Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 467 : Kamboja 29


__ADS_3

“Kalau begitu, ambil jiwa ini untukmu.” Gandarwi hendak melempar jiwa itu, tapi tukang becak itu dengan sisa kesadarannya, karena dia sudah diserap perlahan, jiwanya sangat lemah dan terlihat kesakitan teramat sangat.


“Nikmatilah kekayaan itu Bu, kenapa kau malah ke sini, sia-sia sudah jiwaku yang jadi pertukaran dan rasa sakit ini.” Tukang becak itu menangis.


“Aku memang membatalkan perjanjian ini Pak, tapi aku membatalkannya, untuk ... memperbaharui perjanjian, jiwa suamiku lebih berharga dari emas yang kau berikan pertama kali, seharusnya ... kau memberikan emas itu dua kali lipatnya!”


Aditia tercengang dia ditipu nenek-nenek.


“Kau berniat menipu kami!” Aditia kesal melihat nenek ini dengan gagah berani meminta emas yang lebih.


“Aku tidak menipumu, sudah berkali-kali aku ulang, bahwa jiwa suamiku lebih berharga dari emas ini, aku pikir kalau taruhannya adalah jiwa suamiku, maka yang benar adalah emasnya harus lebih banyak! Bukankah seharusnya kau yang sadar, aku sudah mengulangnya terus!” Nenek itu tak mau kalah, seolah karena emas itu, dia sudah bisa menguasai dunia.


“Kau sama saja dengan jin tua itu, sama-sama tua dan licik!” Aditia ingin sekali menghujam tombaknya pada dua nenek beda alam ini, tapi sayang tidak boleh.


“Aku akan berikan, aku akan perbaharui perjanjian, ini hanya soal emas itu kan? aku akan menambah emasnya, tapi lepaskan jiwa suamimu untuk sepenuhnya jadi milikku, bagaimana?” Gandarwi berteriak, masih diantara jalan masuk terowongan sehingga sulit menyerangnya.


“Baiklah, aku setuju!” Wanita itu dengan tanpa ragu mengatakannya.


“Bu, apakah emas itu membuatmu begitu bahagia?” Suaminya bertanya, jiwanya masih sangat lemah dalam pegangan satu tangan Gandarwi, tubuhnya menggantung pada tangan jin tua itu.


“Tentu saja, kau tahu, semua orang jadi menghormatiku, aku lewat mereka akan menegurku, mereka akan bertanya apakah aku butuh sesuatu, mereka akan memperhatikan setiap apa yang aku katakan, sebentar saja emas itu di tanganku, satu gang rumah kita menghamba padaku, bagaimana aku tidak bahagia, seharusnya kau membuat perjanjian dengan lebih banyak emas lagi Pak.”


“Bu, bukankah dulu kau bilang sangat bahagia hidup denganku walau kesusahan?” Suaminya bertanya dalam keadaan sangat lemah.


“Kau tak tahu kan, saat kita sangat miskin, semua orang begitu takut saat kita lewat, mereka takut kalau kita minta tolong, mereka bahkan tak memperhatikanku yang belum makan selama dua hari, menunggu suamiku pulang hanya dengan sebungkus nasi dengan lauk seadanya.


Tidak ada yang peduli saat aku tidak keluar sama sekali, seharusnya tetanggaku tahu, aku yang makan terkadang hanya dengan lauk garam atau tanpa lauk ini pasti kelaparan di dalam rumah, tak ada yang ingin tahu apakah aku hidup atau mati.


Saat kau meninggal, aku pingsan di dalam rumah karena kelaparan, aku ditemukan saat seorang Polisi datang hendak mengabari kematianmu, seandainya Polisi itu tak datang, mungkin aku sudah meninggal juga Pak, karena tak ada satu pun, tetanggaku yang peduli.


Aku pingsan di lantai, kedinginan dan kelaparan, aku sendirian Pak, tanpa uang, aku hanya mereka anggap sampah!


Lalu saat aku sangat kaya raya, mereka mengerubutiku, peduli padaku, aku ingin sekali saja dalam hidupku yang panjang dengan penuh kesulitan, merasakan semua perhatian itu Pak.


Kau itu orang baik, tapi tak cukup mampu memenuhi kebutuhan keluarga kita, aku bertahan karena aku bodoh, aku pikir kau akan mampu memenuhi semua kebutuhan kita, tapi apa? sudah setua ini saja, kau tak mampu, hingga emas itu akhirnya jadi milkku, anggap saja ini hutang yang kau janjian untukku sejak kita menikah hingga kini umurku sudah sangat tua.”


Aditia membiarkan drama sinetron ini berlanjut, karena dia memang butuh waktu agar kawanan menjalankan plan B-nya, mereka pasti butuh waktu untuk bisa melancarkan rencana cadangan pertama itu, sebelum masuk ke rencana cadangan dua.


“Aku memang menukar jiwaku hanya untuk satu hal Bu, aku berharap kau merasakan perhatianku, aku memang berniat membalas hutangku padamu, Bu, hutang membahagiakanmu, tapi kenapa kau malah jadi serakah dengan perhatian orang lain, bukankah kekayaan harusnya seperti kemiskinan? Disembunyikan dan bukan menjadi hal yang membuatmu sombong.


Benar kata orang ternyata, setelah umurku setua ini aku paham sekarang, orang miskin akan kaget begitu menerima begitu banyak uang yang tanpa diusahakan, uang itu membuat kamu menjadi serakah dan sombong.” Jiwa tukang becak itu menangis, istrinya tidak peduli, dia masih merengek agar tasnya diisi emas lagi.


Lalu ....


“Brengsek!” Gandarwi melempar jiwa tukang becak itu dan membuat tubuhnya condong ke depan, karena jiwa itu ternyata telah memutus perjanjian dalam hatinya, dia marah karena istrinya ternyata sangat serakah, bukannya bersyukur dengan yang ada, tapi malah menjadi serakah dan sombong, dia bahkan mau menjual dua kali jiwa suaminya! Sungguh perempuan jahat yang tidak punya hati.


Jiwa itu merasa telah melakukan hal sia-sia karena menahan semua yang dia rasakan, rasa sakit karena diserap jiwanya perlahan, rasa sakit itu seperti melewati kematian berkali-kali, seperti jantungmu dicabut dengan satu tarikan, sakit dan membuat kita merasa mati, lagi dan lagi, sampai akhirnya kau mungkin akan musnah.


“Pak! ada apa ini?! kenapa sisa emasnya hilang dari tas ini!” Istri tukang becak histeris, karena sisa dari tas itu telah hilang. Bukannya bertambah, malah lenyap!


“Aku sudah memutus perjanjian dengan Gandarwi, aku tidak ikhlas jiwaku ditipu olehnya, aku tidak ikhlas kau mendapatkan semua emas itu, hiduplah sebatang kara dengan kemiskinan yang kekal!” Suaminya berteriak dengan sangat lantang.


Di momen itu, tiba-tiba Gandarwi terpental ke luar, dia seperti di dorong dari arah dalam, bukan didorong, lebih tepatnya, ditendang bersamaan.

__ADS_1


Ganding, Hartino, Jajat, Dokter Adi rupanya sudah berada di dalam terowongan itu bersama sisanya, Bohra sedang berada di belakang Jarni, dia memberikan energinya agar Jarni terus membuat terowongan samaran, di belakang mereka, semua jiwa yang ada di dalam, diikat dengan tali ghaib agar mau ke luar dari terowongan itu.


Dengan cepat, Jarni dan Bohra segera membuat selangkah demi selangkah terowongan samaran, jalan masuk yang diciptakan Jarni, diciptakan juga untuk keluar, karena terowongan itu membuat mereka semua aman dari jeratan jiwa yang dibuat oleh Gandarwi.


Sementara Jarni dan semua orang sedang berusaha keluar dari terowongan selangkah demi selangkah dengan membangun terowongan ghaib baru, dibantu Bohra, tentu ini membutuhkan waktu lama, Gandarwi sudah di lempar keluar tadi oleh komplotan kawanan, Aditia lalu menyerangnya agar tak ada kesempatan baginya untuk masuk kembali ke dalam terowongan itu.


Aditia menggunakan tombaknya untuk menyerang Gandarwi, Gandarwi bangkit dari jatuhnya, gaun serba hitamnya lagi-lagi melebar dan menutup jalan, dia melayang, Aditia yang fokus menyerang Gandarwi, tubuhnya dililit oleh bahan dari bajunya yang menjuntai sangat panjang itu, Aditia berusaha melepaskan diri, tapi sesak, bahan dengan warna hiram pekat ayng halus itu, melilit dan mulai mencekik Aditia dengan keras.


Dari kejauhan, tiga wanita tiba-tib muncul, Alka, Ami dan Alisha, bolehkah kita menyebut mereka A3 atau rencana kedua ... plan C. Tiga wanita itu menyerang Gandarwi dengan membabi buta.


Alka dengan cambuknya terus mencoba mendekati Gandarwi, sedang Ami yang ternyata memiliki senjata sebuah golok yang cukup besar, berada di sisi lain serangan Alka, mereka akan mengeroyoknya!


Alisha yang terlihat sudah dikuasai oleh Rangda, menari dengan liukan tubuh yang sangat indah, tapi magis dan membaut merinding, suara nyanyian dan tabuhan alat musik entah dari mana, menghiasai pertarungan itu.


Alisha tiba-tiba berhenti menari, matanya sepenuhnya memutih, pupilnya hilang, lalu dia berdiri dengan tegak, dari tangannya, perlahan keluar sebuah senjata, sebuah senjata yang sangat besar, lebih besar dari yang dia punya dulu, sebuah pedang dengan ukuran sangat besar dna tajam sudah ada di tangannya, pedang itu sangat panjang, mata pisaunya lebar dan tajam, rupanya ini adalah hadiah dari Ayi Mahogra bagi Alisha, sebuah senjata yang tidak dimiliki oleh Alisha sebelumnya, hadiah karena bersedia mengorbankan diri bagi kawanan dan akhirnya menerima khodam dengan rasa sakit yang sangat besar.


Pada pegangan pedang itu, ada sebuah kain berwarna hijau yang menjadi pengikat antara pegangan pedang itu dengan tangan Alisha, tentu saja Karembo Hejo yang menghiasi seluruh senjata kawanan dan juga komplotan, semua orang senjatanya sudah dihiasi dengan karembo hejo, tanda kalau mereka pasukan Ayi Mahogra, Ratu dari Kharisma Jagat seluruh negeri ini, Ratu ghaib tanah Pasundan.


Mereka berhak untuk menghukum jin yang melanggar aturan, sesuai wewenang yang dititahkan oleh Ayi Mahogra, sebagai penanda bahwa mereka penegak hukum ghaib, Karembo Hejo itu adalah tandanya.


Alisha dan Rangda dalam tubuhnya mulai menggesek jalan aspal yang tertutup kain dari gaun Gandarwi yang sangat lebar dan panjang, dia memotong setiap helai gaun yang dia injak dengan pedangnya, lalu melesat ke arah Aditia di lilit dan tubuhnya diangkat ke atas oleh Gandarwi itu, Alisha melayang dan mulai melepas gaun yang melilit Aditia dengan pedangnya, hingga Aditia akhirnya terlepas.


Sementara Alka dan Ami menyerang Gandarwi dengan senjata mereka yang sangat kuat, Gandarwi masih terus mengelak dengan terus membuat gaunnya yang menjuntai itu berusaha menangkap Alka dan Ami. Ami dan Alka berusaha menyerang sekaligus menghindar dari serangan lilitan kain Gandarwi.


Setelah terlepas dari lilitan itu, Aditia dan Alisha lalu kembali berusaha menyerang Gandarwi ditemani Rangda, tentu saja, jin tua itu kewalahan, dia terus mencoba menyerang dengan lilitan kain tapi lawannya terlalu banyak, hingga akhirnya pedang Alisha menggores bahunya dan itu membuat Gandarwi berteriak kesakitan.


Aditia melihat sisa kawanan dan komplotan sudah sepenuhnya keluar dari terowongan itu dengan terowongan samaran yang Jarni bangun perlahan, langkah demi langkah dibantu Bohra yang mahir membuat pagar ghaib, karena ikut belajar membuat pagar saat di gunung itu, yang puncaknya tidak pernah terlihat karena menjadi tempat rahasia bagi Kharisma Jagat keturunan Ayi Tirung itu.


Semua bersiap dan mulai ....


Jengandika Angsar Alor kidul nyambit


Dhagdeg sigam barus balor jahum


Nirna salamun jasdir


Sir takdabur baros


4 Kharisma Jagat mulai membaca mantra, Bohra, Jajat, Dokter Adi dan Ami yang sudah bergabung dalama empat penjuru mata angin, mengelilingi Gandarwi.


Gandarwi terkepung, tentu kali ini dia takkan bisa lari lagi.


Jengandika Angsar Alor kidul nyambit


Dhagdeg sigam barus balor jahum


Nirna salamun jasdir


Sir takdabur baros


Jengandika Angsar Alor kidul nyambit


Dhagdeg sigam barus balor jahum

__ADS_1


Nirna salamun jasdir


Sir takdabur baros


Mantra terus diulang, berkali-kali, Gandarwi yang berteriak histeris, dia merasa tubuhnya menjadi begitu berat, perlahan tubuhnya yang melayang semakin turun, semakin terasa berat tubuhnya menopang seluruh gaun yang sangat panjang dan lebar itu, gaun itu juga perlahan menyusut. Kawanan melihat, mantranya berhasil!


Jengandika Angsar Alor kidul nyambit


Dhagdeg sigam barus balor jahum


Nirna salamun jasdir


Sir takdabur baros


Jengandika Angsar Alor kidul nyambit


Dhagdeg sigam barus balor jahum


Nirna salamun jasdir


Sir takdabur baros


Dua kali pembacaan mantra, Gandarwi jatuh ke tanah, dengan sisa gaun yang hanya sampai semata kaki, rambutnya memutih sempurna, wajahnya keriput menghitam, tak ada kecantikan Nita maupun Kamboja di sana, hanya ada seorang jin tua yang telah hilang kekuatan.


Gandarwi lemas, tanah beguncang, tanda bahwa terowongan telah terbebas dari pagar penarik jiwa yang dibuat Gandarwi.


Gandarwi menangis histeris seperti seorang nenek-nenek tua yang kehilangan keluarganya, persis seperti di sisi lain, istri tukang becak yang menangis histeris kehilangan emasnya.


“Sudah kubilang kan, rencananya memang harus berlapis menghadapi jin tua ini.” Ganding memberikan botol kaca pada Aditia, Aditia harus memasukkannya kembali ke dalam botol kaca dan mungkin kali ini akan dibawa Bohra dan Behra kembali ke AKJ, di sana lebih aman.


“Sebelum aku memasukkanmu ke dalam botol ini, siapa yang telah membebaskanmu, jawab aku!” Aditia mendekati Gandarwi dan mencengkram bahunya, tubuh ruhnya tentu saja bisa dipegang oleh seorang Kharisma Jagat.


“Tentu saja aku takkan beritahu, mungkin dia akan mengeluarkanku lagi kelak.” Gandarwi tertawa, hanya itu yang dia punya, tentu saja itu tak akan membuat kawanan merasa marah, tak peduli, dimanapun dan kapanpun, pengkhianat itu pasti akan ada, sekarang mereka tak bisa menemukannya, tapi pengkhianat itu pasti akan ketahuan kelak.


“Aku tidak takut, kami akan menangkapmu lagi, lihat, sekarang kau tertangkap bukan?” Aditia membuka tutup botol kaca dan memakasa Gandarwi masuk, setelah itu botol ditutup lagi dan dibacakan mantra oleh Jarni dan Bohra, melapis pagar ghaib pada botol itu, hingga jika besok dia kabur lagi, akan segera terdeteksi oleh Jarni atau Bohra. Walau hal itu sulit terjadi di AKJ.


Karena markas Ayi, adalah tempat paling berbahaya bagi jin jahat.


“Kalian jahat! Kalian jahat pada orang miskin!” Istri tukang becak berteriak dengan lantang menunjuk Aditia.


“Aku akan antar suami dan jiwa lainnya kembali ke gerbang ghaib itu Dit, tunjukkan saja koordinatnya.” Alka berkata pada Aditia. Karena tukang becak dan yang lain harus dijemput dengan angkot dan diantar agar kembali pada Tuhan.


“Ini sedikit uang untuk kau pulang dan mungkin bisa bertahan untuk makan kau selama sebulan ke depan, tapi maaf, hanya ini yang bisa kami berikan.” Aditia memberikan sejumlah uang kepada istri tukang becak lalu pergi, yang lain juga.


Nenek itu berteriak dengan histeris, dia menerima uangnya, tapi emas yang sudah dia bayangkan akan didapat itu, sungguh membuatnya marah dan kecewa.


Tapi kawanan tak peduli, mereka akan kembali ke markas dan istirahat.


“Bagaimana kalau goreng bakwan dan juga buat kopi hitam? mau kumasakkan? Aku lapar.” Sambil berjalan ke arah mobil besar mereka, Alisha menawarkan diri untuk memasak di markas ghaib nanti.


“Tentu saja, siapa yang menolak kemewahan setelah kasus selesai seperti itu, sembari membahas serangan sempurna tadi.” Jajat bersemangat, yang lain juga.


Lalu mereka masuk mobil dan pulang, meninggalkan terowongan yang sudah netral, nenek yang berteriak seperti orang gila, kelak dia akan diangkut ke rumah sakit jiwa karena selalu menyerang tetangga rumahnya dan berteriak kalau dia punya emas yang banyak, kawanan tidak berniat membantu karena tidak merasa iba.

__ADS_1


Malam ini akan diakhiri dengan bakwan atau kami orang sunda menyebutnya, bala-bala dan kopi hitam yang kadang pahit dan manis.


Sembari membahas serangan hari ini yang begitu sempurna.


__ADS_2