Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 328 : Bangga 6


__ADS_3

“Berat ini.” Mereka semua berkumpul di kantin, Ganding membuka pembicaraan, semua orang terlihat makan lebih banyak.


“Ini masih anak manusia, masih bisa terlihat wujudnya, bagaimana dengan mereka yang tidak terlihat? Bahkan mereka lebih ringkih dibanding anak-anak ini. Seperti Adit tadi sudah membuat anak perempuan itu marah, Aditia hanya dimusuhi satu kelas, kebayang nggak kalau dia melakukan itu pada anak ruh itu? bisa hangus tubuhnya terbakar amarah anak itu.” Alka masih kesal pada Aditia yang bisa santai saja padahal yang lain sibuk.


“Aku tidak terlalu pandai mengurus anak kecil.”


“Dit, siapa yang pandai mengurus anak kecil? Semua orang juga awalnya nggak bisa. Kau pikir seorang ibu langsung pandai mengurus anak begitu selesai melahirkan? Ia bahkan harus sibuk beradaptasi dengan kebiasaan bayi yang baru lahir, di mana jam tidurnya kacau, belum mengenali waktu pagi, siang dan malam. Tapi ibunya pelan-pelan sembari tetap mengikuti ritme bayinya, lalu perlahan mengajarkan bayinya waktu yang tepat untuk tidur, bangun dan sebagainya!”


“Itu kamu tahu Nding, kenapa mengeluh?”


“Aditttt!!!!” Semua orang menegurnya.


“Aku bingung, serius!”


“Gawat ini, kita cuma punya waktu sebulan, malah targetku hanya dua minggu di sini, lalu mengganti tubuh kita dengan jin yang menyerupai, aku pikir ini akan lebih mudah jika berlatih, tapi aku salah, ternyata pelatihan ini juga mengerikan!” Alisha merapihkan rambut panjang yang indah itu, dia tidak tahu kalau ternyata mengurus anak sangat melelahkan.


“Ini belum sampai seharian, tapi kita sudah kewalahan.” Jarni mengingatkan.


“Kita pakai gendam saja ya?” Hartino tiba-tiba berkata.


“Kau mau disidang Ayi! Memakai gendam kepada anak kecil, kita bisa dipenjara di AKJ. Lagian tujuan kita di sini mencari tahu caranya mengatasi anak kecil, bukannya mengataasi mereka dengan mudah dan singkat.” Ganding mengingatkan.


“Aku nggak akan sanggup Nding kalau harus sebulan penuh.” Hartino jujur, yang lain mengangguk.


“Taruhannya nyawa kita kalau langsung bertempur dengan anak-anak itu, ingat sedikit saja mereka tergores, habis hidup kita.” Ganding kembali mengingatkan.


“Kau ini masih punya semangat Nding, memang kau mau buru-buru punya anak?” Aditia masih saja bercanda.


“Kau mau kuhajar?” Jarni mengepalkan tangannya.


“Bercanda Jarni.”


“Nggak lucu!” semua orang berkata dengan kesal pada Aditia secara serempak lagi.


Mereka lalu makan siang dengan sangat lahap dan maju ke medan perang lagi.


...


“Ani, makan dulu yuk.” Ibunya menyiapkan makanan untuk Ani.


Ani yang berwujud ruh duduk di meja makan tersenyum.


“Ani, seneng kan Ayah pulang setiap minggu?” Ayahnya duduk di meja makan, mereka makan seperti keluarga pada umumnya, ayahnya tetap bekerja, ingat jika anaknya telah tiada dan sadar bahwa anaknya sat ini bukanlah manusia lagi. Karena dengan tanganny sendiri, dia telah mengubur anaknya di liang lahat. Dia sadar kalau ini salah, tapi ini lebih baik daripada benar-benar kehilangan anaknya.


“Ani ibu beliin baju baru buat kamu, nanti kita coba ya.” Ibunya terlihat sangat senang, mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Ani juga bahagia, dia senang masih bisa bersama ayah dan ibunya, walau dia merasa sangat kedinginan dan sakit sekujur tubuhnya, tapi bisa dia tahan agar tetap bersama orang tuanya.


...


“Bagus, lagi belajar Nak?” Ibunya bertanya pada anak yang saat ini duduk di bangku kelas empat SD, Bagus anak yang sangat cerdas, tapi sayang, Bagus tidak terlalu disukai karena dia anak pindahan yang cukup tertutup, dia lebih suka belajar dibanding bermain, makanya dia sering di kerjai teman-temannya.


“Iya Ma, lagi belajar.” Bagus hanya menjawab tanpa menoleh.

__ADS_1


“Main di luar sana, tuh teman-temanmu sedang main di lapangan depan rumah, Bagus main ya.” Mamanya membujuk.


“Bagus nggak suka main bola, panas, bagus sukanya main yang di dalam rumah aja.” Bagus memang paling tidak suka berkeringat, dia anak yang rapi dan bersih, dia tidak terlalu suka bermain yang kasar. Tidak ada kelainan dalam dirinya, dia hanya tidak suka permainan yang kasar khas anak laki-laki.


“Bagus, yuk. Mama mau lihat bagus lari-lari di luar bareng temen, ketawa-ketawa, belajarnya nanti aja.”


“Nggak mau Ma, Bagus nggak suka!”


“Bagus! Cepet main di luar, jangan bikin malu, kamu tuh anak pindahan, harus belajar main sama anak sini, bisar kamu nggak dirundung sama anak-anak itu, kamu itu lemah sekali di mata mereka, ayo kamu harus kuat.”


“Ma!” Bagus akhirnya berlari ke luar rumah, bukan untuk main tapi benar-benar keluar rumah, hanya ingin pergi dari ibu yang suka memaksa.


“Bagus kenapa Bu?” Tanya seorang tetangga yang kebetulan ada di dekat rumah itu, dia sedang berjalan.


“Susah bilanginnya, dia tidak suka bergaul. Sukanya di rumah saja.”


“Bu ati-ati, tuh anak tetangga depan, anaknya sedari kecil nggak suka permainan anak laki-laki, eh gedenya gitu, berdandan seperti perempuan, ati-ati bu. Di bilangin dari sekarang, biar nggak telat.”


“Ih amit-amit Bu, duh ... gimana ya caranya?” Ibunya Bagus bingung.


“Kuantar ke tempat yang bisa bantu mau?” Ibu tetangga itu berkata, ibunya Bagus bingung, tapi dia mengiyakan saja.


“Besok ya, nggak mahal kok bayarnya, seikhlasnya aja.” Ibu tetangga itu lalu berlalu.


Magrib tiba, Bagus pulang dengan keadaan masih rapi dan dab bersih, dia memang anak yang menjaga kebersihan dan kerapihan meski lelaki, tapi tidak ada yang salah dalam dirinya.


“Bagus makan sini.” Ibunya sudah mempersiapkan makan malam, ada kakaknya bagus yang duduk di bangku SMA dan ayahnya, mereka terlihat tak peduli dengan Bagus.


Bagus duduk dan bersiap untuk makan.


Bagus lalu menyingkirkan nasinya, dia menyisakan hanya sedikit nasi pada piring, lalu makan.


“Bagus, Papa denger tadi nggak mau main di lapangan? Kenapa?” Papanya yang dari tadi fokus makan bertanya.


“Bagus nggak suka main di luar Pa, panas, nanti keringetan, kotor.”


“Anak laki-laki kok takut kotor, apa mau ikut latihan voli sama Kakak?” Kakaknya kesal mendengar adiknya lemah begitu.


“Nggak mau.”


“Trus maunya apa? main boneka-bonekaan? Main masak-masakkan? Atau main berbie?!” Papanya meninggikan suara.


“Bagus nggak suka main boneka, main berbie, Bagus sukan di dalam rumah, main puzzle, main mobil-mobilan, tapi di dalam rumah!” Bagus tidak mau kalah, setelah mengatakannya, dia lalu pergi ke kamar tanpa menghabiskan makanannya.


“Itu makanya kamu kalau didik anak yang benar! Lihat, masa anak kemayu begitu kamu biarin, bodoh kamu!” Suaminya berkata dengan kasar, ibunya Bagus hanya diam, dia merasa bahwa memang dia yang kurang dalam mendidik.


“Nanti deh aku yang ajar dia buat latihan fisik, mama nih yang salah, kenapa dia dimanja, mentang-mentang bungsu.”


“Ya, Mama memang salah, kamu bantu ya, biar adikmu jangan kayak gitu lagi.”


Padahal Bagus tidaklah kemayu, dia memang tipikal anak yan suka eksperimen, bahkan puzzle yang dia buat sangat rumit, bukan puzzle dengan papan yang sederhana, tapi sudah ratusan bagian yang harus dia buat.

__ADS_1


Terkadang dia menghabiskan waktu untuk menyusun puzzle itu, satu demi satu,  dia sangat suka kegiatan yang penuh konsentrasi begitu, bukan kegiatan lari dan sebagainya yang memerlukan pergerakan pada fisik secara ekstrim. Dia suka kegiatan yang melibatkan otak.


Orang tuanya bukan tidak paham, tapi tidak mau paham, tergerus oleh stigma anak laki-laki harus main di luar, panas-panasan, lari-larian seperti anak lain.


Pagi tiba, semua anak sudah sekolah dan papanya Bagus juga sudah pergi kerja, mamanya Bagus menunggu seseorang, tetangga yang katanya punya cara membantu agar Bagus bisa normal kembali, padahal anak itu tidak ada kelainan.


“Ayo Bu, tenang saja, dia bisa bantu kok.” Tetangga itu dan mamanya Bagus akhirnya pergi ke suatu tempat yang tidak terlalu jauh dengan angkutan umum.


Begitu sampai, mereka langsung masuk ke suatu gang di gang itu paling ujung ada sebuah rumah yang cukup besar, rumah itu memiliki halaman yang sangat luas, bahkan halamannya jauh lebih luas dibanding dengan bangunan rumah, halaman itu masih berupa tanah dan ditumbuhi banyak tumbuhan.


“Ini rumah Mbah Endi, kan udah saya ceritain kemarin, dia biasa bantu anak-anak yang bermasalah, tenang aja, anak di lingkungan kita udah biasa dia tangani kok.” Tetangga itu menjelaskan.


“Iya.”


Mereka berdua lalu masuk ke ruang tamu, Mbah Endi sudah ada di dalam, seolah menunggu mereka.


“Mbah, ini mamanya Bagus, anaknya ....”


“Sudah tahu, duduk dulu.” Mbah Endi meminta dua orang wanita dewasa itu untuk duduk.


“Mbah anak saya ....”


“Kamu yang salah didik dari awal, dulu waktu kecilnya kamu sangat menjaga dia dengan berlebihan bukan? tidak boleh makan sembarangan, tidak boleh kotor dan semuanya serba dijaga, tidak heran anakmu lemah begitu.”


Ibunya Bagus takjub, karena Mbah Endi tahu permasalahannya dan tepat sekali perkataannya, mamanya Bagus memang berlebihan menjaga Bagus karena untuk mendapatkan Bagus dia harus menunggu selama lima tahun dan keguguran dua kali, jadi begitu Bagus lahir, dia dijaga sangat ketat oleh ibunya, ibunya terlalu ketakutan Bagus terluka, lalu saat sudah membuat Bagus jadi tidak suka ke luar rumah dan kegiatan luar rumah, Bagus dipaksa kembali melakukan sesuai yang orang-orang anggap baik, tidak ada yang memikirkan apa yang Bagus inginkan.


“Iya bener Mbah, tolong ya mbah.”


Lalu setelah selesai, mereka berdua akhirnya pulang ke rumah, tepat saat itu harus sudah sore, Bagus sudah pulang sejak tadi, tapi tidak ada ibunya, kunci dititip ke tetangga, begitu pulang, ibunya melihat Bagus sedang belajar, kesal sekali ibunya melihat itu, tapi sesau perkataan Mbah Endi, dia harus sabar.


Mamanya Bagus lalu ke dapur masak dan setelah itu dia memanggil Bagus untuk makan. Yang lain belum pulang, kakanya Bagus harus berlatih karena akan ikut pertandingan, sedang papanya masih lembur, jadi hanya mereka berdua untuk makan malam.


“Enak Nak?” Ibunya bertanya, mereka telah selesai makan.


“Iya enak Ma.” Bagus berkata dengan senang, ibunya telah berkata lembut lagi padanya, sejak pindah ke rumah ini, ibunya jadi lebih kasar, padahal di rumah sebelumnya tidak, rumah sebelumnya memang komplek perumahan yang sepi, jadi kebiasaan Bagus untuk di rumah saja setelah pulang sekolah tidaklah mencolok, semua orang begitu.


Tapi sejak papanya dipindahkan ke sini dari kanntornya, mereka tinggal di perumahan yang padat, jadi kebiasaan Bagus yang kurang suka berinteraksi, menjadi seuatu yang sangat mencolok, itu membuat malu keluarga mereka.


“Ini minum dulu.” Ibunya Bagus menyodorkan gelas.


“Ini apa Ma?” Bagus bertanya.


“Kopi susu, enak tau, coba deh.” Ibunya membujuk.


“Tapi Bagus kan nggak suka kopi, sukanya susu aja.” Bagus menolak.


“Coba dulu, kamu pasti suka.” Ibunya memaksa sana menyodorkan gelas khas untuk minum teh atau kopi.


“Iya Ma.” Bagus tidak ingin ibunya marah karena dia sangat lembut sekali hari ini, toh hanya minum kopi susu saja, tidak akan sulit. Itu yang Bagus pikirkan, dia lalu meminum kopi susunya dengan perlahan, rasanya ... enak. Bagus lalu menghabiskan kopi susu itu.


“Anak pintar, sekarang kamu mau belajar lagi boleh, kalau udah selesai tidur aja ya.” Ibunya kembali terlihat lembut lagi, Bagus senang sekali.

__ADS_1


Dia lalu pergi ke kamarnya, saat membuka pintu kamar, dia kaget, ada seorang anak lelaki yang berdiri di tempat tidurnya, siapa anak itu? aneh! Anak itu ... terlihat mengerikan!


“Si-siapa kamu!” Lalu pintu kamar Bagus tertutup sendiri dengan keras, anak kecil mengerikan itu mendekati Bagus ....


__ADS_2