Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
(Bagian 466 : Kamboja 28)


__ADS_3

Aditia dan Alka segera ke tempat istri tukang becak itu, hanya harapan yang mereka pegang.


"Kau tetap akan mencoba?" Alka bertanya.


"Coba saja, siapa tahu hasilnya sesuai dengan yang kita inginkan, bukan dengan yang kita sangkakan."


"Aku pesimis," ujar Alka.


Mereka lalu turun dan bermaksud ke rumah istri tukang becak itu.


Baru sampai pintu Depan, banyak orang yang sedang berada di rumah itu, Alka dan Aditia sebenarnya enggan untuk masuk karena banyak orang.


"Permisi, ibu ada?" Alka bertanya.


"Ngantri kalian, kami aja ngantri." Seorang wanita paruh baya yang duduk di lantai bersama banyak orang lain itu berkata.


"Ngantri? Untuk apa ya?" Aditia bingung.


"Mau pada ambil sembako juga kan?" Ibu itu bertanya sambil menuduh.


"Hah? Sembako? Nggak kok, kita pengurus korvan kecelakaan dari kantor layanan nasyarakat terkait korban kecelakaan, mau ada yang kami tanyakan."


"Oh, wah kayaknya ibu mau dapat uang lagi nih, suaminya meninggal jadi kaya raya si ibu, kalau gini mah, mening suami saya juga meninggal, jadi kaya raya saya." Ibu yang menegur tadi berkata dengan bercanda, tapi ironi ini sungguh memilukan.


"Suamimu meninggal mah, hidupmu makin susah, emang suamimu ikut koperasi macam bapak tukang becak? Orang duitnya kau karetin gitu, jadi mana bisa dia ikut itu koperasi." Semua orang tertawa dengan keras bersamaan.


Lalu seorang ibu tua keluar, dia tidak tahu siapa Aditia dan Alka, karena sebelumnya bukan mereka yang menemui.


"Bu maaf, kami dari kantor pemerintah, ibi terkait kecelakaan suami ibu, bisa bicara sebentar?"


Ibu tua itu mengangguk lalu mempersilahkan mereka untuk masuk, sementara bagi-bagi sembako itu dilanjutkan oleh orang lain, mungkin tetangga atau anaknya, Aditia dan Alka tidak terlalu peduli.


Mereka bertiga masuk ke ruang makan, ada tirai yang menjadi pembatas antara ruang tamu dan ruang makan, ruang tamu sedang dijadikan tempat menaruh sembako yang akan diberikan.


"Maaf ngobrolnya di sini ya?  Saya lagi bagi-bagi sembako, maklum saya abis dapat banyak rejeki, makanya berbagi, nanti kalau kalian mau sembakonya, ambil aja ya. Kalian ada perlu ala ke sini?"


"Ini terkait soal kematian suami ibu." Alka membuka obrolan.


"Baiklah, ada apa dengan kematiannya? Bukankah kematian suami saya kematian yang wajar karena usia?"


"Tidak Bu, kematian suami ibu itu, kematian yang mungkin disengaja karena ... Pengaruh ghaib."


"Apa iya? Tapi siapa yang mengincar kami? Dahulu kami itu orang miskin, mau makan saja sangat susah, jadi kenapa suami saya mau dibunuh?"


"Karena dia mengincar jiwa suami ibu untuk ditumbalkan."


"Ditumbalkan? Ini saya lebih ga paham lagi, ditumbalkan untuk apa?" Dia masih tidak bisa membaca ke arah mana sebenarnya obrolan ini.


“Mungkin suami ibu memang menggadaikan jiwanya untuk semua emas yang ibu dapatkan.”

__ADS_1


“Kalian tahu kalau aku mendapatkan emas? Dari mana? Aku tak pernah memberitahu kalau aku mendapatkan emas dari wanita itu, wanita yang katanya adalah petugas koperasi. Aku hanya bilang pada orang-orang ini kalau suamiku menabung koperasi, tapi aku tidak pernah mengatakan kalau aku mendapatkan emas, takut kalau nanti aku dijahati. Kalau kalian tahu, apakah benar, suamiku telah menggadaikan dirinya untuk mendapatkan emas itu?” Istrinya terlihat khawatir, Alka mencoba masuk lebih dalam lagi, untuk memastikan bahwa istrinya bisa diajak kerja sama.


“Ya, kemungkinan suami ibu melakukan itu agar mendapatkan emas, tapi dia dibohongi, jiwanya takkan pernah bisa kembali pada Tuhan, jiwanya selamanya akan terus mengabdi pada Gandarwi, wanita yang memberikanmu emas itu, dia akan menawan jiwa suami ibu, dia makan perlahan hingga akhirnya jiwa suami ibu akan musnah sepenuhnya.”


“Kasihan sekali suamiku.”


“Maka ibu harus membantunya untuk lepas dari Gandarwi.”


“Apakah bisa?” Istrinya bertanya.


“Bisa, ibu harus mengatakan pada Gandarwi bahwa ibu tidak rela kalau suami ibu jiwanya diambil, ibu harus mengatakan pada Gandarwi agar kami bisa membuatnya kehilangan kekuatan dan mencegah korban banyak lagi.”


“Aku akan melakukannya!” Istrinya tukang becak itu terlihat bertekad.


“Apakah kau tahu resikonya?” Alka bertanya lagi.


“Apa resikonya?”


“Emas itu akan hilang, kekayaan yang kau miliki sekarang akan musnah dan suamimu tetap meninggal dunia, hanya jiwanya tidak diserap perlahan dan bisa kembali pada Tuhan.”


“Maka aku harus menemui Gandarwi dan mengatakan bahwa aku tidak ikhlas.”


“Kau yakin? Tak mengapa jika yang kau miliki sekarang akan hilang sepenuhnya?”


“Yang aku miliki sekarang tak ada apa-apanya dibanding jiwa suamiku, aku mohon, aku harus menemui wanita itu dan meminta jiwa suamiku lagi.”


“Wah, kau seorang istri yang berhati mulia, tak mengapa kau kembali miskin?” Alka bertanya.


“Melihatmu membuatku percaya, Bu. Percaya kalau ada manusia yang masih punya hati.” Aditia memuji lalu setelah berpamitan pada ibu istri tukang ojek itu, mereka akan mempersiapkan ritual batal perjanjian dengan Gandarwi, biar dia tak keluar dari terowongan itu, batal perjanjian ini bisa dilakukan di luar terowongan, jika batal perjanjian antara Gandarwi dan tukang becak itu, maka sudah dapat dipastikan, Gandarwi akan keluar membawa jiwa tukang becak itu untuk dikembalikan, karena satu jiwa itu akan bisa membuat niat tersamarkannya berantakan dan tak ada jiwa yang bisa keluar tanpa izinnya dari terowongan itu tanpa dia antar keluar, kecuali kawanan dan komplotan yang memang sudah ditandai, bisa dia lempar seenaknya kemarin. Maka, saat keluar itulah kawanan dan komplotan akan menggunakan mantra empat penjuru karena posisinya jiwa itu masih di tangan Gandarwi, bisa dianggap sebagai penyimpangan peraturan ghaib dan Gandarwi akan bisa dimusnahkan kekuatannya.


Aditia dan Alka berkendara ke markas ghaib, mereka ingin memberitahu ini, masih siang, mereka akan menjemput istri dari tukang becak itu untuk ke terowongan malam ini, sebelumnya semua harus bersiap.


“Kau yakin dia mau? karena kemarin begitu aku ke sana, aku melihatnya sebagai wanita tua yang suka uang.” Hartino bertanya.


“Ya, aku yakin dia mencintai suaminya, mengingat begitu lama mereka menikah, pasti ada rasa iba hingga istrinya ingin jiwa suaminya kembali kepada Tuhan daripada ditawan iblis.


“Baik kalau kau sangat yakin, kita akan melakukannya, aku akan tetap membuat rencana cadangan.” Entah kenapa Ganding juga setuju pada Hartino, dia tidak yakin wanita itu benar akan membantu mereka dan menyerahkan emas-emas itu.


“Siapkanlah Nding, kita memang perlu membuat banyak rencana untuk membekuknya, kalau tidak bisa memusnahkan kekuatannya, aku akan memusnahkan wujudnya sebagai jin, ini akan jadi pembunuhan tanpa alasan seperti dulu aku membunuh Marni, aku akan kehilangan penglihatan ghaibku, tapi kita bisa menyembuhkannya dengan menggunakan darah Alka bukan?”


“Penyembuhan itu akan sakit sekali kan, Dit? Lagipula, Gandarwi bukan jin yang mudah ditaklukan juga.” Alka tidak setuju, karena dia takut melihat Aditia menderita lagi.


“Kita buat beberapa rencana, aku akan buat urutannya, kalian akan mengerti ketika aku menyebutkan huruf, plan A untuk pembatalan perjanjian yang dilakukan oleh keluarga korban, agar Gandarwi dapat menjadi jin yang melanggar aturan dengan mencuri jiwa, plan B adalah ... lalu plan C adalah ....


“Baik Nding, kami harus menghapalnya, karena bagi kami yang tidak jenius, menghapal apa yang kau katakan tidak akan semudah kalau kau yang melakukannya.” Ami berkata dengan ketus, karena kawanan terbiasa menyelesaikan masalah dengan taktis lalu praktis. Sedang Ami cenderung bekerja dengan sangat hati-hati dan terkesan penuh dengan pertimbangan, maklum dia biasanya tak punya tim. Apakah perlu memasukkan Ami dalam kawanan menurut kalian? Supaya berlatih.


“Aku akan merangkumnya dengan gaya kalian berkerja, aku sudah mengamati kalian satu persatu.”


“Kau beneran pintar ya Nding, bahkan dengan waktu secepat ini, kau sudah bisa mengenal cara kami bekerja.”

__ADS_1


“Aku memang pengamat, kalau Kak Alka si hati-hati yang selalu tepat sasaran, Har dan Alisha si nekat yang gila, kalau Aditia, kau tahulah, dia yang terkuat, kalau kekasihku, kau jangan lihat terus padanya Jat, nanti kucolok matamu!”


Jajat baru sadar kalau dia ketahuan memperhatikan Jarni diam-diam.


“Nggak sengaja Nding, santai aja lah, aku tahu kok kalian sejoli tak terpisahkan.” Jajat cengengesan.


“Kuharap itu kau ucapkan sesuai dengan hatimu juga, bukan hanya dui mulut.”


“Nding!” Alka kesal karena Ganding masih saja menyerang Jajat, sedang kita tak punya waktu untuk main cemburu-cemburuan.


“Baiklah, kita siapkan semuanya.


...


“Malam tiba, Aditia akhirnya menjemput istri tukang becak itu, dia membawa sisa emas yang dia punya.


“Kau bilang ini akan hilang kan? aku akan kembalikan padanya. Suamiku lebih dari ini.”


“Kau wanita baik Bu, semoga Tuhan selalu memberikanmu yang terbaik ya.”


“Ya, semoga saja, aminnn.”


Lalu mereka berkendara ke terowongan itu, mereka sudah sampai, hanya Aditia dan wanita itu yang berada di dekat terowongan.


“Pancing dia keluar dengan mengatakan siapa kamu, Bu.” Aditia berkata dengan hati-hati agar tak terdengar.


“Ratu Gandarwi, aku istri dari tukang becak yang jiwanya kau ambil, keluarlah, aku ingin jiwa suamiku!” Istrinya berteriak dengan lantang, tak ada apa-apa yang keluar dari terowongan itu.


“Teriak saja sekali lagi.”


“Gandarwi, lepaskan suamiku, aku tidak ikhlas dia dijadikan pertukaran untuk emas ini!” istrinya tukang becak berteriak dengan suara serak tuanya.


Tak lama, tanah terasa berguncang, patah sudah perjanjian Gandarwi dengan tukang becak itu, dari terowongan keluar sesosok yang melayang dengan pakaian serba hitam.


Dia membawa jiwa tua si tukang becak itu.


Dia menghadapkan tukang becak pada istrinya.


“Kau mau dia?” Gandarwi berkata dengan tenang. Dia masih terlalu dekat dengan terowongan, masih sulit untuk menyerangnya di titik ini.


“Ya, aku ingin membatalkan perjanjian yang kau buat dengan suamiku, jiwanya lebih berharga dari emas yang kau berikan!” Istrinya berteriak dan melempar tas berisi sisa emas yang dia punya itu, berbeda dengan istri supir taksi, seperti istri tukang becak ini tak mengerti tentang perbankan, makanya emasnya masih dia simpan di rumah.


“Kau ingin membatalkannya?” Gandarwi berdiri diantara terowongan dan juga jalan masuk, masih sulit untuk diserang, yang lain bersiap tanpa terlihat, dari jauh, tentu dengan teleportasi Alka, mereka bisa sampai ke terowongan itu dalam hitungan detik.


“Ya, aku ingin membatalkannya.” Istrinya mantap.


“Kalau begitu, ambil jiwa ini untukmu.” Gandarwi hendak melempar jiwa itu, tapi tukang becak itu dengan sisa kesadarannya, karena dia sudah diserap perlahan, jiwanya sangat lemah dan terlihat kesakitan teramat sangat.


“Nikmatilah kekayaan itu Bu, kenapa kau malah ke sini, sia-sia sudah jiwaku yang jadi pertukaran dan rasa sakit ini.” Tukang becak itu menangis.

__ADS_1


“Aku memang membatalkan perjanjian ini Pak, tapi aku membatalkannya, untuk ... memperbaharui perjanjian, jiwa suamiku lebih berharga dari emas yang kau berikan pertama kali, seharusnya ... kau memberikan emas itu dua kali lipatnya!”


Aditia tercengang dia ditipu nenek-nenek.


__ADS_2