hartino.
“Kau bodoh kalau soal lelaki ini.” Rania kesal dan akhirnya membereskan semua peralatan pengobatan luka Hartino yang digunakan tadi.
Lais lalu memakaikan Hartino baju miliknya yang cukup besar, karena baju yang dipakai Hartino sudah kotor oleh darahnya. Tapi walau baju itu cukup besar, tetap saja jadi cukup ketat di badan Hartino karena Lais memiliki tubuh yang ramping, sedang Hartino memiliki tubuh yang kekar.
“Apakah kita berdua memang harus bernasib tragis seperti ini, kau babak belur, aku juga, kau terluka, aku juga, kenapa kita harus sejauh ini? kenapa aku harus selalu mengejarmu? Kenapa kau selalu berpaling dariku? kenapa kita sejauh ini?” Lais berkata dengan sedih, kenapa jalan cintanya begitu tragis.
Dia hanya ingin bersama kekasihnya, tapi untuk saat ini, yang dia harus lakukan adalah menyelidiki si brengsek makhluk di jembatan itu, siapa namanya, kenapa dia bersarang di sana dan kenapa dia menyerang orang-orang yang lewat.
__ADS_1
Dia memanggil Rania untuk berdiskusi bersama, karena begitu Hartino bangun, Rania harus segera pergi dari apartemen ini.