
SAAT INI
"Jadi begitu ceritanya." Pak Abdul menceritakan keseluruhan awal mula gedung miring itu dibangun.
"Untung ada seorang Mas Umar yang memberitahu Bapak, lalu setelah kejadian itu Bapak masih bekerja di gedung itu?"
"Saya memutuskan untuk mengundurkan diri dengan alasan kesehatan, untungnya Managment menerima dan akhirnya memutuskan untuk menerima pegawai lain sebagai pengganti saya.
Jujur saya tidak bisa meminta gedung itu dirubuhkan karena biaya bangunnya saja sudah fantastis, maka saat itu saya berfikir semoga saja 'mereka' tidak menggangguku lagi. Tapi aku salah."
"Mereka masih mengejarmu, Pak." Ganding berkata sembari tersenyum sini.
"Ya, bagi mereka aku adalah perusak tempat huniannya. Makanya mereka tidak berhenti sampai aku ... ikut bersama mereka." Pak Abdul terlihat frustasi.
"Kau pindah jauh begini hanya untuk tidak ditemukan mereka?" Ganding bertanya lagi.
"Aku kehilangan banyak hal karena ganguan mereka, harta, anak dan istri. Semua pergi meninggalkanku. Karena jika tetap bersamaku, mereka akan celaka."
"Baiklah, kami adalah tim penjemput."
"Tim penjemput?" Pak Abdul bingung.
"Kami menjemput para arwah penasaran untuk kembali ke tempatnya." Ganding menjelaskan.
"Tapi ... mereka bukan arwah penasaran, mereka jin yang murtad dan ingin membuat manusia menjadi sekutunya di neraka nanti."
"Makanya kami harus mengkonfirmasi dulu apa sebenarnya makhluk itu, saat ini yang bisa kami lakukan adalah menandai lokasi Bapak sebagai tempat perlindungan, saya dan Jarni akan menyiram air disekeliling lokasi ini agar Bapak tidak diganggu lagi. Tapi, selain itu, Bapak harus meminta pertolongan kepda Tuhan, kami hanyalah manusia lemah, Tuhan lah sebaiknya penolong." Ganding berkata dengan bijak.
...
Setelah berbicara dengan pak Abdul, Jarni, Ganding, Alka, Aditya dan Hartini berkumpul kembali di gedung miring yang telah terbengkalai cukup lama.
Mereka semua duduk di dalam angkot Aditia, tepatnya di kursi penumpang.
"Jadi si Kunti Merah bukan arwah tersesat? dia jin murtad? pengganggu?" Aditia memastikan pada Jarni dan Ganding.
"Ya, betul"
"Kalau begini akan berat, apa yang harus kita lakukan, Alka?"
Alka terlihat terdiam seperti sedang berfikir.
"Tidak punya cara lain, akan sulit mengusirnya karen ini adalah tanah tumbal, diperuntukan sebagai persembahan iblis. Bukan ranah kita." Alka yang memang keturunan manusia dan jin itu juga tidak punya jawaban.
__ADS_1
Kalau dari catatan ayahnya, Jin pernah diusir tapi sangat sulit.
Karena Jin Karena jin pengganggu pasti ingin melakukan pertukaran mereka tidak akan membiarkan tanah yang mereka sudah dapatkan hilang tanpa pertukaran yang sepadan.
"Aku bisa saja bernegosiasi mungkin dia bisa melihatku sebagai sesuatu yang mirip dengan mereka tapi untuk mendengarku dan menuruti mau kita belum tentu," Kata Alka.
"Jangan terlalu bahaya, Alka. Aku tidak mau kalau mereka nantinya malah meminjam tubuhmu sebagai pertukaran." Aditia menolak.
"Lalu kita punya cara apa? ingat, ini adalah salah satu amanah ayah yang harus kita tuntaskan."
"Kak Alka benar, Dit," Hartino berkata.
"Bagaimana kalau berburu?" Aditia menawarkan sesuatu yang berat.
"Kau gila! Kita cuma berlima Dit, mereka jin setengah iblis, kita mungkin tidak mampu."
"Lagian Dit, seperti yang Pak Abdul katakan, bahkan Dukun itu meniru apa yang dilakukan oleh Sing Linangkung, yaitu orang-orang Persia yang datang ke pulau Jawa ini ketika belum ada manusia yang mendiami pulau ini.
Dia menanam tumbal binatang ke segala penjuru arah untuk membuat suasana di tanah itu menjadi panas, sedang kemampuan jin setempat lebih hebat, hingga tumbal itu tidak mampu mengelabui mereka.
Kalau kita menyerang, hanya aku yang bisa menyerang mereka secara langsung.” Alka terlihat cemas.
“Aku tidak ingin kau celaka Ka.” Aditia menolak.
“Lalu bagaimana caranya? coba lihat di buku harian ayah.” Hartino mengusulkan.
“Di sini ayah bilang, ‘bahwa si kunti merah itu sebenarnya memiliki wujud penuh darah di sekujur tubuhnya, dia adalah iblis yang suka menggoda manusia untuk melakukan tumbal, tapi jika permintaannya adalah tanah, yang dia maksud adalah seluruh keluarganya. Karena sepeninggal dari orang tua yang melakukan pesugihan, pasti anaknya berebut harta, hal ini akan menjadi jalan si kunti merah untuk melakukan perjanjian baru’. Tapi itu semua gagal, karena Pak Abdul kan tidak membuat rencana jin sesat itu gagal.”
“Berarti kita menghadapi jin yang sangat marah, kita harus apa Dit? Menyerah?” Alka sepertinya bingung.
“Ini sih cara gila ya, Kak Alka, Dit, tapi siapa tahu bisa kita pakai.” Ganding berlari ke mobilnya dan mengambil sesuatu, setelah itu dia berlari kembali ke angkot Aditia.
“Nih.” Ganding memberikan sapu lidi pada Aditia.
“Ah gila lu, kita kan nggak main beginian.” Adit kesal.
“Jangan salah lu, ini sapu lidinya bukan sapu lidi biasa, ini dari batang tumbuhan biadara, makanya nggak setegak sapu lidi biasanya.” Ganding kesal diremehkan.
“Lalu?” Coba kita usir dia dengan ini.
“Setelah diusir? dia bebas dong melakukan lebih buruk lagi di tempat lain?”
“Bentar deh, aku tahu!” Alka tiba-tiba berteriak, “yuk, masuk!” Alka mengajak semua orang untuk masuk ke gedung miring itu.
__ADS_1
Suasana gedung seperti terakhir mereka datangi, gelap, pengap dan menakutkan.
Saat masuk pintunya yang besar, sungguh derit pintunya saja sudah membuat bulu kuduk merinding.
Ada suara dendangan yang merdu dari dalam. Nyanyian dalam bahasa sunda, Aditia tidak begitu tahu lagu apa itu.
Langkah terseret terdengar, gaun yang begitu panjang terlihat di depan mata mereka, tidak lama, setam merah itu datang mendekat.
“Kau tahu bahwa tidak seharusnya kau di sini,” Alka berkata.
“Setengah manusia dan sisanya Jin, wangimu sungguh busuk.” Itu yang dikatakan setan merah, Aditia menahan marah, dia kesal Alka telah dihina.
“Aku ingin mengadakan perjanjian baru denganmu.” Itu yang Alka katakan, Aditia dan semua timnya menatap Alka dengan tajam, bukankah perjanjian ini tidak disetujui sebelumnya.
Setan merah itu mendekat dengan langkah mengambang mendekati Alka, Alka tetap pada posisinya dengan tegak.
“Apa yang bisa kau janjikan kepadaku?” Setan itu mengelilingi mereka semua, dengan wajah yang menyeramkan.
“Jadikan tanahku sebagai tanahmu, kutumbalkan tempat tinggalku.”
Setan itu tertawa dengan suara yang menakutkan.
“Tempatmu hanya tempat kumuh yang tidak ada menariknya untukku tempati. Kau menawarkan sesuatu yang sangat rendah untukku.” Setan Merah itu mencekik Alka, Alka hanya diam.
Setan itu kesakitan, dia tidak tahu bahwa Alka memiliki berkah dari Tuhannya, sehingga tidak mudah baginya menyentuh Alka.
Saat tangannya terbakar, gedung bergetar, sesuatu yang sangat besar nampak keluar saat berjalan lantai gendung miring itu ikut bergetar, lima sekawan itu juga merasa oleng.
“Alka!” Aditia memegang Alka yang terlihat akan jatuh, karena posisinya lebih dekat dengan setan merah dan ‘sesuatu’ yang datang itu. Tapi ternyata Alka mampu menguasai keadaan.
Makhluk besar itu terlihat dengan jelas, seluruh tubuhnya menghitam, ada banyak bulu yang tumbuh disekujur tubuhnya, bahkan kepalanya tidak luput dari bulu-bulu itu.
Badanya besar tapi kakinya pendek, dia tidak menggunakan pakaian lengkap, hanya kain yang menutup bagian pusar ke bawah.
Bau busuk menyeruak begitu jin raksasa itu mendekat.
“Ganda Ruwa, namamu berarti harum yang sangat pekat, tapi kenapa mereka menyangka kau adalah raksasa?” Alka tersenyum, ternyata dia benar, tebakannya tidak meleset sama sekali.
Seketika Ganda Ruwa itu berubah menjadi pria yang bertubuh normal, kakinya mengambang sama seperti setan merah. Mereka memiliki wajah yang pucat.
“Apa yang kalian sembunyikan?” Alka mendekat pada si setan merah, perlahan bentuk wjahnyapun berubah menjadi jauh lebih baik.
“Kau pergi dari sini atau kami akan membuat kalian celaka!” Ganda Ruwa mulai maju.
__ADS_1
“Apa kalian tidak lelah menakuti manusia? Kalau kalian memang bertujuan mengganggu manusia, ngapain di sini? Justru hutanku tempat terbaik, karena orang yang suka pesugihan, pasti datang ke hutanku, bukan ke gedung ini, gedung ini adalah tempat sunyi, tidak ada yang datang untuk kalian ganggu! Kalian sengaja membuat tempat ini dijauhi bukan? apa yang kalian sembunyikan?” Alka semakin memaksa, Adit dan yang lain tidak mengerti apa yang Alka katakan, kemana arah omongannya, apa yang disembunyikannya hingga membuat dua jin laknat ini khawatir.
Entahlah, tunggu part berikut ya ….