Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 76 : Tersesat


__ADS_3

Alka dan Aditia sudah kembali ke gua, semua orng berkumpul.


"Aku bangga kalian bisa menahan diri untuk tidak datang ke sana." Kalimat pembukaan dari Alka membuat Aditia jengkel.


"Aku keberatan kalau kaian begitu, seharusnya kita saling ada dalam fase susah maupun senang."


Ganding melihat Aditia dengan tatapan kesal.


"Kau fikir, aku tak ada ketika kau terjebak dalam kantor kosong itu?"


"Atau kami tidak ada saat matamu ditutup dulu?!" Hartino menambahkan perkataan Ganding.


"Justru itu, kenapa ketika Alka yang dalam kesulitan kalian tidak mau membantu?"


"Mereka bukan tidak mau membantu, karena aku yang meminta mereka tetap tenang, tidak bergerak sampai aku perintahkan."


"Ya, itu juga permintaan yang aneh Alka! Kenapa kau tidak mau dibantu?"


"Kau kan, sudah bicara pada Ayi, seharusnya kau mengerti, bahwa aku salah dan Ayi tidak mungkin menghukumku dengan seenaknya, kau kerabat Ayi, tapi tidak percaya dia? Pantas Ayi harus terus bekerja keras membangun sistem Kharisma Jagat, orang-orang sepertimu yang seharusnya percaya, malah mencurigai dia, seandainya aku dari dulu tidak haus akan perhatian ayahku, tentu berada dan berjuang di samping Ayi akan menjadi pilihanku, lebih baik mati berjuang di sisinya, daripada hidup menjadi musuh Ayi."


Aditia terdiam mendengar omelan Alka.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"


"Tidak ada yang spesial, kalau ada kasus kita tetap kerjakan bersama, bedanya, sekaranh aku hanya bisa membantu kalian sebatas nasehat, ingatan dan fikiranku yang masih bisa digunakan, tapi ilmuku, tersegel, aku tidak mampu membantu kalian dengan ilmu itu."


"Baiklah."


Semua orang akhirnya memilih istirahat di gua itu.


"Oh ya, bagaimana dengan Ibu Ranti, apakah dia sudah baikan?" Alka bertanya karena dia tidak dapat menemuinya setelah mengantar anaknya Lani ke meneknya.


"Dia sudah sehat, kami sepakat merahasiakan kejadian ini dari Ibu Ranti, makanya dia masih tidak tau mengenai kejadian ini." Ganding menjawab.


"Bagus, kalian mengambil keputusan yang tepat."


"Terakhir kami dapat kabar dari Pak Imran, kalau Ibu Ranti akhirnya tau siapa perempuan yang selama ini bertemu dengan dia saat pulang lembur, dia melihat foto Lani ada di ulang tahun anaknya Lani, dia baru sadar kalau Lani bukanlah manusia tapi ruh. Dia tidak bertanya lebih jauh maka keluarganya menutupi semua yang terjadi." Ganding lanjut menjelaskan.


"Baiklah, Alhamdulillah mereka sudah baik-baik saja. Tidak terasa cukup lama aku meninggalkan kalian ya, seminggu lebih Aditia dan aku ada di Akademi itu." Alka dan Aditia baru sadar, memang Akademi itu perbatasan antara dunia manusia dan ghain, makanya satu hari di sana terasa lama di sini.


"Kalau begitu gimana kita liburan? Mau? Sekalian merayakan kasus-kasus yang sudah kita selesaikan." Hartino si raja pesta mengusulkan sesuatu yang belum pernah mereka lakukan sebelumnya karena fokus pada urusan orang lain.


"Serius? Kayaknya ok tuh." Ganding menimpali.


"Ya udah kita voting aja, mau kemana?" Hartino bersemangat sekali.


"Kak Alka dulu." Jarni berkata.


"Gunung." Alka spontan mengatakannya.


"Yaelah Kak! Jangan gunung muku ah." Hartino mengeluh, rupanya mereka terlalu sering jalan-jalan naik gunung.


"Namanya voting, ya terserah yang ambil keputusan lah. Gue juga gunung." Ganding ikut menjawab.


"Curang kan, kalau kak Alka udah pilih gunung, gue pasti kalah, padahal gue pengen ke pantai, misal ke pulau pribadi gue atau Ganding gitu."


"Bosyannn." Ganding dan Jarni berkata dengan kompak.


"Lu gimana Dit? Mau kemana?"


"Terserah Alka aja lah."


"Tuh kan, udah pasti kalah gue."


"Lagian naik gunung sekalian escape dari dunia manusia, kan mau istirahat katanya." Alka berkata dengan penuh percaya diri.


Akhirnya semua sepakat untuk pergi naik gunung, ke suatu gunung yang cukup terkenal, gunung yang cukup tinggi, sekitar tiga ribu lima ratusan meter dari permukaan laut.


Hartino mau tidak mau harus segera mengurus perjalanan ini, menyiapkan tenda, paling hanya dua tenda saja, lalu makanan untuk beberapa hari karena rencananya mereka akan naik gunung selama tiga hari saja.


...


hari ini adalah hari yang ditentukan untuk liburan, mereka berkumpul untuk mulai perjalanan menggunakan jeep milik Jarni, masing-masinh membawa tas punggung yang cukup tinggi, hobi Alka memang naik gunung, karena hanya dengan cara itu Alka merasa semakin bersyukur dengan betapa indah dan luasnya ciptaan Tuhan.


Aditia menyetir, semua tanpak bahagia.


"Dit gunung mana aja yang pernah lu daki?" Hartino bertanya, dia ada di samping Aditia, sementara Alka, Ganding dan Jarni duduk di belakang supir.


"Belum pernah."


"Hah? Serius lu?"


"Naik gunung itu hobi yang nggak mudah, butuh banyak biaya, tenaga dan waktu, dulu gue sibuk nganter 'mereka' kan."


"Ya sih, bener juga. Kalau gue sama yang lain, kami sudah menaiki hampir semua gunung yang ada di pukau jawa ini, karena ini hobinya Kak Alka, makanya kami selalu ikut pergi saat dia mau pergi." Hartino terlihat kesal karena dia sebenarnya ingin ke pantai.


"Oh gitu."


"Di gunung jangan mikir yang aneh-aneh ya, berkata aneh atau berprilaku menyimpang, jangan banyak ngeluh, nanti kita dikerjain."


"Elu tuh yang suka rese Har."

__ADS_1


...


Alka dan yang lain menikmati perjalanan ke gunung tersebut, saat sudah sampai di pos pendaftaran atau surat izin masuk kawasan konservasi atau orang-orang sebut SIMAKSI.


mereka tidak butuh pemandu jalan karena memang sudah terbiasa jalan sendiri dengan semua anggota.


Saats sedang mengurus simaksi itu, alka terlihat gusar.


"Kenapa Ka?" Aditia menyadari perubahan ekspresi Alka.


"Itu kenapa ya rame-rame?"


"Nggak tahu." Tentu Aditia tidak tahu, kan mereka dari tadi bersama terus.


"Kenapa sih?" GANding kali ini yang bertanya.


"Ini Alka penasaran sama yang rame itu."


"Udah selesai nih pendaftarannya." Hartino Mencob memberitahu tapi tidak ada yang menggubrisnya.


"Kak, kita kan rencananya mau liburan, serius mau nanganin kasus lagi? " Ganding protes, Hartini yang mendengar itu juga langsung panik.


"Kak! aku udah selesai SIMAKSI loh, ayolah, kita mau liburan bukan cari kasus.


"Ka, emang kenapa, kok sepenasaran ini? " Aditia bertany, karena Alka sudah tidak punya kekuatan lagi, dia jadi kehilangan intuisi, tapi fikiran dan hatinya yang memang sudah terbiasa dengan hal ghaib yang ganjil, maka wajar saja jika ada yang kurang dihatinya, dia akan penasaran.


"Dit, nggak usah ikut-ikutan bisa?"


"Har, kasihan Alka, kau fikir dia akan fokus jika naik dalam keadaan penasaran begini, macam tidak kenal kakakmu saja."


"Dit, bukannya bantu kami bujuk, rese ah."


"Yasudah, yuk naik, kita liburan." Alka mencoba bersikap sportif, dia tidak mau membebani adik-adik angkatnya.


"Yaudah, yuk kita tanya mereka ada apa." Hartino, akhirnya mengalah, karena membuat Alka kecewa haram bagi mereka.


Alka tersenyum dan mereka berlima akhirnya berjalan menuju kerumunan itu.


"Ada apa ya ini?" Hartino bertanya yang lain berada di sekeliling kerumunan itu.


"Ada yang hilang, sudah hilang 9 hari, kami memulai pencarian sejak hilang di hari ketiga." Jawab salah satu relawan, mereka ada yang memakai seragam Tim SAR.


"Wah sudah lama hilangnya, betapa orang?"


"Dua puluh satu orang."


"Hah?" Hartino kaget, karena itu jumlah yang cukup banyak untuk hilang begitu saja.


"Nggak tiga belas lelaki, lima perempuan dan tiga anak-anak umur tujuh, sepuluh dan tiga belas tahun."


"Astaga! kak, kita bantu mereka?" Hartino jadi bersemangat.


"Oh, tidak usah De, kami semua adalah profesional yang membantu mencari, tapi masih tidak ketemu, takutnya malah nanti ada korban hilang lagi kalau kalian ijut mencari."


Hartino tertawa, relawan ini menginterupsi pertanyaan Hartino kepada Alka.


"Tenang Mas, kami tidak akan menjadi korban, pertama kami juga pro kok, bisa di cek, ini kartu relawan kami, bisa dicek ya, Mas tahu, kan, kalau kartu ini hanya dimiliki oleh mereka yang sudah membantu korban hilang dan evakuasi mayat dengan kondisi yang sangat bahaya? " Hartino mencoba mematahkan pemikiran mereka tentang Hartino dan kawan-kawan yang ferlihat amatir.


"Oh maaf, soalnya kalian masih terlihat muda-muda."


"Nggak apa-apa, yang penting kami. oleh ikut ya?" Hartino bertanga lagi.


"Tentu saja, silahkan berkoordinasi di pos pendaftaran ya, supaya nama kalian bisa terdaftar sebagai relawan pencari korban-korban hilang itu."


"Baik, terima kasih ya Mas."


Hartino lalu kembali ke Pos pendaftaran dan melakukan pendaftaran ulang sebagai relawan.


Saat kembali dia menjelaskan kondisinya.


"Jadi begini, sembilan hari yang lalu. errka mulai mendaki, ada Pendaki lain yang melihat mereka sampai di pos empat, pos terakhir sebelum puncak, mereka mulai ngecamp di Pos itu, katanya itu sekitar jam sebelas malam. Sempat saling sapa juga, pendaki itu bahkan menolak makanan yang diberikan oleh para korban itu karena ingin buru-buru turun ke pos selanjutnya.


Berdasarkan obrolan pendaki dan korban-korban itu, diketahui bahwa mereka mau muncak sekitar jam tigaan pagi buat ngejar sunset hari berikutnya, lalu obrolan sudah sampai disitu saja, sekilas terlihat semua baik-baik saja, semua juga terlihat sehat.


Itu saja keterangan yang aku dapet. "Bagaimana dengan keadaan gunungnya?" Alka bertanya.


"Ranger sempet bilang kalau hari mereka niat summit atau muncak itu, kabut memang sempet ada, tapi nggak terlalu tebal, Kak."


"Udah ada jejaknya yg ketemu? "


"Nah ini yang aneh, jejak mereka ngecamp atau kemah di Pos emoat ada, tapi jejak mereka summit dan turun nggak diketemukan, mereka kan, berduapuluh satu, seharusnya jejak kaki atau sampah diketemukan, tapi ini nggak sama sekali, mereka kayak hilang gitu aja."


"Apa asumsi lu Ka?" Aditia bertanya.


"Ada beberapa kemungkinan, pertama, mereka naik belum sampai puncak, lalu ketemu kabut panik, hilang arah dan tersesat.


Kedua, mereka masuk dunia ghaib saat akan naik atau turun.


Terakhir, ini kemungkinannya kecil tapi patut dipertimbangkan, terjadi hal yang mungkin membuat mereka berselisih laku saling bunuh, walau ini dirasa konyol, tapi kemungkinan itu selalu ada. "


"Yaudah, yuk kita gabung sama Relawan-Relawan itu." Ganding melihat para relawan yang berjumlah belasan orang siap naik ke atas, dengar-dengar mereka adalah kloter ketiga, kloter pertama dan kedua sudah turun setelah tiga hari mencari, satu kloter naik selama tiga hari.

__ADS_1


Pencarian dimulai dengan menuju pos satu, tapi setelah sampai pos satu, mereka akan berpencar ke segala penjuru arah, walau cara ini sudah dilakukan berkali-kali dan tidak membuahkan hasil, tapi tetap diulang lagi.


"Kita langsung naik aja Har," Alka berkata.


"Nggak boleh mbak, kita harus bertahap, jangan langsung summit." Relawan melarang.


"Kalian sudah mencari seperti ini dari 6 hari yang lalu, kami akan melakukan yang berbeda."


"Tapi Mbak harus kooperatif jika ingin membantu."


"Baiklah, satu hari ini saja, setelah hari ini tidak berhasil, aku akan menggunakan caraku, gimana?" Alka berkata dengan yakin.


"Baiklah."


Lalu semua berpencar sesuai arahan mencari di Pos yang sama pada arah mata angin yang berbeda.


Semua orang mencari, Alka dan kawan-kawan tidak berpencar, mereka mencari di arah yang sama.


"Jarni, coba rasain, ada jin yang pernah lewat sini? kalian semua juga, bau jin jahat." Alka yang kehilangan kekuatan tidak bisa melakukan itu.


"Tidak, semua aman kok."


"Bau darah?"


"Tidak." Semua menjawab kompak.


"Berarti memang bukan di level ini, kita naik sekarang." Alka memerintah.


"Siap." Tidak ada yang membantah, mereka tahu Alka harus cepat, kelaparan berhari-hari dalam kelompok yang besar akan sangat bahaya.


Mereka naik berlarian, semua sigap menciun bau apapun dan sesamar apapun, tidak akan mereka lewatkan.


sampau di Pos Tiga hanya dalan waktu dua jam, biasanya orang harus menempuh sekitar lima sampai enam jam.


"Udah lewat dua pos masih belun cium atau melihat apapun." Ganding berkata.


"Kalian semua cegat jin yang lewat, kita tanya mereka."


"Kak, penjaga gunung ini bisa marah kalau kita seenaknya tanya penduduk mereka." Gandjng protes.


"Nggak mungkin marah, yang tanya kan, Kak Alka, malah seneng dia, aw! " Jarni menyikut perut Hartino yang ngomong seenaknya.


Aditia memandang Hartini dengan pandangan curiga, dia sudah bisa menebak, ada aura cinta bertepuk sebelah tangan di gunung ini.


"Bisa fokus nggak!" Alka seperti biasa mengingatkan.


"Ok kak, kita akan tanya jin yang lewat."


Mereka memulai kasus dengan Alka yang sedang cacat.


Saat memulai perjalanan ke Pos Empat, mereka melihat seorang anak kecil dengan wajah pucat, banyak lebam pada wajahnya, baju yang mirip seperti akan naik gunung, anak itu melompt, menggelinding dan kadang menjatuhkan kepalanya.


"Dek, mau tanya dong."


Anak itu kaget ketika disapa oleh Aditia.


"Kakak bisa lihat aku? Nggak takut?"


"Nggak, bisa kok."


"Kakak udah mati?"


"Belum, kakak mau tanya boleh?" Aditia melanjutkan, yang lain masih naik ke atas, Aditia ditinggalkan sendirian.


"Boleh, tapi minta permen ya?"


"Boleh, nih." Aditia memberikan permen.


"Tanya apa?"


"Lihat pendaki banyak yang tersesat nggak?" Aditia memulai.


"Oh mereka, lihat."


"Dimana?" Waktu itu sih naik ke ouncal, tapi ... anak itu celingukan lalu terdiam.


"Nggak berani bilang."


"Kakak kasih permen lagi mau?"


"Boleh." Aditia kembali mengeluarkan kembang tujuh rupa.


Aditia tahu, bahwa kembang tujuh rupa sangat disukai oleh sejenis jin anak dan perempuan, makanya dia selalu bawa di tasnya.


"Ikut aku ke puncak yuk." Anak itu menarik tangan Aditia.


Aditia ikut berlari dengan anak itu, tak terasa kawan-kawannya tersusul dan tahu bahwa Aditia sedang dipandu, makanya mereka buru-buru mengejar Aditia.


Anak itu tau nggak ya? Yuk tebak yuk.


Jangan lupa ya Vote biar aku jadi rajin.

__ADS_1


__ADS_2