Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 522 : Mulyana 28


__ADS_3

“Kau janji ya.” Nando terlihat lebih bercahaya, karena sudah tak ada lagi rasa berat dalam dirinya meninggalkan dunia ini.


Nando meraih tangan Mulyana, tapi sesaat tangan itu saling menggenggam, tiba-tiba Nando ditarik menjauh dari Mulyana, seperti ada tangan ghaib yang menariknya dari jauh, Nando berteriak, begitu juga dengan Mulyana, ada kekuatan besar yang menarik tubuh ruh Nando menjauh dari Mulyana.


Mulyana mencoba mengejar tapi sayang, dia tak bisa.


Kalian pasti sudah bisa menebak siapa yang menarik tubuh ruh itu.


Seorang lelaki tua sudah menggenggam tubuh Nando, dia membawa serta belasan anak buahnya dengan pakaian serba merah tua, dari jauh, tubuh itu terlihat seprti kumpulan darah, tentu saja, mereka adalah pelaku praktik tumbal, makanya tak heran, tubuh mereka menjadi seperti kotoran tak punya hati.


“Aki Inggil Landamusi. Selamat datang di kawasanku.” Drabya meminta Mulyana dan Aep untuk berada di belakangnya dengan isyarat mata.


“Drabya Kamajaya, Mulyana Kamajaya dan ini siapa? Tidak dikenal, anakmu juga?” Lelaki tua itu yang merupakan kakek dari Nando bertanya, sementara Nando mulai diikat dengan tali ghaib, berdiri di belakang kakeknya.


“Seperti yang kau tahu, berburu di kawasanku, itu dilarang keras.” Drabya memulai protokol.


“Bagi Kharisma Jagat, aku dan pengikutku, bukan bagianmu.”


“Tapi satu yang tak dapat dipungkiri, ini adalah wilayahku, kau tetap terikat peraturanku, tak masalah jika kau ingin menantang kami, para Kharisma Jagat.” Drabya tidak ingin melepas Nando degan mudah.


“Oh ayolah, dia milikku sejak awal, ini bukan perburuan, tapi mengambil yang memang menjadi hakku.” Inggil Landamusi juga tak ingin menyerahkan cucu ‘berharganya’.


“Tidak, dia tawananku karena sudah menyerang Kharisma Jagat dan orang lain, manusia lemah yang juga seorang temannya, jadi dia tak boleh dilepas.”


“Kau!” Dia menunjuk anaknya yang merupakan ayahnya Nando, Inggil merasa kesal karena dia tak dapat membantah itu, berani menyerang Kharisma Jagat di wilayah milik Kharisma Jagat dengan kekuatan sangat tinggi, itu hal yang sulit untuk dielakkan.


“Aku ingin anakku, aku mohon, jangan bawa anakku kemanapun, aku hanya ingin hidup bersamanya, aku tidak ingin umur panjang, aku hanya ingin bersama anakku, kalau dia tak punya tubuh pun, yang penting dia bersamaku, kalau dia tak ada Bagaimana lagi aku menjalani hidup?”


“Tidak, Nando harus kami jemput, tempatnya bukan di sini, jika kau sangat mencintainya, biarkan dia pergi ke sisi Tuhan, dengan begitu, ruhnya akan tenang, tidak menjadi iblis yang kau buat.” Drabya menasehati ayahnya Nando.


“Nando, maafkan ayah, ayah hanya tidak rela kau pergi begitu saja untuk berkorban, tidak ada yang pantas mendapat pengorbananmu, Nak. Aku ayahmu, kakekmu dan semua teman-temanmu, tak ada yang memihakmu, maka tak seharusnya kau mati begitu saja, kau harusnya tetap sekolah, menggapai cita-citamu, menjadi apa yang kau inginkan, bukan malah berpikir keras untuk menjebak kakekmu dan berkorban untuk kami. Nak, maafkan ayahmu.” Lalu ayahnya Nando pergi berlari, tak tahu harus berbuat apa, dia tak tega melihat sisa kehidupan anaknya diambil kakeknya Nando sendiri dan tak ingin berpisah seandainya dia dijemput Mulyana dan ayahnya.


Nando hanya menatap nanar kepergian ayahnya, dia tahu bahwa cepat atau lambat ayahnya akan melakukan itu, sama seperti ketika ayahnya sangat lemah di tempat tidur dan menangis setiap kali berusaha menggerakkan tubuhnya tapi tak mampu karena efek dari mantra kakeknya Nando yang mengejar mereka.

__ADS_1


“Kembalikan Nando, sekarang.” Drabya tidak mau lagi bertele-tele, karena dia ingin Mulyana menyelesaikan misinya.


“Tidak bisa, dia adalah cucuku dan aku butuh dia.”


“Untuk sisa umurnya? Kenapa kau sangat amat ingin hidup abadi? Tak ada yang menyenangkan dari hidup abadi, kau akan kesepian.” Drabya masih tak ingin memulai pertarungan.


“Kesepian? Mungkin menurutmu keluargaku akan mati, ya, pasti terjadi, tapi apakah manusia-manusia serakah akan habis? Aku bisa hidup bersama mereka yang cinta uang, aku punya uang, aku punya nama yang terkenal, tapi ... aku tidak punya sisa waktu yang banyak untuk menikmati itu semua, makanya aku ingin lebih lama lagi hidup di dunia ini.”


“Maka pertarungan ini tak dapat dielakkan.” Drabya menantang, dia memasang kuda-kuda.


“Sungguh sebuah kehormatan harus berhadapan dengan Kharisma Jagat kelas yang tinggi, tapi karena kau yang menantang, maka ... jika kau kalah, klanmu takkan mengejarku bukan? kau yang menantang, berarti kau yang melanggar batasan antara Kharisma Jagat dan dukun ternama sepertiku.”


“Jangan terlalu angkuh Inggil, bukankah kau tahu, bahwa Kharisma Jagat, bukan orang yang bisa kau hadapi dengan mudah.” Drabya lalu memukul bumi dengan posisi kuda-kuda, setelah memukul bumi itu, keluarlah semua pasukan miliknya, tadinya mereka kalah jumlah, tapi sekarang ... mereka menang jumlah dengan para tubuh ghaib milik Drabya.


Drabya membuka portal ghaib, dia memanggil semua anak buah jinnya untuk keluar dari markasnya di rumah dengan portal yang dia buat, dengan memukul bumi itulah, dia membuka pintu portal itu, semua jin keluar dengan berbagai tampilan, jelas, mereka adalah peliharaan yang sangat setia pada tuannya.


Kemampuan Aditia membuka dan menutup pintu ghaib, dia dapat dari Drabya, yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang Kharisma Jagat, sedang Mulyana memiliki kemampuan yang berbeda, tubuhnya adalah portal ghaib itu sendiri.


“Kau tahu, kalau aku seenaknya tanpa memikirkan aturan, tentu, kau takkan pernah kebagian memiliki jin peliharaanmu yang sedikit itu, bukankah kau tahu, mendapatkan peliharaan jin tidaklah mudah ... bagimu, dukun-dukun rendahan, tapi bagiku, hanya butuh satu jentikkan jari, maka jin itu jadi peliharaanku.


Dan sekarang kau bertanya, apakah aku boleh mengumpulkan buruanku? Bahkan jika aku mau, ruhmu bisa aku jadikan ... anjing peliharaan yang menjaga rumah, sudahlah, jangan banyak bicara, aku sudah muak melihat wajahmu!”


Drabya berlari secara tiba-tiba, dia mengincar leher Inggil dan kena! Inggil berusaha melepas cekikan itu, sementara anak buahnya yang tidak punya kemampuan seberapa dibanding Kharisma Jagat keturunan Ayi Mahogra itu, berusaha bertarung melawan jin peliharaan Drabya, sayang ... mereka tak terkalahkan, kecepatan, ketangkasan dan kekuatan jin itu sungguh sangat kuat, mereka dilatih setiap malam oleh Drabya untuk bsia menghadapi berbagai situasi.


Kakek itu tetap berusaha untuk melepas cekikan Drabya, tapi cengkraman tangan Drabya tak mudah dilepas, ditambah, Wangsa menjadi bagian dari tubuh yang mencekik itu, Wangsa sengaja ikut mencekik kakek iblis ini.


Sementara melihat semua orang sedang begitu sibuk dengan pertarungan, Aep dan Mulyana saling menatap, mereka saling paham dengan kode ....


Aep yang tak melihat apapun hanya bisa berlari di belakang adiknya, incaran Mulyana bukanlah anak buah Inggil, dia ingin melepas Nando mengajaknya untuk ‘pulang’ kehadapan Tuhan.


Begitu sudah sampai di dekat Nando yang sedang menangis, dia terika tali ghaib, Mulyana mengeluarkan sebuah keris mini, ayahnya tadi menyelipkan keris itu sebelum melesat mencekik Inggil, dia bilang, Mulyana harus berusaha melepas Nando, dengan isyarat, agar tak ada yang tahu rencana Drabya.


Mulyana segera membuka tali ghaib itu dengan keris, terbuka dengan mudah, Nando jatuh lemas, kasihan sekali ruh itu, dia pasti lelah dan kesakitan, hatinya pasti sakit, karena diperebutkan untuk dicelakakan, bukan untuk dipedulikan.

__ADS_1


“Ayo Nando, waktu kita tak banyak, semakin lama kau di sini, semakin jahatlah ruhmu, kau itu anak baik, teman yang percaya padaku dan ... aku percaya!” Mulyana terus membujuk Nando agar dia mau segera bangkit dan ikut Mulyana untuk diantar ke tempat yang semestinya.


“Aku tidak pernah tahu bahwa memiliki orang yang percaya padaku, adalah hal terbaik yang bisa aku miliki.” Nando mengulurkan tangannya pada Mulyana agar dia bisa bangkit, Mulyana memberikan tangan dan menarik ruh Nando yang dia taruh dalam botol kaca, setidaknya saat ini dia aman.


Mulyana melihat sekitar, semua orang sibuk dan tidak ada yang memperhatikan apa yang dilakukan Mulyana, karena itu, dia meminta Nando untuk menggunakan tubuhnya sebagai terowongan untuk bisa masuk ke alam ghaib, alam yang sangat luas dan itu akan membuat ruh Nando aman.


“Aku sudah buka gerbangnya, kau masuklah ke dalam tubuhku, akan sangat gelap sekali, kau hanya harus jalan lurus, setelah kau menemukan gerbang yang sangat megah, kau akan melihat gerbang itu tidak digembok, kau hanay perlu mendorong gerbangnya, lalu masuk ke dalam alammu dari gerbang itu.


Aku akan segera menjemputmu, setelah tubuhku aman dibawa Aep, sukmaku akan ke sana, menuntunmu untuk menemukan jalan pulang, mengerti?!” Mulyana bertanya.


“Tubuhmu, terowongan ghaib? Kau sungguh di luar dugaan. Kau sangat hebat, andai aku masih hidup, aku akan terus menempel padamu, karena kau sangat ... keren!”


“Sudahlah, jangan katakan hal yang akan membuatmu berat meninggalkan dunia ini.”


“Oh tidak Mulyana, aku tidak berat lagi meninggalkan dunia ini, karena aku punya kamu yang kasih tahu aku, apa itu rasanya punya sahabat yang percaya padaku dan aku percaya padanya. Terima kasih untuk semuanya.


Bahkan ketika kau tahu ini berbahaya, kau tetap datang ke rumahku mengambil resiko itu, aku benar-benar berterima kasih kau tidak menyerah, Yan. Kau sahabatku.”


“Ya, kau sahabatku Ndo, sampai ketemu di alam ghaib ya, tunggu aku di sana.”


Setelah mengatakan itu, Nando masuk ke tubuh Mulyana dan benar saja, setelah masuk, dia tidak bisa melihat apapun, semua gelap, tapi kata Mulyana dia hanya perlu terus berjalan lurus dan akhirnya akan menemukan gerbang.


“Kita lari dulu Kak, kita harus cari tempat aman untuk membiarkan sukmaku masuk terowongan.” Mulyana berkata pada kakaknya, Aep hanya mengangguk, dia paham.


Lalu mereka berdua lari dengan sangat kencang, sesekali ikut melawan anak buah Inggil.


Hingga jalanan sepi, akhirnya Mulyana bisa masuk ke terowongan dalam tubuhnya sendiri, karena itu, dia pingsan, sukmanya telah melepas raga untuk masuk ke terowongan di dalam tubuh itu sendiri.


Sebelum Mulyana benar-benar jatuh, Aep menahan tubuh itu lalu menggendongnya di punggung, setelah dia memastikan tubuh Mulyana sudah aman di punggungnya, dia berlari untuk pulang, tubuh Mulyana yang sedang kosong, harus dijauhkan dari bahaya, karena pertama, banyak dukun yang ingin tubuh itu, terowongan ghaib ada di tubuh kosong itu.


Kedua, jin juga banyak yang mengincar agar bisa seenaknya keluar masuk antara dunia manusia dan dunia ghaib.


Sungguh tubuh Mulyana sangatlah berharga, kakaknya berlari dengan sekuat tenaga menggendong adiknya yang sedang menyelamatkan Nando, maka tugas menyelamatkan tubuh Mulyana, akan diperjuangkan oleh kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2