Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 168 : Aditia 28


__ADS_3

Mereka ke rumah sakit bersama Dirga. Karena otorisasi bertanya di rumah sakit sangat terbatas tanpa bantuan Polisi.


Dirga, Mulyana dan Aditia sudah sampai di rumah sakit.


"Gimana, ada mayat atau potongan tubuh yang baru-baru ini ketemu?" tanya Dirga.


"Ada, ikut saya Pak." Petugas rumah sakit, dia mengajak ke kamar mayat.


"Kami sudah menemukannya seminggu yang lalu, hanya potongan tubuh ini saja, sayang tidak bisa diidentifikasi, karena tidak ada catatan medis apapun.


Petugas rumah sakit menunjukan bagian kaki sebelah kiri yang mereka temukan di dekat area rumah sakit, semak-semak di mana orang biasa membuang sampah.


"Ada saksi?" Dirga bertanya.


"Tidak, hanya yang menemukannya saja sebagai saksi, dia seperti biasa datang ke tempat itu untuk buang sampah. Itu adalah semak-semak di depan bangunan kosong, orang yang membuang sampah di sana, biasanya yang malas bayar iuran kebersihan di rumahnya.


Banyak yang membuang sampah di sana, tidak ada CCTV di dekat situ. Kami sudah melaporkannya ke kepolisian, sekarang statusnya masih dicari identitas. Tapi susah kan cari identitas dari sepotong tubuh seperti ini." Petugas itu terlihat sedih.


"Dibuangnya seperti ini saja?" Dirga menunjuk kaki kiri itu yang di taruh memanjang di atas meja berbahan stainless.


"TIdak, dengan kantong sampah yang berukuran besar, kakinya utuh dari paha hingga telapak."


Aditia sedikit mual melihat itu.


"Yan, mana jarinya?"


"Nih Ga." Mulyana memberikan jari yang dia temukan.


"Bisa bantu periksa, apakah ini potongan tubuh milik orang yang sama dari potongan kaki ini juga?"


"Bisa, nanti kami periksa."


"Terima kasih ya, sudah mau membantu." Dirga menepuk bahunya, sepertinya mereka sudah kenal lama.


Setelah itu, mereka pamit. hari sudah mulai sore, Dirga kembali ke Pos, lalu Mulyana dan Aditia kembali ke rumah.


"Yah, trus kita mesti gimana lagi? jari tangan dan kaki ketemu, lalu sekarang tubuh lainnya gimana?"


"Yah, kita cari lagi."


"Caranya?"


"nanti jam sembilan kita kembali ke kali itu, Ayah pikir dia tidak sedang menunjukan tubuhnya, tapi ...."


Mereka berdua sudah selesai makan malam, solat isya dan sekarang sedang bersantai.


"Ayah sama Adit lagi kerjain apa sih? kok akhir-akhir ini Adit sering ikut Ayah narik?" Ibunya tiba-tiba nimbrung di halaman depan, tempat Aditia dan ayahnya berdiskusi.


"Iya nih, Dita juga nggak diajak." Dita bersandar pada ayahnya, dia cemburu karena ayahnya akhir-akhirnya selalu membawa kakaknya pergi, dia mengira itu jalan-jalan.


"Kita kerja Nak, bukan jalan-jalan. Masa kalau jalan-jalan nggak ajak Dita sama ibu?" Ayahnya mengusap kepala Dita, anak paling dia sayang, anak yang selalu ingin dilindungi.


"Tapi kapan Dita diajak jalan-jalan, berdua aja kayak Kakak." Dita masih bermanja-manja.


"Akhir pekan ini aja ya, kita jalan-jalannya."


"Iya, tapi Ayah nggak bohong lagi kan? Dita males, kalau Ayah ingkar janji lagi."


"Dita nggak boleh marah sama Ayah, siapa yang minta hadiah sepatu baru kalau rangking? Kan Dita ya? Ayah ada uang dari mana kalau nggak kerja? Kakak bantu Ayah biar cepet kumpulin uangnya, jadi bisa beli sepatu Dita."


"Beneran bakal dibeliin sepatu baru? Sepatu Dita udah jelek Yah, beliin ya"


"Ih manja, udah gede juga, umur berapa kamu, sepatu masih minta beli, Kakak aja beli sepatu sendiri, nabung dari uang jajanmu."


"Dita nabung kok, tapi kan untuk keperluan lain, kayak jepitan, trus buku, jadi sepatu ayah aja yang beli, ya kan Yah?"  Dita yang sekarang sudah kelas dua SMA masih saja manja dengan orang tuanya.


"Iya Dita sayang." Ayahnya memeluk Dita.


"Dit, jangan lupa kamu juga nggak boleh terlalu sering sibuk sama Ayah ya, soalnya kan kamu harus belajar untuk ujian masuk universitas, ingat ini sudah mau lulus-lulusan loh. Ayah juga jangan sering ngakak Adit ya."


"Oh ya, Ayah yakin Adit bisa kok, kan anak Ayah semuanay pintar-pintar."


Lalu mereka akhirnya bercengkrama hingga waktunya Mulyana dan Aditia harus kembali ke kali itu, tempat jiwa itu selalu menunjuk dan bilang tubuhnya di buang ke sana.

__ADS_1


Begitu Aditia dan ayahnya sampai mereka melihat jiwa itu masih duduk seperti sebelumnya selalu mereka lihat di pinggir kali itu.


Bedanya saat Aditia dan ayahnya mendekat, jiwa itu tiba-tiba berdiri dan berlari. Aditia dan Mulyana yang bingung mau tidak mau harus ikut berlari mengikuti jiwa yang kelam itu.


Setelah lima belas menit berlari, mereka berdua merasa kelelahan, jiwa itu berhenti seperti menunggu mereka mengikutinya.


"Ikuti dia, Ayah ambil mobil. Ayah nggak sanggup kejar dia lagi." Aditia mengangguk dan terus berlari mengikuti larinya jiwa kelam itu.


Sudah sepuluh menit Aditia mengejar, ayahnya ternyata bisa mengejar Aditia dengan angkot, lalu Aditia masuk angkot dan mereka mengejar jiwa itu, entah kenapa larinya semakin kencang.


Setelah dua puluh lima menit berlari dan setengah jam berkendara mengejar makhluk itu, mereka sampai di kolong jembatan yang sepertinya tidak terawat, tidak dijadikan tempat tinggal juga. Pada jaman itu tinggal di kolong jembatan adalah hal yang lumrah.


Gelap karena ini sudah sangat malam, Aditia dan ayahnya mendekati jiwa kelam itu yang lagi-lagi menunjuk ke satu arah dan berkata, "Aku dibuang di situ." Aditia dan ayahnya tidak mau buang waktu, mereka lalu ke arah yang dimaksud dan langsung menari, tak ada bungkusan yang mencurigakan, berarti ....


"Ayah bawa cangkul?" Aditia bertanya.


"Ayah supir angkot bukan tukang gali kubur." Mulyana malah berseloroh.


"Trus gimana, ini sih kayaknya di kubur Yah. Bisa jadi ini bagian penting."


"Maksudnya?" Mulyana bingung.


"Kalau ini kepala, kita bisa memastikan bahwa dia benar Koswara."


"Kau ragu dia Koswara Dit?" Mulyana bertanya.


"Hmm, instingku mengatakan, bahwa Koswara masih hidup dan kita hanya di arahkan seperti yang lain berasumsi, bahwa dia meninggal."


"Dit ... hanya kita yang berasumsi dia meninggal, yang lain mah taunya dia hilang, Kan, cuma kita yang melihat jiwanya."


"Jadi, Ayah yakin kalau dia itu Koswara?" Aditia menunjuk jiwa kelam yang masih menunjuk arah dan juga bergumam.


"Aku tidak suka mengambil kesimpulan terlalu dini, tapi aku lebih suka mengambil tindakan. Jangan terlalu banyak berpikir dulu sebelum bukti di tangan."


"Ya, baiklah Yah."


Akhirnya Mulyana mau tidak mau menghubungi Dirga, lagi-lagi mereka membutuhkan bantuannya.


Aditia dan Dirga yang menggali, Aditia memegang cangkul dan Dirga sekop. Mulyana dibiarkan melihat saja, karena Dirga tahu, kondisinya tidak terlalu baik untuk pekerjaan berat.


Aditia dan Dirga terus menggali, sampai cangkul Aditia menyentuh sesuatu yang keras dan terlihat bungkusan hitam di sana.


"Ada Yan." Dirga memakai sarung tangan karet dan memberikannya juga pada Aditia, Dirga tahu, tidak boleh sembarangan memegang tubuh korban, bisa jadi kita tersangkanya karena ada sidik jari di tubuh korban.


Dirga mengangkat itu tapi cukup berat, akhirnya Aditia membantu. Perlu usaha yang keras untuk mengangkat tubuh itu.


Setelah berhasil mengangkatnya, Dirga membuka bungkusan itu, bungkusan yang diikat dengan tali rapia dengan sangat rapih dan ketat.


Tercium aroma busuk dan amis saat bungkusan itu dibuka.


Aditia sampai terbatuk-batuk, Dirga hanya mengibas udara dari depan hidungnya tapi masih bisa bertahan. Dia membuka bungkusan itu agar bisa melihat apa isinya.


Begitu bungkusan terbuka, Aditia jatuh terduduk, orang seperti apa yang bisa tega membuat tubuh manusia menjadi potongan seperti ini.


Bagian leher hingga ke alat kelamin, potongan tubuh telanjang itu terlihat membusuk.


"Yan, bener, dia dimutilasi. Kasihan sekali," Dirga berkata.


"Sudah kuduga saat menemukan jarinya, 'dia' memang menunjukan dia dibuang di sana, tapi bukan berarti seluruh tubuhnya, dia memang sedang menunjukan kuburannya, tapi ternyata, dia dikubur terpisah, potong demi potong tubuh. Ya Allah, tega sekali manusia yang melakukannya. Apakah kesalahan seseorang sampai disiksa seperti ini!" Mulyana kesal, karena sejahat-jahatnya manusia, dipotong-potong seperti ini bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan.


"Ga, bisa tolong urus mayat ini, gue mau dia tunjukin lagi sisa potongan tubuh, kaki kanan, tangan dan juga kepala."


"Ya, gue bakal urus potongan tubuh ini, sekalian diperiksa rumah sakit, kita akan satukan tubuhnya, Insyaallah, Yan."


"Ya, Ga."


Aditia dan ayahnya kembali berkendara, sementara jiwa kelam itu tetap berlari, kali ini tujuannya kemana, entah, Aditia dan ayahnya hanya mengikuti saja.


Kali ini cukup jauh, mereka harus melewati jalan tol lalu setelah keluar tol masih harus berkendara selama lima belas menit untuk sampai pada sebuah perkampungan, kampung yang jarak rumahnya jauh-jauh, ada sebuah perkebunan karet yang tidak terawat, sepertinya pemilik perkebunan itu tidak punya uang untuk melanjutkan bisnis, sehingga perkebunan yang cukup luas itu dibiarkan begitu saja.


Sebuah tempat yang cocok untuk buang potongan tubuh.


Aditia dan ayahnya turun dari angkot, karena perkebunan itu tidak bisa dijangkau dengan angkotnya.

__ADS_1


Aditia dan ayahnya kembali berlari semakin dalam masuk ke perkebunan karet itu.


Sampai di titik di mana jiwa kelam itu menunjuka pada satu tempat, lagi-lagi ke dalam tanah.


"Ayah, Adit aja yang gali." Aditia mengambil cangkul dan sekop, dia pasti membutuhkan dua alat itu.


Aditia mulai menggali, semakin dalam hinggal dia merasa menyentuh sebuah benda padat, seperti ... kayu, sebuah kayu, apakah ini ....


"Apa Dit?"


"Peti kayaknya Yah."


"Peti, kenapa yang ini mesti dipetikan?" Mulyana mulai berpikir keras, pasti ada yang tidak beres, Mulyana kembali ke angkot dan mengambil bukunya, dia mau menggambar sesuatu.


"Dit, jangan buka dulu petinya."


"Kenapa Yah?" Aditia bingung, dia sudah mengeluarkan peti itu, peti yang tidak terlalu panjang, seperti peti anak-anak. Tidak berat juga, makanya Aditia bisa mengeluarkan peti itu dengan mudah sendirian.


"Ke sini dulu kamu." Aditia akhirnya menuruti ayahnya, meninggalkan peti itu dan mendekati ayahnya, jarak mereka sampai ke peti itu sekitar tiga meter.


Ayahnya menggambar sesuatu, itu ternyata adalah trayek pengejaran jiwa kelam, dari mulai kali yang diketemukan jarinya, lalu ke kolong jembatan yang diketemukan bagian leher hingga alat kelamin, lalu sekarang, perkebunan karet  ini.


"Ayah kenapa gambar peta?"


"Dit, perhatikan ini, dari kali tempat jari ke kolong jembatan tempat badan, itu jaraknya 30 km, lalu dari kolong jembatan ke perkebunan karet ini jaraknya 50 km, ada yang aneh nggak?" Mulyana bertanya.


"Ganjil, angkanya ganjil."


"Pintar, angka berapa lagi yang kurang Dit?"


"10, 70 dan 90, Yah."


"Lihat juga arahnya, semua maju ke satu arah, perhatikan aku, kalau kita tarik garis lurus dari lokasi awal, yaitu kali, lalu maju ke 70 km, lalu maju lagi ke 90 km, kita akan menemukan gunung."


"Ritual! ritual Ayah?"


"Ya, jangan dekat-dekat peti itu." Mulyana dan Aditia mundur.


Mereka tidak takut setannya tapi mereka waspada pada ritual dan balanya. Perlindungan datang dari Tuhan, tapi menghadapi yang seperti ini tidak bisa gegabah.


"Kalau benar ini ritual, mereka melakukan ritual mutilasi, ritual paling tua yang pernah ada di sini, berarti mereka memuja iblis yang sudah sangat tua, kita harus waspada Dit." Mulyana bersiap mengeluarkan kerisnya, untuk jaga-jaga.


"Yah, apa harus kita yang menuntaskan, kita tidak bisa minta bantuan orang lain, Adit rasa berdua saja kita tidak akan mampu."


"Dit, liat Ayah." Mulyana menatap anaknya dengan lekat, lalu setelahnya dia menutup mata anaknya dengan telapak tangan kanan sembari membacakan tembang tidur, Aditia tertidur dalam sekejap. Kelak lima sekawan sering menggunakan ilmu ini untuk menidurkan orang-orang yang perlu mereka tidurkan untuk melacarkan penyelesaian kasus.


"Mendekat semua, kecuali Alka." Mulyana memanggil kawanan.


Ganding, Hartino dan Jarni keluar, Alka masih menunggu jauh dari lokasi Aditia ditidurkan.


Ganding dan Hartino menggotong Aditia untuk ditidurkan di dalam mobil. Setelah Aditia tidur di dalam mobil, Alka baru mendekati Mulyana, sementara Jarni sudah berada dekat peti, dia menyebar ular kecilnya di sana. Jarni mengidentifikasi korban dengan ular-ular kecilnya.


Tentu saja Mulyana tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk melatih kawanan, terlebih dia juga tidak akan mungkin sanggup melawan iblis sesat itu hanya berdua bersama Aditia dengan umur lawannya yang jauh lebih tua dari Karuhun miliknya.


Makanya dia harus menidurkan Aditia, karena Alka tidak akan bisa dikendalikan jika ada di dekat Aditia, dia akan fokus menjaga Aditia dan merusak rencana. Wanita memang menyusahkan jika sedang jatuh cinta, apalagi cinta yang berlebihan seperti lanjonya Alka.


"Gimana Jarni? betulkah ritual?"


"Aku mencium bau pisau yang dilumuri darah manusia. Ini jelas ritual Pak." Jarni yakin, sementara yang lain bersiap.


"Kalau begitu, kita buka peti, semua bersiap dalam formasi."


Mulyana mendekati peti, mereka bersiap untuk membuka peti semua mengelilingi peti dan bersiap dengan senjata masing-masing, ini bukan menghadapi jin jahat, tapi ini menghadapi iblis kuno.


_________________________________________________________


Catatan Penulis :


Aku mau ucapin makasih banyak buat para pencinta AJP, sudah mendoakan aku, sudah memberikan tips supaya penyakit asam lambungku sembuh. Jadi ini kambuh karena aku kebanyakan minum kopi, jadi aku insyaallah baik-baik aja sekarang. terima kasih ya buat perhatian kalian.


Ini part yang menurutku cukup berkesan.


Kalau kalian gimana?

__ADS_1


__ADS_2