
Mereka semua diantar ke vila itu, nomor 11. Vila yang cukup luas, punya gerbang sendiri, setelah pintu gerbang dibuka, lalu kawanan langsung berhadapan dengan halaman yang luas ditumbuhi dengan rumpur rapih, diantara rumput itu ada jalanan setapak menuju pintu utama vila.
Vila tipe tertinggi, presidential suite dengan jaccuzi dan juga kolam renang yang besar dikelilingi taman yang asri.
Vila 1 lantai dengan 3 kamar, pas jika kawanan sudah menikah, tapi karena Hartino dan Alisha saja yang sudah menikah, maka hanya mereka yang sekamar berpasangan, sisanya Alisha dan Jarni sedang Aditia dengan Ganding.
mereka semua masuk ke kamar masing-masing, membereskan semua barang bawaan lalu berkumpul di ruang tamu.
Mereka memesan makan malam dari restoran vila, tak lama kemudian makan malam tersaji.
Semua makanan dihidangkan di meja oleh para pegawai vila, setelah itu mereka diberi tip oleh Hartino cukup banyak dan meninggalkan vila dalam keadaan senang.
"Masih mempertahankan akting sebagai orang kaya yang arogan?" Aditia menegur Hartino yang memberikan tip begitu banyak pada para pegawai vila tadi.
"Tidak lah, itu karena aku iba, mereka itu pasti capek tadi meladeniku yang kasar, hanya berbagi rejeki saja."
"Kalau begitu kita beli saja vilanya, eh salah, perusahaan pengembang vila ini, biar sekalian kita acak-acak yang ada di dalamnya.
"Kau orang kaya?" Hartino kesal melihat sikap sombong pemimpinnya.
"Kan yang sering bilang beli, beli, beli itu kau.” Aditia mengingatkan.
“Bisa kita mulai makan?” Alka bertanya pada dua pemuda kekanak-kanakkan ini.
Mereka lalu mulai makan dengan tenang, makanan vila ini sungguh enak, membuat letih mereka selama beberapa hari ini bisa termanjakan.
“Malam.”
Seorang nenek-nenek masuk kedalam vila dari dinding samping ruang makan. Setelah mengucapkan selamat malam dia berlari menembus kawanan dan bersenandung.
Ratu anom metangi meilen-ilen
Ratu anom metangi meilen-ilen
Dong pirengang munyin sulinge di jaba
Dong pirengang munyin sulinge di jaba
Enyen ento menyuling di jaba tengah
Enyen ento menyuling di jaba tengah
Gusti Ngurah Alit Jambe Pemecutan
Gusti Ngurah Alit Jambe Pemecutan
Nenek itu bernyanyi seolah kawanan adalah orang yang sedang melihat pertunjukannya, dia bernyanyi dengan sungguh-sungguh sambil menari.
Lagu yang dia nyanyikan adalah lagu khas anak-anak Bali, tapi saat dinyanyikan oleh nenek itu, dengan rambut putih kusutnya menyerupai rambut singa, baju khas bali warna hitam compang-camping, tanpa alas kaki, karena kakinya melayang.
Nenek itu terus menyanyi dengan suara yang makin lantang dan parau.
“Udah berapa lama di sini?” Alka bertanya pada nenek yang melakukan konser tunggal itu.
“Kau bisa melihatku?” Nenek itu tiba-tiba sudah di hadapan Alka, tubuh bagian atas ada di meja makan, karena tubuh itu memang ruh yang bisa menembus benda padat.
Alka menatapnya dengan taja dan menjawab, “Bisa, kau mengganggu makan kami.”
Nenek itu mendekatkan wajahnya pada Alka, dari sana terhembus udara yang sangat dingin, Alka tetap bergeming, tak terganggu sedikitpun.
“Kau tak takut padaku?”
“Ada apa sih?” Alisha yang tidak melihat nenek itu bertanya karane Alka ngomong sendiri.
Aditia kesal melihat nenek itu dan menarik rambutnya untuk menjauh dari Alka.
Nenek itu kesakitan karena kaget, rambutnya dijenggut oleh manusia.
Aditia mampu melakukannya, karena ini bukan makhluk yang harus mereka hindari.
“Kalian siapa?” Nenek itu bangkit dan mendekati lagi kawanan.
“AKu rindu Jarni, dia selalu bisa pasang pagar, Dit pasanglah pagarnya, aku ingin tenang di sini.”
“Tidak bisa, pagar ghaib akan berbahaya untuk semua makhluk yang kita hindari, mereka akan berbondong-bondong datang begitu merasakan energi pagar ghaibku, hanya Jarni yang pandai menyembunyikan energinya.”
“Nek, kau pergi dulu bisa, kami sedang makan. Baumu anyir.” Hartino kesal.
“Ada nenek-nenek?” Alisha bertanya.
“Iya, tuh abis dijenggut Adit.” Hartino memberitahu istrinya.
“Kalian semua bisa lihat aku? Kalian siapa?” Nenek itu masih penasaran.
__ADS_1
“Hei, kau tahu kalau ada pasutri beberapa waktu lalu datang ke sini?” Ganding bertanya tiba-tiba.
“Ya, pasutri yang istrinya jadi gila itu?” Nenek itu berkata.
“Kau ada melihat makhluk lain selain dirimu di sini?” Ganding bertanya lagi.
“Entahlah, tempat ini baru kumasuki setelah pasutri itu datang, dulu tempat ini tak terlihat oleh kami. Banyak yang datang ke sini setelah mereka datang.”
“Dulu tempat ini tidak terlihat oleh kalian?” Aditia bingung, karena ini jawaban tak terduga, bagaimana mungkin dari semua vila yang ada, hanya vila ini yang tak terlihat oleh mata para jin yang datang.
“Iya, aku juga bingung, ini tempat yang sering aku lewati, tapi tidak pernah terlihat sebelumnya. Aku boleh minta kopi?” Nenek itu tiba-tiba duduk di atas meja yang terlihat kosong tak ada makanan.
“Tidak, kau pergilah kalau tidak mau bicara dengan kami.” Aditia pantang memberikan apa yang jin mau, itu tidak diajarkan oleh ayahnya.
“Kau pemarah sekali, pantas saja energimu kelam.” Nenek itu berkata dengan serius.
“Kau mau kuhajar!” Aditia tidak sopan pada yang lebih tua, tapi Karuhun di dalamnya jauh lebih tua dari nenek ini, makanya Aditia selalu berani bersikap kasar pada jin-jin tua, karena sebagian dirinya adalah Abah Wangsa.
“Dit … biar aku yang bicara.” Ganding ke belakang, mencari kopi dan membuatkan kopi itu, dia menarik nenek itu ke ruang tamu, Ganding punya firasat yang tidak enak.
“Nek ini kopinya, minumlah.” Nenek itu mendekat, dalam mata kita kopi itu tidak berkurang, beda dengan mata para pemilik khodam, kopi itu diminum sampai habis, padahal yang dia konsumsi hanya sarinya saja.
“Aku sudah memberikan apa yang kamu mau, sekarang beritahu aku, apakah kau pernah melihat selain dirimu yang datang ke sini”
“Tidak, aku hanya melihat keluarga itu saja, saat mereka datang, aku melihat pasutri itu dari jendela kamarnya, aku ada di luat vila.
Aku kaget karena vila ini baru saja terlihat, jadi aku masuk dan melihat pasutri itu sedang berbicara.
“Lalu apakah kau melihat makhluk lain yang mirip suaminya pasutri itu?” Ganding bertanya lagi.
“Mirip suaminya? Tidak ada, hanya dua pasutri itu, aku juga melihat mereka hanya sejenak saja, aku tidak suka melihat pasutri, aku kan masih anak-anak, jijik melihat itu.”
“Nek, kau tinggal di daerah sini?” Ganding mengalihkan pertanyaannya.
“Ya, kami tinggal di hutan dekat sini, aku tinggal bersama beberapa kerabatku.”
“Apa kau pernah mendengar jin yang suka menyerupai tapi sangat cakap dalam ilmu itu sampai tidak bisa dibedakan?”
“Kan kami semua bisa menyamar, aku bisa menjadi ….” Nenek itu merubah dirinya menjadi Ganding. Orang yang sedang menjadi dirinya.
“Rahangku tidak setajam itu, hidungku juga tidak selebar itu, kening apa itu tertutup rambut semua!” sekilas mirip, tapi Jarni pasti langsung bisa membedakan kalau nenek ini bukan Ganding.
“Kurang mirip ya?” Nenek itu lalu mencoba menjadi Alka.
“Ini lebih parah, kakakku tidak punay hidung setinggi itu, kau seperti nenek sihir.” Ganding protes.
“Mirip tapi tidak sama, bagaimana dengan jin yang benar-benar menyerupai sampai memiliki bau dan energi yang sama.”
“Energi sama? Tidak mungkin! Kami hanya menyerupai, tidak mungkin kami memiliki energi yang sama. Memang ada yang bisa?” Dia malah bertanya balik.
“Berarti tidak ada ya. Kalau begitu sudah, kau pergilah jangan mampir dulu untuk beberapa hari, karena bisa jadi di sini akan jadi arena bertarung kelak.”
“Oh ya, seru dong.”
“Kau ini masih anak-anak, kan Nek? Udah sana keluar dulu.”
Nenek itu lalu pergi.
Ganding lalu melanjutkan makan.
“Dapat apa dari dia?” Aditia bertanya.
“Tidak ada jin apapun yang mampu menyerupai energi manusia, wajah bisa ditiru tapi energi tidak, sementara Kakak merasakan energi Anto pada makhluk itu.”
“Ka, kau yakin bahwa itu Anto yang sama?”
“Ya, aku yakin, bukan soal wajah, energi dan baunya sama, itu Anto, bukan makhluk lain, Dit.”
“Kalau memang itu Anto, bagaimana caranya dia membelah diri?” Alisha bertanya.
“Membelah diri? Kau pikir dia amoeba!” Ganding protes.
“Ya lalu apalagi yang bisa kita hadapkan pada kenyataan ini?” Alisha bertanya dengan kesal, kasus apalagi ini, kenapa setiap kasus membuat sakit kepala saja.
“Sudahlah, bereskan semua, lalu kita bersiap untuk mencari jawaban.” Alka mengangkat piring kosongnya, yang lain juga, termasuk Ganding, dia makan tidak terlalu inign.
Setelah semua peralatan makan mereka cuci, mereka akhirnya bersiap untuk berkeliling.
Tentu saja bersama pasangan masing-masing kecuali Ganding, dia sendirian, mereka akan berkeliling dengan berpencar, menyusur areal ini, hanya untuk mencari jejak energi dari makhluk itu, entah makhluk apa.
“Vila ini cukup luas dan mewah, kira-kira apa ya yang ada di vila ini sampai harus membuat Gea menjadi seperti itu?” Alisha bertanya pada Hartino, mereka menyusuri areal belakang Vila, Ganding areal kolam renang yang berada di samping vila, sedan Aditia areal sisanya.
“Semua tempat pasti punya sejarahnya masing-masing, terkadang sejarah itu bisa saja kelam.”
__ADS_1
“Har, apakah menikah denganku suatu keputusan yang kau sesali?” Alisha bertanya, terlalu tiba-tiba bagi Har.
“Kenapa aku harus menyesal?”
“Karena … aku perempuan yang buruk, tidak bisa punya ….”
“Jika saja waktu terulang, aku akan tetap pada keputusanku, menikahimu saat itu. Satu-satunya yang kusesali adalah, kau kehilangan Rania.”
“Maaf Har, tidak seharusnya aku menuntut ilmu hitam itu.”
“Aku yang salah, seharusnya aku yang berbicara terbuka padamu dulu, seharusnya aku jujur, tapi kau tahu sendiri, bahwa hal seperti ini tidak bisa dibicarakan dengan baik dan jelas. Kami merasa bahwa kami bukan orang normal, makanya kami bisa bersama,” yang Hartino maksud adalah kawanan, “tapi terima kasih sayang, sudah bertahan tetap mencintaiku.”
Alisha tersenyum, mereka melanjutkan lagi pencarian.
“Har, aku harus ke kamar mandi dulu ya.” Alisha harus buang air kecil, Har mengiyakan.
Sementara Aditia dan Alka sedang menyusuri areal depan vila.
“Aku tidak mencium bau apapun Dit.” Alka berkata, mereka berjalan dalam kegelapan, karena mereka tidak ingin makhluk itu kabur kalau melihat sesuatu yang terang, sementara entah kenapa, lampu pada vila ini terkesan remang-remang.
“Aku juga, tidak merasakan energi apapun juga.” Aditia berkata setuju.
“Kalau benar bahwa Gea telah dilecehkan oleh seorang sosok, entah apa, entah bagaimana dan akhirnya Gea mungkin hamil sosok itu, apakah suaminya akan tetap menerima dan mencintai Gea” Alka bertanya dengan gusar.
“Suaminya sangat mencintai Gea.”
“Kenapa kau bisa yakin begitu?” Alka bertanya dan langkahnya berhenti.
“Dia tidak meninggalkan Gea, dia tetap mendampinginya walau Gea sudah terlihat tak waras lagi.”
“Tapi kalau benar Gea hamil anak jin, artinya Gea telah menjadi ibu bagi jin, anak itu akan bernasib sepertiku.” Alka teringat jati dirinya.
“Berarti anak itu beruntung, akan sepertimu, energik, berbakat dan sangat menawan, aku sih tidak yakin, karena sulit siapapun menandingimu.”
“Kau pandai bersilat lidah hanya untuk membuatku merasa nyaman.”
“Aku tidak pernah melihat seorang wanita yang lebih cantik darimu.”
“Alya secantik aku kan?”
“Kau mau membahas itu?”
“Tidak hanya teringat saja, Aku dan Alya adalah dua orang yang membuatmu nyaman dan itu membuatku kesal.” Alka berkata dan melanjutkan jalannya.
“Kenapa kau kesal?” Aditia bertanya.
“Karena bukan aku satu-satunya wanita yang ada dihidupmu.”
“Kau bukan satu-satunya, tapi terakhir dan tak akan ada lagi, karena apa yang ada di sini, sudah habis untukmu.” Aditia menunjuk dadanya, yang dia maksudkan adalah hatinya.
“Dit, kau tahu kalau kau sedang gombal begini, aku rasanya ingin memuntahkan makanan tadi yang kita makan.”
“Rayuanku sehebat itu mempengaruhimu?”
“Dit!” Alka kesal karena masih dilanjutkan.
Aditia berlari mengejar Alka yang sudah jalan cepat duluan, kesal dengan gombalan Aditia, bukan kekasih tapi tak akan pernah saling pergi.
Sementara Alisha sudah selesai hajatnya, dia keluar dari kamar mandi kamar utama, kamar yang dulu Anto dan Gea tempati.
"Loh kok kamu di sini, nyusul aku? mau pipis juga?" Hartino ada di kamar itu, dia duduk di kasurnya.
"Sini, duduk sebentar." Hartino meminta Alisha duduk di sampingnya.
Alisha menurut dan dia duduk di samping Hartino.
Hartino tiba-tiba memeluknya dan menciumi Alisha.
"Hei, kita sedang dalam misi, kau masih sempat melakukan ini?" Alisha tertawa.
"Tentu saja, kenapa tidak?" Hartino memeluk Alisha dengan erat dan mulai mencium tubuh istrinya lagi.
"Har, nanti saja ya, kita harus ikut mencari, kenapa kau malah begini?" Alisha menahan tubub Hartino agat tidak memaksanya lagi.
"Aku ingin bersamamu, tidakkah kau ingin. Eramaku selalu?"
"Tentu saja aku ingin bersamamu Har." Alisha memeluk suaminya. Tangan suaminya mulai memegang tubuh istrinya, dimulai dari wajah, lalu turun perlahan ke bawah, Alisha menikmati setiap sentuhan Hartino.
Har mulai membuka Baju Alisha, setrlah sebelumnya dia membuka bajunya sendiri. Har dalam keadaan tanpa atasan.
Sementara Alisha masih memakai pakaian dalam lengkap dan juga celana panjang, baju atasannya sudah dilepas oleh Hartino.
Hartino terus menjelajah tubuh istrinya hingga ....
__ADS_1
"Alisha!!!" Ada suara teriakan dari jendela bagian luar, suara itu mengejutkan Alisha, karena suara itu sangat ... sangat dikenalnya.
Alisha mendorong tubuh Hartino yang sedang berada di atasnya. Dia melihat ke arah jendela dan matanya terbelalak karena kaget, bagaimana mungkin ada orang di luar jendela yang sangat mirip dengan ... "HARTINO!" Alisha berteriak, dia buru-buru menyamber baju atasannya dan mendorong Hartino yang lain, Hartino yang barusan hampir saja menyetubuhinya. Alisha buru-buru memakai baju atasannya dan memastikan, yang mana suaminya!