
“Jadi kau mental!” Aditia tertawa terbahak-bahak.
“Lucu, Dit?” Ganding kesal, yang lain hanya senyum-senyum saja.”
“Maaf ya, Nding.” Ganding menatap kesal pada Aditia, karena saat terpental dia benar-benar tidak siap dengan serangan.
“Ada apa di dalam tas itu?” Alka bertanya.
“Keris yang cukup panjang, di tangkainya ada melati yang masih segar, bahkan aku masih mencium wangi bunga itu semerbak.
“Berarti ini memang kerjaan jin, benar?” Alka memastikan.
“Ya, pasti. Tapi seperti biasa, mereka tidak memperlihatkan dirinya saat bertemu kita, ‘dia’ menyerangku karena aku membuka tasnya dan dianggap mengancam.”
“Baiklah, mana yang lebih bahaya? Sumur itu atau Ramdan?” Alka bertanya.
“Sumur itu masih bisa menunggu karena sumur itu bukanlah mata air satu-satunya untuk warga di sana. Tapi Ramdan tidak bisa menunggu lama, karena setiap kasus bisa saja memakan waktu satu atau dua minggu. Bahkan kita pernah menangani kasus selama satu bulan.” Hartino memberi pendapatnya.
“Ya, aku juga setuju, sumur itu bisa menunggu, tapi Ramdan tidak bisa.” Lais kali ini yang berpendapat.
Semua setuju untuk menangani kasus Ramdan terlebih dahulu.
“Lalu apa langkah pertama yang harus kita lakukan, Nding?” Karena Ganding yang menemukan kasus ini, maka Alka memberinya kebebasan untuk mengambil keputusan, Alka akan mengawasi.
“Kita akan bertemu dulu dengan pemilik keris itu.”
“Siapa pemiliknya?” Alka bertanya lagi.
“Kemungkinan bosnya Ramdan, rekanan bisnis kita, yang mengambil proyek pembangunan markas kita.” Ganding memberitahu informasi yang dia yakini.
“Baiklah, Hartino mulai profiling orang itu ya, aku mau tahu, apakah Ramdan target tumbal atau ini hanya masalah jin nyasar saja.” Alka mulai memberi tugas.
“Iya Kak.”
“Sama aku ya?” Lais tiba-tiba bertanya.
“Ya, bantu Hartino ya.” Alka setuju.
Mereka semua akan mengatur meeting dengan bos konstruksi itu di kantor pusat mereka.
...
“Jadi kemungkinan proyek akan mundur, Pak Ganding.” Suteja pemilik perusahaan konstruksi itu berkata, dia sudah datang untuk meeting bersama istrinya, istrinya juga ikut menjalankan perusahaan.
“Tidak ada pengganti Pak Ramdan kah, Pak? sampai harus menunggunya sembuh dulu baru proyek akan berjalan lagi?” Ganding bertanya, ini hanya pertanyaan pancingan.
“Karena pekerjaan Pak Ramdan memang yang terbaik Pak, gedung itu juga akan dibuat berbeda bukan walau hanya empat lantai, ada ruangan yang dibuat dengan bahan khusus, seperti kayu jati, alumunium dan bahan yang didatangkan khusus oleh Pak Ganding, itu semua harus detail dan hati-hati, hanya Ramdan yang mampu, Pak.” Pak Suteja berkata dengan sungguh-sungguh.
Gedung
“Baiklah, kalau begitu, bagaimana jika kubantu?” Ganding mulai masuk pada inti dari meeting ini.
“Maksudnya, Pak?”
“Jadi begini, kami ini kan perusahaan besar, tentu masalah yang seperti Ramdan alami bukanlah hal biasa, kemarin saya secara langsung datang melihat keadaan Ramdan, lalu ketika saya membuka tasnya, saya terpental karena benda yang ada di tasnya.” Ganding berhenti bicara ingin melihat ekspresinya, karena bisa jadi Ramdan adalah korban tumbal dari Suteja ini.
__ADS_1
“Ada apa di tasnya, Pak?” Suteja bertanya, dia benar tak tahu atau hanya akting belaka, hanya dia dan Tuhan yang tahu.
“Sebuah keris yang cukup panjang, di tangkai keris itu ada bunga melati yang terangkai panjang, wanginya masih sangat harum, khas sebuah benda keramat yang membaut bunga tidak bisa layu.”
“Hah? keris itu? ya, itu adalah keris yang ada di rumah kami, aku memberinya keris itu, karena tadinya keris itu aku akan buang, kami tidak terlalu suka benda klenik, lalu Ramdan memintanya. Tapi saya tidak tahu bahwa benda itu memang sesuatu yang berbahaya.”
“Pak Suteja, kami memiliki sendiri divisi yang menangani hal seperti ini, kau tahu lah, perusahaan besar seperti kami ini, tidak bisa kalau tidak punya hal seperti itu untuk melindungi, banyak hal yang menjadi alasan kami memiliki hal semacam itu.” Ini hanya kebohongan lain yang Ganding katakan, perusahaan mereka tak punya divisi seperti itu, sepertinya Ganding terobsesi dengan divisi dan departemen ghaib, bahkan kemarin dia mengarang tentang departemen ghaib pemerintah, sekarang divisi perusahaan dijadikan kambing hitam, Lais tidak dapat menahan senyum mendengar itu.
“Oh seperti itu Pak, saya setuju kalau ada bantuan, karena jujur, saya awam sekali dengan hal semacam itu, makanya butuh bantuan.” Lais takjub, Suteja percaya, manusia yang tidak tahu apa-apa memang cenderung lebih mudah percaya.
“Hal pertama yang perlu kami lakukan adalah, Hartino dan Lais akan ke rumah Pak Suteja, kebetulan ini Pak Hartino adalah salah satu orang yang menangani divisi ghaib kami.” Hartino yang ditembak begitu langsung berpura-pura menerawang, padahal dia tak perlu berpura-pura, tapi karena kebohongan ini dilakukan secara spontan, jadinya membuat Hartino kikuk.
“Ya, boleh, silahkan Pak.” Suteja setuju.
“Lalu aku dan dua orang ini akan ke tempat Ramdan, kami akan melihat apa yang perlu kami lakukan.” Alka dan Aditia tersenyum, mereka menahan diri agar terlihat berwibawa.
“Baik, saya sangat berterima kasih, Pak Ganding mau menolong kami. Semoga Ramdan bisa sembuh dan akhirnya proyek kita berjalan lancar seperti sebelumnya.” Suteja menutup meeting itu dengan terima kasih.
Setelah Suteja pulang, mereka masih di ruang meeting.
“Nding, bisa nggak sih, lain kali kamu tuh briefing dulu, tiba-tiba bilang divisi ghaib, bilang aku dukunnya lagi!” Hartino kesal.
“Iya Har, aku juga sama Alka dibilang dukun, parah kau, Nding.” Aditia memberi garam pada darah yang terluka.
“Sorry, abis kan gue disuruh kakak buat ambil keputusan sendiri, apa kira-kira yang bisa membuat mereka percaya dan mau diajak kerja sama, masa gue jujur, kita bilang bahwa kita lima sekawan cenayang.”
“Enam Nding, kan ada Lais.” Hartino mengingatkan.
Alisha mendengar itu tersipu malu, Hartino membelanya.
“Kau itu kan jenius, kenapa hanya gagasan itu yang muncul Nding?” Aditia penasaran.
“Justru ide ini muncul dari kejeniusanku, coba pikir deh, orang itu percaya apa yang terlihat rahasia, seolah itu benar-benar ada, karena dibicarakan dengan rahasia dan misterius. Padahal itu hanya karangan saja. Manusia itu cenderung menyukai apa yang orang banyak tidak ketahui ....”
“Dan dia mengira, hanya dia yang tahu.” Semua meneruskan perkataan Ganding.
“Ya, begitu. Jenius kan, aku?” Ganding bertanya.
“Nggak!” Aditia dan Hartino menjawab.
“Jenius kok, menurutku.” Jarni membela.
“Yaudah, ayo kita ke tempat tinggal Ramdan, dia kost kan?” Alka berdiri, dia bersiap ke sana, keris yang membuat Ganding mental masih ada di kost itu.
“Sekarang Kak? Kalau aku bagaimana?” Hartino bertanya.
“Kau harus buat janji dulu dengan Suteja, kapan bisa ke sana.” Ganding memberi solusi.
“Yasudah, suruh asistenku saja yang membuat janji.” Hartino berkata.
“Memang dukun punya asisten?” Ganding meledek.
“Nding, kau membuatku benar-benar kesal loh.” Hartino mengingatkan, karena Hartino memang punya asisten, seorang pria yang cukup tua, dia mengurus semua yang berkaitan dengan perusahaan, karena Hartino tidak bisa muncul, pria tua yang sangat dia percaya.
“Yasudah, kami akan ke tempat Ramdan dulu, aku sudah meminta mereka mengosongkan tempat kost itu dulu, jadi kita bisa bebas membuat jin itu melepaskan Ramdan.”
__ADS_1
Ganding, Jarni, Alka dan Aditia ke indekos Ramdan, sedang Alisha dan Hartino akan tetap di sana, mencari informasi mengenai Suteja dan keluarganya melalui internet, seperti kemampuan Hartino biasanya.
Setelah berkendara selama setengah jam, akhirnya mereka sampai. Setelah sampai mereka langsung bertemu dengan Deny dan Tia, mereka sudah tahu kalau Ganding dan yang lain akan datang.
“Jadi ini dukunnya Pak?” Deny bertanya dan semua orang kecuali Ganding.
“Bisa dibilang begitu.” Ganding malas menjelaskan dan menyangkal kalau mereka bukan dukun, terserah sajalah.
“Boleh lihat Ramdan dulu?” Alka bertanya.
Mereka langsung naik ke lantai di mana kamar Ramdan berada.
Alka dan Aditia saja yang masuk, sedang yang lain tunggu di ruang tamu.
“Ngerasain apa, Dit?” tanya Alka.
“Dingin Ka.”
“Sama, berarti memang dia di sini, tapi sangat dingin dan pengap.” Alka setuju.
“Tapi aku tidak bisa mendeteksi di ada di mana.”
“Aku bisa, dia ada di tubuh pria itu, bersembunyi, kalau begitu, buka tasnya, kita akan membuatnya keluar seperti kemarin Ganding dibuat mental, bersiap ya.”
Aditia melakukan seperti yang diperintahkan oleh Alka, dia mengambil tasnya, Alka bersiap berada di dekat pria itu, dia akan menangkap jinnya kalau dia tiba-tiba keluar dari tubuh pria itu ketika tas Ramdan yang berisi keris itu dibuka.
Saat Aditia membuka tas Ramdan, kerisnya ada, tapi tak terjadi apa-apa, jin itu tidak keluar, Alka dan Aditia menunggu beberapa menit tapi tetap tak menemukan pria itu keluar.
“Ka, gimana?” Aditia bertanya.
“Keluarkan kerisnya, mungkin dia akan menyerang.”
Aditia mengeluarkan kerisnya, tidak terjadi apapun, benar kata Ganding, melati itu masih sangat segar, padahal diuntai panjang persis seperti yang dipakai di pernikahan, melati yang dironce.
“Ka, masih belum ada tanda-tanda.” Aditia bertanya lagi.
“Buka kerisnya.” Alka kali ini bersiap lebih siaga, takut kalau jin itu menyerang dengan kekuatan yang tinggi, karena membuka keris kramat sangat berbahaya, ada beberapa jenis harus kena darah baru jinnya tenang.
Aditia membuka kerisnya ... keluar kilatan cahaya dari keris itu, cukup membuat Aditia silau, Alka masih fokus menjaga agar Aditia tidak diserang, tapi terlambat, jin itu keluar dari tubuh Ramdan dengan cara melesat, Alka terlempar hampir saja menubruk dinding, tapi Aditia segera berlari hingga Alka tidak menubruk dinding tapi menubruk tubuh Aditia, setelah itu tubuh Aditia yang menubruk dinding.
Niat hati ingin melindungi Aditia, mereka berdua malah terlempar. Kerisnya tergeletak.
Saking keras tumbukannya, bibir Aditia mengeluarkan darah, mata Alka memerah saat melihat darah keluar dari mulut Aditia, dia merubah wujudnya menjadi jin, sehingga pasti tak terlihat oleh Deny dan Tia, tapi terlihat oleh kawanan, dia mengejar jin yang membawa keris itu, dia berlari keluar, membuat pintu terbuka dengan sangat keras, Deny dan Tia kaget, Jarni buru-buru membuat pagar ghaib berbentuk lingkaran untuk Deny dan Tia, takut kalau mereka celaka, seharusnya mereka di salah satu kamar yang akan di pagar ghaibkan, tapi sayang, terlambat, perkelahian sudah terjadi sebelum itu, Alka mengejarnya, toh jin itu takkan jauh-jauh dari korban, Aditia ikut mengejar, Ganding di belakangnya.
“Dit, itu bibir lu kenapa?”
“Mental gue!” Aditia memberi penjelasan.
“Wah, pantes Kakak ngamuk, bahaya nih.” Ganding buru-buru mengejar Alka, dia takut kalau ini akan jadi pertarungan saling bunuh, karena Alka terlihat dikuasai Lanjonya.
“Nding, kenapa sih, kok ketakutan gitu?” Aditia bertanya, mereka masih mengejar Alka dan jin itu di sepanjang tempat indekos itu.
“Nggak apa-apa, gue cuma takut, jin itu dibunuh sama Alka, Ramdan bakal mati!” Ganding ketakutan.
“Hah, ngapain Alka bunuh tuh jin?”
__ADS_1
Ganding hanya tersenyum lalu berkata dalam hati, [Karena jin itu menyentuh tuannya, bodoh.] Tentu Aditia tidak bisa mendengar apa yang Ganding katakan.