Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 121 : Saba Alkamah 6


__ADS_3

Semua orang sibuk membantu pindahan Meutia ke rumah baru, desa sebelah, Meutia dan ayahnya sudah membeli rumah yang sama besar dan mewahnya dengan yang saat ini, tapi ada pemandangan yang berbeda dari para Pelayan, yaitu mereka terlihat pucat semua.


“Ada apa ini? kenapa kalian semua terlihat pucat dan lemas,” tanya ayahnya Meutia pada salah seorang Pelayan, Pelayan yang ditanya itu juga heran, ternyata bukan dia yang merasa tidak enak badan, tapi semua orang.


“Tidak tahu Pak, tapi saya sudah buang-buang air dan juga muntah dari semalam.”


“Loh kok sama, saya juga.”


“Saya juga.”


“Iya saya juga.”


Semua pelayan bersahutan, ternyata semua orang sakit.


“Kamu, kok kamu nggak sakit?” Salah seorang Pelayan menyadari kalau Pelayan yang bertugas memasak tidak sakit, dia terlihat baik-baik saja.


“A-aku, aku tidak tahu, aku tidak tahu.” Pelayan itu ketakutan karena semua orang sekarang menatapnya dengan curiga.


“Kan, kamu yang masak semua makanan kami, termasuk makanan Ibu dan juga Bapak.” Pelayan yang lain mulai menuduh.


“Sebentar, jangan ribut dulu, Meutia! Meutia!” ayahnya Meutia memanggilnya, Meutia keluar dengan wajah sama pucatnya seperti yang lain, “kamu juga nggak enak badan? buang-buang air dan juga muntah-muntah?” tanya ayahnya.


“Iya, kok ayah tahu?”


“Semua orang juga begitu, hanya satu pembantu kita yang tidak sakit, dia yang masak makanan kita.”


“Iya Bu, jangan-jangan kita diracun sama dia!” Pelayan yang lain mulai saling menghasut.


“Kau! kau benar-benar tidak tahu diri, kau sudah aku beri pekerjaan, membantu keluargamu yang kekurangan, sekarang kau malah meracuni kami semua? apa alasanmu? jawab aku?” Meutia mendekati Pelayan wanita itu sambil berteriak.


“Ti-tidak Bu, saya tidak memasukkan racun ke dalam masakan yang kalian semua makan, saya hanya masak seperti biasa, saya juga makan kok.”


“Pasti sudah dipisahkan untuk masakan yang dia makan, kalian jangan terkecoh.” Pelayan yang lain termakan hasutan Meutia.


“Tidak, tidak, aku mohon, aku tidak melakukan itu.” Pelayan wanita itu memohon sembari terduduk, dia memang tidak melakukan apapun.


“Bu, dia selalu membela Pak Haris ketika kami ngobrol tentang Pak Haris, dia bilang Pak Haris baik dan normal saat jauh dari Ibu, dia selalu membela Pak Haris Bu.” Pelayan yang jelas tidak suka pada Pelayan yang sedang dipojokkan itu terhasut.


“Tidak Bu, saya tidak eprnah bermaksud untuk mencelakai Ibu ataupun semua orang di sini, saya juga berbicara sesuai apa yang saya rasakan, Pak Haris terlihat baik-baik saja saat saya mengambil barang di gudang kemarin, dia bahkan membantu saya mengambil barang.”


“Kau! jangan-jangan kau yang sudah membawa kabur suamiku, lalu kau bermaksud membuat kami semua celaka, karena kalau aku dan ayahku mati, Haris akan menjadi satu-satunya ahli warisku, karena kami masih dalam status pernikahan.”Meutia kembali lagi menghasut semua orang.

__ADS_1


“Astagfirullah Bu, tidak Bu, saya punya suami dan anak, bagaimana mungkin saya melakukan hal terhina seperti itu.”


“Suamimu hanya buruh, makanya kau jadi pembantu sekarang, pasti Haris sudah mengiming-imingimu uang, makanya kau mau membuatku mati kan?” Meutia masih terus mendesak.


“Tidak Bu, saya tidak ….”


“Usir aja bu, telanjangi lalu pukuli, kalau dibawa ke Polisi bisa lepas dia, udah jangan kasih ampun Bu, gara-gara lu gue sakit, lu bener-bener jahat.”


Pelayan itu lalu diseret keluar oleh beberapa Pelayan wanita, dia menangis dan memohon.


“Ada apa lagi ini?” tanya salah seorang tetangga yang sedang ada di halaman rumah dan buru-buru mendekati halaman Meutia yang luas itu.


“Dia mau meracuni semua orang biar semua pada mati, dia kerja sama ama Haris, Ibu Meutia juga sakit karena makan masakan dia.” Fitnah salah satu Pelayan yang menyeret wanita itu.


“Astaga, tega kau, makan dari nyonyamu tapi mau bunuh dia gara-gara uang pasti, benar kan?” Tetangga yang tidak tahu apa-apa itu hanya menelan mentah-mentah pernyataan dari Pelayan yang terhasut.


“Udah telanjangi aja, arak ke seluruh desa, biar malu sekalian, udah suaminya kerja keras, tapi malah dia selingkuh sama Haris, pantes kemarin dia mau belain Haris di warung,” ucap salah seorang warga yang memang kemarin ada di warung dan mendengar Pelayan itu hendak membela Haris.


“Tidak, saya mohon, saya tidak melakukan itu.” Dia memohon untuk dipercaya, tapi tidak ada yang percaya, beberapa Pelayan mulai melucuti pakaiannya, suami dari Pelayan itu berlari melihat istrinya akan ditelanjangi, suaminya itu membawa golok yang biasa dia gunakan untuk membantu di kebun bosnya, dia menyabet-nyabet golok ituke segala arah agar istrinya dilepas, semua orang menjauh, Meutia melihat itu tersenyum sinis, sungguh baginya ini adalah pertunjukan yang menyenangkan.


“Kalian semua memfitnah istri saya, dia bukan orang yang seperti kalian katakan, dia adalah wanita beriman yang sangat taat pada agama, kalian semua sudah fitnah dia.” Suaminya membuka baju dan menutupi tubuh istrinya yang sudah sebagian tersingkap di bagian dada dan menyisakan pakaian dalam yang menutup dadanya.


“Kalau gitu, kenapa kami semua sakit, Ibu Meutia juga sakit, hanya dia yang sehat.”


“Kalau memang dia yang melakukan, kenapa terlihat sekali, seolah dia sengaja membuat dirinya dituduh, bukankah akan lebih baik kalau dia pura-pura sakit? kalian tidak memikirkan itu, kalau begini jelas dia akan membuat dirinya jadi orang yang melakukan kejahatan itu karena dia yang sehat satu-satunya, ini disengaja, dia sengaja difitnah.” Beberapa orang mulai bergunjing, ada yang terlihat mulai goyah atas tuduhan itu.


Meutia melihat itu buru-buru mengambil langkah, agar kecurigaan itu tidak surut.


“Hei, kau pikir istrimu sepintar itu? dia pasti tidak menyangka kalau kami semua mencurigai dia.” Meutia melancarkan lagi tuduhannya.


“Tidak Bu, aku tidak melakukan itu, aku tidak pernah menaruh racun pada masakan.” Pelayan itu masih mencoba meyakinkan.


“Aku tidak percaya, karena kau yang bertanggung jawab sama semua bahan makanan dan juga masakannya, siapa lagi yang mungkin melakukan itu?” Pelayan yang lain takut kalau dia akan kena tuduhan, langsung mendekat dan menyerang Meutia lagi, kini semua Pelayan menyerang Meutia dan juga suaminya.


Suaminya tidak bisa menghalau Pelayan-Pelayan itu karena dia tidak berniat menyakiti siapapun dengan goloknya.


Golok itu akhirnya berhasil dirampas oleh salah satu Pelayan laki-laki, lalu secara cepat Pelayan itu buru-buru menyabetnya ke arah perut suaminya Pelayan itu, tapi tanpa diduga Pelayan itu melindungi suaminya dengan tubuhnya sendiri, golok itu menancap tepat di punggung wanita itu tembus ke perutnya.


“Demi Tuhan aku tidak ikhlas, demi Tuhan aku tidak ikhlas! kau akan merasakan sakit yang sama sepertiku dan suamiku, kau akan dikucilkan, kau akan dibuang dan semua keturunanmu akan menanggung dosa fitnah ini.” Pelayan itu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya mengutuk Meutia dengan suara sangat lantang, ketika dia berteriak, tiba-tiba cuaca mendung dan hujan turun.


Semua orang berlari ke rumah masing-masing, meninggalkan Pelayan yang terkapar dengan golok yang masih menancap dan juga darah yang mengalir begitu deras dari celah natar golok dan kulitnya itu.

__ADS_1


Suaminya menatap istrinya dengan sangat perih, suaminya itu memeluk istrinya, menarik golok itu dati tubuh kekasih yang sangat dia percayai itu, lalu membisikkan kalimat syahadat.


Dia sangat marah, tapi mengurus jenazah istrinya jauh lebih utama, dia menggendong tubuh istrinya yang berlumuran darah, dia tidak perduli darah itu terus mengalir saat dia menggendong istrinya itu, semua warga yang berada di rumah menatap suami yang menggendong istrinya itu dengan iba dan ngeri, karena darah istrinya terus mengalir seperti menandai rumah-rumah warga yang telah memfitnahnya dan diam saat fitnah itu terjadi.


Suaminya setelah sampa di rumah, memandikan istrinya, membeli kain kafan sendiri dan mengafani istrinya, lalu menguburnya sendirian, tidak ada satupun warga yang mau menolong, bahkan Pak Kepala Desa datang bukan untuk sekedar mengucapkan duka cita, tapi malah mengusir dia dan anaknya yang masih kecil keluar dari desa ini.


Pak Kepala Desa hanya memberinya waktu sampai malam ini saja, besok rumah itu harus sudah kosong, itu memang rumah milik pribadi, tapi seolah yang berkuasa mampu mengusir orang dari rumah miliknya sendiri.


Suaminya itu menangis dalam solatnya, dia berdoa dan mengadu atas perih yang dia dan istrinya lakukan, setelah itu dia mengemas seluruh pakaian dia dan anaknya, lalu pergi dari rumah yang selama ini menjadi tempat yang melindungi dari hujan dan juga panas, anaknya sudah mulai menanyakan ibunya yang telah terkubur dengan mulia, terkubur dengan fitnah yang tentu akan dimintakan pertanggung jawabannya.


“Nak, ingat ini baik-baik, ibumu adalah wanita mulia, dia hanya tidak bisa diam saat banyak orang yang memfitnah orang lain, salah ibumu hanya tidak mampu menahan kebohongan di depan matanya itu, dia orang baik, kau harus bangga padanya kelak.” Suaminya itu menggendong anaknya lalu pergi dari desa yang telah mengusir orang yang seharusnya dilindungi.


Sementara Meutia dan ayahnya sudah pindah juga dari desa itu dan menempati rumah barunya, semua orang terlihat sehat, tentu saja, itu hanya ramuan untuk memicu buang air besar dan iritasi pada lambung serta usus, hanya dalam waktu beberapa jam, orang akan kembali sehat.


Herannya semua orang seperti lupa telah membunuh dan memfitnah orang lain hanya untuk sakit perut yang tidak seberapa itu.


“Dia sudah diusir dari rumahnya, dia dan anaknya tidak akan kembali ke desa itu, kau aman, tenang saja Nak,”  bisik ayahnya. Mereka sedang di meja makan, jadi tidak boleh berbicara seenaknya.


“Ya, baguslah, salahnya terlalu banyak omong, makanya dia sekarang harus terpendam tanah. Padahal kalau dia diam saja, aku akan tetap mempertahankannya, aku kurang apa sih Yah? uang selalu aku kasih, aku royal, tidak pelit, kenapa dia bisa mengkhianatiku gitu, itu salahnya.”


“Sudah jangan terlalu dipikirkan, memang terkadang ada orang yang tidak tahu diri.”


“Sebentar ayah ….” Meutia berlari ke kamar mandi yang ada di dekat dapur, terdengar suara yang khas saat orang muntah dari sana, Meutia muntah-muntah.


“Apa efek ramuan itu masih ada di tubuhmu?” tanya ayahnya. Meutia sudah kembali ke meja makan.


“Mungkin, tapi ayah, biasakah kau menjauhkan ikan itu, bau amisnya terasa sekali.”


“Hah? bukannya kau sangat suka dengan ikan? kenapa sekarang mengeluh?”


“Aku … mungkin karena ramuan itu, makanya aku sekarang merasa mual dan tidak suka mencium bau yang terlalu tajam.”


“Yasudah, istirahat saja ya, kau lelah, biar semua barang diurus ayah dan juga semua Pelayanmu.”


Meutia nurut dan kembali ke kamar.


Meutia tidak tahu, bahwa kutukan dari orang yang difitnah itu mulai menimpa dirinya, dia tidak tahu, doa orang yang teraniaya akan cepat dikabulkan, dia telah salah memilih korban kali ini.


 


 

__ADS_1


__ADS_2