
“Eman, ucapkan salam pada khodamku, namanya Sabdah Zaid, panggil dia Sabdah.”
Eman patuh, dia menunduk lalu memanggil ... “Sabdah ....” Walau tak bisa melihat, dia merasakan energi yang kuat di hadapannya.
“Sekarang dia sudah mengenalmu, wajahmu, baumu dan suaramu, kau temanku, dia akan membantumu jika saja aku perintahkan, maka sekarang, kau harus siap atas apapun yang terjadi ke depan, kau memilih menjadi teman dari seorang pemilik khodam, hidupmu takkan sama lagi.
Selesai mengatakan itu, Eman melihat semen yang tadinya begitu rapih menutup lahan, perlahan hancur, sejengkal demi sejengkal, seperti dicabik dengan alat berat, dihancurkan dengan kekuatan yang sangat besar.
Eman baru sadar, dia telah berteman dengan seseorang yang sangat istimewa. Eman tidak menyesal.
...
“Ada apa dengan aspalnya?” Eman bertanya pada Aditia dan kawanan, mereka baru selesai makan malam dan sedang ngopi bersama, Alisha membuatkan kopi, dia tadi masak air panas, menumpang pada rumah Wak Eman.
Kalau saja mereka tahu saudaranya Aditia telah tiada dan rumah ini kosong, pasti bawaan mereka akan lebih lengkap, seperti kompor portable dan alat masak, sedang sejak tadi begitu intens mendengar cerita Wak Eman dan juga meninjau lokasi kasus, mereka tak sempat untuk bersiap di rumah itu, beruntung Alka dan Alisha sudah membersihkan rumah itu tadi, saat Aditia sengaja mengusirnya secara halus, agar tak mendengar cerita Wak Eman mengenai kisah Aditia dan Alka kecil. Alka belum tahu, kalau Aditia telah ingat semua secara terperinci.
“Ada yang aku rasakan di sana Wak.”
“Apa itu?”
“Aku belum yakin, tapi akan kami cari tahu malam ini, mungkin juga bisa menjadi petunjuk, agar bisa menemukan Kang Jaka.” Aditia memang belum yakin, pada dasarnya semua kasus haruslah ditelisik lebih dulu secara mendalam, sebelum masuk ke kesimpulan, sering kali salah langkah karena terlalu dini mengambil keputusan.
“Jadi kalian akan jalan jam berapa ke jalan persawahan itu?”
“Segera, tapi ada baiknya di atas jam satu malam.”
“Kalian yakin, kalau kalian semua hilang bagaimana? Maaf, pamali sebenarnya kalau sampai menyatakan ini, tapi ... aku takut, kalian celaka. Setelah maghrib saja tak ada yang berani ke sana, apalagi kejadian baru-baru ini. Kalian malah mau ke sana di atas jam dua belas malam, itu terlalu berbahaya bukan?”
“Baiklah, Wak Eman, karena Wak sudah tahu semua hal tentang keluargaku, maka aku akan jujur soal sesuatu, tapi mohon maaf sebelumnya karena aku menyembunyikan ini dari awal. Kami ini datang bukan karena aku bermimpi tentang ayahku. Tapi ....
“Kami ini berenam adalah pasukan Ayi Mahogra, kami mengerjakan kasus-kasus ghaib menggantikan ayahku yang wafat saat banyak kasusnya belum selesai.
Soal jalan aspal itu adalah salah satu kasus yang ayahku belum selesaikan, kasus ini sudah ada di catatan ayahku sejak lama, kami ke sini untuk menyelesaikan kasus ini.”
“Astagfirullah! Ini beneran kalian akan bantu desa ini?” Wak Eman terlihat lega.
“Iya, kami akan bantu selesaikan kasus ini, sebisa mungkin.”
“Kalau begitu, kalian pasti orang-orang istimewa seperti Eman dan Mulyana kan?” Eman bertanya dengan semangat.
“Ya, betul sekali, kami diberikan amanah keberkahan, mampu melihat ‘mereka’ yang tak mampu mata awam melihatnya, kami juga punya ilmu yang bisa mengatasi masalah ghaib, tapi ilmu itu hanay kami gunakan untuk menolong.”
“Alhamdulillah kalau begitu atuh, saya tuh was-was dari tadi, mau cari cara supaya kalian tuh nggak ke sana malam-malam, saya takut, takut kalau kalian celaka, tapi sekarang mah nggak takut lah, kalian ternyata orang-orang berilmu, orang pintar sesungguhnya, saya tenang sekarang.”
“Jadi, Wak Eman dari tadi ke sini mau ngelarang kami karena khawatir?” Jarni bertanya, matanya berbinar.
“Benar sekali, saya tuh khawatir, takut kalian kenapa-kenapa.”
“Paman Aep beruntung ya, punya Wak Eman di sini, jadi kalau dibilang Paman Aep tidak punya kelaurga di sini, itu salah, keluarganya Wak Eman ini, yang baik hatinya.” Ganding memuji, Wak Eman terlihat tidak nyaman dengan pujian.
__ADS_1
“Yah, namanya hidup, kalau tidak saling tolong menolong bagaimana kita hidup dengan baik dan benar.”
“Kalau begitu, kalian bersiap ya, saya nggak ikut nggak apa-apa ya? saya jujur aja takut, karena katanya, yang mereka lihat itu, sungguh di luar nalar mengerikannya, hingga ....”
“Hingga apa Wak?” Hartino bertanya, dia penasaran.
“Hingga mereka lupa, apa yang dilihat di sana, mereka cuma ingat melihat sesuatu yang sangat mengerikan, apa sih namanya ya? saya lupa, ada bahasa medisnya gitu, dulu pertama kali korban jalan persawahan itu ketemu, dia seperti orang linglung, hanya ingat terus berputar di sawah itu, tapi ketemu di Bogor euy, pas ditanya, dia ingat kejadian ke jalan itu, lalu lihat hal yang sangat mengerikan, sangat man mengerikan, tapi lupa, apa yang dia lihat itu.
Rata-rata seluruh korban mengalami itu, tidak bisa memberitahu apa yang mereka lihat.”
“Korban terakhir kemarin gimana? yang baru ketemu itu?” Ganding bertanya.
“Belum sempat ditanyai. Kan, kemarin istrinya buru-buru narik suaminya pulang, takut kalau sampai ditanya soal Jaka, kita mah tahu lah, siapa yang kelakuannya nyeleneh, Jaka mah lurus, makanya kemarin istrinya buru-buru bawa balik, karena takut suaminya ketahuan bohong.”
“Kalau begitu, aku takkan ikut kalian malam ini, aku dan Jarni akan ke rumah korban itu, aku harus tahu, apakah benar dia lupa tentang kejadian menghilangnya, karena kalau sampai dia benar lupa, kemungkinan, ini bukan zona ghaib biasa.” Ganding berkata dia sepertinya curiga sesuatu.
“Baiklah, sisanya ikut aku.” Aditia mengizinkan.
“Aku ikut Ganding dan Jarni ya, biar aku tunjukkan rumah mereka, tapi akan sulit untuk bertemu dengan istrinya akang, dia itu lumayan judes dan galak.”
“Tidak akan kalau melihat seragam kami.” Ganding melirik pada Alka, Alka paham maksudnya.
“Seragam? Kalian pemburu setan punya seragam?” Wak Eman tak paham.
“Tentu saja! Seragam kami banyak, kadang dari pemerintahan, kadang dari swasta, tergantung kebutuhan.” Alka berkata sambil mengusap wajah Wak Eman, lalu seketika pandangan Wak Eman menjadi berbeda pada Ganding dan Jarni.
“Kok kalian memakai seragam Pegawai Negeri?” Wak Eman kebingungan, karena sedetik yang lalu dia baru saja melihat Ganding dan Jarni masih berpakaian kasual.
“Kapan Alka membisiki?” Wak Eman bingung.
“Setelah mengusap wajah Wak Eman.”
“Kapan wajahku diusap?” Yang lain tertawa, sungguh Paman Aep beruntung, punya sahabat seperti keluarga yang sangat polos ini, tak heran, orang baik bertemunya dengan orang baik.
Mereka membagi dua kelompok, 4 orang ke jalan persawahan itu, sisanya 3 orang ke rumah akang, teman Jaka yang baru saja ketemu itu.
...
“Ep, udah selesai, semennya udah ancur semua euy.”
“Ya, Sabdah menghancurkannya.”
“Tapi kenapa kau pucat sekali Ep?” Eman bingung, kalau jinnya yang menghancurkan, lalu kenapa dia yang pucat.
“Aku lelah Man, makanya aku butuh kau untuk ada di sini, temani aku, karena aku takut pingsan.”
“Hah? kok bisa?”
“Biar Sabdah yang melakukan, tapi dia mengambil energiku, dipakai untuk menyalurkan tenaganya, dia hidup dari menyerap energiku.”
__ADS_1
“Oh, pantas kau sangat pucat. Tak terpikir olehku, bagaimana sakti mandragunanya Bandung Bondowoso karena dia berhasil membuat candi begitu banyak.”
“Kau baru sadar dia sakti? Kau berarti tidak tahu ceritanya kenapa Roro Jonggrang menolak pernikahan itu, benar kan kataku?”
“Iya, memang kenapa dia menolah Bandung Bondowoso ya? padahal sudah dibuatkan candi.”
“Karena Bandung Bondowoso membunuh ayahnya yang seorang rhaksasa.”
“Hah? ayahnya Roro Jonggrang seorang rhaksasa?” Eman tidak tahu itu, baru dengar juga. Apa pelajaran ini luput saat dia sekolah dulu? Entahlah.
“Ya, dia membunuh ayahnya Roro Jonggrang dan tiba-tiba jatuh cinta pada Roro Jonggrang, mana mungkin anaknya mau pada pembunuh ayahnya. Balik lagi, maksudku adalah, tentu saja Bandung Bondowoso sakti, dia bahkan bisa membunuh rhaksasa dalam sekejap saja.”
Kau juga sakti Ep, sama seperti adikmu, kalian itu ....”
Terdengar suara dengkuran dari samping, Eman baru sadar, temannya itu sudah tertidur, Eman lega, karena dengkurang itu, berarti temannya tidak pingsan, melainkan hanya tidur saja.
Eman lalu membiarkan saja Aep tidur, nanti agak pagian, dia akan bangunkan, lalu mereka bisa pulang sebelum orang-orang berkegiatan.
Saat melihat malam yang semakin bergulir, dari kejauhan Eman melihat sinar yang aneh, sinar itu seperti mengawasi mereka, Eman agak ngeri, mana Aep tidur, tapi dia tak tega membangunkan temannya itu, maka dia hanya mengawasi dari jauh, kalau ada apa-apa dia akan membangunkan Eman.
Dari kejauhan, ada lima orang lelaki dengan tubuh yang kekar, mereka terlihat membawa bola api di tangannya, rupanya murid dukun ternama itu sedang mengawasi.
“Dia menghancurkan semennya.” Salah satu lelaki berkata, yang lain hanya melihat ke arah Eman dan Aep, mereka melihat dari kejauhan, bola api itu sebenarnya untuk menyerang, memastikan bahwa sawah itu takkan bisa digunakan lagi.
“Sabdah telah bebas, kita bisa saja mengambilnya lagi bukan?” Ucap yang lain.
“Bisa saja, tapi dia sudah memiliki tuan, kita harus membuatnya keluar dengan sukarela, karena saat ini, tuannya adalah segalanya, dia bisa menghajar kita kalau memaksanya keluar dan memintanya kembali.” Ucap yang lain lagi.
“Kalau begitu, mari kita laporkan pada perkumpulan, kita harus terus menyerangnya, Sabdah harus lepas dari tubuh ringkih itu.”
“Dia memang tak pantas memiliki Sabdah, kita harus pastikan Sabdah kembali segera, kita harus membuat perkumpulan kita berjaya kembali, Mulyana dan Suraep harus kita habisi.”
Mereka saling berbincang setelah mengatakan itu, mereka lalu pergi, tidak bisa menghabisi Aep saat ini juga, karena Sabdah masih berada di titik menghamba pada tuannya.
...
“Assalamualaikum.” Wak Eman mengetuk pintu rumah akang, temannya Jaka yang yang baru saja hari ini ketemu.
“Waalaikum salam.” Suara seorang perempuan, itu sudah pasti istrinya.
Pintu terbuka, Wak Eman berada di depan, dia akan meminta istrinya akang untuk mau mempertemukan Ganding dan Jarni kepada suaminya.
“Ada Wak Eman?” istrinya bertanya.
“Ini ada orang dari kelurahan, mau tanya-tanya soal akang yang baru ketemu.” Wak Eman memegang bahu istrinya akang.
“Hah?” Istrinya bingung, karena ini tidak biasa, kenapa petugas kelurahan sibuk urus hal seperti ini? lalu dia melihat dua orang berpakaian seperti pegawai negeri berdiri di belakang Wak Eman, maka benar, ini adalah petugas dari kelurahan.
“Suami saya sedang istirahat, bisa besok aja nggak, lagian sudah malam.”
__ADS_1
Wak Eman kembali menepuk bahu istrinya akang dan berkata, “Kami butuh ketemu akang sekarang juga, sekarang juga ya.” Mendengar perkataan dan tepukan Wak Eman, istrinya itu lalu diam, pandangannya kosong dan dia hanya masuk ke dalam, diikuti semua orang, tak lama suaminya keluar dari kamar, istrinya memaksa akang untuk mau bertemu dengan Ganding, Jarni dan Wak Eman.
Mereka mulai bertanya.