
“Mi, sadar!” Suami pemilik toko emas itu berteriak memanggil istrinya yang sedang terkapar di kamar itu, beruntung suaminya pulang dan sadar istrinya sudah dari semalam belum keluar dari kamar itu.
Sekarang dia sudah membawanya ke rumah sakit dan dia dirawat.
“Kau gegabah, bukankah kukatakan bahwa aku yang akan melakukannya, sekarang kenapa kau melakukannya? Pun jika kau lakukan, maka pakai satu saja, energimu akan terkuras, kau akan mati!” Suaminya terlihat sangat marah. Tapi sebenarnya dia khawatir.
“Kau sudah melakukannya kemarin, sedang tuan putri masih marah, makanya aku mencoba menenangkannya, akut takut dia mengejar anak kita.”
“Mi, apa kita perlu melakukannya? Menguncinya di tempat yang jauh lebih aman?”
“ Di mana Pi? Aku tidak mau! aku ingin dia di dekat kita.”
“Tapi ini berbahaya!” Suaminya kesal karena selama ini dia hanya menuruti istrinya saja.
“Aku akan menguncinya lagi, agar tuan purti tidak mencelakai anak kita lagi.”
“Kau harus! Harus merelakan tubuhmu untuk mengunci anak itu, aku sudah melakukannya sekali dan aku lumpuh seluruh tubuh sebelum akhirnya pulih selama tiga tahun! aku tidak mau kau jadi lumpuh karena ingin menguncinya, aku takut kalau dia adalah ... iblis!”
“Tidak mungkin tuan putri iblis, dia sosok yang menjaga kita Pi, kau jangan bicara sembarangan!” Pemilik toko emas itu terlihat sangat marah pada suaminya.
“Kau mau sampai kapan begini kau ....”
Pintu kamar terbuka dengan sangat kencang, mereka berdua melihat ke arah pintu, tidak ada siapa-siapa di sana.
“Tuan putri ... kamu kah, di sana?” Pemilik toko emas itu berteriak, sementara malam semakin larut dan tidak ada apapun di sana.
Tapi saat mereka sedang fokus melihat ke arah luar, ranjang rawat yang sedang di duduki oleh pemilik toko emas itu terasa turun, seperti ada yang mendudukinya, tidak ada siapa-siapa di sana, tapi ranjang itu turun seperti baru saja dinaiki oleh seseorang dengan bobot yang cukup berat.
“Kau ingin tidur denganku? Baiklah, ayo kita ....” Pemilik toko terdiam, dia melihat ke arah suaminya dengan mata terbelalak.
“Mi! kenapa!”
Pemilik toko memegang perut bagian paling atas, dia terus memegangnya, suaminya berteriak histeris, karena istrinya terus saja saja melotot akibat kesakitan, sangat kesakitan, saking kesakitannya matanya seperti hampir keluar.
Dokter dan perawat datang dan mencoba menolong, tapi ...
...
“Ayo, kita harus ke pemakaman sekarang.” Pemilik toko emas telah tiada, dia dinyatakan terkena serangan jantung dan meninggal sangat cepat.
Suaminya tahu, bukan itu penyebab kematiannya.
“Pi! Kenapa Papi biasa aja, apa Papi tidak merasa kehilangan!” Anaknya yang saat ini bahkan masih memakai kursi roda itu berteriak, mereka ada di rumah duka, tamu banyak sekali dan melihat keadaan ini sungguh sesuatu yang membuat tidak nyaman.
“Kendalikan amarahmu, aku tahu kau sedih, aku pun sama, sangat amat sedih! Tapi kau harus tahu bahwa pemakaman ini harus dilakukan, kalau aku dan kau sedih, siapa yang akan mengubur Mami?”
“Mami mati karena ‘dia’ kan? dia juga mendorongku hingga patah begini kan Pi?!” Anaknya berteriak dengan suara yang tertahan.
“Kamu bisa diam nggak, kalau kamu masih berteriak, aku akan suruh pembantu untuk membawamu pulang ke apartemen dan tidak menghadari pemakaman mamimu!” Akhirnya papinya bersikap tegas.
Anak itu diam dan mereka mulai menutup peti dan bersiap untuk melakukan pemakaman di tempat pemakaman khusu dengan biaya sewa yang sangat tinggi, sudah dipersiapkan dari tiga tahun lalu oleh mereka.
Orang-orang kaya bahkan telah menjamin kehidupan setelah kematian mereka, kavling kuburan itu telah disiapkan untuk mereka bertiga oleh pemilik toko emas itu.
Butuh waktu satu jam untuk mereka akhirnya sampai ke tempat itu, tempat pemakaman mewah, mereka mulai menaruh petinya di lubang yang sudah dipersiapkan, lalu melakukan doa-doa sesuai agamanya dan mulai melempar tanah pertama ke dalam lubang yang sudah ada petinya itu.
Anaknya menangis melihat Pemilik toko itu sudah mulai dikubur, karena ingatan terakhirnya adalah, mereka beruda ribut besar. Setelahnya mereka belum saling meminta maaf, sungguh salam perpisahan yang menyedihkan.
Pemakaman selesai, lalu mereka pulang, anaknya memaksa untuk pulang ke rumah, dia bilang tidak ingin pulang ke apartemen, karena dia ingin di rumah, dia ingin merasakan kehadiran ibunya.
Papinya tidak bisa memaksa agar anaknya kembali ke apartemen, mereka langsung pulang ke rumah.
“Kau makan dulu, dari pagi belum makan, Papi tidak bisa temani karena harus ke pabrik.”
“Pi! Yang bener aja dong, ini masa berduka loh.”
__ADS_1
“Kita lewati kedukaan ini dengan cara kita masing-masing, aku harus pergi ke pabrik karena sudah meninggalkannya beberapa hari untuk mengurus kalian.”
Papinya tidak peduli dengan keluhan anaknya dan tetap pergi ke pabrik. Anaknya sendirian saja, pembantunya sibuk dengan urusan masing-masing, mereka akan ada acara doa tiga hari lagi, tapi tidak di rumah, mereka aakn adakan di rumah duka lagi untuk berdoa.
“Mbak!” Anak itu memanggil pembantunya yang senior.
“Ada apa Non?” Pembantu itu datang dan bertanya.
“Aku ingin kamar itu dibersihkan, aku mau tidur di sana aja.”
“Di kamar Non aja ya, Bibi bantu ya.”
“Kau tak lihat kursi rodaku? Kau bisa menggotongku ke atas lantai 2, ke kamarku?” Anak itu bersikeras.
“Kami tidak punya kuncinya Non, lagian, tidak boleh ada yang ke kamar itu selain ibu dan bapak.” Pembantu itu menolak.
“Masa kamu nggak punya kuncinya, terakhir kamu punya kok, yang pernah aku ....” Hampir saja anak itu keceplosan bilang kalau dia mencuri kunci itu dari kamar pembantu seniornya.
“Dulu punya, tapi karena non masuk ke ruangan itu diam-diam, kunci itu akhirnya diambil sama ibu.”
“Yaudah cari sana, pasti Mami taro di laci atau di mana!” Anak itu keras kepala dan memaksa ingin kamar itu.
“Tidak bisa Non, ini akan membahayakan kami, bukan cuma Non, saya tidak mau.” Pembantu itu melawan.
“Kau berani padaku? kau mau aku ....”
“Pecatlah Non, karena ibu bilang, seterpaksa apapun, kami tidak diizinkan masuk kamar, karena kamar itu akan membahayakan kami, saya yakin bahwa ibu hendak melindungi kami, karena ibu orang baik.”
“Jadi sekarang aku orang jahatnya!”
“Tidak, non hanya tidak mau mengerti saja, itu amanah orang yang sudah tiada Non, hati-hati.” Karena pembantu ini senior dan yang membantu merawat anak pemilik toko emas itu, makanya dia cukup berani untuk terbuka, apalagi nyonyanya telah tiada.
“Kau ini sama saja dengan papi dan mami, kalian sekte sesat, mau kusebarkan kepada para tetangga agar kalian sekalian diarak dan dituduh penganut ilmu sesat!” Anak itu tetap saja memaksa.
“Kalau kau melakukan itu, kau juga akan disiksa, karena aku akan bilang kau juga dalangnya, maaf Non, yang bisa memecat sana hanya tuan atau nyonya, bukannya saya tidak menghormati Non, tapi ada amanah yang harus saya jaga. Walau kita berbeda agamat, tapi agama saya mengajarkan bahwa kita harus menjaga amanah, dosa besar kalau amanah sampai terlanggar karena lalai yang dilakukan oleh si penerima amanah.
Kamarnya ada tepat di samping kamar terlarang itu.
Mau tidak mau di masuk ke kamar tamu yang telah dibuka pintunya oleh si pembantu senior itu.
Dia kesal karena incarannya adalah kamar itu, dia tidak suka kamar itu karena benar-benar membuat papi dan maminya jadi hilang akal.
Tapi dia juga lelah karena semua prosesi pemakaman ini sungguh menyita waktu dan tenaganya, maminya berada di rumah duka itu selama dua hari saja, karena sanak saudaranya ada di Jakarta semua dan kerabatnya juga tidak terlalu banyak.
Karena lelah dia akhirnya tertidur, tapi baru saja dia terlelap, tiba-tiba dia merasa ada seseorang yang bertepuk tepat di hadapannya, dia terbangun karena terkejut dan merasa bermimpi.
Karena tidak akan mungkin ada orang yang bertepuk di hadapannya, sedang posisi tidurnya adalah terlentang. Jadi tidak mungkin ada yang akan bertepuk sembari melayang di hadapannya, ditambah posisi tidurnya adalah bagian paling jauh dari pinggi kasur, sehingga jika ada yang iseng, maka orang itu harus naik kasurnya dan pasti bisa langsung dirasakan oleh anak pemilik toko emas itu. Karena akan ada penekanan pada bagian kasurnya yang membuat kasur menjadi tidak stabil atau bergoyang. Tapi tidak ada yang dia rasakan dan jarak dari tepukan itu, hingga dia bangun hanya sepersekian detik.
Maka kesimpulannya adalah, dia sedang bermimpi.
Anak pemilik toko emas itu akhirnya mencoba untuk tidur lagi, tapi saat dia mulai akan terlelap, dia mendengar ketukan dari pintu kamarnya, pintu itu tadi tidak dia tutup, tapi kenapa sekarang tertutup, apakah pembantunya yang tutup? Dia tidak yakin, mendengar ketukannya, dia berteriak, “Masuk.”
Ketukan itu terhenti, tapi ditunggu-tunggu, tidak ada yang masuk.
“Masuk!” anak pemilik toko emas itu mengulang lagi, hening, tak ada suara ketukan lagi, “astaga! Siapa itu! mau iseng? Saya butuh istirahat!” Itu yang diteriakan oleh anak pemilik toko.
Padahal kalau dipikir secara jernih, siapa yang berani mengerjai anak majikan satu-satunya itu.
Hening, dia memutuskan untuk menutup matanya lagi, tapi belum juga terlelap, dia merasa sesak, sangat sesak, dia membuka matanya dan ingin berteriak, tapi tidak bisa, dia sesak karena mulut dan hidungnya ditutup entah oleh tangan siapa, dua tangan itu membekap mulut dan hidungnya.
Saat ini posisinya bahkan masih terlentang, jadi siapa yang bisa melakukan ini.
Dia berusaha bergerak tapi tidak bisa, seluruh tubuhnya benar-benar membeku, dia berusaha untuk melepaskan diri dari bekapan itu tapi tidak sanggup.
Dia akhirnya hanya bisa berteriak sengan suara tertahan, saat dia merasa sudah hampir kehabisan nafas dan hendak menyerah, tiba-tiba seseorang membuka pintunya dan membangunkannya.
__ADS_1
“Non bangun!” Pembantu senior itu ternyata.
“Tolong! Tolong! Tolong!” Anak pemilikk toko itu berteriak dengan sangat lantang saat ini.
“Iya Non, udah bangun, cuma mimpi!” Pembantu itu berteriak dan memeluknya, insting kepengasuhannya mulai muncul lagi, walau akhir-akhir ini sering kesal dengan kelakuan anak tunggal ini.
“Tadi .. ta-tadi ... tadi ada yang membekap hidung dan mulutku sampai aku nggak bisa bernafas.” Anak pemilik toko emas itu mencoba menjelaskan, dia menangis ketakutan saat menjelaskannya.
“Tidak! kau hanya bermimpi, percayalah, kau hanya bermimpi!” Pembantu itu mencoba menjelaskan.
“Tidak Bi, aku benar-benar dibekap dari belakang tadi.”
“Kau sedang terlentang, siapa yang bisa membekapmu dari belakang sedang kau terlentang, masa dia membekapmu dari bawah tempat tidur.”
“Tapi tadi benar ada Bi!” Anak pemillik toko emas itu masih ketakutan dan menangis.
...
“Katanya pemilik toko emas itu meninggal, pantas saja kami berhari-hari mengejar ke rumahnya dia tak pernah ada, bahkan kau lupa mengambil cincin emas itu, ketika ingat aku dan Alka ke toko emasnya dan mendapatkan kabar toko tutup beberapa hari karena pemiliknya meninggal dunia.” Aditia geram karena sulit sekali menemukan pemilik toko emas itu, sekalinya udah ketahuan siapa yang menjadi dalang semuanya, dai malah meninggal, sungguh karma kecepatan datangnya.
“Dit, kau tidak ke pemakamannya?”
“Tetangga pasat tida kada yang tahu Nding, karena rumah dukanya cukup jauh, maklum mereka punya ritual tertentu yang biasanya hanya dihadiri oleh orang-orang dekat saja. Jadinya tetangga tidak datang ke rumah duka, tapi ke rumahnya saja.”
“Sangat licin sekali ya kasus ini.”
“Iya Nding, tapi ... aku merasa kita melewatkan sesuatu, maksudku, aku merasa seperti mengejar-ngejar sesuatu yang salah.”
“Apa Dit?”
“Adit bilang dia merasa ada yang kita lupakan, tapi tidak tahu apa.”
“Apa yang membuatmu berpikir begitu?” Ganding mulai menggali keresahan yang Aditia rasakan.
“Aku merasa tersesat, hilang arah, karena aku kejar dan tidak dapat-dapat. Ini aneh, kita biasanya selalu tepat dan dapat, apa kita terlalu percaya diri? Apa kita sebenarnya belum mendapatkan apapun? Apakah kita sedang mengejar dengan mata tertutup tanpa arah?”
“Kalau begitu, insting Kharisma Jagatmu sudah mendapatkan jawaban, kita salah arah Dit, tapi tidak bisa memberitahumu di mana letak salahnya. Maka kita harus menggali lebih dalam lagi.”
“Serius Nding! Dari awal lagi, kau gila! apalagi yang belum kita dapatkan?”
“ Soal latar belakang pemilik toko emas itu Nding, kebiasaan yang dia lakukan setiap hari, hubungannya dengan tetangga dan rumor, itu penting sekali, bukankah kita selalu mendapatkannya dari para tetangga, informasi yang paling penting dan mungkin jawaban yang ditutup hijab yang belum kita temukan.”
“Mungkin ada baiknya kita tukar posisi, karena biasanya penyelidikan silang dilakukan apabila pada suatu kasus terjadi kebuntuan, bisa jadi pekerjaan yang Hartino biasa lakukan, ada lubang yang tidak bisa dia llihat, sedang begitu sebaliknya, maka kita tukar pekerjaannya.”
“Caranya gimana Alisha?” Alka tertarik dengan apa yang dikemukakan oleh Alisha.
“Aku dan Hartino yang akan melakukan pekerjaan lapangan, kalian berdua, Alka dan Aditia di sini, aku dan Hartino akan memudahkan pekerjaan kalian hingga bisa mencari data hanya berdasarkan kata kunci pada mesin pencarian Hartino.
Ganding dan Jarni mencari sejarah dari kisah yang terdekat pada kitab di markas ghaib ini, gimana?”
“Ide bagus, gimana Dit?” Alka bertanya.
“Nggak masalah, aku setuju.”
Kawanan sudah buntu dan tidak tahu harus apalagi selain mencari ulang datanya.
__________________________________
Catatan Penulis :
IG, TIKTOK, FB : MUKA KANVAS
Jangan lupa untuk Follow/ikuti Akun MUKA KANVAS di sini ya, biar kalian dapat notif kalau aku keluarin karya2 baru.
Tenang, walau kawanan bingung, Authornya enggak kok, aku akan keluarkan jawabannya di next part ya, udah ada yang jawab bener kok aku liat di komentar.
__ADS_1
Ingat ini, tidak pernah ada kasus yang biasa saja di AJP.
Ingat itu ya temen2ku semua.