Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 543 : Mulyana 49


__ADS_3

Mulyana kembali ke rumah sakit, dia melihat Dirga sedang berbaring tapi tak tidur. Begitu Mulyana masuk Dirga langsung menghampiri dan tak sabar untuk bertanya tentang apa yang dia dapatkan dari istri Yoga itu.


“Bagaimana kau bisa masuk tadi?” Dirga bertanya.


“Aku terpaksa menggunakan gendam, makanya bisa masuk rumah sakit, karena jam besuk kan sudah selesai, jadi seharusnya tak ada yang bisa masuk kecuali petugas medis atau orang-orang yang khusus harus datang ke rumah sakit karena keadaan tertentu.”


“Kau bisa gendam?”


“Tentu saja, itu mudah, ilmu paling rendah di ranah praktisi ghaib, makanya siapapun bisa jadi penjahat gendam.”


“Kau tak ingin menjadi penjahat gendam menggoda banyak wanita?” Dirga menggoda sahabatnya.


“Kau itu! kami ini orang yang memiliki harga diri, jadi takkan pernah melakukan itu, mengambil uang dari hasil menolong masalah ghaib saja kami haram, apalagi itu.”


“Santai, aku cuma bercanda, jadi, gimana dengan ibu Yoga?”


“Hmm, pelakunya adalah orang memang memiliki keuntungan dengan matinya perempuan itu.”


“Yang memiliki keuntungan dan kepentingan tepatnya,” Dirga menambahkan.


“Ya, betul. Siapa saja yang memiliki kepentingan?””


“Pertama Yoga karena dia selingkuhannya, kedua Badrun karena takut nama baik tercemar, kau tahu kan, saat mereka menjalin hubungan, Badrun sedang jaya-jayanya, lalu tentu saja istri Yoga, yang mungkin tahu perselingkuhan itu, terakhir, Ibu Badrun, ingin menyelamatkan anak dan suaminya agar tidak jatuh terperosok karena ulah perempuan luar yang dianggap tak sepadan dengan keluaga mereka.” Dirga memiliki analisa yang baik.


“Satu orang lagi, kau lupa?” Mulyana bertanya.


“Siapa?”


“Mertuanya Yoga, bukankah katanya Yoga bertemu ayah dan ayah mertuanya saat ketahuan selingkuh?” Mulyana mengingatkan.


“Ya, itu satu lagi.”


“Lalu apakah kamu sudah tahu siapa tersangkanya? Aku merasa kau sudah mencurigai satu orang.”


“Ya, aku sudah curiga dengan satu nama, jujur, aku curiga pada ayah mertuanya.  Aku pernah mendengar bahwa ayah mertuanya ikut menuntut agar Yoga mengakhiri kisah cintanya dengan wanita itu.”


“Lalu apakah kau sudah cari tahu ayah mertuanya? Siapa dia, sekaya apa dia dan sekarang bagaimana keadaannya?” Dirga bertanya.


“Aku sudah sempat bertanya kemarin, tapi kata istrinya Yoga, ayahnya tinggal di luar negeri bersama ibunya, mengurus usaha mereka di sana.”


“Yoga dan istrinya pasangan yang sepadan, rupanya.”


“Tentu saja, makanya pernikahan mereka tidak boleh hancur, karena ada bisnis yang melatarbelakanginya.” Mulyana berkata.


“Ayahmu begitu tidak?”


“Maksudmu?” Mulyana tidak mengerti maksud perkataan Dirga.


“Calon istrimu harus sekaya kalian.”


“Sepertinya tidak, tapi aku ingin menikah dengan wanita yang juga Kharisma Jagat sepertiku.” Mulyana jadi tersenyum saat mengatakan itu, karena dia memang sangat ingin menikah dengan wanita yang sama profesi dengannya. Tentu profesi di ranah ghaib.


“Oh begitu, apa itu wajib?”


“Wajib, tapi ayahku melanggar, dia menikahi wanita biasa, ibuku, dia wanita hebat, tapi jujur, aku membayangkan dapat berjuang dengan seorang wanita yang memiliki kemampuan yang mirip denganku, pasti akan sangat menyenangkan. Wanita yang sangat mengerti aku.” Kelak, kalian semua tahu, bukan ini jalan hidup yang akhirnya Mulyana pilih dan tak sekalipun dia menyesal dengan pilihannya, karena dia bahagia memiliki istri dan anak yang sangat cantik dan tampan, aku tidak perlu mengulang kisahnya bukan? kalian pasti sudah hapal dengan kejadian itu. Tapi apakah kalian tahu, apa yang membuat Mulyana akhirnya berputar arah dalam memilih jodoh? Dalam bab-bab ini kalian akan menemukan benang merahnya.


“Kau ternyata punya tipemu sendiri.”

__ADS_1


“Kalau kau?”  Mulyana bertanya balik.


“Aku hanya ingin wanita biasa yang mencintaiku, hidup sederhana, punya anak banyak dan bisa pensiun dengan tenang saat tua nanti.”


“Wah jauh sekali ya, kau ini memang berpikiran sangat maju. Tapi itu kejauhan ga sih?” Mulyana meledek.


“Sudahlah, kau fokus untuk sembuh dulu, kita masih banyak perkerjaan.”


“Baiklah bapak asisten.”


“Asisten” Dirga bingung.


“Katanya aku harus berjanji untuk selalu melibatkanmu, makanya kau itu asistenku.”


“Wah!!! Ya, tentu saja, kau harus menepati janji, awas kalau saja kau berani tidak melibatkanku, aku adalah partnermu ya, ingat itu!” Dirga sangat senang karena dilibatkan.


...


Hari berlaru, Mulyana sudah sembuh dan hari ini adalah jadwalnya pulang, proses penyelidikan ibu Badrun masih berjalan, tapi masih kasus Mulyana, karena Drabya punya banyak uang, maka Ibu Badrun tidak bisa seenaknya menyuap para oknum Polisi untuk berhenti melakukan penyelidikan.


Maka sekarang dia menemukan lawan yang sepadan.


“Ep, tolong temani ibu ya, aku akan langsung ke penjara, aku harus temui Ibu Badrun.”


“Dia mau bertemu denganmu?” Aep bertanya.


“Aku sudah memaksa Pengacaranya untuk berbicara, aku bilang punya tawaran bagus, jika saja dia mau bicara tentang apa yang terjadi sebenarnya padaku.”


“Kau menggunakan tragedi yang kau alami untuk mendapatkan informasi?” Aep bertanya lagi.


“Kau benar-benar menakutkan, adik.” Aep meledek.


“Siapa dulu kakaknya?”  Dibalas dengan tenang, sementara Dirga sudah bersiap dengan motornya di luar.


“Bu, ayah kemana?” Mulyana bertanya, karena dia sudah tak melihat ayahnya sejak terakhir ayahnya ke rumah sakit saat pertama kali dia masuk karena tertembak itu.


“Ayah sedang mengurus para dukun yang mulai merajalela.” Aep berkata pelan, karena ibunya tidak tahu, terakhir banyak serangan ke rumah, pagar sempat hampir runtuh, tapi ayah tahu, makanya dia segera mengirim beberapa khodam untuk menanganinya. Sejak itu ibunya Mulyana jadi lebih ketakutan, karena dia merasa para dukun mampu untuk mencelakai meraka.


“Maaf ya Ep, aku tidak bisa di sana untuk menjaga kalian.”


“Tenang saja, kan ada banyak khodam di dalam rumah, jadi kau tidak perlu hadir, tenang saja.”


“Kau yakin Ep?” Mulyana tidak tahu bahwa kondisi rumah juga tidak baik.


“Tenang saja, aku memang kosong, tapi aku juga pernah memiliki khodam jadi tenang saja, ibu aman kok.”


“Aku tidak mau jadi orang yang banyak membantu orang tapi tidak mampu melindungi keluarga.”


“Kan kau tahu, bahwa memang tak mudah jadi bagian keluarga Kharisma Jagat, akan sangat berat mengemban itu, kita semua sudah paham dengan baik, kalau kemungkinan terburuk selalu kita amini sebagai sesuatu yang mungkin terjadi, jadi tenang saja, semua yang terjadi di depan adalah takdir. Yang penting, selalu berbuat baik ya adik, kau itu orang yang hebat dan baik, terus seperti itu ya.”


“Tumben sekali, kau jadi romantis, ketularan Dirga ya?”


“Ih menjijikan sekali disamakan dengan pemuda melankolis itu, menjunjung tinggi persahabatan seperti ABG saja, jangan samakan, aku tak ingin menjadi lembek seperti dia, kelakuan Rambo, tapi hati Rinto, tidak usahlah.”


“Baiklah, sekarang aku akan pergi dengan Dirga, kau hati-hati ya.”


“Bu, aku pergi ya, administrasinya sudah selesai kan?”

__ADS_1


“Ya, Nak, jaga diri ya, jangan celaka lagi.” Ibunya baru saja selesai membereskan semua barang Mulyana dan sudah kembali dari tempat pembayaran.


Mulyana mengangguk dan akhirnya pergi.


Dirga sudah menunggu sejak tadi, setelah Mulyana duduk di motor itu dengan nyaman, dia baru menjalankan motornya.


Mereka langsung menuju tempat di mana Ibu Badrun ditahan, kantor Polisi yang memiliki sebuah penjara sementara.


Setelah bertemu dengan Polisi untuk meminta izin bertemu, Mulyana dan Dirga diberi ruangan untuk berbicara secara pribadi.


Ibu Badrun diantarkan oleh seorang Polisi, dia masih memakai pakaian biasa, tidak memakai pakaian tahanan, padahal semua tersangka harus memakai baju tahanan, uangnya masih banyak untuk menyuap para oknum yang mampu memberikan fasilitas berbeda asal hitungannya pas.


“Pengacaraku bilang, kau akan mencabut laporannya?” Ibu Badrun begitu duduk langsung berkata. Dia terlihat berbeda dari pertama kali bertemu, dulu dia seperti nenek-nenek biasa yang sangat santun dan bahkan dermawan, tapi sekarang, dia terlihat seperti nenek lampir yang arogan.


“Dengan satu syarat.” Mulyana mengiyakan, tapi tidak lupa bahwa dia butuh informasi.


“Kau ini, siapa sebenarnya? Kau bukan musafir miskin, kau itu anak orang kaya yang mampu membuatku mendekam di penjara, apakah kau suruhan dari keluarga wanita itu?” Ibu Badrun bertanya.


“Bukan, aku hanya orang-orang yang memiliki tugas membantu masalah ghaib.”


“Wah, bayaranmu pastilah sangat besar, makanya uangmu banyak.”


“Kau salah, aku memang terlahir dari keluarga kaya raya, jadi jangan sok paling kaya, kau bisa bayar oknum Polisi 1 kali, keluargaku bisa membayar oknum tersebut tiga kali lipat lebih besar dari uang yang kau berikan pada para oknum itu.”


“Anak muda yang brengsek, kau mau apa?”


“Beritahu aku kejadian yang sebenarnya.”


“Sudah kubilang aku tidak tahu! Wanita itu memang pantas mati, jadi buat apa diusut lagi?”


“Kau tidak ingin anakmu bebas dari sakit anehnya?” Mulyana mengingatkan bahwa Yoga sakit mental karena ruh wanita itu.


“Dia hanya stress karena wanita yang dia cintai dan ayahnya mati, sudah itu saja.”


“Baiklah, jika kau bersikeras, maka kau akan dipenjara untuk waktu yang sangat lama. Aku dan uang keluargaku akan memastikan, kau bahkan mungkin akan aku tuduh sebagai dalang dari pembunuhan itu.” Mulyana mengancam.


“Kau mengancamku!” Ibu Badrun terlihat marah.


“Tidak, itu bukan sekedar ancaman, itu akan jadi nyata kalau kau tidak mau memberitahu kejadiannya.”


“Aku ingin kembali ke selku!” Ibu Badrun menolak dan berteriak, dia berdiri didampingi oleh seorang Polisi untuk membawanya kembali ke sel tahanan sementara. Tapi Dirga buru-buru menahannya dengan memegang bahu Ibu Badrun lalu berbisik seperti ini ....


“Aku tahu pelakunya, dia adalah ....” Nama itu dibisikkan oleh Mulyana, lalu seketika membuat Ibu Badrun meloto, dia terkejur, karena nama yang disebut, sungguh sangat tepat.


“Bagaimana kau tahu!” Ibu Badrun bertanya dengan lemas, sepertinya diam memang harus memberitahu ceritanya dan tidak bisa mengelak lagi.


“Karena aku menganalisanya, sudah pasti orang ini, dia yang paling mungkin, tapi aku ingin tahu, apa landasannya melakukan itu!”


“Kau akan benar-benar mencabut laporan dan membiarkan aku keluar kan?”


“Sebagai istri Polisi kau pasti tahu kalau aku cabut pun, proses hukum akan berjalan, karena ini tindak pidana yang mengancam nyawa, tapi kita juga sama-sama tahu, begitu aku cabut laporan dan membiarkanmu lepas, maka sisanya kau mampu tangani dan bisa bebas dengan nyaman, begitu kan?”


“Ya, aku hanya butuh kau mundur dan jangan ikut campur, aku pasti bisa keluar dari sini.”


“Akan aku cabut tapi sekarang duduk dan ceritakan apa yang terjadi sebenarnya?”


“Baiklah, jadi begini ceritanya ....”

__ADS_1


__ADS_2