
“Kita akan coba untuk ke pasar yang katanya intens didatangi oleh Amanda dan ibunya.” Aditia dan Alka sedang di dalam angkot dan hendak ke pasar itu.
Mereka sudah sampai, memarkir angkotnya dan mulai menyusuri pasar.
“Ke tukang ikan paling belakang Dit, di sana banyak hal yang bisa kita lihat.”
Aditia sebenarnya benci pasar, karena tempat ini sangatlah tidak menyenangkan, terlalu sesak, penuh ....
Alka tahu Aditia tidak nyaman di pasar, bau dan wujud mereka yang beragam membuat Aditia ingin muntah.
Makanya dia memilih jalan memutar langsung tembus ke bagian belakang pasar yang biasanya ada tukang ikan, ayam dan daging.
Tempat pertama yang mereka datangi adalah para tukang ikan, seperti yang Aditia duga, ‘mereka’ banyak sekali, ada yang bertubuh kecil, jangkung dan tentu saja ada yang berbalut kain putih. ‘mereka’ berdiri di depan kios, duduk di atas meja yang terbuat dari keramik, menggendong di punggung pemilik kios dan juga ada yang sekedar berlarian.
Dari seluruh pedagang yagn jumlahnya belasan itu, paling hanya satu dua orang yang tidak pakau penglaris.
Mereka semua memastika bahwa dagangan ‘tuannya’ akan laku, banyak cara yang digunakan, ada yang hanya duduk di meja kios sambil mengotori ikan-ikan itu dengan ludah mereka, ada yang mendekati calon pembeli seperti sales dan membisiki mereka dengan bujuk rayu yang akhirnya membuat calon pembeli mampir dan melihat seolah ikan dari penjual yang paling segar, ada yang tiba-tiba masuk ke dalam tubuh pembeli yang kebetulan sedang bengong dan akhirnya mampir tanpa dia sadari.
Muak sekali Aditia melihat itu, rasanya ingin mengeluarkan kerisnya dan memusnahkan ‘mereka’ sekalian dengan tuannya.
Manusia serakah, menyerahkan urusan rejeki kepada setan, bukan kepada Tuhan.
“Dit, tahu begini biar Ganding sama Jarni aja yang ke sini, kenapa mesti kita sih, kamu nggak akan kuat, masukin kerismu! Kau mau dikeroyok sama preman pasar?”
“Kan kau tahu, dikeroyok pun kita pasti menang.”
“Tapi dipenjara, mau kamu?”
“Trus masuk berita, pasangan gila membantai pasar pelaku penglaris, dikatakan bahwa mereka melakukannya karena muak dengan keserakahan manusia.”
“Pasangan? Percaya diri sekali kamu.” Alka lalu berjalan duluan, karena tidak mampu menahan sumringah, tapi takut ketahuan.
Setelah menyusuri bagian ikan, mereka lanjut ke bagian daging dan ayam, sungguh pemandangan yang lebih mengerikan, satu tuan punya beberapa peliharaan, bahkan tuannya terlihat sakit karena harus menanggung beban dari jin yang mereka pikul.
“Makin menjadi.” Aditia mencomooh lagi.
“Makanya aku bilang jangan kau yang ke sini.”
“Aku heran kalian juga lihat tapi kenapa tidak terusik dengan para makhluk ini dan tuannya yang serakah?”
“Dit, bukan urusan kita, toh mereka bukan ruh tersesat, bukan jin yang membunuh, mereka merayu tidak mencelakai, bukan ranah kita untuk membersihkan, kawanan terbiasa memilah, tidak sepertimu, liat nggak bener dikit langsung main babat.”
“Kan kau tahu, aku Kharisma Jagat memang kodratnya tidak bisa menerima yang salah jika soal mereka, makanya aku tak tahan berada di sini lama-lama.”
“Dit, sudah dapat bau yang mirip dengan yang kau hirup pada baju ibumu?” Alka bertanya.
“Belum, semuanya masih bau yang aku kenali, bukan bau itu, bau yang khas, tapi belum pernah terdeteksi sebeumnya oleh penciumanku, hingga sulit terdefinisi.”
“Kalau begitu kita ke bagian baju?” Alka bertanya.
“Ya, ayo kita ke sana.”
Mereka menyusuri pasar bagian baju, di sini jauh lebih sepi, walau masih ada beberapa yang masih memakai penglaris, tapi tidak semua, Aditia bahkan lebih senang di sini.
“Kau sudah berapa lama ikut tuan?” Aditia tiba-tiba berhenti melipir pada satu toko yang saat ini tidak ada penjualnya, toko tidak ditutup, hanya diberi tanda penjual sedang solat. Solat Dhuha. Makanya Aditia berani untuk bertanya pada jin itu, jin dengan sinar yang menenangkan.
“Sudah dari kakeknya, ayahnya, lalu dia.”
“Oh, kau khodam atau Karuhun?”
“Milikmu Karuhun, Assalamualaikum Abah Wangsa.” Jin itu menunduk pada Abah Wangsa yang ada di diri Aditia.
__ADS_1
“Oh kau khodam, waalaikumsalam.” Aditia menjawab.
“Sedang apa kalian di sini? bukan belanja kan?” jin muslim itu bertanya. Dia bukan jin penglaris, dia penjaga, kelihatannya pemilik toko orang yang memiliki keimanan tinggi dan juga ibadah yang kuat, hingga penjaganya sangat bersinar, diberi makan dengan kebaikan memang berbeda. Sinarnya mirip khodam milik kawanan.
“Kau tahu tidak ada bau yang berbeda di pasar ini?” Aditia bertanya, siapa tahu dia bisa memberi informasi.
“Bau berbeda?”
“Kami sedang memburu hal yang mungkin agar aneh, tapi ibuku melayat seseorang dan aku mencium bau yagn aneh, bau yang tidak bisa aku jelaskan, bukan bau jin atau bau ruh tersesat, ini baunya ... agak ... manis, tajam dan ... menyengat.”
“Bau apa itu?”
“Apa ada ‘penghuni’ yang aneh di sini sebelumnya?”
“Penghuni di sini aneh semua.”
“Yang berbeda maksudku.”
“Berbedanya bagaimana ya?”
Yang menjelaskan pun sebenarnya bingung kalau disuruh definiskan, orang mereka mencari apa juga tidak tahu.
“Mungkin selain para jin penglaris ....”
“Oh! Ada! Ini aneh, beberapa waktu lalu, saat aku dan tuanku selesai menjaga toko, lalu kami pulang, agak sore, tuanku tiba-tiba berhenti dan memutar balik, dia tidak jadi lewat jalan seperti biasa kami pulang, dia lalu membaca ayat kursi terus menerus hingga sampai rumah, aku bertanya padanya kenapa, begitu kami sampai rumah, lalu dia menjawab, sudah melihat sesuatu yang mengerikan. Lalu kutanya apakah jin penglaris? Bukankah dia terbiasa melihat ‘mereka’ di pasar. Dia bilang bukan, ini berbeda, entahlah ini ruh apa, karena dia terlihat sangat hitam dan gelap sekaligus sangat buruk rupa.”
“Nah itu! pasti itu!” Aditia bersemangat, “tuanmu lihat di mana?” Aditia bertanya.
“Waktu itu sih di deretan toko emas sepertinya.”
“Toko emas? Kau yakin?””
“Baiklah, terima kasih sekali sudah membantu kami, kau bisa sampaikan salamku pada tuanmu? Terima kasih karena dia istiqomah dengan hanya berlindung kepada Tuhan, bukan kepada jin penglaris seperti mereka semua.”
“Ya, aku akan sampaikan, kalian berhati-hatilah, sebangsa kami biasanya penuh tipu daya.”
Lalu Aditia dan Alka pamit untuk menyusuri toko emas itu.
“Ka, kau ingat kalau Ganding pernah bilang, Amanda membelikan kalung ibunya bukan?”
“Iya Dit, aku ingat.”
“Kita sudah menemukan kemungkinan tertinggi, kita harus segera ke sana, sekarang masih pagi, semoga toko emasnya buka ya.”
Aditia dan Alka menyusuri toko-toko emas itu, walau dia berharap bisa langsung bertemu dengan makhluk ghaib yang mengganggu itu dan mengusir atau membawanya pulang, entahlah yang mana yang harus dilakukan.
Saat Aditia menyusuri toko emas itu, ternyata banyak sekali toko-toko emas itu, jin khodam tadi tidak tahu juga yang manakah pemilik toko emas yang dimaksud, karena toko emas dan toko baju itu jaraknya tidak dekat, wajar kalau pemilik toko juga mungkin tidak kenal pemilik toko emas itu.
“Dit, kita sudah berkeliling selama satu jam, semua hanya jin penglaris di toko emas ini, tidak ada yang berbeda.”
“Ya, tapi dari toko-toko ini ada 3 toko emas yang tutup, mungkin salah satu toko yang tutup inilah yang memiliki ruh itu, makanya sekarang kita tak bisa menemukannya.
Saat itu Pemilik toko emas yang dimaksud memang sedang menjaga anaknya yang baru pulang dari rumah sakit, tentu saja Aditia dan Alka tidak bisa menemukan ruh yang memiliki bau khas itu.
Kalau di toko-toko emas, metode penglarisnya berbeda, mereka rata-rata memiliki 3 sampai 4 jin penglaris yang kelak akan setiap pembeli di toko emas itu, matanya akan ditiup-tiup hingga semua emas itu terlihat sangat bagus dan indah, lalu setelah mata itu kena tertiup energi jin, maka hatinya jin penglaris mulai membisiki mereka dengan kata-kata ... beli saja, nanti kalau butuh bisa dijual lagi, sehingga menimbulkan pemikiran bahwa beli emas itu kebutuhan, padahal mungkin belum mampu.
Aditia dan Alka akhirnya keluar dari pasar itu dan masuk ke mobil angkot, mereka menutup semua kaca mobil dan menyalakan AC, tentu ini bukan angkot biasa, bahkan seluruh kacanya saja dibuat sangat gelap.
“Aku yakin, kalung itu pasti berhubungan dengan bau itu.”
“Emas memang selalu menjadi benda yang menarik perhatian dua dunia.”
__ADS_1
“Ya, karena emas itu ... bahan murni yang datang dari kasih sayang Tuhan.”
“Lalu bagaimana sekarang?”
“Kita akan tanya kakaknya Amanda soal toko emas mana yang didatangi adiknya, kita akan pastikan mendatangi orang yang tepat.
“Baiklah Dit, tapi kita harus rembukan dulu di kantor dengan kawanan, siapa tahu mereka sudah dapat sesuatu.”
“Tentu saja, yuk kita makan siang dulu. Oh iya, Ka, ini.” Aditia tiba-tiba menyodorkan sesuatu.
“Apa ini?’ Alka mengambilnya dan tersadar, wajahnya memerah.
“Jepitan rambut? Warna hijau? Cantik sekali, untukku?” Alka bertanya, matanya berbinar.
“Bukan, itu untuk Abah Wangsa, kau tolong berikan padanya.” Setelah Aditia mengatakan itu, tangannya bergerak sendiri dan menampar pipinya sendiri dengan lembut, dari dalam tubuhn Aditia, Abah Wangsa protes karena diolok-olok akan beri jepitan rambut.
“Becanda kali Bah.” Alka tertawa melihatnya.
“Kapan belinya, bukan dari tadi kita sibuk melihat sekitar?” Alka bertanya, membuka jepitan rambut sederhana itu dan memakainya di sisi kanan dan kiri kepalanya, rambutnya memang selalu terkuncir, tapi melihat Alka memakai jepitan rambut itu, Aditia tersenyum.
“Cantik.”
“Aku? memang.” Alka tersenyum, begitu juga Aditia.
“Aku membelinya ketika melewati toko perhiasan imitasi, aku melihat jepitan hijau ini sangat cantik, teringat padamu langsung kubeli, kau tidak lihat karena berjalan di depanku.”
“Wah, jangan-jangan kau terkena penglaris Dit. Makanya melihat jepitan ini langsung ingin beli.”
“Ya, memang ada penglarisnya, tapi sebelum dia meniup mataku, aku sudah mencekik lehernya duluan, nafasnya bau comberan.”
Alka tetawa mendengar penjelasan itu.
Angkot jemputan lalu mulai menyusuri jalan hendak ke kantor.
...
“Amanda kau yakin akan mendatangi rumah hanya untuk menyelidiki?” Temannya Amanda berkata.
“Ya, aku akan menyelidikinya, kalau sampai benar ibuku dicelakai oleh dia, aku akan buat perhitungan.”
“Amanda kau jangan terlalu menggebu kalau salah, kau sudah memfitnah kakakmu loh.”
“Tidak, aku yakin.”
Amanda lalu bergegas pergi ke rumahnya, ini hari libur.
Saat dia sudah sampai rumah, dia melihat kakaknya hendak pergi, dia akhirnya urung masuk rumah dan mengikuti kakaknya, dia pikir akan mendapatkan sesuatu.
Dia mengikuti kakaknya dengan ojek, sedang kakaknya menggunakan motor sendiri, motor yang memang dia miliki dari ibunya masih hidup.
Amanda heran, kenapa dia masuk ke gedung yang besar dan tinggi itu, lalu Amanda ikut masuk dan terus mengikutinya, sayang dia hanya bisa sampai lobby saja, tidak bisa masuk sampai ke dalam seperti kakaknya karena tidak punya kartu akses masuk.
Maka Amanda menunggu di kamar mandi saja, kamar mandi di lobby itu.
Dia menunggu beberapa saat, lalu memutuskan keluar, untuk bertanya pada orang-orang yang mungkin kenal kakaknya, tapi sebelum dia benar-benar keluar, dia melihat kakaknya hendak masuk ke kamar mandi untuk laki-laki, tapi dia sudah berganti pakaian dengan seragam, seragam apa itu?
Amanda lalu mengendap mengikuti kakaknya dari belakang, beruntung tidak ada pegawai yang masuk ke kamar mandi laki-laki, karena Amanda pasti dicemooh karena masuk kamar mandi lelaki.
Dia terus masuk mencari kakaknya, lalu dia di bilik kamar mandi paling pojok, dia melihat kakaknya sendang membungkuk, memegang alat-alat pembersih closet, kakaknya sendang menyikat kloset dan menyiram kotoran sisa dari sikatannya. Amanda membeku, air mata turun dari matanya, pemandangan yang dia lihat sungguh menyayat hati.
“Kak ....” Amanda Memanggil kakaknya dengan lembut, air matanya tak terbendung lagi.
__ADS_1