
"Mata batinnya sudah terbuka dari lahir jika memang dia adalah keturunan Kharisma Jagat. Kita belum bsia memastikannya dengan bertanya, kan dia masih bayi." Mulyana berkata pada Dirga. Walau sebenarnya bukan komunikasi dua arah, karena Mulyana hanya sedang berkata sendiri saja sebagai sarana untuk mencari ide. Karena Dirga tidak benar-benar bisa membantu selain tenaga.
"Trus lu mau ngapain?"
"Darahnya, darah Kharisma Jagat itu dingin. Aku harus memastikannya dulu dengan ...."
"Lu gila Yan? lu mau silet tangan anak lu sendiri? Masih baru lahir Yan!"
"Lu pikir gue tega? Nggak tega gue juga, tapi kita harus memastikannya. Harus supaya Anakku bisa hidup tenang."
"Lu yakin nggak ada cara lain supaya tahu dia Kharisma Jagat apa bukan?" Dirga bertanya.
"Nggak, kita harus ambil beberapa tetes. Hanya beberapa tetes saja Ga." Mulyana mengeluarkan air mata, dia kalut Dirga juga tidak tahu harus berbuat apa.
"Kita lakuin dulu ya, terpaksa."
Dirga menggendong anaknya Mulyana, mulyana membawa cutter untuk menyobek sedikit bagian jari anaknya. Mulyana menangis saat melakukan itu, beberapa tetes darah anaknya langsung dia rasakan di punggung tangan. Memastikan bahwa darah anaknitu dingin atau biasa saja. Kalau dingin berarti dia seorang Kharisma Jagat.
Mulyana lemas begitu merasakan darah anaknya. Mulyana terjatuh saat menyadari suatu hal.
"Kenapa lu?"
"Dingin! anak gue Kharisma Jagat!" Mulyana senang dan juga sedih.
Senang karena anaknya akan selamat, sedih karena dia akan merasakan penderitaannya sebagai pengemban tugas pengantar jiwa yang tersesat.
"Trus sekarang apa?"
"Ritual, ritual pewarisan Karuhun. Kita akan melakukan ritual itu."
"Caranya?"
"Telanjangi bayiku."
"Ya Allah Yan. Kasihan banget anak ini, bahkan pusarnya belum puput, tapi sudah harus merasakan beratnya hidup di dunia ini." Dirga mencium anaknya Mulyana, sebagai tanda dia akan menjaganya seperti anak sendiri.
Mulyana menyiapkan sebuah bejana besar terbuat dari emas, ada sebuah akin batik yang disiapkan untuk mengeringkan anaknya setelah dilakukan ritual.
Mulyana sudah menaruh mantra pewarisan pada bejana itu.
Tidak diperlukan persetujuan dari si penerima Karuhun, yang terpenting Aditia adalah seorang Kharisma Jagat, maka Karuhun akan bersedia diturunkan.
"Yan, syarat supaya anak lu nggak diburu lagi kan adalah dia harus seorang Kharisma Jagat?" Dirga bertanya di tengah ritual itu dilakukan.
"Hmm." Mulyana sedang fokus.
"Trus kenapa elu mesti turunin Karuhun lu kalau dia udah kebukti seorang Kharisma Jagat dari tetesan darahnya."
"Trus elu suruh gue buktiin dia Kharisma Jagat daei darahnya? sebanyak apa darah yang harus gue ambil dari dia untuk buktiin pada para Tetua. Itu sama aja ngebunuh anak gue.
"Oh iya, sorry Yan."
"Kharisma Jagat tanpa Karuhun adalah seperi kacang kopong. Tak ada isi, hanya cangkang saja."
"Kalau Karuhun lu turun ke dia, trus ntar status Kharisma Jagat lu gimana? Ilang dong?"
"Dirga fokus dulu ya."
__ADS_1
"Kalau status Kharisma Jagat lu ilang, apakah itu nggak makin bahaya buat anak lu? ok dia selamat dari para Tetua yang elu selalu singgung, tapi gimana dengan jin jahat? ya walaupun gue tahu elu masih bisa melihat dan bertarung dengan jin walau tidak punya Karuhun seperti yang elu ceritain selama ini, karena kadang elu bilang suka lepas khodam.
Tapi lepas khodam dengan melepas Karuhun secara permanen kan berbeda. Elu nyelametin anak ini dari Tetua, tapi dia belum tentu selamet dari jin jahat yang selalu Tetua bilang memburu para pembangkang jodoh adat kan?"
"Ga, elu banyak omong, tapi bener juga, trus gue harus apa?" Mulyana terduduk, ritual belum selesai.
"Lu nggak bisa minta tolong jin lain buat jadi Karuhun anak lu?"
"Lu gila! nggak semua jin itu Karuhun lagian gue mana berani ambil jin sembarangan. Menaruh jin di tubuh anak gue itu taruhannya fisik dan mental. Salah taruh, anak gue bisa sengsara."
"Tapi gue takut ini malah bahayain lu Yan. Lu bakal lemah."
"Cukup Ga, ayo kita lakuin ritualnya."
"Pak, aku bisa bantu." Seorang anak remaja yang terlihat sangat cantik dengan dandanan tomboy datang tiba-tiba. Tentu dia bisa masuk bebas karena ini adalah rumah keduanya.
Bahkan dulu Mulyana menawarinya untuk tinggal di sini ketika markasnya telah rampung. Tapi Alka menolak, dia lebih suka guanya. Tidak heran, itu adalah tipikal sifat ayahnya yang suka tinggal di alam.
"Ngawur, kamu keluar dulu." Mulyana mengusor Alka.
"Pak, kalau Bapak mewariskan Karuhun milikmu, kau akan celaka. Aku bisa menggantikannya." Alka memaksa.
"Apa maksud dia bisa menggantikannya?" Dirga bertanya.
"Aku adalah keturunan jin seperti yang Bapak selalu bilang. Bapakku jin dengan ilmu tinggi dan umur yang sangat tua, setengah diriku manusia, setengahnya lagi jin. Maka aku memenuhi kriteria menjadi ... Karuhunnya anakmu."
"Alka, itu tidak masuk akal. Untukku kau adalah anakku, aku tidak menjagamu untuk memanfaatkanmu." Mulyana menolak mentah-mentah.
"Yan, kalau anak ini saja bisa membantumu dan mau, kenapa kau harus menolak. Ini sebuah solusi yang baik. Lagian nanti bila tiba waktunya kau benar-benar menurunkan Karuhunmu ketika sudah waktunya. Anak ini bisa berhenti menjadi Karuhun pengganti. Sehingga Karuhun aslinya bisa menggantikan. Istilahnya, Karuhun sementara."
"Maksudnya?" Dirga tidak paham.
"Dengan menjadi Karuhun maka kau harus mengabdikan hidupmu pada tuan dalam kasus ini pada Kharisma Jagat yang dia pilih. Sekali kau melakukan perjanjian maka sulit bagimu pergi.
Apalagi jika dia kena Lanjo. Akan sangat tidak adil bagi Alka. Karena selama hidupnya, dia hanya akan mampu melihat, mengabdi bahkan mencintai satu manusia dalam hidupnya.
Bagi Karuhun yang berwujud jin sempurna, Lanjo tidak berlaku karena jin bisa mengabdi dan tidak masalah jika tidak menikah, karena itu pilihannya dengan menjadi Karuhun.
Tapi bagi Alka, dia itu setengah manusia setengah jin maka tidak adil. Alka harus memiliki kehidupannya sendiri.
Dia tidak boleh mengabdikan hidupnya pada manusia lain. Karena sekali dia menjadi Karuhun, dia tidak akan bisa lepas.
Hingga manusia yg dia abdikan itu meninggal, dia baru bisa lepas dari penyakit Lanjo itu." Mulyana menjelaskan.
"Apa bedanya? siapa yang mau denganku? di dunia jin aku si itik buruk rupa. Di dunia manusia aku adalah aib pembawa sial. Maka menjadi bermanfaat untuk Bapak, itu sangat membuatku bahagia." Alka tetap memaksa.
"Tidak! Bapak tidak akan mau anak bapak berkorban untuk yang lainnya."
"Pak, kita harus lindungi Ibu dan anak Bapak, kita harus bahu-membahu. Kalau aku kehilangan kau dan juga anak itu. Aku takkan bisa melanjutkan hidup.
Aku mohon atau kalau aku tidak diijinkan menjadi Karuhun, maka aku akan melakukan hal buruk lagi seperti dulu. Membakar manusia." Alka mengancam.
"Nak, jangan membuatku menjadi jahat." Mulyana kembali menangis. Dia tidak tega membiarkan Alka berkorban dan terpaksa mengabdi pada satu manusia hingga dia meninggal.
"Yan sorry, elu kelamaan." Dirga meminta Alka maju dan melakukan ritual menjadi Karuhun, Mulyana pasrah, dia terjepit diantara dua pilihan.
Kalau dia lemah, kemungkinan dia tidak akan bisa menjaga baik Alka maupun keluarganya karena kondisinya lemah. Sedang anaknya belum bisa bertarung dan memerintah Karuhunnya untuk melawan.
__ADS_1
Ini cara terbaik, maupun cara terburuk dalam satu paket lengkap.
Alka merubah wujudnya menjadi wujud jin.
Dia mengambil anak itu dari tangan Dirga dan memandikannya di bejana besar itu.
Alka membaca mantra perjanjian. Perjanjian antara Karuhun dan tuannya yang seorang Kharisma Jagat bayi.
Begitu perjanjian itu terikat, mata Alka berubah menjadi kehijauan. Mata para Karuhun yang telah terikat. Seketika Alka melihat sosok Aditia berbeda.
Aditia terlihat lebih bersinar dan sangat tampan.
Seketika Alka merasa tidak mampu jauh dari anak bayi yang baru saja dia lihat.
Rasa ingin memilikinya sangat kuat. Alka menggenggam bayi itu dengan sangat kuat. Dia mencoba berlari dari markas.
Mulyana menangkapnya, beruntung Mulyana masih memiliki kemampuan tinggi. Jadi Alka tertangkap. Anaknya segera dia serahkan ke Dirga.
Lanjonya kuat sekali, Mulyana kewalahan menahan keinginan memiliki yang dirasakan Alka.
Tentu Alka masih muda untuk menjadi Karuhun hasrat memilikinya sulit dikendalikan.
Ini yang Mulyana takutkan, Lanjo bisa merusak. Alka menjadi orang lain karena Lanjo menguasainya.
"Alka dengar Bapak, Alka!" Mereka sudah di suatu kamar, dia terpaksa mengurung Alka karena takut Alka membahayakan dirinya dan bayinya juga.
"Aku ingin tuanku, aku ingin tuanku!" Alka layaknya mayat hidup yang tidak bisa berpikir, dia sangat tidak mampu berpisah dengan tuannya.
"Alka Bapak akan mengurung Alka sampai Alka bisa mengendalikan Lanjonya. Selama Alka tidak bisa mengendalikannya, Bapak tidak mengijinkan Alka bertemu dengan anakku. Aku akan membuat pagar pemisah bagi kalian berdua. Sehingga kau akan sulit menemukan anakku hingga tiba waktunya kau mampu mengendalikan Lanjo."
Alka menatap Mulyana dengan wajah sendu.
"Aku ingin bertemu tuanku. Aku ingin bertemu dia." Alka diikat dengan talibghaib agar tidak lepas.
Mulyana keluar kamar.
"Gimana anak itu?"
"Masih di luar kendali. Efeknya memang seburuk itu. Aku pernah menangani Karuhun jin sempurna yang terkena Lanjo, dia bahkan memanipulasi tuannya untuk tidak menikah karena dia tidak rela tuannya jadi milik orang lain.
Banyak kasus seperti , dimana Kharisma Jagat tidak menikah karena Karuhunnya yang seorang jin memanipulasinua agar tidak tertarik dengan manusia lain."
"Maafkan aku ya Yan, tadi aku memaksa."
"Aku tahu baik kau melakukan ini untuk kami. Dia akan membaik dalam waktu beberapa minggu. Aku akan memantaunya. Sekarang kita harus mengembalikan bayiku dulu ke rumah sakit."
Mulyana dan Dirga meninggalkan markas dan kembali ke rumah sakit. Suster yang terkena gendam masih tidak sadar anak itu tadinya hilang.
Setelah dikembalikan, Mulyana ke kamar perawatan istrinya.
Mulyana melihat istrinya sedang tidur. Mulyana sedih, karena begitu banyak rasa khawatir yang dia rasakan sehingga lupa, bahwa istrinya butuh dia saat ini.
Sementara beberapa Kharisma Jagat mengantar kembali pasukan maung kembali ke tuannya dalam keadaan mabuk penari.
Mulyana memberikan surat pada Para Tetua, bahwa anaknya adalah seorang Kharisma Jagat yang harus dilindungi oleh persatuan Kharisma Jagat dari iblis dan jin jahat.
Satu langkah sudah selesai. Tapi banyak PR yang harus Mulyana lakukan, seperti meringankan efek Lanjo pada Alka.
__ADS_1