
“Kau tahu bahwa akan lahir seorang anak yang memiliki sifat mirip seperti iblis?”
Mulyana tersentak, dia tahu bahwa akan ada kejadian buruk sehingga semua Kharisma Jagat dikumpulkan di sini, bahkan para tetua yang bersebrangan dengan Ibu Ratu saja diundang, berarti ini masalah bersama.
“Maaf Ibu Ratu, saya tidak tahu soal itu, anak siapa? Kenapa dia akan lahir dengan sifat iblis”
“Karena jin menikahi seorang perempuan manusia yang merupakan anak dukun. Anak ini dibuahi dengan benih paling buruk, dikembangkan dengan semua sifat jahat dan diberi makan oleh energi paling jahat, ditambah ….”
“Ditambah apa Ibu Ratu?” Mulyana penasaran.
“Dia dikutuk oleh seorang manusia yang benar dan jujur, kutukan itu disetujui dan akhirnya menimpa janin dengan segala keburukan kutukan yang disetujui.”
“Astagfirullah! Janin itu, apa yang harus kita lakukan?”
“Kita tidak bisa membatalkan kelahirannya, tidak diperbolehkan juga mengakhiri hidupnya, satu-satunya jalan ….”
“Mmebatalkan kutukannya, tapi, semua energi jahat tetap tidak bisa kita hilangkan, karena itu sistem pembentuk awalnya.” Mulyana menebak, dia memang Kharisma Jagat dengan kemampuan terbaik.
“Kita harus mendapatkan anak itu lebih dulu, jangan sampai keduluan ayahnya, karena dia pasti mencelakai bayi itu. Kalau kita tidak mampu melindungi bayi itu, kita semua bisa kena bala yang disebabkan terbunuhnya bayi dalam ranah ghaib. Kita semua kecolongan atas pernikahan terlarang itu, kita harus membuat anak itu terbebas dari kutukan dan kau yang akan kuberi tanggung jawab untuk menanganinya.”
“Tapi Ibu Ratu, bagaimana dengan para tetua yang jauh lebih matang dan memiliki ilmu lebih tinggi?”
“Mudha Praya maksudmu? orang yang merasa dirinya paling tinggi itu? jika kuberikan wewenang itu, maka dia akan membesarkan anak itu dan memanfaatkannya untuk menciptakan kerusakan yang lain.”
“Baiklah, silahkan titahkan, aku akan lakukan, tapi aku butuh stempel perjanjian semua pihak, aku tidak ingin ada yang ikut campur, Ibu Ratu juga harus menyertakan bala bagi yang melanggar perjanjian.” Mulyana belajar dari sebelum-sebelumnya saat dia harus kesal karena beberapa kasusnya diikut campuri oleh Mudha Praya dan para tetua lainnya.
“Aku akan membuat stempel perjanjian dan juga balanya, ini, kau harus memegang ini, karena tidak mudah menghadapi ayah anak ini.” Ratu memberikan sebuah tongkat mini, tongkat itu selalu dipinjamkan jika Mulyana harus menghadapi jin jahanam yang punya ilmu sangat tinggi, tongkat itu berwarna hijau, jika tongkat itu dihentakkan, tongkat akan sangat panjang dan sangat beracun bagi jin pembangkang.
Lalu konferensi laut dimulai, yang hadir dari para Kharisma Jagat dengan ilmu yang tinggi, termasuk kumpulan tetua, Mulyana termasuk dari kumpulan tetua tapi merupakan pihak yang selalu disebut minoritas, karena dia selalu menentang banyak peraturan yang tidak masuk akal dari para tetua, termasuk soal jodoh, dia sangat membenci peraturan jodoh adat yang diharuskan oleh Mudha Praya dan para pendukungnya.
Karena Mulyana hendak menikah dengan seorang gadis biasa yang sangat dia cintai kelak, baik seorang Kharisma Jagat, maupun bukan.
Karena dia tidak mau kalau sampai dinikahi paksa dengan wanita yang dia tidak sukai.
Konferensi laut ke 1425 itu akhirnya selesai, stempel dari Ibu Ratu sudah didapat, stempel itu berupa surat ghaib, yang dikubur di laut, akan timbul sendiri jika ada yang melanggar dan membawa bala bagi yang berani melewati batas.
Mulyana pergi membawa semua petunjuk dari Ibu Ratu, lokasi dan ciri-ciri dari wanita yang mengandung benih pembawa sifat setan itu.
Hanya butuh waktu satu hari Mulyana menemukan wanita itu, dia melihat Meutia sedang berjemut, betul ternyata, energi hitam pekat sangat terlihat di sekitar perutnya, Mulyana sampai merasa takut melihatnya, anak ini benar-benar akan membawa kerusakan jika tidak disegel dengan segera.
Mulyana mendekati Meutia.
“Bu, boleh tanya kalau alamat ini di mana ya?” Mulyana bertanya pertanyaan bohong.
“Oh itu ada di sana.” Meutia memberi petunjuk jalan, Mulyana tetap memperhatikan perutnya, dia tahu, itu bukan perut aslinya, itu hanya sumpalan, karena janin aslinya tidak akan menampakkan bentuk aslinya.
“Makasih ya Bu, oh ya, semoga anaknya lahir dengan selamat ya, hubungi saya kalau sekiranya butuh bantuan untuk perlindungan ya.” Mulyana mencatatkan nomor telepon.
“Perlindungan, maksudnya apa ya, Pak?”
“Saya melihat kalau ibu mengandung janin yang tidak biasa, bisa jadi dia baik atau sebaliknya.”
Meutia tidak tersinggung atau marah, karena dia tidak sayang pada anak yang ada di kandungannya.
“Kau bisa melihat hal-hal ghaib?” Meutia terlihat tertarik dengan Mulyana, karena Mulyana muda memang terlihat tampan dan sangat berkharisma, seperti kemampuannya sebagai Kharisma Jagat.
“Ya, bisa, makanya saya mau membantu jika Ibu butuh pertolongan.”
“Kalau begitu, yuk minum dulu di rumah saya, ini terik sekali bukan? istirahat di rumah saya.” Meutia menggoda, padahal dia sedang hamil, tentu ini tujuan Mulyana.
“Mau minum apa kamu? Kopi, teh atau air sirup?” Meutia bertanya.
“Air putih saja cukup.” Meutia begitu mendengar jawaban Mulyana langsung masuk ke dapur untuk menyediakan air.
Mulyana melihat keadaan sekitar, sungguh rumah itu penuh dengan jarring gelap mirip seperti jarring laba-laba tapi jaring itu tidak terlihat, mengerikan sekali rumah ini, janin itu sungguh sangat kuat, Mulyana harus hati-hati.
“Ini airnya, minum dulu ya. Ada perlu apa di rumah tetangga itu?” Meutia bertanya hati-hati.
“Hanya silaturahmi saja.” Mulyana menjawab asal.
“Oh begitu, oh ya, aku Meutia, namamu siapa?”
“Saya Mulyana.” Mulyana menerima uluran tangan Meutia yang mengajak berkenalan.
“Saya memang merasa bahwa janin ini aneh, saya merasa janin ini jahat, apa kau bsia melihatnya?” Meutia kembali melancarkan jebakan untuk menjerat Mulyana, kali ini dia mendapatkan lawan jauh lebih cerdas dan beriman, walau Mulyana melihat betapa cantiknya Meutia, tapi dia tahu, bahwa itu hanya tipuan mata, makanya dia bisa menahan syahwatnya.
“Kalau begitu, jaga baik, karena kemungkinan dia tidak bisa digugurkan, jaga baik-baik dan rawat sehingga anak ini menjadi anak yang baik, saya bisa bantu membuat anak ini menjadi baik.”
“Oh ya, caranya bagaimana?”
“Nanti saya beritahu jika dia lahir, tapi Meuita harus beritahu saya ketika kau akan lahiran, kau bisa mengirim surat jika waktu lahiranmu sudah dekat, sehingga saya akan datang ke sini, bagaimana?”
“Ya, tentu saja, ada pria tampan baik hati yang mau menolong, kenapa tidak.” Meutia benar-benar tidak punya harga diri.
“Mulyana lalu pamit tanpa meminum airnya, dia tahu semua hal di rumah ini sudah tercemar energi jahat dari janin itu, kalau dia minum, dia bisa celaka, karean efeknya bagi Kharisma Jagat seperti pertarungan.
Mulyana lalu pulang, dia bertemu dengan Dirga di rumahnya, Mulyana sudah punya rumah sendiri, rumah biasa, rumah sederhana seorang bujang.
“Yan, kemarena jadi ketemu Ibu Ratu?” Dirga minta penjelasan.
“Jadilah, masa nggak jadi.”
“Trus tadi abis jalanin misi dari Ibu Ratu?”
“Iya.”
“Misi apa”
“Ada anak yang bakal lahir membawa sifat jahat setan.”
“Gila! serius tuh?”
__ADS_1
“Elu udah sering ikut gue, masih aja nanya.”
“Iyalah, soal dunia gitu gue mana ngerti walau sering ikut, gue kan nggak lihat dan nggak rasain. Eh soal Ibu Ratu, yang orang-orang bilang bener nggak sih?”
“Emang orang-orang bilang apa?” Mulyana pura-pura tidak tahu.
“itu loh, suka bawa laki-laki buat dijadiin pengantin, ilang di laut gitu.”
“Ya kalau urusan hidup mati mah Tuhan yang pegang Dirga.”
“Bukan itu, ini bener-bener ilang loh Yan, bukan mati mayatnya ketemu.” Dirga protes.
“Oh yang itu, bener.”
“Jadi bener dijadiin pengantin atau pengawal Ibu Ratu gitu?”
“Ya.”
“Ibu Ratu jahat dong?”
“Tergantung prespektif lu lah.”
“Kok gitu sih?”
“Ya, sekarang gini, elu ngapain berenang ke tengah laut? Kalau cuma mau sekedar senang-senang ya berenang di pantai aja, ngapain ke tengah laut?”
“Kalau kebawa arus gimana?”
“Itu kecelakaan, banyak yang Ibu Ratu kembalikan.”
“Trus yang nggak dikembalikan gimana?”
“Itu pilihan mereka, setau gue, Ibu Ratu selalu menawarkan pulang bagi yang tersesat atau dipanggil Ibu Ratu secara pribadi, karena kalau Ibu Ratu suka dengan wangi dan parasnya, dia akan mengundang secara pribadi, dia akan menyuruh pengawalnya untuk menemui orang yang dia suka itu ketika tidur, lalu dibawalah ruhnya ke kerajaannya, diperlihatkan semua keindahan laut dan juga semua kemewahan serta kekuasaan sebagai suami atau hanya sekedar pengawalnya, lalu ditawarkan, apa ingin tinggal atau pulang.”
“Oh, Lah itu kan ruhnya, ini yang gue tanya yang ilang sama tubuhnya Yan.”
“Ya, kalau ternyata orang yang Ibu Ratu suka itu memilih tinggal, maka tubuhnya akan diambil untuk ikut serta dengan ruhnya, lalu ada jin-jin yang menyerupai orang yang disukai itu untuk membuat cerita, misal, dia main ke pantai, lalu hanyut, padahal itu hanya cerita agar orang tidak terlalu mencari tahu.”
“Oh begitu ternyata, aku pikir memang mereka disandera atau dibuat tidak mau pulang.”
“Tidak, Ibu Ratu selalu memberi mereka pilihan, kebanyakan tidak mau pulang, karena silau oleh kecantikan Ibu Ratu, kekayaan dan kekuasaannya di sana, di atas sini dia mungkin cuma orang biasa, tapi dibawah laut sana, dia bisa berdampingan dengan Ratu laut.”
“Kau, kenapa kau kembali, tidak tinggal di sana?”
“Ibu Ratu tidak suka padaku, dia menganggapku anak.”
“Jadi elu ngarep dia mau jadiin lu suami?”
“Ya, enggak juga. Gue Cuma jawab apa yang elu tanya.” Mulyana tertawa.
“Rese lu!”
“Trus soal baju hijau, itu gimana? Katanya Ratu laut takut disaingin kecantikannya, karena dia selalu pakai baju warna hijau, dia tidak memperbolehkan siapapun memakai baju warna itu di kawasannya.”
“Baju hijau itu, ini lebih lucu lagi. Sebenarnya itu adalah larangan untuk keselamatan saja, karena laut itu berwarna hijau semakin ke tengah untuk mencegah tenggelam dan tidak terlihat, maka sebaiknya kamu memakai baju yang lebih mencolok, kalau hijau sama ama laut, ya kamu ilang.”
“Hah? serius? jadi kalau gitu, aku nggak masalah ke sana pakai baju hijau?”
“Pakai saja, kalau hilang paling sulit dicari.”
“Yan! lu doanya jelek.”
“Elu yang niatnya jelek, cuma buat buktiin teori itu elu mau nantang alam namanya, emang kepuasan lu membuktikan itu lebih penting dari hidup lu? terkadang mengikuti omongan orang tua tuh nggak salah Dirga, mereka selalu kasih wejangan sama kita biar selamat, jadi kalau udah larangan, ya ikutin aja, toh lebih banyak manfaatnya kan, daripada sekedar menantang alam, ntar Tuhan marah, selesai hidupmu.”
“Ya Yan, aku juga nggak niat gitu.”
“Jadi, sekarang elu harus yakin ya, kalau kematian itu bukan karangan Ibu Ratu, tapi bener-bener takdir Tuhan, bukan karena Ibu Ratu, Ibu Ratu itu makhluk juga kok kayak kita, cuma bedanya, dia dikasih ilmu lebih banyak dari kita, jadi dia bisa melewati batas kemampuan manusia, kemampuan manusia biasa loh, bukan kemampuan Tuhan, itu mah jauh banget Dirga.”
Mulyana memberikan wejangan pada Dirga yang selalu saja bebal kalau diberitahu, apalagi soal dunia ghaib, tapi Dirga adalah sahabat kental Mulyana, dia selalu siap berkorban jika Mulyana ada masalah.
“Sekarang jadinya, elu bakal apa soal anak itu?” Dirga membawa kembali pembicaraan ke titik awal mereka ngobrol.
“Sekarang, gue harus dekati Meutia, gue mau dia percaya aja dulu sama gue, biar begitu dia lahiran, gue bisa langsung segel bayinya, karena akan sulit masuk diam-diam saat dia lahiran, makanya gue deketin dia dulu.”
“Trus, dia mau dideketin”
“Nggak sulit sih deketin dia, kayaknya memang wanita yang mudah diperdaya, makanya dia mau dinikahi sama jin.”
“Untunglah, semoga kau berhasil ya, ingat jangan sampai terluka lagi ya, Yan, gue kasihan apa badan lu, masih muda penuh luka, padahal elu tuh di kampus tampan ke dua loh, tapi banyak bekas luka.”
“Trus yang pertamnya siapa?”
“Gue lah! Nggak ada yang ngalahin ketampanan gue.” Dirga bergaya bak foto model.
“Kau mengerikan Dirga, lebih mengerikan dari jiwa-jiwa yang aku antar.”
“Kok gitu?”
“Karena kau memfitnah dirimu sendiri, itu tidak baik kawan.”
“Yan! kau ingin aku hajar?” Dirga bersiap untuk memiting leher Mulyana, tapi sedetik kemudian Mulyana mendorong Dirga, dia melihat seseorang lewat.
Seorang wanita yang sangat cantik, dia adalah anak dari Pak RT, wanita itu kalau sore begini memang akan pergi untuk kursus memasak, wanita itu tidak kuliah, dia hanya kursus saja, Mulyana sudah memperhatikan wanita itu lama sekali, tapi belum berani menyatakan cintanya.
Dia takut kalau kesibukannya akan membuat wanita itu terluka, terlebih dia tidak mau identitas aslinya, bahwa dia dari keluarga kaya raya diketahui, dia hanya ingin menatap dari jauh saja dulu sekarang ini.
“Biasa aja litany, deketin sono.” Dirga sadar temannya selalu menatap wanita itu jika lewat.
“Kan elu tahu, gue masih belum bisa menetapkan hati untuk menentang pernikahan jodoh adat itu, karena begitu banyak yang harus gue lawan.”
“Tapi kan banyak yang lakuin pernikahan di luar perjodohan adat itu.”
__ADS_1
“Kan, elu tahu resikonya.” Mulyana mengingatkan temannya tentang mitos pernikahan diluar jodoh adat, pasti keturunannya tidak akan lahir dengan keadaan selamat, kalaupun selamat, bisa jadi cacat atau meninggal sebelum akil baligh, Mulyana takut menyakiti hati perempuan itu.
“Terus elu bakal nyerah Yan?”
“Menurut lu?”
“Nggak!” Mereka berdua tertawa, karena tahu betapa keras kepalanya Mulyana, ditambah koneksinya dengan jin penguasa laut terjalin sangat baik, makanya tidah mudah bagi Mudha Praya dan kumpulannya menyerang Mulyana.
“Kembali ke bayi itu lagi Yan, emang lu udah tahu caranya menangkal energi jahat itu?”
“Tahu, tapi berat Dirga, aku harus benar-benar ada ketika dia lahir, tidak boleh lewat seharipun, karena kalau lewat sehari saja, mantra penyegel atau penangkal energi jahat itu tidak akan mampu diatasi lagi.”
“Berat tugasmu Yan, kau masih muda, tapi sudah menanggung beban hidup yang cukup berat.”
“Kan ada kau Dirga, kalau tidak ada kau, aku bisa celaka dari dulu, kau yang selalu menjaga tubuhku untuk kembali pulih dan sehat.”
“Makanya kau jangan sembarangan meremehkanku ya, tak ada aku, celaka kau!” Dirga tertawa.
“Ya, aku takkan pernah meremehkan kau Dirga, kelak kalau aku tidak ada, aku titip keluargaku ya.”
“Sembarangan kau bicara, menikah saja belum! aku sih yakinnya, aku yang akan duluan pergi, kau terlalu kuat untuk pergi dengan mudah Yan.”
“Takdir Tuhan, siapa yang tahu Dirga?”
Mereka berdua menghabiskan waktu di rumah sederhana Mulyana, menghisap rokok kretek dan minum kopi pahit, ditemani gorengan yang dibeli dari pinggir jalan, kehidupan kedua Mulyana ini jauh dia senangi disbanding kehidupan pertama.
Anak dari konglomerat yang selalu disembunyikan identitasnya untuk keselamatan, ketik asudah cukup umur tidak tertarik dengan semua binis keluarga, dia hanya menjalankan bisnisnya jika dibutuhkan saja, sedang uang terus mengalir ke rekeningnya, karena merupakan hak di sebagai ahli waris.
...
“Ayah! ayah! perutku sakit.” Meutia berteriak pada ayahnya yang berada di kamar sebelah, ayahnya langsung masuk mendengar anaknya telah kesakitan, dia langsung menjemput Bidan Erni untuk membantu melahirkan.
Tidak lama mereka berdua kembali ke rumah, Meutia sudah berteriak histeris karena sakit di perutnya sungguh tidak tertahan, sakit seperti ada yang mau keluar dari organ pribadinya.
Bidan menyiapkan semua keperluan, termasuk baskom air untuk memandikan bayi yang akan lahir itu. Kain jarik sudah dibentangkan, Meutia tidur diatas kain jarik itu, sementara Meutia juga sudah tidak menggunakan baju lagi, hanya kain jarik yang menjadi selimut tubuh bagian atasnya, Bidan sengaja menelanjanginya agar bisa bergerak dengan bebas saat proses melahirkan kelak, karena ketika mengeluarkan ari-ari dia harus menekan perut Meutia sehingga baju yang dikenakan bisa menghalangi pergerakan Bidan nanti.
“Ayu dorong Meutia, dorong!” Ayahnya Meutia berada di dekat kepala anaknya, dia mengelap keringat anaknya itu. Meutia berteriak setiap kali mengejan agar anaknya keluar.
“Sakit Bu, sakit! anak brengsek!” Meutia mengumpat, padahal dia adalah calon ibu.
“Meutia, berhenti mengumpat, kau harus fokus untuk mengejan Meutia, jangan katakana yang lain selain mengejan saat aku suruh ya.” Bidan Erni kesal karena Meutia selalu saja mengumpat, arogan sekali calon anak tirinya itu.
“Aaaaa!!!! aaa!!!” Meutia mengejan sekuat tenaga lagi.
Dari luar terdengar suara ketukan yang cukup keras.
“Nak, Ayah lihat dulu siapa yang datang ya, kamu harus tenang ya Nak. Itu pasti Mulyana, dia bilang mau membantuMu untuk menangkal energi jahat anak ini saat lahir, aku sudah mengirim surat kepadanya seperti yang kau suruh.” Meutia mengangguk, dia fokus untuk mengejan lagi, ayahnya keluar kamar untuk membukakan pintu.
Tidak lama, ayahnya Meutia kembali lagi ke kamar.
“Mana Mulyana Yah?” Meutia bertanya sembari tetap berusaha mengejan.
“Ada di luar, bagaimana? apakah anaknya sudah lahir?” tanya ayahnya.
“Belum, tapi kepalanya sudah terlihat.” Bidan itu terlihat sangat kelelahan, karena proses lahiran ini tidak lama, tapi cukup alot.
“Aaaaa!!! aaaa!!!” Meutia lalu mengejan lagi, kali ini Bidan sudah bisa memegang tubuh bayinya dengan lebih baik dan dapat menariknya.
“Bagus Meutia, bayinya sudah keluar, Pak, pegang dulu cucumu ini.” Bidan itu hendak memotong tali pusatnya dulu, lalu melilitkan tali itu pada alat yang sudah dia siapkan sisi yang tidak menempel pada bayinya, setelah bayinya diterima oleh ayahnya Meutia, bidan itu mengurut perut Meutia kebagian bawah agar ari-arinya keluar, dalam waktu lima menit, ari-ari bayi itu keluar.
“Sudah! sudah keluar ari-arinya, Pak kemarikan bayinya, aku mau memandikan bayi itu, kenapa bayi itu tidak menangis?” Bidan meminta bayinya kembali dari ayahnya Meutia tanpa menoleh karena masih sibuk mengurus ari-ari.
“Pak!” Bidan itu memanggil lagi, karena ayahnya Meutia tidak mendekat dan memberikan bayinya, padahal Bidan itu sudah siap dengan baskom mandi.
Karena tidak dihiraukan, Bidan itu balik badan, tepat di mana ayahnya Meutia berada, tapi ....
“Mut, mana Ayahmu?!” Bidan itu berteriak karena tidak menemukan keberadaan ayahnya Meutia.
“Mana ku tahu! kemana bayi itu?” Meutia bertanya, dia tidak khawatir pada keadaan bayinya, dia hanya khawatir pada manfaat yang akan hilang jika bayi itu tidak ada.
“Bayimu kuberikan pada ayahmu tadi saat aku hendak mengeluarkan ari-ari dari perutmu!” Bidan itu panik, karena seharusnya bayi itu dimandikan, tidak ada tangis saat bayi itu keluar, jadi terlalu bahaya jika bayinya sekarang hilang.
“Ayah! ayah!” Meutia memanggil ayahnya, tidak jawaban, bidan lalu berjalan ke arah pintu keluar kamar, tapi sebelum dia keluar kamar ada seorang lelaki berlari masuk ke dalam rumah, hampir saja mereka bertubrukan.
“Meutia, dimana bayimu?!” tanya lelaki itu.
“Itu Pak, tadi dibawa ayahnya Meutia, saat saya sedang mengeluarkan ari-ari, bayi itu saya titipkan padanya.”
“Tidak mungkin! ayahmu ... ayahmu sudah tiada!”
“Apa maksudmu Mulyana!” Meutia marah, karena Mulyana berkata hal yang tidak masuk akal.
“Ayahmu tergeletak di depan pintu masuk, aku bisa masuk karena pintu itu terbuka, saat aku masuk aku menemukan ayahmu yang sudah tiada, sekarang Dirga temanku sedang mengurus mayatnya.”
“Tidak mungkin! tadi barusan dia dia ada, dia memegang bayi Meutia, dia memegang bayi itu saat aku mintai tolong!” Bidan itu histeris, kekasihnya, penyokong hidupnya telah tiada, Bidan itu berlari keluar dan melihat ayahnya Meutia masih tergeletak di bawah.
“Jangan pegang Bu, biarkan Polisi datang dulu, karena ini bisa jadi kasus pembunuhan!” Dirga memperingatkan Bidan itu untuk tidak memegang mayat ayahnya Meutia.
“Pak, barusan saya masih menitipkan bayi padanya, kemana bayi Meutia Pak.”
“Tidak ada bayi di sini saat kami sampai, lalu tubuh itu sudah dingin, artinya dia sudah meninggal cukup lama, sekitar setengah sampai satu jam.”
“Tidak mungkin! karena barusan saya menitipkan bayi itu Pak, tidak mungkin!” Bidan itu histeris lagi.
Sementara Mulyana masuk dan melihat keadaan sekitar, Meutia telah menutup tubuh telanjangnya dengan kain jarik.
“Kemungkinan ada yang menyamar menjadi ayahmu tadi, karena ayahmu sudah tiada cukup lama, tujuannya agar mendapatkan bayimu.”
“Darhayusamang!” Meutia berteriak.
Mulyana mendengar itu langsung meminta Meutia memberitahu di mana tempat tinggal Darhayusamang, Meutia tidak bisa menjelaskan di mana, karena dia selalu ditarik ke gua itu melalui dimensi yang berbeda, maka petunjuknya hanya, gua itu ada di hutan dan hutan dekat desa ini hanya satu, jadi Mulyana memutuskan ke hutan itu.
__ADS_1