Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 224 : Bangsal


__ADS_3

“Aku beli makan dulu ya.” Aditia pamit pada Alka yang sedang sibuk membaca buku.


“Jangan beli terlalu banyak, yang lain belum tentu datang ke sini, mereka kan sedang menangani kasus.”


“Ya.”


“Kau gimana?” Alka bertanya padahal Aditia sudah beranjak dan hendak pergi.


“Aku kan menjagamu.”


“Tapi bukan berarti kau mengabaikan kasus, aku bisa sendiri kok di sini. Aku masih bisa menggunakan tanganku untuk makan dan juga bisa bisa menggunakan kakiku untuk buang air kecil.”


“Tetap saja, aku pasti mengacaukan kasusnya, karena tidak fokus memikirkanmu di sini sendirian.”


“Kau banyak alasan.” Alka kesal karena Aditia menolak menangani kasus seperti yang lain. Diantara semua, Alka memang paling lemah pada Aditia.


“Aku beli makan dulu ya.” Aditia tersenyum, dia keluar dari ruang inap Alka dan pergi ke depan sebrang rumah sakit, di sana tempat makannya enak.


“Bang beli nasi rames satu bungkus ya, sama kopi panas.” Aditia memang tidak terlalu pilih-pilih soal makan, yang penting ada nasi dan lauk apapun tidak masalah. Lalu kopi selalu menjadi teman makan paling setia.


Sudah selesai, Aditia lalu membayar.


Dia kembali menyebrang dan menyusuri koridor rumah sakit.


Ruang raat inap Alka ada di bagian belakang rumah sakit yang bagian tengahnya terdapat taman. Jadi kalau malam lewat terasa ramai, bagi Aditia dan kawan-kawan, tapi sepi bagi manusia, ya kau tahu, ada ‘mereka’ yang sangat suka berkumpul di taman yang letaknya di tengah-tengah gedung rumah sakit.


Ini sudah malam, Aditia melihat pemandangan aneh, kenapa taman ini kosong sekali, tidak ada ‘mereka’ yang biasa Aditia lihat sibuk saling bercengkrama sesama tak kasat mata.


“Kok tumben sepi?” Aditia bergumam.


Lalu saat berjalan, dia melihat seorang anak kecil yang sedang duduk di bangku tunggu, bangku yang terbuat dari kayu itu berada tepat di bagian pinggir dekat taman, anak itu duduk sendirian.


Aditia memperhatikannya, memastikan bahwa dia memang manusia, bukan ‘mereka’ setelah memastikan itu manusia, Aditia mendekati anak kecil itu, walau telah malam, lampu penerangan cukup di taruh di setiap bagian di rumah sakit ini.


“Dek, lagi apa?” Aditia bertanya.


Anak itu tetap diam menatap ke depan, tapi membelakangi Aditia, karena bangku itu mengarah ke taman.


“Dek.” Aditia semakin mendekat, dia merasa aneh anak ini sendirian di sini, tidak ditemani oleh siapapun, walau hari belum terlalu malam, tapi tetap tak membuat seorang anak kecil yang duduk sendirian di bangku tunggu dekat taman, sesuatu yang bisa dimaklumi.


“Dek.” Aditia memegang bahu anak itu, tapi anak perempuan itu tetap saja terdiam.


Aditia akhirnya mencoba melihat wajahnya. Wajah itu terlihat, pucat.


“Dek, kok di sini sendirian, orang tuanya mana?” Aditia bertanya.


Anak itu akhirnya menatap Aditia, dia terlihat bingung.


“Om siapa?”


“Adit, kamu namanya siapa?”


“Aku Syina.” Walau dia menjawab, tapi wajahnya dipalingkan lagi, ia kembali menatap ke depan.


“Syina lagi apa di sini sendirian?”


“Lagi main.”


“Main sama siapa?” Aditia bertanya karena tidak melihat siapapun di sana, bahkan ‘mereka’.


“Temen.” Syina menjawab singkat tapi lalu dia turun dari bangku dan berjalan ke arah salah satu ruangan, Aditia melihatnya dan mencoba mengikutinya, entah apa yang membuat Aditia jadi penasaran.


Saat anak itu sudah masuk kamar, Aditia tidak lagi mengikutinya, setidaknya anak itu sudah masuk ke dalam ruang inap, tidak sendirian lagi.


Lalu Aditia kembali berjalan ke ruang rawat inap Alka. Saat sudah sampai, dia melihat Dokter Adi sedang memeriksa Alka. Alka tersenyum senang, di mata Aditia, dia bahkan terlihat seperti sedang tertawa.


“Dok.” Aditia menyapa Dokter Adi.


“Ya Dit, ini kondisi Alka sudah bagus, kita pastikan luka jaitan di kepala aman, baru dia bisa keluar, jadi butuh waktu beberapa hari lagi ya untuk Alka bisa keluar dari rumah sakit.”


“Ya Dok.” Aditia duduk di sofa, ini ruang rawat inap kelas satu jadi ruangannya besar dan ada sofa serta meja. Serta tambahan kasur untuk yang menjaganya.


“Baru makan Dit?” Dokter Adi duduk di samping Aditia yang sedang membuka nasi bungkusnya.


“Iya Dok, Dokter udah makan?” Aditia bertanya.


“Ya sudah, kamu jangan terlalu capek Dit, kayak teman-temanmu itu.”


“Siapa?” Aditia bingung.


“Itu si Ganding, Hartino, Jarni sama Lais.”


“Oh mereka, memang mereka kenapa?”


“Oh, mereka sendang menangani kasus, kamu tidak tahu?”

__ADS_1


“Tahu dong Dok, aku pikir ini masalah lain.”


“Ganding bahkan tertusuk di bagian paha, tapi tenang, itu hanya luka ringan.”


“Jarni pasti lebay kalau Ganding terluka.”


“Ya kau benar.”


“Jarni memang begitu Dok.”


“Orang jatuh cinta memang berbeda ya, kalau kekasihnya sakit, yang lain merasa lebih sakit, sampai dibilang lebay. Kayak kamu kemarin waktu Alka sakit.” Dokter Adi menyindir.


Alka tertawa kencang sekali, karena Aditia kena pada satu tembakan.


“Makanya jangan katain adik-adikku.” Alka tertawa.


“Kalau Aditia sakit, kau akan seperti Alka?” Dokter Adit tiba-tiba bertanya.


“Seperti apa?” Alka lumayan tersentak dengan pertanyaan itu.


“Ya seperti Aditia dan Jarni, sangat khawatir.” Dokter Adi bertanya lagi.


“Ya tentu saja, karena kami dekat.”


“Oh, hanya itu alasannya? Yakin tidak ada yang lain?”


Alka terdiam, dia tidak tahu kenapa Dokter Adi bersikap seperti ini, Alka kira ini hanya soal lelucon, tapi kenapa dia ikut diserang.


“Kalian semua itu sangat melelahkan, untung aku sekarang sudah bebas dari pasangan gila Malik dan Seira, jadi aku bisa bersantai sedikit. Tiba-tiba kalian muncul, Kisah cinta, horor dan pertemanan, membuatku sakit kepala. Apalagi soal ... Lais. Kau melihat hal berbeda kan Dit?” Dokter Adi bertanya.


“Dokter bisa lihat wujud aslinya?”


“Tentu saja! Aku kan Kharisma Jagat, sepertimu.”


“Oh ya.” Aditia baru ingat, Alka jadi sedikit tegang.


“Siapa yang kalian tipu? Asumsiku Hartino, kenapa kalian tega? Sebenarnya ini bukan urusanku, aku juga tidak suka ikut campur dengan urusan orang, tapi ... aku tidak tenang kalau tidak menanyakannya.”


“Dok, soal Lais, itu tanggung jawabku, aku mohon abaikanlah, ini demi kebaikan Hartino dan Lais.”


“Kau begitu yakin? Bagaimana kau tahu?”


“Karena Lais orang baik, sedang dia ingin bersama Hartino yang enggan bersama Lais, hanya sepanjang itu yang aku tahu, jadi, aku mohon Dok, jangan gali lebih dalam.”


“Iya, maaf Dok.” Alka meminta maaf.


“Alka, Adit, hanya satu pesanku, jika cinta itu diselimuti kebohongan, maka hasil akhirnya adalah penderitaan, kejujuran terkadang pahit, tapi percayalah, kejujuran itu selalu memiliki akhir yang jauh lebih menenangkan.”


“Tapi Dok, ini tidak sesederhana bohong dan jujur, ada banyak hal yang dilindungi dari apa yang aku dan Lais lakukan.”


“Alka, ini yang harus kamu jaga, Lais tidak baik-baik saja, aku melihatnya. Tapi kau takkan beritahu, karena ada yang harus aku pastikan. Setelah kau sembuh, tanyakan satu hal ini pada Lais, seberapa besar dia mampu bertahan.” Lalu setelah mengatakannya Dokter Adi pergi.


“Apa maksudnya?” Aditia bingung.


“Entahlah, aku juga tidak paham.” Alka sedikit sakit kepala karena dia tadi sempat kaget dengan pertanyaan Dokter Adi soal Lais, Alka lupa Dokter Adi Kharisma Jagat yang matanya tidak bisa dibohongi.


Aditia melanjutkan makannya, setelah selesai makan dia minum kopinya sambil nonton televisi.


“Kau tadi kenapa lama sekali?” Alka tiba-tiba bertanya.


“Kapan?”


“Tadi pas beli makan.”


“Oh, kenapa? kau takut aku menggoda mbak-mbak rumah makannya?”


“Dit, kau lucu.” Alka tertawa sampai menahan sakit di kepalanya.


“Aku suka kalau kau cemburu, tapi kau malah tertawa.”


“Aku harus cemburu pada mbak-mbak rumah makan? atau perawat? Atau security wanita di depan itu? aku harus cemburu bahkan pada kunti yang barusan lewat?” Kunti yang merasa terpanggil menengok ke dalam, tapi melihat manusia di dalam lebih mengerikan dia lari.


“Tidak usah! Kau juga tadi tertaw-tawa bareng Dokter Adi, kau suka bercanda ria dengannya?” Aditia kesal.


“Tidak, biasa saja. Lagian kenapa kau mengalihkan pembicaraan? Tadi aku hanya bertanya, aku pikir kau menemukan sesuatu yang seru hingga bisa beranjak dari sisiku cukup lama.”


“Memang berapa lama?” Tanya Aditia.


“Dua jam.”


“Hah? kau ngawur, masih sakit kepala?” Aditia lalu mendekati Alka dan memeriksa kepalanya.


“Nggak kok, serius! Kau memang merasanya berapa lama?” Alka jadi serius.


“Hanya tiga puluh menit lah, tadi aku bertemu seorang anak kecil yang sedang duduk di bangku tunggu dekat taman, tapi itu hanya sebentar, ya sekitar lima belas menit paling lama, tapi tidak sampai dua jam. Kau salah lihat jam kali.”

__ADS_1


“Dit, sebentar, mundur.” Alka meminta Aditia mundur, Alka lalu mengulurkan tangannya, memejamkan mata dan menerawang, memastikan tak ada energi gelap, Aditia kurang awas pada makhluk selain jin dan jiwa. Dia cenderung mengabaikan selain itu. Padahal jiwa Aditia sangat kuat, tapi pengabaiannya luar biasa hebat juga.


“Ada apa?” Aditia bertanya.


“Aku tidak menemukan apapun di tubuhmu, tapi ada yang aneh, aku tidak mungkin salah soal waktu, karena aku dan Dokter Adi jelas merasa kau terlalu lama.”


“Tapi anak itu juga aneh, di duduk di sana di taman itu sendirian, lalu setelah kutegur dia akhirnya kembali ke ruang rawat inap, mungkin ibu atau ayahnya yang sakit, aku tidak menelusuri lebih jauh. Tapi masa aku terjebak dunia ghaib tanpa aku sadar.”


“Dit, kau ingat dengan seorang lelaki yang pernah kita tolong? Jiwanya tidak ingat jati diri, setelah kita telusuri, ternyata tubuhnya telah dipisahkan dari jiwanya agar mau bersama selingkuhannya, ingat hanya kita berdua yang bisa berkomunikasi dengan lelaki itu?” Alka bertanya.


“Ya, aku ingat. Apa hubungannya dengan ini?”


“Kau yakin anak itu manusia? Bukan makhluk selain jiwa, jin atau tubuh yang sedang koma?” Alka bertanya lagi.


“Aku tidak merasakan apapun, tidak dingin seperti jiwa, tidak panas seperti jin dan entahlah kalau dia dari tubuh yang koma, tapi memang wajahnya pucat.”


“Cari tahu, besok pagi kita harus cari tahu.”


“Alka! Kita off, kita nggak tugas, jadi nggak!” Aditia kesal karena sedang pemulihan saja, Alka masih sibuk urus kasus.


“Harus!” Alka tidak mau kalah.


“Nggak! kamu lagi pemulihan jadi nggak!” Aditia tetap bersikeras.


“Yaudah kalau kamu nggak mau, aku bisa sendiri.” Alka masih tak mau kalah.


“Sudah begini saja, aku akan menelusurinya sendiri, tapi kau tidur tenang di sini, gimana?”


“Setuju!” Alka mendapatkan apa yang dia inginkan, dia kesulitan mengusir Aditia dari sisinya. Jadi salah satu caranya adalah membuat Aditia mau keluar sendiri dengan sedikit desakan.


Alka lalu tertidur setelah perdebatan panjang ini, bisa sedikit tidur tenang karena Aditia tidak selalu di sisinya, akan sangat sulit kalau 24 jam bersamanya, lanjo terus menghantui Alka, andai Aditia tahu, betapa beratnya selalu menahan lanjo itu, apalagi 24 jam menahannya.


...


“Aku ke kamar itu dulu ya.” Aditia pamit pada Alka yang baru saja selesai sarapan, Aditia memastikan dulu Alka sarapan dengan benar, baru dia bisa menelusuri kasus.


“Siap Bos.”


“Kamu yang bosnya, aku hanya ikut perintah.” Aditia terlihat kesal mengatakannya.


“Kamu marah?”


“Marah karena kamu ngotot.”


“Maaf ya.”


“Sudahlah, kau selalu bisa membuatku mengikuti maumu.” Aditia lalu pamit pergi ke kamar anak semalam masuk.


Pertama-tama dia mengunjungi Dokter Adi dulu di ruangannya, walau sedikit ragu, apakah Dokter Adi ada.


Ternyata ada, dia sedang tidur di tempat tidur yang biasa pasien gunakan saat sedang periksa.


“Dok, lagi tidur ya?”


“Ya, sebelum akhirnya kau membangunkanku.” Dokter Adi kesal, baru saja tidur beberapa jam sudah diganggu bocah ini.


“Maaf Dok, ada hal penting.”


“Kan sudah kubilang semalam, tangani masalah kalian sendiri, lalu kenapa sekarang kau ke sini?” Dokter Adi enggan, dia memaksa untuk tidur lagi.


“Semalam aku ketemu seorang anak Dok, tapi aneh, dia itu manusia, bukan jiwa dan bukan jin. Tapi kata Alka saat aku bertemu anak tersebut, aku pergi selama dua jam, padahal seingatku, aku hanya pergi selama setengah jam. Makanya aku perlu berdiskusi denganmu Dok.”Aditia duduk di samping tempat tidur pasien itu.


“Kau pikir dia apa?” Dokter Adi yang sedetik lalu menolak ternyata langsung duduk bersila, terlihat sangat tertarik dengan kasus ini.


“Entah, Alka sih yang penasaran, aku sih lebih suka di sampingnya daripada menelusuri.”


“Kita selidiki yuk.” Dokter Adi memakai jas Dokternya dan turun dari tempat tidur.


“Mau kemana Dok?”


“Ke ruang inap yang anak itu masuki semalam.” Dokter Adi memakai sepatunya, lalu membawa stetoskop.


“Kok semangat banget Dok?”


“Ya, karena aku sudah lama tidak menangani kasus lagi, aku rindu.”


“Memang Ayi sudah tidak punya musuh Dok?”


“Punya, makin banyak malah, aku capek kalau mendampingi mereka, musuhnya terlalu berat, kadang aku tidak punya waktu untuk pasien manusiaku, tapi kasus kalian ringan, aku suka, aku bisa membantu.”


“Jadi ... maksudmu karena kami lebih bodoh dan kasus kami ringan, kau suka, jadi kau selalu berhasil membantu memecahkan masalah?” Aditia sebal karena dianggap menangani kasus kacang.


“Sudahlah jangan terlalu sensitif, kemarin teman-temanmu juga konsultasi denganku, ayolah.” Dokter Adi menarik Aditia agar mengikutinya pergi ke ruang inap itu.


“Ini kasusku, kenapa kau yang bersemangat Dok!” Aditia kesal karena dia sebenarnya tidak terlalu ingin menangani kasus.

__ADS_1


__ADS_2