
“Kak, belum berangkan?” Amanda yang baru pulang dari menjual kalung tiba di rumahnya, kakaknya belum jalan ke kantor.
“Belum, kan kakak siang.” Kakaknya sedang makan nasi uduk, ketika bangun dia tidak melihat adiknya dan membeli sarapan untuk mereka, dia pikir adiknya ke pasar untuk makan siang.
“Kak, tadi aku ke toko emas, mau jual kalungnya, kan kalungnya sudah dikembalikan oleh bos-bos kakak itu, trus ....”
“Kok dijual? Kan itu peninggalan ibu.”
“Nggak! itu kalung laknat, aku nggak mau pakai, aku jadi ingat terus kalau ibu meninggal karena ... aku.”
“Manda, kakak nggak suka ah kamu ungkit-ungkit itu lagi, itu bukan salah siapa-siapa, sudah takdir, kalung itu hanya perantara, kamu juga nggak niat bunuh ibu kan, kamu malah menyenangkannya sampai akhir hayat, ibu pasti bangga, melihatmu tumbu menjadi anak yang baik dan membanggakan, kakak aja bangga punya adik kayak kamu.” Kakaknya menarik tangan adiknya untuk sarapan bersama.
Bahkan hubungan mereka jauh lebih baik dibanding dulu saat ibu ada, terkadang, memang perlu ada kematian untuk menyadarkan seseorang. Banyak diantara kita punya pengalaman buruk dengan saudara, lalu bisa akur setelah orang tua tiada.
“Iya Kak, makasih ya.” Lalu mereka mulai sarapan bersama di meja makan.
“Trus tadi kamu mau cerita soal apa?” Kakaknya Amanda mengingatkan kalau tadi dia mau cerita sesuatu setelah menjual kalung emasnya.
“Oh ya, itu kak, kan di toko emas itu yang jaga Bu Sum sama anaknya pemilik toko emas itu trus ....”
“Kenapa?”
“Trus aku dan Bu Sum melihat di kaca, kalau ... kalau ... itu bukan anaknya pemilik toko emas, tapi itu ... se ... setan yang aku lihat di atas keranda ibu!” Amanda mendekat ke kakaknya karena takut.
“kamu serius, Amanda!” Kakaknya terlihat tegang juga, takut mungkin. Mereka berdua duduk berdempetan.
“Kak, berarti bener ya yang dibilang sama bos-bosmu itu, kalau pemilik toko memelihara anak ambar, mereka kemarin jelasinnya gitu kan?” Amanda dan kakaknya memang sudah dijelaskan tentang yang terjadi, memastikan bahwa mereka tidak akan menganggap ini pesugihan, hal ini dilakukan karena sudah jadi turun temurun bahwa keluarga itu difitnah melakukan pesugihan karena toko emas itu berkembang dari nenek ke cucu dan seterusnya.
Apalagi ada anggota keluarga yang meninggal, dianggapnya, keluarga itulah yang dijadikan tumbal. Padahal anak yang meninggal itu dijadikan anak ambar karena tidak terima atas perintah Tuhan.
Dan seperti kutukan pada keluarga mereka kalau anak yang lahir ada saja yang meninggal, lalu akhirnya terpanggillah anak ambar.
“Kasihan ya kak, kalau emang itu anak ambarnya, eh tapi ... kalau itu anak ambarnya, trus anak yang aslinya di mana? Bukannya itu anak yang masih hidup, aku bingung.” Amanda berpikir keras.
Kawanan memang tak memberitahu tentang kakak yang dirasuki adik, karena itu adalah rencana yang seolah kawanan tidak ketahui, maka biarlah begitu adanya, Amanda juga takkan menjadi sesorang yang terlibat untuk pemulangan adik ini.
“Udahlah, kita nggak usah pikirin, yang penting sekarang kita fokus cari uang dan lulus kuliah, biar bisa banggain ibu dan juga ayah yang entah di mana, yang penting kita harus sukses. Kamu jangan mikirin yang lain lagi.” Kakaknya mencoba untuk menenangkan adiknya.
“Iya kak, tapi nanti kasih tahu aja bosnya kakak, supaya mereka tahu kalau ada yang aneh sama anaknya yang punya toko emas itu.”
“Iya Man.”
Mereka berdua lalu meneruskan lagi sarapannya.
__ADS_1
...
“Cici udah waktunya pulang ya.” Sore itu akhirnya datang, Sum sepanjang jaga, dia berada di luar toko, ketakutan, dia tetap melayani pelanggan, masuk ke toko jika hanya ada pelanggan, tapi jika tidak ada, maka dia memilih untuk tidak masuk ke toko. Apa yang dia lihat di kaca bersama dengan Amanda membuatnya ketakutan.
Amanda pun sebelum pulang, tadi dia bercerita bahwa, ketika ibunya dimakamkan, dia melihat sosok itu di atas keranda ibunya, sosok yang duduk itu menggoyangkan kakinya dan sedikit ... berdendang.
Amanda ketakutan karena apa yang dia lihat masih sangat semengerikan ketika itu dan buru-buru pulang setelahnya.
“Bu Sum, yuk kita tutup dulu rukonya.” Sum gemeteran, dia hendak menaruh perhiasan di lemari dalam ruang penyimpanan, tapi takut kejadian lagi seperti tempo hari sosok itu mengampirinya.
“Mau aku bantuin untuk masukin emas-emasnya ke dalam lemari?” Amanda bertanya.
Sum menggeleng dan langsung membereskan semua emas dengan terburu-buru, setelah semua masuk, kakak dan papi hanya memperhatikan saja, karena Sum bersikeras tak mau dibantu, dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya berdua saja dengan kakak yang wajahnya berbeda saat di kaca.
Setelah selesai memasukkan semua emasnya, mereka menutup pintu rolling door dan Sum buru-buru pamit.
Kakak tidak terlihat bingung, dia memang masih anak-anak, maksudnya si adik dalam tubuh kakak.
“Bu Sum!” Adik berteriak tiba-tiba memanggil, Sum berbalik karena namanya dipanggil.
“Kenapa?” Sum mencoba tetap tenang, walau dalam hati dia begitu takut.
“Besok jaga bareng sama aku lagi mau?”
“Yuk pulang, Pi.” Adik dalam tubuh kakak itu menggandeng Papi dan mereka berdua akhirnya pulang masuk ke mobil dan hendak pulang ke rumah.
“Tadi Cici jaga toko senang?” Papi bertanya.
“Iya seneng, Bu Sum itu baik, pelanggan juga banyak.”
“Cici tahu, kenapa mami sangat sayang sama toko emas itu? dulu sempat bangkrut tapi mami berusaha untuk menjaga toko emas itu agar kelak bisa menjadi warisan untuk kakak dan ....”
“Adik ya, Pi?”
“Iya bener, maaf ya, Papi nggak bermaksud untuk mengungkit itu.” Papinya tersadar kalau itu pasti menyakiti hati kakak, karena membahas soal adiknya itu.
Padahal yang dibicarakan Papi, adik sudah dengar langsung, kan dia merasuk tubuh kakaknya.
Mereka masih di dalam mobil yang dikendarai oleh supir.
“Pi, Papi sayang nggak sama adek?” Makhluk itu tiba-tia bertanya pada papi yang masih terkecoh dengan penampilan ghaibnya itu.
“Kok tumben nanya kayak gitu?” Papi heran karena ini di luar kebiasaan adek.
__ADS_1
“Mau tahu aja.”
“Tentu saja sayang, adik dan cici itu hidupnya mami dan papi.”
“Kalau mami sayang nggak sama adik?” Dia bertanya lagi.
“Iya sayang kok, kamu juga sayang kan ke adik?” Papi bertanya pada kakak yang bahkan tidak bisa mengendalikan tbuhnya sendiri.
“Iya sayang, aku maunya sayang.” Kakak akhirnya terdiam.
Mereka sampai rumah lalu ke kamar masing-masing.
“Cici sayang nggak sama adik?” Adik bertanya karena tadi tidak puas dengan jawanan papi.
“Sayang.” Cici jawab dengan cepat.
“Kalau sayang, boleh nggak aku di tubuh Cici selamanya?” Adik bertanya, dia menghadap meja rias, karena hanya di depan kaca ini mereka bisa mengobrol.
“Tidak.”
“Kenapa Ci?” Adik bertanay dengan kesal.
“Karena ini tubuhku, bukan tubuhmu!” Cici berteriak.
“Berarti sama kayak dulu ya Ci, kalau Cici nggak peduli apa yang aku rasain, dulu kita rebutan kaus putih itu kan?”Adik mengungkitnya kakak diam saja.
“Cici tahu nggak, kenapa adik masih di sini? kenapa adik nggak bisa pulang? Karena adik takut sendirian.”
Kakak terdiam.
“Cici tahu nggak, saat itu sakit banget Ci, truk itu melindas tubuhku, sakit sekali.”
Kakak masih terus terdiam.
“Trus tiba-tiba aku melihat cici diam saja, cici gemetar dan tubuhku hancur, aku melihatnya, mungkin itu saat aku akhirnya mati.
Lalu setelahnya ada yang menjemputku, aku lalu pergi meninggalkan kalian, aku melihat cici terus menatapku dengan diam, Cici waktu itu apa yang kamu rasain?” Adik bertanya karena memang penasaran.
“Waktu itu ... waktu itu ... aku ingin adik nggak ditabrak truk, kita berantem lagi dan rebutan kaosnya, saat mami bilang kalau adik udah nggak ada, aku tanya kaosnya, karena kalau kaos itu ada, mungkin kamu akan balik lagi dan merebut lagi barang-barangku, aku ....”
“Cici sayang nggak sama aku?” Adik bertanya lagi.
“Nggak, karena kamu suka rebut barang-barangku.”
__ADS_1