Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 387 : Toko Emas 17


__ADS_3

“Ka, ini lihat, ada yang aneh dengan artikel ini.” Aditia membaca satu persatu artikel yang dia dapatkan dari dark web yang dibukakan situsnya oleh Hartino.


“Alka yang juga membuka situs yang sama tapi artikel lain dengan PC lain, karena di ruangan Hartino ini ada  6 layar terpisah dan 1 layar yang merupakan gabungan 4 layar. Untuk yang satu itu, hanya Hartino yang pakai.


“Di sini dikatakan bahwa ada keluarga secara turun temurun yang selalu memiliki satu kamar yang dijadikan sebagai kamar pemujaan.”


“Nggak anehlah itu, kita sering melihat fenomena seperti itu, di keluarga Sunda, Jawa bahkan keturunan hal itu wajar jika saja keluarga itu melakukan pesugihan, Dit.” Alka terlihat kecewa dengan temuan yang terlihat biasa saja.


“Ka! Lihat dulu sini.” Aditia menarik bangku kerja beroda yang diduduki Alka, karena tarikan itu dilakukan dengan cepat dan kuat, begitu Alka sampai di hadapan Aditia, tubuhnya jatuh tepat menubruk tubuh Aditia, karena itu Aditia memeluknya. Sekarang mereka berdua berada di bangku yang sama.


“Bisakah kau melepasku?” Alka terlihat tidak nyaman, bukan karena tidak ingin, tapi takut dengan keinginan yang lebih lagi.


“Sebentar saja, sebentar saja.” Aditia memohon, mereka sedang berpangkuan.


“Dit, bisakah kau melepaskanku.” Alka meminta dengan lembut.


Aditia akhirnya melepas pelukan itu dan menarik bangku yang ada di belakang Alka agar dia bisa duduk di sana.


“Lihat foto ini, apakah kau pernah melihatnya?” Aditia memperlihatkan foto pada Alka.


“Tidak, ini seperti sesuatu yang diawetkan? Ini artikel pembunuhkan? Kriminal?”


“Bukan, ini artikel tentang kejadian ghaib, para dukun di seluruh penjuru kota ini dikumpulkan di sini oleh seseorang, mungkin Bandar dukun? Entahlah, Hartino lebih tahu, tapi banyak sekali artikel di sini, yang mengesankan adalah, ternyata tempat yang tadi aku ceritakan, bahwa ada satu keluarga yang secara turun temurun memiliki kamar pemujaan, aku mencoba menelusuri identitas satu keluarga itu dan aku menemukan bahwa … kemungkinan satu keluarga itu adalah … nenek dari neneknya pemilik toko emas.”


“Kok bisa tahu? Dari nama belakang?”


“Bukan! tapi dari toko emas itu! toko itu selalu memiliki nama yang sama, toko emas Lana Jayamerta.”


“Hah? iya betul, itu nama toko emasnya! Aku ingat karena nama toko emas itu berbeda dari kebiasaan para pemilik toko emas menamakan tokonya, makanya nama itu tertancap dengan baik di ingatanku.”


“Toko emas itu bukan pemain baru berarti.”


“Jadi ini pesugihan?” Alka bertanya lagi.


“Bukan, kau lihat kan foto yang perlihatkan? Itu adalah salah satu benda yang ditemukan oleh para warga ketika akhirnya menggerebek rumah itu, karena katanya ada begitu banyak musibah dan penyakit yang terjadi di desa mereka sejak kedatangan keluarga itu, lalu tersebarlah rumor yang menyebabkannya adalah keluarga pemilik kamar pemujaan itu, mereka membawa bala dari memuja iblis.  Makanya terjadi begitu banyak kemalangan di desa itu.”


“Aku belum pernah melihat benda itu Dit, aku baru tahu.”


“Maka kita perlu mencarinya pada kitab pemujaan, Ganding dan Jarni bisa fokus mencari yang kita butuhkan saja.” Aditia dan Alka akhirnya ke perpustakaan dengan membawa kertas yang sudah mereka print gambar yang Aditia temukan, itu adalah gambar barang yang ditemukan oleh Aditia saat mencari artikel tentang keluarga itu.


“Nding, bisakah kau tolong carikan aku ini.” Aditia memberikan kertas print itu.


Ganding Melihat kertas itu dan ….


“Aku tahu ini, aku melihatnya tadi, sebentar aku cari di buku pemujaan.” Ganding kembali ke tumpukan buku yang sudah dikeluarkan dari lemarinya, mereka mengeluarkan buku-buku itu untuk mempermudah pencarian.


“Ini dia! Kau cari ini kenapa?” Ganding bertanya.


“Ini adalah barang pemujaan yang kemungkinan dipakai oleh pemilik toko emas itu dan juga seluruh keluarga di atasnya.”


“Hah? kau yakin, berarti kau benar bahwa ini bukan pesugihan, wah, gila! Benar-benar mengerikan!” Ganding berkata dengan kesal.


Saat mereka sedang berdiskusi Alisha dan Hartino datang.


“Kalian harus dengar ini!” Hartino datang dengan mengatakan hal yang membuat semua orang penasaran.


“Ada apa?” Aditia bertanya.

__ADS_1


“Kau tahu kalau mungkin ini bukan pesugihan! Karena ada anak yang kami temukan memakai kalung yang dibeli di toko emas itu, tapi dia tidak celaka, kalau pesugihan dilakukan pemilik toko emas itu, untuk kelancaran bisnis, maka … tumbal tidak akan memandang korbannya, siapapun yang membeli emasnya akan dijadikan korban pada kurun waktu tertentu, padahal pembelian emasnya tidak terlalu jauh dari pembelian emas yang dilakukan oleh ibunya Amanda. Trus yang lebih gila lagi, rumah dari pemilik toko emas itu ada kamar ….”


“Pemujaan!” Aditia dan Alka berteriak bersamaan.


“Kok kalian tahu!” Hartino kecewa karena dia ingin menjadi orang pertama yang menyampaikannya dan itu gagal.


“Kami sudah menemukannya di web yang kau suruh kami buka.”


“Kenapa kalian juga mahir di bidang itu, kesal aku!” Hartino mengeluh karena seharusnya Aditia dan Alka tidak terlalu mahir menggunakan tekhnologi itu, sedang Hartino dan Alisha saja kesulitan menjadi tim lapangan.


“Bukan mahir, tapi kami itu gigih.” Aditia terlihat pamer.


“Trus apalagi yang kalian dapat?” Alisha tidak terlalu peduli siapa yang lebih mahir, karena dia lebih peduli jawaban dari kasus ini agar tidak terlalu berlarut penyelesaiannya.


“Ini adalah ….”



“Tujuan kami datang ke sini untuk melihat kamar itu Pak.” Aditia berkata pada suami pemilik toko emas itu.


“Kalian siapa? kenapa beramai-ramai datang ke sini?” Lelaki itu bertanya, suami dari pemilik toko.


“Kami akan langsung saja bicara yang terjadi, kami adalah kerabat dari Amanda, kami ke sini untuk menyelesaikan masalahnya, dia terkena energi hitam dari peliharaan kalian.” Aditia membuka pembicaraan.


Lelaki itu melihat dengan tatapan terkejut.


“Peliharaan apa maksud kalian?” Dia hanya mencoba untuk menyangkal dan mencari jalan untuk mendapatkan alasan hingga dapat keluar dari masalah ini.


“Bukankah keluarga istrimu juga memiliki masalah yang sama? dituduh melakukan pesugihan, apakah kau akan diam saja kelak jika keluargamu juga mengalami hal yang sama?” Ganding mulai berbicara mencoba untuk masuk ke dalam keresahan lelaki ini yang paling dalam.


“Apa maksud kalian?” Lelaki itu bertanya.


“Bukan siapa-siapa, kamu masuk ke kamar sana!”


“Tidak mau, aku bagian dari keluarga ini, aku ingin ikut andil jika nanti kejadian hal yang buruk.”


“Tidak akan ada kejadian buruk yang akan terjadi, maka kau harus patuh, masuk kamar!”


“Apa Papi tahu, mereka mulai membicarakan mami yang katanya pura-pura baik suka amal dan kasih hadiah emas untuk pekerjanya, katanya mami itu sengaja kasih hadiah agar mereka semua jadi tumbal! Apa Papi terima mami yang sudah tiada itu di hina? Aku tidak sanggup keluar bahkan hanya untuk berjemur, padahal kata Dokter aku harus sering berjemur agar tulangku bisa pulih dengan lebih cepat.”


“Kamu bisa denger Papi nggak? sekali ini aja, Papi mohon.”


“Maka sekali ini juga aku memohon, terima bantuan mereka, mungkin saja ini bantuan terakhir untuk kita, jika saja, jika saja terlambat! Maka mungkin kita akan menjadi keluarga yang diusir lagi seperti nenek dulu.”


“Diam kau!”


“Tapi aku tahu bahwa memang keluarga kita bukan keluarga biasa, kalian memeliharanya! Aku tahu!”


“Pak! benar kata putrimu, kami bermaksud membantu.” Aditia menyelak pertengkaran ayah dan anak itu.


“Tapi aku harus menjaga tuan putri, istriku mengatakan itu sebelum dia meninggal dunia, bahkan saat aku tahu, dia meninggal pun karea tuan putri. Tapi aku tak mau mengacaukan semuanya, aku hanya ingin dia berada di kamar itu, maka semua aman.”


“Tapi dia sudah keluar, apa kau tidak tahu bahwa ada satu orang korban yang sudah meninggal dunia dan satu anak hampir meninggal juga kalau saja kami terlambat menyelamatkan karena gelang itu.” Alisha tidak sabar dan akhirnya berkata.


“Gelang! Gelang apa!” Lelaki itu bertanya karena tidak tahu, bukan pura-pura tidak tahu.


“Istrimu memberi gelang emas pada anak Sum pegawai toko kalian dan anak itu memiliki gejala yang sama seperti ibunya Amanda, memar pada bagian leher hingga ke punggung. Ibu Amanda meninggal dalam waktu yang sangat cepat itu setelah membeli kalung dari toko emas istrimu. “ Ganding menjelaskan lagi.

__ADS_1


“Itu hanya kebetulan, bagaimana mungkin istriku penyebanya, memang dia Tuhan? Dia saja meninggal, kalian sedang berkelakar denganku?” Lelaki itu masih saja berusaha menyangkal.


“Kalau begitu, pakai ini di leher anakmu.” Kalung milik Amanda yang ada pada kawanan dikeluarkan dan mereka menyodorkan kalung itu pada ayahnya.


“Kenapa Papi takut?” Anak itu lalu mendekati kawanan dan bermaksud mengambil kalung itu, tapi belum juga kalungnya terpegang, papinya buru-buru menarik kursi roda anaknya dan menangis, anak itu melihat papinya menangis, terdiam, tidak menyadari bahwa selama ini yang dilakukan oleh orang tuanya adalah hanya untuk anaknya, untuk menjaga si sulung.


“Kalian boleh masuk ke sana, tapi setelah kami keluar dari rumah ini, karena kalau kami masih di sini, maka dia akan mencelakakan kami! Dia akan menuntut anakku untuk bertanggung jawab, karena selama ini kami menangguhkan semuanya, kalian boleh berbuat apapun setelah kami pergi ke tempat yang aman, tempat di mana kata Babah akan aman bagi kami, tapi kalian akan menanggung akibatnya sendiri jika saja terjadi sesuatu pada kalian setelah membuka kamar itu.”


“Tidak masalah, karena apapun yang terjadi di kamar itu, kami pernah melalui yang jauh lebih berat lagi.” Aditia setuju dan meminta kuncinya.


Tuan dan anaknya pergi entah kemana, tapi Aditia meminta alamat Babah yang dia maksud, hanya untuk berjaga-jaga jika saja kemungkinan menghadapi apa yang ada di balik pintu itu lebih berat dari dugaan, tidak dapat dipungkiri, bahwa Aka dan Aditia bahkan terpental hanya untuk masuk paksa, dan ketika mereka hendak masuk tadi, tidak terjadi apapun karena diizinkan oleh lelaki itu untuk masuk.


Para pembantu juga diungsikan, lalu Hartino memasang CCTV portable pada setiap sudut rumah, karena ingin memastikan tak ada yang mengambil kesempatan saat kawanan sedang ‘bekerja’.  Di rumah ini ada banyak harta, makanya mesti berhati-hati, nanti malah di tuduh mencuri, padahal harta mereka mungkin saja jauh lebih banyak dibanding milik keluarga pemilik toko emas ini.


Semua sudah siap untuk masuk ke dalam, Aditia paling depan, di belakangnya ada Hartino dan Ganding yang memegang bahu Aditia, di belakang Ganding dan Hartino ada Alka dan Jarni memegang masing-masing bahu Hartino dan Ganding, mereka menghimpun kekuatan persis seperti dulu menghancurkan tusuk konde milik Dewi Sundarwani dulu. Mereka tahu bahwa menghimpun kekuatan adalah strategi terbaik.


Pintu hendak dibuka dengan kunci, sudah terbuka, pintu di dorong oleh Aditia dan ... Kekuatan yang sangat besar hendak mendorong siapapun yang masuk, tapi angin itu tidak menghempaskan lagi Aditia maupun Alka, walau posisi mereka sempat mundur sedikit, membuat kaki mereka menambahkan kekuatan agar bisa masuk perlahan.


Angin itu terus saja mendorong mereka, tapi kawanan mencoba terus masuk. satu langkah demi satu langkah, Alisha sudah diberi lingkaran pagar ghaib oleh Jarni untuk berjaga-jaga dia duduk di ruang tamu memperhatikan kawanan sedang berusaha masuk tapi seperti tertahan, dia menonton dengan sangat serius, ingin ikut gabung membantu, tapi dia tak punya kekuatan ghaib.


Perlahan angin yang menahan mereka berhenti, lalu akhirnya hilang.


“Dia menyerah?” Ganding bertanya.


“Tidak, dia hilang, dia pergi.”


“Kita tidak bisa menangkapnya?” Hartino kesal.


“Setidaknya kita sudah masuk ke dalam kamar dan bisa cari tahu, apakah kita berjalan di jalan yang benar, karena entah mengapa, aku merasa kita sudah tidak tersesat lagi.” Aditia bersemangat.


Kamar itu tidak terlalu luas untuk ukuran kamar dewasa, begitu masuk, tidak ada sama sekali tempat tidur pada umumnya, hanya ada tempat tidur sedang, ukuran satu orang anak, kamar tidur itu berkelambu, bersih sekali dan tidak ada bau selain bau dupa dan bau khas itu, yang sampai sekarang bau itu tidak pernah Aditia ketahui bau apa.


“Lihat ini.” Aditia menunjuk altar pemujaan, sebuah meja kecil yang ditaruh di lantai, tepat di samping tempat tidur, karena tempat tidurnya menempel pada dinding searah dengan pintu dan jendela di sebrang pintu.


Meja altar itu tidak besar, berkaki pendek, maka kalau kau mau menggunakan meja itu, harus duduk bersila.


Di atas meja altar itu ada begitu banyak sesaji, tapi aneh, sesaji yang tidak biasa.


Ada sebuah tabung yang kira-kira tingginya sekitar 15 centi meter, berdiameter 20 centi meter, di dalam tabung tertutup itu ada patung yang berbentuk manusia kerdil, berwarna hijau, manusia kerdil itu jelas patung, tidak hidup tap Aditia dan kawanan tau, kalau benda tu ada isinya. Karena ada energi gelap yang tersisa dari benda itu.


Lalu di atas altar sesembahan itu ada dupa yang ditancap pada sebuah pot mini, dupanya berjumlah tiga batang, masih menyala. Lalu ada buah, makanan ringan kesukaan anak kecil dan juga nasi serta lauk pauknya, bukan nasi basi atau lauk pauk basi, tapi benar-benar makanan yang seperti baru saja diganti.


“Mereka memeliharanya, mereka menjaganya agar bertumbuh.” Ganding merinding melihatnya.


“Ini kenapa aku tidak mengenali baunya, karena memang bukan seperti yang kita duga sebelumnya, jelas ini bukan pesugihan.” Alka yakin akan hal itu.


“Kita pergi ke tempat Babah itu, aku akan mengambil tabung ini, entah mengapa kau merasa nanti kita memerlukannya. “ Aditia memang selalu menggunakan instingnya.


Adakah dari kalian yang pernah mereaskaan seperti yang Aditia rasakan? Kalian melakukan sesuatu, tapi tidak diperlukan saat ini, tapi tahu, kelak kalian akan butuh, makanya kalian persiapkan. Itu namanya insting, kalau sering kalian abaikan, maka akan tumpul.


Salah satu cirinya adalah begini, “Tuh kan, aku bilang apa, coba tadi aku ikutin kata hati, pasti nggak akan jadi gin ideh.” Itu artinya kalian sebenarnya sudah dituntun insting, tapi tidak kalian hiraukan.


Maka mulai sekarang coba deh, sesekali percaya insting kalian, pasti banyak hal berbeda terjadi.


_____________________


Catatan Penulis :

__ADS_1


Siapa yang mau double up lagi? komentar ya, kalau banyak komentarnya aku kasih double up.


__ADS_2