
“Antar aku ke tempat fotokopi usaha bapakmu, aku pastikan dulu kalau memang dia melakukan perjanjian dengan Dasiman, dia pasti ditipu.” Mulyana meminta Dirga mengantarnya.
“Baiklah, ayo kita ke sana.”
Dirga dan Mulyana ke sana naik motor, motor milik ayah Dirga yang memang sering digunakan Dirga.
Hanya butuh waktu 10 menit mereka sampai.
“Eh Mas Dirga, tumben ke sini.” Salah satu pegawai di tempat fotokopi itu bertanya, tempat fotokopi ini cukup besar, ternyata bukan hanya tempat fotokopi saja, tapi menjual berbagai alat tulis dan juga jasa yang berhubungan dengan percetakan dan kebutuhan lain terkait urusan kampus dan perkantoran sekitar, di tahun itu, memang jasa seperti ini menjadi primadona, mengingat perusahaan-perusahaan kecil tak akan mau mengeluarkan biaya terkait pembelian mesin percetakan, karena lebih murah mengguankan jasa dari tempat fotokopi yang jelas sudah lengkap dan bagus.
“Gede ya, Ga. Ini mah bukan Cuma tempat fotokopi, ini mah lengkap, jual alat tulis, jasa percetakan lengkap, ada jilid, bikin hard cover dan jasa lain, usaha bapakmu sungguh sangat lengkap dan kau bilang ini pusat, ada beberapa cabang lain?” Mulyana bukan tertarik pada jenis usahanya, dia hanya ingin memastikan bahwa memang usaha ini memiliki banyak pegawai.
“Ya, aku tahunya ada beberapa cabang, tapi jujur, aku tak pernah ikut campur usahanya, katanya aku suruh lulus kuliah dulu baru bisa ikut terjun.”
“Ayahmu sekolah bisnis?”
“Kukira dia tak perlu penglaris kalau dia sekolah bisnis, kau kan bilang tadi kalau kemungkinan Dasiman mengerjai papa dan mamaku dari usahanya.”
“Ya, aku memang melihat beberapa makhluk itu menunggui tempat ini, mereka membuat tempat ini terlihat dari yang lain.
Kau lihat di sebrang sana dan di ujung jalan sana ada tempat fotokopi yang sama juga dengan ayahmu, tapi lebih kecil, tapi toko mereka ditutup oleh rekan Dasiman untuk memakmurkan usaha ayahmu dan dia percaya bahwa Dasiman jin penglaris, padahal ….”
“Tipu daya. Papaku terkena tipu dayanya Dasiman kan?”
“Ya, aku sudah memastikan, tapi sekarang bagian yang paling berat, kau harus bertanya pada ayahmu, mantra apa yang digunakan Dasiman sebagai perjanjian, aku sih sudah bisa menebak, tapi harus kupastikan.”
“Waduh, aku harus bicara apa ini? Aku … kurang berani.”
“Kau harus bicara dari hati ke hati Ga, pelan-pelan, kau ini kan anak lelaki di keluarga itu, kau akan jadi tulang punggung keluarga, apalagi kau mau jadi Polisi, kau bisa pakai beberapa trikku untuk memulai, sisanya gunakan instingmu untuk mendorong bapakmu bicara jujur.”
“Misalnya?”
“Begini ….”
…
“Aku tadi ke tempat fotokopian kita, aku mau numpang jilid buat materi kuliahku, tapi pas ke sana … katanya toko kita pakai penglaris Pa? apa itu benar?” Dirga memakai trik Mulyana, mencari landasan yang paling kuat untuk mendapatkan informasi, seolah informasi itu penting untuk dibuka karena keadaan yang urgent, padahal keadaan darurat itu tak ada.
“Kau jangan dengar omongan orang, mereka hanya iri pada usaha kita!”
“Tapi Pa, aku malu, karena katanya aku ini penerus usaha hitam papa, aku nggak suka, aku pokoknya nggak mau nerusin usaha papa kalau emang nggak dikasih tahu tentang asal-usul gosip itu, aku harus tahu, walau itu adalah yang paling buruk.”
Dirga memakai teknik kepercayaan, maksudnya adalah, mendorong papanya untuk percaya bahwa Dirga mampu menerima kondisi terburuk dibanding dibohongi pada kondisi terbaik.
__ADS_1
“Nggak ada apa-apa, bisnis kita berjalan baik karena kerja keras tim, sudah itu saja.”
“Tapi berdasarkan data, toko kita berkembang pesat dalam beberapa tahun saja, itu kurang masuk akal, aku sudah cari tahu laporan pendapatan di toko pusat itu, transaksi kita sangat fantastis, itu hanya bisa dilakukan oleh tim marketing dengan pengalaman dan jam terbang tinggi, bukan oleh orang biasa seperti kita, Pa! jangan bohongi aku!”
“Wah, kau baru semester 1 tapi sudah sangat hebat menganalisa bisnis kita, papa tidak pernah salah memintamu kuliah Ekonomi dan bisnis.”
Padahal ini karena keinginan Dirga menjadi Polisi yang besar, hingga membuatnya mampu menyelidiki secara mendalam, meminta laporan pendapatan dari jasa dan penjualan barang yang dijual pada admin toko, sebagai anak dari pemilik usaha yang sedang kuliah dan sudah dapat dipastikan akan menjadi penerus usaha, tentu meminta laporan semacam itu takkan ditolak apalagi dicurigai.
“Jadi? Apakah benar kita pakai penglaris?” Dirga bertanya lagi.
“Apa penting untuk kau tahu?”
“Ya, karena kelak jika akhirnya aku memegang bisnis, aku harus tahu, apa yang perlu diteruskan dan apa yang perlu diperbaiki, aku perlu untuk studi kasusku.”
“Apa semester 1 sudah sejauh itu belajarnya?” papanya sedikit tidak percaya.
“Tentu saja, namanya belajar ekonomi dan bisnis, memang apalagi yang dipelajari!” Dirga mulai memojokkan papanya.
“Ok, baiklah, sekarang kau ikut papa ke kamar, itu mamamu kenapa tidur terus sih!” Mamanya Dirga memang sedang tidur di sofa ruang keluarga.
Ayah dan anak itu akhirnya ke kamar dan papanya Dirga membuka lemari, mengambil sebuah kotak kayu yang tidak ada ukiran apapun di atasnya, hanya kotak kayu polos berwarna coklat tua, khas kotak yang terbuat dari kayu, ukurannya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil.
“Ini adalah apa yang akan aku wariskan padamu kelak.” Papanya mengeluarkan sebuah kain putih yang sudah lusuh, kain itu membungkus suatu benda, ternyata sebuah kayu, entah kayu apa.
“Pegang ini.” Papanya Dirga memberikan benda yang sudah dibungkus oleh kain putih itu, kain kafan tepatnya.
“Ini adalah paku bumi untuk penglaris, paku bumi ini baru saja dikeluarkan dari tempat semula, untuk ke tempat barunya.”
“Tempat semula?”
“Ya, paku ini tadinya papa kubur di toko pusat kita, setelah 5 tahun, papa angkat untuk menglariskan toko berikutnya, cabang kita yang nilai transaksinya rendah.”
“5 tahun? Papa sudah memakai penglaris sejak 5 tahun lalu?” Dirga kaget, karena dia pikir baru beberapa tahun saja.
“Ya, tentu saja, papa banyak merintis usaha sudah naik turun, sekarang kita sudah berhasil, kamu tenang sajalah, setelah usaha ini bisa berdiri mandiri, kamu tak perlu menggunakan penglaris, kamu hanya perlu mengaplikasikan ilmu yang kau ambil di bangku perkuliahan. Papa hanya memastikan kalau usaha kita sudah siap untuk kau teruskan, kau tidak perlu menggunakan cara lama papa untuk meneruskan bisnis kita nanti.”
“Oh baiklah, lalu itu apa yang ada di dalam kotak?” Dirga melihat selembar kertas di sana.
“Oh ini, ini mantra untuk menaruh paku buminya, ini semacam perjanjian yang papa harus dibaca agar perjanjian itu bisa berjalan sejak paku bumi di kubur di tempat usahanya.
“Oh begitu, baiklah.”
Lalu papanya Dirga menaruh lagi kotak itu di dalam lemari, Dirga memastikan bahwa kotak itu bisa dia ambil kelak, untuk diberikan pada Mulyana, karena Mulyana perlu untuk membaca mantranya, memastikan perjanjiannya berisi apa.
__ADS_1
…
Mulyana mengintai kembali perempuan itu di sana, di bangku tempat dia duduk, bangku itu ternyata adalah tempat dia dikubur di sana.
“Assalamualaikum.” Mulyana menyapa, tapi tak dijawab.
“Bukankah jasadmu sudah dimakamkan? Lalu kenapa kau masih penasaran? Bukankah juga tentang ksiahmu sudah lama berlalu, lalu kenapa kau masih saja di sini, tak mau kembali?”
“Kembali ke mana? Ke mana aku harus pergi?” Wanita itu bertanya, dia menoleh dengan wajah hancur, tulang tengkorak pada wajah sebelah kirinya terlihat, khas jasad yang sudah dikubur dan termakan belatung.
“Kembali kepada Tuhanmu.”
“Belum saatnya, ada urusan yang harus aku lakukan dulu.”
“Kau masih menunggu kekasih? Apakah kekasihmu masih mengingatmu? Karena kematianmu sudah sangat lama.” Mulyana masih mencoba cara yang lembut.
“Dia bilang akan datang, dia bilang akan datang ke sini.”
“Tapi dia tak pernah datang kan?”
“Aku akan menunggunya.”
“Kau sudah tiada, dia tak akan pernah datang.”
“Dia akan datang!” Ruh itu melayang lalu mencekik Mulyana, Mulyana lemas begitu tangan perempuan itu menyentuh lehernya, Mulyana mencoba menarik tangan ruh perempuan itu tapi tidak bisa, Mulyana terlalu lemas, dia ingat karena terakhir kali dia mencoba mendekati perempuan itu di persimpangan jalan, dia mental.
Mulyana terus mencoba melepaskan tangan itu tapi tak kunjung mampu, dia terus mencoba melepaskan karena dia sudah merasa sangat sesak sekali.
Tubuh yang sudah lemas, semakin lemas hingga akhirnya Mulyana mulai kehilangan kesadaran dan ….
Cahaya yang cukup menyilaukan datang dari arah belakang Mulyana, lalu cahaya yang berbentuk cambuk, mencambuk tangan ruh perempuan itu, seketika tangan itu melepaskan cekikannya dan menghilang.
Mulyana bangun, lehernya memerah.
“Kau baik-baik saja?” Abah bertanya.
“Ya, Abah datang tepat waktu.”
“Kau tidak seharusnya membujuk, dia bukan ruh yang bisa kau bujuk, kau harus menemukan cara untuk memaksanya pulang.”
“Paksa? Caranya?”
“Bukan tugasku untuk cari tahu, kau kan yang Kharisma Jagatnya, aku hanya menjalankan yang kau suruh.”
__ADS_1
Abah menghilang, meninggalkan Mulyana yang bingung.
Menurut kalian, gimana caranya ya? Bantu Mulyana dong.