Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 181 : Hotel 9


__ADS_3

“Dit, elu sih keterlaluan ya, kita udah siapin ritual di bawah, bukannya kasih tahu kalau nggak perlu lagi buat ritual.” Hartino begitu sampai di 713 langsung marah-marah.


“Maaf Har.”


“Lu kebiasaan nih! Alesan kan lu! pasti karena mau berduaan sama Kakak kan?”


“Kok jadi nuduh gitu sih?” Aditia merasa bersalah tapi bukan berarti dia bisa diinjak-injak.


“Ya lu mikir lah, kita semua nih dalam keadaan lelah, setidaknya kalau ada informasi apa susahnya sih elu kasih tahu kita by phone! Jadi kita bisa save tenaga, nggak mubazir ngerjain sesuatu, lu tuh selalu deh nyari kesempatan buat deketin kakak!”


“Har! Lu kenapa sih, lu tuh uring-uringan mulu, dari sejak kita liburan bareng itu, trus sampe sekarang, uring-uringan lu nggak ilang, ada apa sih!” Ganding yang terpancing, dia juga mencegah Aditia ngamuk dengan perkataan Hartino. Ganding tahu Alka tidak akan membela satupun karena itu akan menciptakan hubungan antara Hartino dan Aditia semakin renggang.


“Ya kalau kalian pura-pura baik-baik aja sih silahkan ya, tapi gue tuh capek!”


“Bisa kita mulai diskusi?” Alka berkata dengan dingin, dia tidak ingin mendengar lagi perdebatan yang tidak ada hubungannya dengan masalah ini, mengingat Selly membutuhkan mereka.


“Jadi gimana?” Ganding mengabaikan Hartino, sementara Hartino akhirnya diam.


“Abah Wangsa mengatakan bahwa ini bukan pesugihan ataupun penglaris, tapi ini Lembah Aru.”


“Lembah kelam dunia ketiga Kak?” Ganding kaget Jarni saja terlihat terkejut walau tidak berbicara sepatah katapun.


“Ya, itu sepertinya.”


“Kita harus apa Kak?”


“Kau tahu kan, Nding, kalau kita mau keluarkan semua makhluk dari lembah itu, pemilik perjanjian dengan jin pencipta Lembah Aru itu yang harus melepas perjanjiannya dan melepas semua tahanan yang lupa bahwa mereka sudah tiada.”


“Ya, aku tahu itu. Jangan bilang yang melakukannya adalah Pak Hariyadi?”


“Kemungkinan besar dia. Siapa lagi? Teddy? Tidak mungkin, dia terlalu bodoh untuk menjadi pelaku, ini juga berkaitan dengan didirikannya hotel ini, Teddy bukan pemilik dan juga bukan pegawai lama, jadi tidak mungkin Teddy.”


“Tapi Kak, kalau begitu akan susah, aku jadi mengerti kenapa dia begitu percaya diri membiarkan kita melakukan pembersihan itu, karena dia yakin kita takkan mampu melakukannya.”


“Selain itu, aku juga yakin, ada hubungan antara pasukan Jepang itu, perempuan 713 dan juga Lemba Aru, tapi aku belum menemukan benang merahnya.”


“Kakak sudah punya rencana?” Ganding bertanya.


“Ini jalan yang agak gila, tidak berbahaya, tapi cukup berdampak pada mental seseorang. Tapi aku tidak bisa menemukan satupun cara yang lebih baik dari ini.”


“Apa itu Kak?” Ganding bertanya.


Lalu Alka menyuruh semua orang untuk mendekat, dia akan memberitahu tapi dengan berbisik, karena dia tahu, tembok di hotel ini terlalu banyak mata dan kuping yang tidak terlihat.


Alka menjelaskan dan semua mendengar dengan seksama.


...


“Pak, sudah menyiapkan yang saya butuhkan?” Alka bertanya.


“Iya Bu Alka, sudah saya siapkan.” Alka meminta semua yang dia butuhkan kepada Teddy, mereka masih di kamar 713.  Teddy memanggil semua tamunya dengan sebutan Bapak dan Ibu karena itu sudah peraturan hotel dan merupakan sikap resminya pada semua tamu, makanya dia memanggil lima sekawan dengan sebutan Pak dan Bu.


“Kalau begitu telepon dia sekarang.” Alka memerintahkan Teddy menelpon.


“Bu, tapi apakah tidak masalah? Bagaimana dengan saya?” Teddy ragu.

__ADS_1


“Kan sudah kami bilang, kalau akhirnya kau dipecat, aku membebaskanmu memilih bekerja di perusahan kami dengan jabatan yang kau inginkan selevel dengan jabatanmu saat ini.” Ganding mengingatkan Teddy.


“Baiklah kalau begitu saya akan telepon.”


Teddy memencet nomor telepon seseorang dan tidak lama telepon itu diangkat oleh orang yang dimaksud.


[Dengan Ibu Maya?] Teddy memastikan.


[Betul, ini dengan siapa?]


[Saya Teddy saya pegawai hotel, ini soal ....] Teddy melanjutkan teleponnya sesuai dengan perintah Alka, setelah dia menjelaskan panjang lebar, Maya terdengar gusar dan buru-buru menutup telepon, dia bergegas ke hotel, dia memang tinggal tidak terlalu jauh dari hotel itu bersama suami dan anak-anaknya, dia datang sendiri ke hotel tanpa suami dan anaknya, karena itu sudah malam, suaminya belum pulang dari kantor yang mereka miliki sedang anaknya sudah tidur, dia pergi bersama supirnya.


Begitu sampai hotel, Maya lalu berlari ke lobby dan meminta supaya Teddy menemuinya. Supri yang menjaga lobby, dia langsung memanggil Teddy dan tidak lama kemudian Teddy datang.


“Mari Bu, kita ke atas.” Teddy langsung mengajak Maya ke atas.


“Kita mau kemana Pak?” Maya bertanya. Mereka sudah di lift.


“Ke lantai 713 Bu.”


Mereka sampai di lantai tujuh dan bergegas ke kamar 713, Teddy membuka pintu, lalu Maya berlari dan melihat yang dia cari.


Dia memeluk pria itu dan dalam hitungan detik, pria itu melepas pelukannya dan menggandeng tangan Maya, menyentak tangannya lalu Maya jatuh.


Tubuh Maya jatuh, tapi aneh ... Maya bisa melihat tubuhnya jatuh sementara dirinya masih berdiri.


“A-ada apa ini?” Maya bingung dan histeris. Dia melihat seseorang yang memegang tangannya, bukan lagi pria yang dia lihat tadi, Maya langsung melepas pegangannya, dia ketakutan karena sosok pria yang dia kenal dan baru saja dia peluk, berubah menjadi sosok yang aneh.


“Kira-kira inilah ekspresi para pegawai wanita itu rasakan ketika mereka lepas raga.” Makhluk aneh yang Maya lihat itu berkata.


“Apa maksudmu?” Maya kaget dan bingung.


Makhluk itu akhirnya pergi, meninggalkan Maya dalam kegelapan. Maya berlari, tapi sepanjang dia berlari, semua hanya kegelapan, tidak ada satupun yang dia lihat, Maya akhirnya menyerah dan terduduk dia ketakutan dan berteriak, tapi itu akan percuma, karena dia bukan lagi di dunia manusia.


“Pak Teddy, sekarang hubungi Hariyadi pemilik hotel ini, aku akan bernegosiasi dengannya.” Alka meminta Teddy menghubungi Hariyadi.


Tidak lama kemudian Hariyadi datang ke hotel, padahal sudah larut, dia berlari langsung ke ballroom, tempat di mana Alka meminta negosiasi itu diadakan, semua orang ke sana, termasuk Teddy.


Begitu masuk ballroom, Hariyadi langsung berteriak, “Maya!” Tapi Maya tidak bangun, jelas dia lepas raga, Maya sudah diangkat ke ballroom dan ditidurkan dengan kasur tambahan hotel di ballroom ini.


“Apa yang kalian lakukan kepada anakku!” Hariyadi berteriak, dia terlihat putus asa.


“Anakmu ....” Alka mendekati Hariyadi dan dia berjongkok karena Hariyadi sedang mencoba membangunkan Maya yang tertidur seperti orang koma, “anakmu mungkin bersama Selly.” Alka mulai menebar jaring jebakan.


“Tidak mungkin! Tidak mungkin!” Hariyadi berteriak.


“Kenapa tidak mungkin? Buktinya di tertidur seperti seorang putri tidur.” Alka benar-benar terlihat kejam sekali.


“Dia tidak pernah kuijinkan datang ke hotel ini, dia tidak pernah aku biarkan menjadi korban!”


“Berarti memang anda pelakunya bukan?” Alka langsung menuduhnya.


“Kau pasti yang melakukan ini, aku tahu kalian bukan orang biasa!”


“Ya, kami membuatnya ikut masuk ke Lembah Aru.”

__ADS_1


“Ka-kalian ... bagaimana kalian tahu Lembah Aru?” Hariyadi terlihat kaget.


“Tentu saja kami tahu, anakmu juga di sana, bersama semua pegawai yang kau korbankan.” Alka melanjutkan kata-kata intimidasinya.


“Tidak mungkin, anakku tidak di sana!” Hariyadi menyangkal.


“Kalau tidak percaya, carilah dia di sana, tapi kau tahu kan, tidak mudah mencari mereka di sana, karena ruang dan waktu tidak nyata yang kalian ciptakan karena perjanjianmu dengan jin itu, adalah ruang dan waktu yang luas, hanya mereka yang terpilih yang bisa masuk. Maya tadi ke sini, mana tahu dia adalah wanita yang dipilih jinmu, karena dia keturunanmu, tentu keturunan budak dari jin itu lebih wangi bukan?” Alka mengarang cerita, dia hanya sedang memprovokasi Hariyadi untuk membuka jalan ke sana dan akhirnya terbujuk untuk menghancurkan Lembah itu.


“Aku tidak tahu caranya masuk, aku hanya tahu caranya memasukkan korban.” Hariyadi terduduk lemas di samping extrabed yang menjadi alas tidur putrinya di hotel ini.


“Tapi kau bisa memanggil jinmu dan melepas perjanjian itu.”


“Tidak bisa, karena kalau aku lepas, aku akan kembali ke wujud asliku yang telah tua dan renta, mungkin juga akan segera mati karena usiaku yang sudah sangat tua.”


“Ya, semua terserah padamu, kalau kau lebih sayang umurmu dibanding umur putrimu, maka kau boleh membiarkan putrimu koma, lalu setelahnya dia akan meninggal seperti yang lain.” Alka terus memprovokasi Hariyadi.


“Tapi kalau aku menghancurkan Lembah Aru, maka para tentara akan menyadari bahwa diri mereka bukan manusia dan akhirnya bisa seenaknya lepas dari hotel ini.”


“Memang hakikatnya semua ruh itu kembali kepada Tuhannya.” Alka kesal karena Hariyadi terlihat tidak suka dengan perkataan Hariyadi.”


“Bahkan ketika menjadi ruh, mereka masih terus menimbulkan kerusakan di negeri kita ini. Aku dan keluargaku benci pasukan itu, kami sengaja menguncinya di sini dengan para gadis yang dikorbankan di hotel ini. Kau tahu bukan, pasukan Jepang itu sangat suka dengan gadis-gadis pribumi.”


“Astagfirullah! Jadi kau!” Alka geram.


“Ya, di sini saat itu, tahun 1944, umurku belum genap 20 tahun masih anak remaja belasan tahun. Saat itu adalah dua tahun setelah Jepang menduduki negeri ini, desa kami adalah salah satu desa yang mengalami kerusakan paling parah. Rumah kami dibakar, ayah kami dibunuh, ibu dan saudara perempuan kami diperkosa lalu dibunuh.


Pasukan biadab itu benar-benar sudah menjadi setan, bahkan sebelum mereka mati.” Hariyadi menangis mengingat hari itu.


“Kami memutuskan melawan, sisa-sisa penduduk desa ini memutuskan melawan pasukan itu, kami melakukan segala upaya sampai tetes darah penghabisan sampai di tahun itu kami berhasil menghabisi mereka di sini, di camp rahasia yang mereka dirikan untuk bersenang-senang di sela-sela perang.


Camp rahasia itu mereka dirikan di desa ini karena mengira kami takut, mereka mengira setelah menghabisi sanak keluarga kami, mereka akan selamat dan kami ketakutan.


Setiap hari camp rahasia itu mendatangkan banyak penari dari para centeng yang membelot bersama tuannya, kau tahu, bahkan ada orang-orang kaya yang tetap membela pasukan itu walau negeri mereka telah dijajah.


Kami akhirnya berhasil menumpas mereka semua, pasukan itu, centeng dan para penarinya.


Tapi karena kebencian kami sudah sangat mendarah daging, kami tidak rela jika pasukan biadab itu hanya mati saja, aku dan keluargaku yang tersisa, akhirnya mendatangkan dukun paling hebat di desa ini, kami memuat ritual penciptaan Lembah Aru, lembah yang menjebak para ruh dari pasukan itu untuk selamanya terjebak di sana dan mengulang kejadian hidup mereka tanpa henti. Mereka tidak akan ingat telah mati, mereka akan menjalani kehidupan busuknya berulang-ulang.


Aku tidak rela jika mereka hanya mati, aku ingin mereka menderita dan tidak sadar telah menjadi makhluk busuk yang hina. “


“Lalu kenapa pasukan itu masih bisa keluar dari lembah Aru dan menyerang kami di hotel ini?” Alka bertanya.


“Itu karena kalian! Jin wanita di kamar 713 itu tidak suka kalian ke kamar itu, tapi dia tidak mampu untuk mengalahkan kalian, makanya dia menarik semua pasukan Jepang di lembah Aru untuk menghadapi kalian, kalianlah orang-orang yang membuat Lembah Aru memiliki lubang!”


“Jadi wanita di 713 itu lah jin yang membuat perjanjian denganmu?”


“Tentu saja, makanya 713 tidak pernah bisa ditempati oleh tamu-tamu kami, karena itu adalah kamarnya.”


“Apa bedanya kau dengan Pasukan yang telah menghancurkan desa kalian? Kau bahkan membunuh sesama saudara negeri ini untuk menjamu ruh pasukan itu!” Alka jadi ingat tentang Selly dan yang lain, penari-penari itu bukanlah ruh yang mati dulu tahun 1944. Tapi mereka adalah pegawai hotel ini yang dikorbankan.


“Aku memang mengorbankan wanita-wanita itu, tapi aku memberi begitu banyak uang pada keluarganya sebagai santunan. Mereka menerima uang itu dengan sumringah, lupa bahwa keluarganya tiada. Ini win-win solution bukan? aku mendapatkan bahan bakar dari tipu muslihat untuk para pasukan biadab itu dan keluarganya dapat uang.”


“Hariyadi!” Alka mengeluarkan cambuknya, Ganding buru-buru mendekati Alka dan menenangkannya, Aditia gantian berdiskusi, ini harus segera di selesaikan, Hariyadi tidak boleh mati sampai Lembah Aru dihancurkan.


“Kau membenci mereka tapi kau menjamu mereka dengan wanita-wanita pegawaimu yang kau jadikan korban, itu sebuah pemahaman yang aneh.

__ADS_1


“Kalau aku tidak memberikan penari-penari itu, maka jin wanita 713 itu tidak akan membuat Lembah Aru tetap ada karena jin wanita 713 itu dan para pasukan biadab suka sekali dengan hiburan, aku  hanya membuat mereka tidak pergi kemanapun, aku ingin melihat betapa bodohnya pasukan-pasukan itu dengan cara mempermainkan mereka, hidup di satu hari yang sama berpuluh-puluh tahun hingga kiamat kelak!”


“Kau yang biadab Hariyadi!” Alka benar-benar telah menahan amarahnya yang sudah memuncak hingga ke ubun-ubun.


__ADS_2