
"Bagaimana rasanya terikat dengan tali ghaib sekencang itu?" Ki Kusno menatap makhluk di samping kanan Mulyana.
"Pasti ini pertama kalinya kau dikalahkan bukan?" tanyanya lagi.
"Siapa kau? kenapa kau melakukan ini pada kami?" tanya makhluk yang ada di samping kanan Mulyana.
"Aku? aku Kusno! dukun di daerah ini. Berani sekali kalian berdua datang ke sini tanpa permisi dengan membawa bulak-balik jin-jin lain tanpa izin dariku!"
"Oh, kau dukun itu! manusia hina dengan memperkerjakan jin sebagai buruh untuk mengelabui manusia."
"Sudah terikat saja kau masih berani kurang ajar!" Ki Kusno marah.
"Tentu saja, bagi kami Karuhun, jin dengan kemuliaan penjagaan, kalian adalah jenis manusia yang tidak pantas dijaga."
"Karuhun dan Kharisma Jagat. Jin dan manusia yang sombong. Selalu merasa diri kalian istimewa. Padahal apa bedanya kalian dengan dukun-dukun seperti kami."
"Berbeda. Jelas berbeda. Mulyana adalah jenis manusia tertinggi di kelasnya. Dia menolong tanpa pamrih! ketulusan adalah hal paling utama dalam hidupnya. Kalian mencari uang. Dia meninggalkan uang dengan begitu ikhlasnya. Kalian sangat gila kekuasaan, Mulyana meninggalkannya dengan tanpa sedikit pun ragu." Abah Wangsa, Karuhunnya Mulyana yang sejak dua hari ini terikat dan berada di sebelah kanan Mulyana tidak bisa berbuat apa-apa.
Kembang Sukapuran adalah musuh tersembunyi yang tidak bisa diketahui saat menyerang dan tidak bisa dilawan saat sudah masuk tubuh manusia yang dijaga.
Dia mengikat kekuatanmu dan juga kekuatan Karuhunmu.
"Itu kenapa bodohnya Mulyana. Kenapa dia menikahi wanita biasa. Makanya ketika diberi makanan dengan campuran Kembang Sukapuran dia tidak sadar dan membuat suaminya jadi terjebak dalam dunia ghaib yang gelap. Dunia yang kembang itu ciptakan untuk menjebaknya atas perintahku."
"Siapa yang menyuruhmu?" Abah Wangsa yang merupakan Karuhun Mulyana bertanya.
"Aku? aku bukan pesuruh. Aku adalah yang mengendalikan semua hal ghaib yang terjadi di wilayah ini."
"Kau hanya manusia serakah. Bagaimana mungkin kau menjadi pengendali!" Abah Wangsa mengejeknya.
"Buktinya kau tidak bisa membebaskan dirimu kan? apalagi tuanmu."
"Kau pikir kami bekerja sendirian? Mulyana punya kawanan. Mereka akan sadar, cepat atau lambat."
"Berapa lama kau pikir Mulyana akan bertahan? masih dua hari dia bisa bertahan, kalau kawanannya sadar setelah seminggu penuh, menurutmu dia masih bisa hidup dengan tidak minum dan makan? apa yang istrinya lakukan dengan memberinya makan tidak akan berpengaruh banyak.
Ke rumah sakit pun akan semakin membahayakan bukan?" Ki Kusno tertawa terbahak-bahak.
"Kalau hanya bersabar yang bisa kami lakukan, kami akan lakukan itu." Abah Wangsa tidak bisa berbuat banyak dia diikat dengan sangat kencang oleh kekuatan kembang itu. Dia bahkan tidak bisa mengirim sinyal pada Karuhun lain. Jadi tidak ada yang menyadari Mulyana telah terjebak di alam ghaib gelap yang membawa kenangan dan juga harapan masa depan dengan versi terburuk dan saling bertumpuk.
Ki Kusno keluar dari kamar.
"Siapkan ayam hitam, dupa, buah-buahan yang hampir menghitam dan kain kafan yang telah dihitamkan," ucapnya pada istrinya Mulyana.
"Baik Ki, akan saya siapkan. Tapi apakah suami saya bisa bangun? lalu apa yang terjadi sebenarnya Ki?"
"Semua yang saya sebutkan barusan adalah untuk ritual membangunkan suamimu. Tapi kemungkinan dia akan sehat seperti semula itu kecil. Makanya, yang terpenting sekarang adalah siapkan bahan ritualnya terlebih dahulu."
"Baik Ki." Walau istrinya merasa sangat kecewa dengan perkataan Ki Kusno. Tapi dia tahu, ini yang terbaik untuk suaminya, menurut Ki Kusno.
"Setelah itu Ki Kusno pamit pulang. Katanya tiga hari selanjutnya dia akan kembali lagi.
"Bu, setahuku, kalau dukun pakai ritual itu sebenanrnya tidak ampuh. Dia hanya dukun palsu yang memanfaatkan situasi." Dirga menggunakan instingnya, dia merasa ada yang tidak beres dengan orang itu.
"Kita harus percaya dia Pak Dirga, dia itu dukun hebat di wilayah ini. Katanya semua orang yang dia pegang akan sembuh. Walau katanya suamiku tidak akan sembuh seperti sebelumnya, aku takkan berhenti berusaha. Dengan cara apapun."
"Baiklah, silahkan lakukan yang ibu yakini." Dirga lalu lanjut menemani Mulyana di kamar.
Dirga kesal dengan sikap terburu-buru istrinya Mulyana. Tapi dia tidak mungkin meninggalkan dia sendirian dengan Mulyana yang tertidur dan anak bayi yang baru lahir.
"Yan, lu kenapa sih? nih dukun pasti nggak bener. Lu kan selalu bilang. Kalau dukun yang minta mahar udah pasti salah. Dia kerja sama ama jin jahat. Kalau kita terima bantuannya kita menerima perjanjian dengan jin jahat itu.
Sekarang gue nggak bisa nolongin lu. Gue bukan keluarga lu. Gue tahu istri lu juga ga maksud jahat. Dia mau lu bangun. Tapi caranya sepertinya tidak tepat Yan. Gue harus apa Yan?"
Saat Dirga sedang mengeluh, tiba-tiba saja bantal jatuh.
Dirga langsung merinding.
"Yan. Itu elu bukan ya?" Dirga berpindah posisi ke kanan Mulyana.
Dia mengambil bantal itu dan menaruhnya cukup pinggir.
"Yan, kalau ini elu. Geser bantalnya. Nggak usah dijatuhin kayak tadi." Dirga mencoba memeberanikan diri. Semoga dia tidak salah, ini memang benar Mulyana.
Bantal bergeser.
"Gue harus apa Yan? bini lu minta bantuan dukun. Orang yang paling lu nggak suka di dunia ini. Seorang dukun.
Sekarang geser bantal sekali aja kalau lu juga nggak suka dibantuin dukun itu."
Bantal bergeser satu kali.
"Gue harus apa Yan?"
Hening. Bantal tidak bergeser lagi.
"Yan, apakah gue harus cari bantuan temen-temen lu?"
Bantal bergeser satu kali.
__ADS_1
"Gue nggak punya alamat mereka Yan. Harusnya lu kenalin gue satu aja temen-temen lu sesama orang istimewa itu Yan. Nyesel gue nggak pernah iseng nanya temen-temen lu selain gue!" Dirga kesal sendiri.
"Yan. Gue harus apa!"
Hening.
"Oh ya, apakah gue bisa masuk markas kalau lu nggak ikut ke sana?" Dirga hanya menebak.
Hening tidak ada jawaban. Karena memang Dirga tidak akan bisa masuk ke markas itu jika tidak bersama Mulyana.
Karena untuk masuk markas itu haruslah tau cara membuka kunci ghaibnya.
"Nggak bisa ya Yan?"
Hening lagi.
"Gue nggak tahu harus apa Yan."
...
Hari ke tiga Mulyana tertidur. Makanan dan minuman sama sekali tidak bisa masuk. Walau makanan itu bubur tetap sulit memasukkan makanan itu ke dalam tubuh orang yang tertidur.
Dirga dan istrinya menginap. Istrinya Mulyana tetap mencari yang dibutuhkan Ki Kusno. Dirga dan istrinya juga tetap membantu walau tidak setuju. Karena istrinya Mulyana hanya ingin suaminya bangun. Dirga dan istrinya mengerti itu.
"Aku buang sampah dulu ya Bu, ke belakang rumah." Dirga pamit pada istrinya mau buang sampah. Istrinya Mulyana sedang di depan menghitamkan kain kafan dengan pewarna pakaian.
Dirga mengambil sampah yang ada di dapur dan menuju belakang rumah. Di belakang rumah itu ada satu lahan digunakan untuk buang sampah. Dua hari sekali akan ada orang dari dinas kebersihan menggunakan truk ambil dari lahan kosong itu.
Saat Dirga sudah membuang sampah dan hendak kembali ke dalam rumah. Dia melihat ada seseorang yang sedang mengintip di jendela kamar. Dirga mengendap perlahan. Dia punya kemampuan mengendap yang baik hingga tidak disadari orang itu kalau Dirga sedang akan menangkap basah.
"Kena kau!" Dirga memegang leher orang itu.
Tapi orang itu tidak takut sama sekali. Dia lalu mengambil tangan Dirga, dalam waktu beberapa detik Dirga langsung dipelintir melalui tangannya.
Saat saling menatap wajah masing-masing Dirga langsung ingat.
"Kau! kau gadis yang ditolong Mulyana di hutan itu kan? yang kemarin juga melakukan ritual apa gitu soal menjadi apaaa gitu." Dirga tidak paham tentang itu makanya dia hanya mengatakan 'apa gitu'. Maksudnya adalah ritual mewariskan Karuhun.
Alka mengangguk dan melepas pitingannya.
"Kau sedang apa di sini? mengintip?" tanya Dirga.
"Aku tidak bisa masuk! bapak memasang pagar di rumah ini berlapis. Aku ingin melihat tuanku. Aku juga bingung, kenapa Bapak sudah tiga hari ini tidak ke gua."
"Ah! kau pasti bisa membantu. Tapi maaf, aku juga takkan mengizinkanmu masuk. Mulyana tidak mau kau bertemu Aditia dulu ya. Tapi kita harus membicarakan Mulyana dulu." Dirga tanpa pamitan langsung pergi menjauh dari rumah. Pasti Alka bisa membantunya menolong Mulyana.
Mereka berdua naik mobil Dirga, jeep dinas yang baru dia dapatkan.
"Bapak sudah pesankan makanan. Kita makan dulu ya."
Alka hanya mengangguk.
Tidak lama makanan mereka sampai lalu mereka berdua makan dengan tenang.
Hanya dibutuhkan waktu sepuluh menit makan selesai.
"Mulyana tidur dan tidak bangun selama tiga hari ini." Dirga memulai.
"Hah? serius Pak?"
"Ya, benar. Sekarang aku bingung gimana cara membangunkan dia."
"Bapak lepas raga? mungkin bertemu Ibu Ratu?"
"Kamu tahu Ibu Ratu?" Dirga bertanya.
"Pernah dengar saja dari bapak beberapa kali."
"Tidak mungkin dia lepas raga, karena kalau lepas raga dia tidak pernah ceroboh. Selalu di markas dan minta aku tunggui."
"Oh begitu."
"Ya, menurutmu selain lepas raga apa lagi ya?"
"Aku mesti lihat bapak dulu ke dalam rumah. Izinkan aku masuk rumah ya."
"Hei aku lebih lebih tua darimu. Aku tahu loh kalau kamu hanya ingin lihat Adit."
Alka tersenyum. Dia khawatir pada Mulyana tapi dia jauh lebih ingin melihat Aditia.
"Begini saja Pak. Aku coba hubungi beberapa orang yang sering bapak temui. Aku belum pernah bertemu dengan orangnya, tapi, bapak pernah kasih tahu aku beberapa alamat.
Salah satunya dekat-dekat sini kalau tidak salah."
"Aku temani bagaimana?" Dirga menawari tumpangan.
"Baik Pak. Tapi kalau bapak bangun, izinkan aku bertemu Adit sekali saja ya. Aku janji hanya bertemu."
"Tidak. Kau tidak mau bapak bangun?"
__ADS_1
"Tentu saja aku mau bapak bangun. Kau tega sekali. Sama kayak bapak!" Alka kesal dan dia lalu berjalan ke jeep Dirga lagi.
Mereka ke suatu rumah yang Alka pernah dengar alamatnya ketika Mulyana bilang ada urusan ke rumah ini.
"Namanya kalau tidak salah Pak Jana. Dia itu kayak bapak juga. Kharisma Jagat. Semoga dia ada di rumah."
"Dia kerja hingga ada kemungkinan tidak di rumah?"
"Kharisma Jagat kerja? jangan bercanda Pak." Alka tertawa.
"Memang tidak ada Kharisma Jagat berkerja?" Dirga bingung.
"Tidak ada. Pekerjaan mereka ya itu, menolong orang atau jin."
"Kayak Mulyana?"
"Iya."
"Tapi ada dong yang kerja? darimana uang mereka kalau tidak kerja?" Dirga protes.
"Uang? untuk manusia biasa mereka mengejar uang. Untuk Kharisma Jagat, uang yang mengejar mereka." Alka tertawa, di titik ini Dirga tidak ingin menyangkal. Karena dia tahu Mulyana bukan orang yang selalu mengeluh tentang uang.
Alka mengetuk pintu rumah Pak Jana.
Tidak lama kemudian seorang lelaki berumur sekitar dua puluh tahunan membuka pintu.
"Bisa ketemu Pak Jana De?" Tanya Dirga.
"Saya Jana. Kalian siapa ya?"
Dirga terkejut, kenapa si Jana ini bisa semuda itu.
"Oh iya, maaf. Saya kerabat Mulyana. Bisakah kita bicara sebentar untuk membicarakan mulyana?"
"Bapak? ya boleh tentu saja. Masuk Pak."
Jana mempersilahkan mereka masuk.
"Bapak kenapa ya? sudah tiga hari bapak tidak datang ke rumah." Jana membuka pembicaraan.
"Ya, Mulyana sedang sakit. Entah sakit apa. Tidak bangun selama tiga hari ini." Dirga mencoba menjelaskan.
"Astaga, sakit apa itu?"
"Entahlah. Makanya kami ke sini. Mau minta tolong kamu Jana. Siapa tahu kamu ada informasi mengenai ini."
"Apa bapak lepas raga?" Jana menebak hal yang sama seperti Alka.
"Nggak!" Alka dan Dirga menjawab serempak.
"Lah trus apa?" tanya Jana.
"Kamu kan Kharisma Jagat juga. Masa nggak tahu sih bapak kenapa." Alka terlihat kesal.
"Walau aku Kharisma Jagat, tapi aku belum tinggi ilmunya. Justru aku baru dilatih bapak, beberapa bulan ini aku baru sembuh. Bapak yang menyembuhkanku. Dia yang mengeluarkanku dari .... hmmm ... rumah sakit jiwa."
"Kau sakit ... jiwa?" Dirga spontan saja bertanya.
"Tidak, bapak bilang aku sehat mentalnya. Hanya ya itu, aku Kharisma Jagat yang bisa melihat apa yang orang tidak bisa lihat."
"Oh gitu, gimana ini? ternyata dia tidak tahu juga cara menyembuhkan Mulyana." Dirga kecewa.
"Sudah cari di kitab bapak? bapak kan selalu menulis ritual di kitabnya." Jana mengusulkan ide.
"Kau punya kitabnya?" tanya Dirga.
"Tidak! bapak mana mau kasih kitab dia ke Kharisma Jagat junior. Katanya banyak hal yang dia sudah susun yang mungkin bisa menjadi malapetaka buat orang lain yang disebabkan Kharisma Jagat."
Setelah kematian Mulyana kitab-kitab ritual di koleksi Alka di markas Mulyana. Tapi dijaga dengan pagar ghaib. Selanjutnya hanya Ganding dan Alka yang bisa membuka tempat kitab itu. Aditia hanya ditinggali buku catatan menghadapi jiwa yang tersesat, tugas utama Aditia.
"Lalu kau tahu di mana kitab itu disimpan Mulyana?" tanya Dirga.
"Di markas, aku pernah diajak ke sana sekali dan melihat penyimpanan kitab itu."
"Yah ... kalau di markas percuma. Aku tahu lokasinya, tapi tidak bisa membuka gerbang ghaibnya untuk memunculkan bangunannya."
"Pak Dirga, apakah maksudmu markas yang kita melakukan ritual warisan Kharisma Jagat waktu itu?" Alka bertanya.
"Iyalah, memang dimana lagi?"
"Kalau tempat itu, aku bisa bukakan. Kan itu rumah keduaku."
"Serius!!!" Dirga dan Jana terlihat senang.
"Seriuslah!"
"Yasudah kita ke sana sekarang." Dirga berdiri dan hendak pergi ke markas Mulyana bersama Alka.
"Sebentar, aku ikut boleh?" Jana bertanya.
__ADS_1
"Tentu saja boleh. Makin banyak orang yang benar bantu, makin baik."
Dirga, Alka dan Jana bersiap ke markas mencari obat yang bisa membangunkan Mulyana.