
Mereka sepertinya memang sudah mempersiapkan kemungkinan terburuk, makanya tidak heran mereka membawa begitu banyak bala tentara.
“Kalau sekarang boleh dong pake senjata, karena ini memang ngajak perang, bukan ngajak main petak umpet Dit, Kak.” Ganding meminta izin mengeluarkan senjata, karena Ganding dan Hartino memang paling dilarang mengeluarkan senjata, karena sekali keluar, senjatanya akan menelan korban.
“Bebas, tapi ingat, jangan mencelakai warga sipil.” Aditia menjawab, maksudnya adalah siapapun yang seorang manusia, maka tidak boleh dicelakai, walau dia adalah bagian dari kejahatan ini.
“Aku tangani manusianya dulu, biar dia tidak mencelakai dirinya sendiri, sedang yang lain silahkan diajak bermain.” Alka lalu menghampiri ayahnya Melati, sementara Winda ditarik oleh Jarni, maksudnya Melati dalam tubuh Winda, Jarni mengikat kaki dan tangan Winda dengan ular mininya agar dia tidak bisa pergi ke manapun.
Alka mulai menyerang ayahnya Melati dengan cambuknya, tentu dia akan mengira-ngira sebanyak apa kekuatan yang boleh dia gunakan untuk menyerang kakek tua itu.
Aditia, Ganding dan Hartino menyerang pasukan jin yang dibawa kakek ini.
Mereka bertarung seperti anak SMP tawuran di rumah Melati, dengan Parmin, Jarni dan Melati yang terlindungi di pojokan ruangan, agar Parmin aman dan agat Melati tidak pergi.
“Kalian biasa bertarung begini?” Parmin bertanya, dia bisa melihat para jin itu, karena Parmin orang yang berpengalaman di bidang ghaib seperti ini.
“Iya.”
“Kau tidak takut, maksudku kalian masih sangat muda.” Parmin terdengar perhatian.
“Takut? Kami lebih takut saat masih kecil, tidak ada yang percaya pada omongan kami tentang mereka,” Jarni menunjuk jin itu, “itu jauh lebih menakutkan, kami bahkan dibawa ke Psikiater dan dipaksa minum obat. Menghadapi mereka tidak terlalu menakutkan, asal dilakukan bersama, karena kami semua punya kemampuan berbeda, saling mendukung.”
“Kalian anak-anak muda hebat.”
“Biasa aja Pak, yang hebat itu adalah bapak yang membuat kami berkumpul, kalau bukan karena bapak, mungkin kami akan menjadi pasien rumah sakit jiwa.”
“Bapak?”
“Iya Bapak angkat kami, Bapak Mulyana.”
“Oh, iya, dia juga yang menolongku di gunung dulu saat aku masih jadi regu TNI, dia memang orang hebat.”
Aditia terus saja menyabet keris mininya pada leher-leher jin itu, dia tidak membiarkan satupun jin pergi darinya. Dia terus menyabet mereka dengan brutal.
Sedan Hartino dan Ganding tidak mau kalah, jarang-jarang mereka dapat kesempatan untuk bermain dengan senjata mereka, rasanya memiliki kesenangan yang unik ketika kau bisa menghabisi musuhmu dengan benda pusaka yang mereka miliki.
Ini kenapa senjata mereka berdua tidak boleh terlalu sering digunakan, karena kalau mereka gunakan sering, hasrat ingin membunuh akan sangat tinggi.
Ketika hasrat membunuh tinggi, maka jiwa iblis mereka akan timbul, bahaya sekali jika bagi Ganding dan Hartino jika jiwa iblis mereka akhirnya muncul, kekuatan mereka yang cukup tinggi akan mencelakai banyak orang.
Ini petuah bapak bagi Hartino dan Ganding, jangan menggunakan senjata mereka, kecuali dalam keadaan genting.
Berbeda dengan Alka, Aditia dan Jarni, senjata mereka bisa diikendalikan oleh tuannya, sedang senjata Hartino dan Ganding belum bisa dikendalikan sepenuhnya oleh Ganding dan Hartino.
Makanya Mulyana mewanti-wanti agar Ganding dan Hartino tidak sembarangan mengeluarkan senjatanya, maka ketika mereka keluarkan, akan sangat membahayakan bagi jin ataupun manusia, karena sifat senjatnya tidak seperti keris mini Aditia yang tahu siapa lawan dan bukan, tumpul untuk manusia dan tajam untuk jin.
Ganding menusuk semua jin begitupun dengan Hartino, dia menebas leher jin yang menyerang, satu demi satu, dibantai tanpa terkecuali, itu membuat mereka berdua sungguh sangat bersemangat.
Alka juga bertarung dengan ayahnya Melati, dia menyabet-nyabet cambuknya, tetapi kakek ini ternyata cukup pandai bertarung, Alka melihat bahwa dia juga memiliki khodam makanya dia bisa menyeimbangi Alka.
Tapi Alka bukan manusia biasa, hingga akhirnya semua jin sudah ditumbangkan, tapi saat terakhir, Aditia malah kewalahan karena harus menghentikan Ganding adan Hartino yang masih saja mencari lawan padahal jin yang dibawa ayahnya Melati sudah musnah.
Setelah ditenangkan Aditia, mereka meringkus Melati dan juga ayahnya, mengikat mereka dan mendudukkannya di sofa, sementara pintu kamar dibuka, saat keluar, suami kakaknya Melati beteriak.
“Untuk apa ayah kemari?” Dia sangat terkejut.
“Kau tidak becus jaga keluarga, makanya aku kembali.”
“Aku bisa menghadapi mereka semua, ayah pegi, bagaimana kalau ada yang lihat ayah, kita bisa celaka semua!”
“Ayah, bukankah kau telah tiada?” Melati bingung, karena saat kematian ayahnya dia masih berada di tubuh wanita lain bahkan datang ke kuburan ibu dan ayahnya. Walau agak aneh, mereka berdua meninggal di luar kota dan setiap kali anak dan cucunya datang, pasti pemakaman sudah dilakukan, hingga tidak ada keluarga yang bisa melihat wajah orang tua atau kakek nenek untuk terakhir kalinya.
“Kalau aku masih hidup, maka kalian tidak akan bisa menikmati apa yang kalian nikmati sekarang, kau, tubuh para gadis itu kau dapatkan karena uang, kau pikir darimana aku mendapatkan uang-uang itu selain melakukan perjanjian dengan jin, lalu menggaransikan hidup banyak orang.
Aku harus mati hingga asuransi itu turun untuk kau kelola, menyelamatkan perusahaan kita yang katanya gajah tapi hampir bangkrut itu, uang setan akan dimakan jin, habis entah kemana, semua aset bahkan telah kita gadaikan, aku dan ibumu punya asuransi yang besar, makan kami harus memalsukan kematian agar surat kematian turun dan asuransi bisa cair.”
“Kalian benar-benar keluarga yang berantakan! Mungkin banyak orang ingin menjadi keluarga kaya seperti kalian, cantik seperti Melati, tapi kalian benar-benar keluarga busuk!” Hartino kesal.
“Keluar kau dari tubuh Winda!” Alka membentak Melati.
__ADS_1
“Tidak mau!” Melati berteriak.
“Kalau kau tidak keluar, aku akan membuat ayahmu, ibumu dan juga kakak iparmu di penjara.” Alka sudah geram dan akhirnya berteriak.
“Aku tidak peduli!” Melati menjawab tanpa perasaan, tentu hatinya adalah hati seorang iblis.
“Lihat, anakmu tidak peduli pada keluarganya, anakmu telah berubah menjadi iblis, kau lihat sendiri bukan? kalian masih mau membantunya?” Heru terlihat menangis, dia baru sadar, betapa berantakannya keluarga yang dia jaga selama ini.
Sementara ibunya Heru, masih seperti orang hilang akal, tidak paham dengan yang terjadi.
“Aku tidak punya kekuatan untuk menjaga keluarga ini lagi, aku sudah membawa pasukan yang aku sembah tapi ... mereka terlalu kuat, serahkan tubuh itu Melati, pulanglah kepada Tuhan dan aku akan menyerahkan diri ke Polisi.”
“Aku tidak mau!” Melati berteriak dia memang tipikal seorang bungsu yang selalu mau mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Aku punya cara untuk mengeluarkan jiwanya dari tubuh itu.” Ayahnya Melati akhirnya berkata, Melati menatap ayahnya dengan benci, tentu itu dia lakukan di dalam tubuh Winda.
“Bagaimana?” Alka bertanya.
“Kak, dia bisa aja bohong dan jebak kita.” Ganding mengingatkan.
“Beritahu dulu, baru kita bisa putuskan.” Alka menjawab kekhawatiran Ganding.
“Kau tahu kan, kalau tubuh mati itu ruhnya akan keluar dari tubuh secara otomatis, maka kalian hanya perlu membunuh tubuh itu.”
“Enteng sekali kau berkata begitu, itu tubuh Winda! Kau mungkin terbiasa menghabisi orang dengan tangan dinginmu, tapi tidak kali ini!” Hartino kesal sekali.
“Kita tidak punya cara lain, karena jiwa Melati harus keluar sendiri dari tubuh itu.” Ayahhnya Melati terlihat mengolok, ini pasti jadi buah simalakam bagi kawanan, untuk apa repot melakukan semua ini kalau akhirnya mereka harus kehilangan Winda juga.
“Kalian lagi apa sih?” Seorang wanita datang, suaranya sangat dikenal.
“Alisha!” Hartino langsung berteriak dan menghampiri istrinya, terakhir dia menemui istrinya jauh dari sini, kenapa dia tiba-tiba datang ke sini.
“Aku menghubungimu beberapa hari ini, tapi kau tidak bisa dihubungi, aku akhirnya mencarimu dan menemukan alamat ini, makanya aku ke sini.”
“Lais!” Jarni menyapa, dia lebih suka memanggilnya Lais, walau wajahnya telah berbeda, tapi sapaan Lais terasa lebih akrab.
“Aku bingung, kalian mengusir Esash pintar sekali, giliran hanya bocah tengik princess bungsu ini bingung.” Alisha bertanya dengan nada mengejek.
“Esash dan Melati sama, mereka tidak suka tubuh yang kotor, mereka suka tubuh suci, makanya dia selalu mengincar perawan, trus nggak ada yang kepikiran buat bikin tubuh perempuan ini jadi kotor supaya jiwanya keluar?”
“Alisha!” Semua berteriak kesal karena gampang sekali Alisha berkata begitu, maksudnya adalah membuat Winda tidak perawan lagi.
“Daripada disuruh mati sama nih kakek, kan mening disuruh nggak perawan lagi.” Alisha memang bukan seorang yang memiliki kemampua ghaib lagi, tapi cara berpikir nekatnya nggak ada yang bisa lawan, barbar dan kurang beretika.
“Cha, kamu jangan aneh-aneh deh, udah jangan ikut lagi kasus, ayo kita pulang.” Hartino berusaha menarik istrinya, dia sejenak merasa aneh dengan keadaan ini, karena dijemput istri di tempat bermain itu sungguh lucu.
“Kalian nggak punya jalan lain, tanya jiwa Winda, dia setuju nggak dibuat kotor tubuhnya? Kalo nggak kayak Hartino suamiku, nikahi dulu sebelum disetubuhi.” Alisha tertawa.
“Lish, kau yakin.” Alka memang selalu sepaham dengan Alisha.
“Ka, kau punya cara lain?” Alisha menatapnya dengan yakin.
“Kalau begitu, kau saja yang setubuhi wanita ini.” Alka tiba-tiba menunjuk Heru.
“Apa maksudmu!” Heru tidak mau, dia terlihat jijik, karena dalam pandangannya itu adalah tantenya sendiri.
“Diam kalian! Aku tidak mau!” Melati terlihat gusar dan mulai mengamuk. Untung dia diikat dengan erat.
“Paksa Ka, pake gendam aja, suruh Heru kotorin paksa.” Alisha duduk dengan kaki satu menompang ke kaki lainnya, dia menggunakan setelan warna hitam, sungguh anggun.
“Ok.” Alka menurut, sedang kawanan terlihat tidak setuju.
“Dit, itu kakak larang, masa orang mau dipaksa tidur bareng, bukan hanya tanpa cinta, tapi karena gendam. Dit, kita bisa dihukum raut laut, Ayi dan semua kalangan, Dit, cepet jangan aneh-aneh deh.” Ganding sudah memperhitungkan hal paling buruk, makanya dia berusaha untuk menahan Alka.
Alka memegang kening Heru, menutup matanya dan mengucapkan mantra gendam, dia membisikkan sesuatu kepada Heru, lalu Heru berdiri dari duduknya, mata itu kosong, dia mulai menyeret Winda masuk ke kamar, Alka mengikutinya ke dalam kamar.
“Ka! Kamu ikut masuk?” Aditia kesal, yang lain juga telrihat jijik.
“Iya, mau nonton.” Alka lalu masuk saat masuk kamar, Heru sudah melempar Winda ke kasur, Melati berteriak dan meminta Heru sadar dari tubuh Winda itu, dia juga jijik karena keponakannya akan membuat tubuh yang dia sandera ini menjadi kotor.
__ADS_1
“Heru kau berhenti di sana!” Melati berteriak, tapi Heru mulai melepas celananya, saat ini dia hanya memakai pakaian dalam, Alka masih memperhatikan saja.
“Heru! Berhenti!” Melati berteriak, tapi Heru hendak membuka pakaian dalamnya, sebelum pakaian itu terlicuti, Winda pingsan dan Melati keluar dari tubuh itu.
Alka berteriak, berhenti! Heru barus saja hampir membuka ****** ********, tapi keburu Alka tahan hingga dia akhirnya pingsan menimpa tubuh Winda.
Alka buru-buru membuka boto yang dia bawa, itu adalah Winda, begitu keluar dari botol Winda langsung berlari ke arah tubuhnya dan masuk kembali.
Sementara Melati hendak kabur, tapi dia lupa, Jarni sudah memasang pagar ghaib pada semua sisi. Hingga Melati tidak bisa keluar.
“Kau mau kemana?” Alka bertanya.
“Diam kau ******!” Melati bersiap berkelahi.
“Kau sama raja jin saja menyerah dan malah melakukan perjanjian, mau lawan aku? mimpi!” Alka membuka botol dan menarik Melati masuk ke sana.
Lalu keluar dari kamar, semua orang terlihat cemas, lalu Winda keluar, semua orang bersiap karena Winda keluar tanpa terikat.
“Tenang, ini sudah Winda kok.” Alka menjawab sebelum Winda asli diserang.
“Jadi ... kau melihat Heru melakukannya!” Aditia kesal.
Alisha menghampiri Alka dengan berlari, lalu mereka berdua melakukan perayaan keberhasilan dengan tos, Alka dan Alisha tertawa setelahnya.
“Kalian ... bersekongkol.” Hartino bertanya.
“Kau pikir aku gila mau melihat hal menjijikan seperti itu?” Alka berkata pada Aditia.
“Kalian itu!” Aditia lega.
“Har, masa kau tidak sadar, Lais ini kalau berbohong, dia kan menaikkan satu alisnya sebagai tanda, kalian lupa, dia berkali-kali menaikkan satu alisnya pada kita, masa hanya aku yang menangkap.
Melati itu takkan membiarkan keponakan yang dia rawat menyetubuhinya! Jadi, dia pasti kabur sebelum keponakannya melakukan itu, dia memang jahat, tapi dia punya prinsip, gadis perawanlah yang akan dia masuki, karena dia merasa dirinya sangat tinggi, cantik dan cerdas, tidak mau masuk ke tubuh wanita yang tidak perawan, tapi mengancam dengan keponakannya adalah hal yang cerdas, kita harus terima kasih pada istri Hartino ini, untung dia datang tiba-tiba.”
“Ya, aku hanya khawatir karena Har tidak menjawab teleponku, dia tidak begitu, aku tahu kalian pasti sibuk kasus, ini sudah dua hari dan kau tidak menjawab teleponku sama sekali makanya aku langsung ke sini.”
“Makasih istriku yang solehah, ayo kita pulang, ke apartemen ya, aku udah kangen nih, mau kotori tubuh kita berdua.” Hartino nakal.
“Kalian bisa nggak becanda dewasa gitu nggak, ini banyak orang.”
“Eh jomblo jangan tersinggung, makanya nikah!” Hartino tidak peduli, dia membawa istrinya untuk pulang, sementar Polisi sebentar lagi datang, Parmin yang akan urus semuanya, kawanan sudah selesai dengan tugasnya.
Mereka pulang dengan angkot.
“Kakaknya mungkin akan masuk rumah sakit jiwa, kakak ipar Melati, ayah dan ibunya akan masuk penjara, tapi karena penipuan asuransi dan pemalsuan kematian. Untuk korban tumbal, tidak akan ada yang dihukum.” Ganding mengeluh.
“Ada kok.” Aditia menjawab.
“Siapa?”
“PEMILIKI KITA, TUHAN!” Aditia menjawab.
“Oh iya, mereka pasti akan dihukum kelak.” Ganding yakin itu.
“Ka, kau pintar sekali tahu Alisha berbohong.”
“Itu alasanku kenapa dulu menerima dia masuk ke dalam kawanan, karena aku percaya, hatinya tulus, walau ya, kau tahu, dia itu nekat, keras kepala dan sangat bar-bar. Tapi perhitungannya jarang meleset. Aku kadang iri padanya, kau tahu kan Dit, aku selalu ragu-ragu, apalagi jika tentang banyak orang, aku takut mencelakai orang.”
“Itu karena kau trauma masa kecil Ka, kau selalu ketakutan membuat orang-orang celaka lagi, padahal dulu kau hanya menghukum orang jahat, makanya tindakanmu sekarang, selalu saja membuatmu ragu, karena kau selalu mempertimbangkan keselamatan banyak orang. Kau jauh lebih tulus dibanding Alisha.”
“Terima kasih.” Alka tersenyum, dia di samping bangku kemudi, sedang Jarni sudah tidur, Ganding masih mengamati jalan. Menikmati moment yang tenang ini.
“Kau sangat percaya pada Alisha, kadang aku iri, karena kau selalu mendukungnya, bahkan ketika dia akhirnya membohongi kita semua.”
“Karena, aku ingin dia dan Hartino bahagia bersama tidak terpisah lagi, karena ... [kita tidak bisa].” Alka melanjutkan perkataannya di dalam hati.
“Karena apa?” Aditia bertanya, karena Alka tidak melanjutkan kata-katanya.
“Karena mereka memang berhak Dit, Alisha menjadi sesat karena mencintai Hartino dan Hartino juga tidak bisa pindah ke lain hati, makanya mereka harus disatukan.” Alka menjawab hal yang sangat general saja, dibanding jawaban sebenarnya.
__ADS_1
Karena bagi Alka, jika dia tidak bisa bersama, bahagia dengan orang yang dia cintai, maka adik-adiknya harus bahagia.
Kelak jika semua orang sudah menikah, pun jika Aditia akhirnya menikahi wanita lain, Alka akan bisa ikut bahagia, mungkin setelah Lanjonya sembuh, dia akan bisa berbahagia juga. Alka sangat ingin kawanan sekali saja, melakukan apa yang mereka inginkan, karena banyak hal dikesampingkan untuk kasus.