
Apa yang kita sangka, memang tak selalu benar, karena di dalam sangkaan ada perasaan yang dipertahankan, perasaan percaya, maka banyak prasangka meleset, termasuk bagaimana Mulyana tidak paham, bahwa … Kharisma Jagat adalah manusia juga, seperti kita semua, maka tidak semuanya bersih.
Maka pertanyaannya adalah, apakah benar, Drabya adalah orang yang seperti Hagir katakan? Jika benar, lalu uang itu untuk apa? Bukankah mereka berasal dari nenek moyang yang kaya raya, kalau kalian ingat, bukankah nenek moyang mereka adalah Raja Abiyasa dan Ayi Sarika Puspita yang merupakan Ratunya para Kharisma Jagat, sehingga uang, bukanlah hal yang sulit bagi mereka, secara garis nenek moyang, mereka adalah keluarga bangsawan, lalu kenapa? Kenapa upeti itu ingin dimiliki?
Beberapa literasi mengatakan bahwa keserakahan bermaksud menciptakan ketidakmerataan akses atau distribusi kekayaan masyarakat. Karena adanya pengambilan hak yang seharusnya bisa dibagi merata.
Maka dari pemahaman ini, apakah benar tujuan upeti itu hanya soal uang?
“Ampun Drabya, ampun! Aku hanya bisa melakukan ini makanya aku membuka praktik dukun.”
Seorang dukun yang sudah dikalahkan Drabya untuk kesekian kalinya memohon ampun.
“Aku akan membuatmu tak mampu lagi berhubungan dengan dunia ghaib.” Drabya hendak membuat kemampuan dukun itu hilang, karena semua dukun yang ditangani oleh Drabya adalah dukun dengan kekuatan tinggi, tidak seperti saat ini, banyak orang merasa memiliki kemampuan ghaib, buka praktik lalu membuat semua orang menjadi percaya. Tapi sebenarnya tak memiliki kemampuan apapun.
“Aku mohon Drabya, aku punya anak istri yang harus dibiayai, mereka butuh makan dan aku hanya bisa melakukan ini, aku janji, lain kali aku akan lakukan pengobatan saja, tidak pelet dan juga santet, aku mohon, kau bisa mengawasiku, aku tidak bisa melakukan apapun, anak-anakku masih kecil Drabya.” Dukun itu yang sudah berumur memohon.
“Kau pikir aku punya waktu untuk mengawasimu? Seolah kasus yang kutangani tidak banyak saja, aku akan tawarkan perjanjian, bagaimana?” Drabya duduk dibangku tempat praktik dukun yang ada di luar kota itu, sedang dukunnya bersujud di lantai karena baru saja muntah darah, kalah oleh Kharisma Jagat bangsawan itu.
“Perjanjian apa?” Dukun itu bingung.
“Kau boleh tetap buka praktik, tapi kau harus lakukan perjanjian padaku, nama perjanjiannya, perjanjian darah, setiap kali kau akan melakukan ritual karena pesanan, kau harus membagi hasilnya padaku.”
“Apa!” Dukun itu terkejut, karena dia benar-benar tak pernah menyangka apa yang dikatakan Drabya, kalimat yang keluar dari mulut Kharisma Jagat itu sangatlah di luar ekspektasi.
“60 dan 40, aku 60 dan kau sisanya. Kau bisa tetap menafkahi anak istrimu dan menjadi sekutuku, kau akan mengabdi padaku, sebagai anak buahku. Semua jinmu berada dalam kendaliku.”
Dukun itu terdiam, dia tetap sulit mencernanya, selama bertemu Kharisma Jagat, dia sering membuat Kharisma Jagat berebut musuh, tapi untuk dimusnahkan, tapi kenapa ini malah dijadikan rekanan?
“Bagaimana? Jangan terlalu lama berpikir, aku tak punya waktu.” Drabya terlihat sangat tidak sabar, dia merasa dukun rendah ini tak seharusnya menolak.
“Tentu saja aku mau, tapi ke … kenapa kau … berbeda dengan rumor tentang Kharisma Jagat itu?” Dukun penasaran.
“Rumor yang mengatakan bahwa kami adalah musuh kalian? Tentu saja tidak, kami adalah musuh satu sama lain.” Drabya tertawa setelah mengatakannya.
Tak heran Drabya berkata demikian, karena semenjak kehadiran terakhir Ayi Mahogra. Seira masih baru saja lahir, Ayi yang harus mendamaikan mereka belum bisa memimpin saat ini. Maka tak heran, para Kharisma Jagat berlomba untuk mengukuhkan kekuasaan.
Maka Drabya harus menjadi orang yang paling kuat, Kharisma Jagat yang paling berkuasa dan ditakuti oleh semua orang termasuk … para tetua.
“Apa benar hanya perlu bersekutu denganmu aku masih bisa meneruskan apa yang aku lakukan selama ini? Apakah ada syarat lain selain upeti?”
__ADS_1
“Tidak ada, hanya uang dan kesetiaan, jika kau setuju tapi tak menepatinya, kepalamu akan aku pisahkan dari badan itu, mudah sekali untukku melakukan itu.” Drabya berkata dengan tenang namun sangat mengerikan sekali.
“Aku setuju, tapi bagaimana dengan Kharisma Jagat yang lain? Selama ini bukan hanya kau yang memburuku, ada begitu banyak Kharisma Jagat yang memburuku, tapi hanya kau yang berhasil sejauh ini, siapa yang bisa jamin kalau besok aku masih selamat dari Kharisma Jagat lain?”
“Itulah yang menjadi keistimewaan menjadi sekutuku, tak akan ada yang berani menyentuhmu selama kau setia, karena tak ada satupun Kharisma Jagat yang melebihi kemampuanku.”
“Bagaimana dengan Mudha Praya dan para Tetua?” Rupanya dukun ini tahu seluk-beluk Kharisma Jagat, maka ketika nama itu disebut, mendidihlah darah Drabya.
“Lelaki itu akan kuhabisi segera, makanya aku akan membuat daerah jajahanku pada semua dukun di nusantara ini berpihak padaku, apa kau tidak mau ikut dinastiku? Karena kalau aku berkuasa, dukun akan tetap aman berpraktik di negara ini, aku akan pastikan kalian tetap sejahtera tanpa membatasi jenis jasa yang hendak kau pakai, yang penting hitungannya tetap 60 dan 40.”
“Mimpimu adalah hal yang sangat kami tunggu, karena aku pikir Kharisma Jagat itu adalah manusia-manusia munafik yang tak pantas hidup di muka bumi ini, muka bumi yang penuh dengan perang kepentingan. Masa mau sok bersih. Maka aku setuju untuk melakukan perjanjian darah.” Dukun itu melakukan perjanjian darah, hal yang memang sudah dikuasai oleh Drabya, hal ini yang kemarin membuatnya ingin datang ke ritual pembangkitan Wulan, karena dia ingin melihat bagaimana dan mantra apa yang digunakan oleh ayahnya Wulan untuk perjanjian darah, dia ingin melihat apakah sama dengan ilmu yang dia gunakan.
Setelah melakukan sumpah darah dengan Drabya, maka sudah resmi dukun ini adalah sekutunya, semua jinnya akan menjadi budak Drabya juga, kelak kalau dibutuhkan harus menolong Drabya dan mendahulukan urusan Drabya karena perjanjian itu, bisa dibilang perjanjian di atas perjanjian.
Para dukun itu melakukan perjanjian dengan para jin, lalu jin menjadi miliknya, lalu Drabya melakukan perjanjian dengan dukun itu, maka dukun dan jinnya, jadi milik Drabya, sungguh jenis pekerjaan yang sangat efektif dan efisien.
Drabya lalu pulang setelah mendapatkan perjanjian itu, menunggu pundi-pundi uang dikirimkan padanya sebagai bagian dari upeti. Drabya mengendarai mobilnya, tidak bersama istri ataupun anak-anaknya, tentu saja.
Drabya tahu saat ini Mulyana sedang menangani kasus Wulan, walau dia sempat khawatir kalau kedoknya akan terbuka, karena Badrun telah mati dan Hagir takkan pernah mendekati Mulyana, karena terakhir dia mendekatinya, saat menyamar menjadi istrinya, langsung ketahuan oleh anak-anaknya, maka perkataan Hagir takkan pernah dipercaya oleh mereka, sedang Drabya tak pernah tahu, kalau Mulyana sudah mendengar semuanya dari istri Badrun, walau Mulyana tak percaya, tapi dia sudah mendengar semuanya.
“Sampai kapan kau akan melakukan ini.” Abah Wangsa duduk di sampingnya.
“Tujuan semulia apapun, tetap saja, kau adalah lintah darat yang membiarkan para dukun itu tetap mencelakai manusia, sedang kau tahu dengan jelas, salah satu alasanku memilih nenek moyangmu adalah karena loyalitas dan integritas kalian dalam melindungi manusia, tapi kau benar-benar membuatku kecewa.”
“Kalau aku lemah, keluargaku yang akan jadi sasaran, tidak ada cara lain, selain membuat diriku kuat dan tak terkalahkan.”
“Kau lupa kalau masih ada Tuhan yang memberikan berkah kemampuan pada semua keluargamu.” Abah Wangsa masih protes.
“Tuhan memang baik memberikan kemampuan ini, tapi Tuhan tidak cukup baik pada keluargaku, aku hanya ingin melindungi keluargaku, kalau sampai mereka celaka, aku tidak akan bisa hidup.”
“Tapi caramu salah, kau mencelakai keluarga lain dengan membiarkan para dukun itu tetap buka praktik dan melakukan pekerjaan ilmu hitam pada tubuh sehat manusia-manusia itu. Kau tidak melakukan tugasmu sebagai Kharisma Jagat, bukan hanya tidak melakukan tugas, tapi kau juga menjebak dua kubu, manusia itu dan dukun agar hanya tetap mendukungmu tanpa bisa berpikir bahwa mereka saling dikorbankan.”
“Wangsa, aku ini tuanmu, jaga bicaramu, lagi pula, itu keluarga lain, fokus pada keluargaku saja, jangan pada keluarga lain.”
Wangsa menatap Drabya dengan marah dan akhirnya menghilang, dia sangat ingin pergi dari lelaki itu, tapi tidak bisa, dengan membatalkan perjanjian antara dirinya dan Drabya, maka Mulyana tidak akan menjadi tuannya kelak, maka dia harus bertahan dengan akal busuk lelaki ini yang mengatakan demi perlindungan keluarga padahal mencintai uang.
Sementara di tempat lain Mulyana sedang memperhatikan satu rumah kontrakkan, dia sudah mencoba mencari ke sana ke mari dengan sangat gigih, seorang lelaki yang harusnya bisa menjelaskan apa yang terjadi.
Mulyana mendengar bahwa lelaki itu tak pernah kembali ke kampungnya, dia masih di ibu kota, entah di mana sejak ritual gagal itu.
__ADS_1
Mulyana harus tahu, mantra apa yang dia gunakan untuk membuat Yoga menjadi gila seperti itu, karena untuk menyembuhkannya, itu bukan hal mudah, apalagi mantranya diucapkan oleh orang yang berilmu tinggi.
Mulyana harus tetap menyembuhkan Yoga dan mengantar Wulan pulang bersama dengan para dukun yang ruhnya tersesat.
Maka dia harus menemukan ayahnya Wulan dulu, dia yakin bahwa yang kemarin membuatnya masuk dunia ghaib pada malam dia kabur dari rumah sakit, adalah lelaki itu, ayahnya WUlan, dia sudah melihat wajahnya dan pasti bisa ketemu jika saja dia terus mencari.
“Yan, istirahat dulu, ini sudah rumah kontrakkan ke lima belas yang kita datangi, dia pasti berpindah.” Dirga memberikan air mineral yang dia bawa dari rumah.
“Tidak bisa terlalu lama Dirga, Yoga tidak bisa menunggu lama dalam keadaan begitu.”
“Yoga yang tidak bisa menunggu, atau ada hal lain yang ingin kau konfirmasi pada ayahnya Wulan?” Dirga sudah curiga soal ini, karena selama 3 hari ini sungguh lelah sekali, mereka harus berkeliling ke 15 rumah kontrakkan untuk menemukan ayahnya Wulan.
“Ga, jangan bahas soal itu.”
“Lu bisa sakit Yan, kalau paksa terus begini, nggak capek lu? Gua yang nggak ikut full aja capek banget!” Dirga memang tiga hari ini tidak seharian ikut, bisa saja dia ikut ketika sudah soang atau sore hari saja.
“Gue nggak apa-apa kok, Ga. Udah ya, jangan kehilangan fokus.”
“Iya Yan, tapi jangan lupa juga kalau kuliah lu terbengkalai, gue sih masih terus ikut pelatihan di tempat itu, karena itu bisnis dan tetap harus berjalan walau Badrun meninggal, Yoga sakit dan istrinya Badrun masuk penjara, tapi mereka sudah punya orang-orang terpercaya untuk menjalankan bisnis, hingga uang tetap mengalir.”
“Ya, aku lupa kalau kau masih terus melanjutkan pendidikan di tempat pelatihan itu. Sedang belajar apa kau?” Mulyana dan Dirga sedang istirahat di warung kecil dekat rumah kontrakkan yang baru saja mereka cek.
“Hmm, saat ini gue lagi belajar strategi menghadapi penjahat yang memiliki sandera, kau tahu kan, kami harus melakukan negosiasi dengan para penjahat itu, negosiasi ini punya banyak tekhnik, kami harus pelajari, salah satunya tidak terlihat takut dan lemah, karena saat negosiasi, waktu yang kita punya sempit dan permainan mental yang harus dihadapi oleh Polisi, lalu ….”
“Sebentar! Sandera! Oh Tuhan, kenapa tak terpikir olehku Ga, dari pada kita yang capek cari lelaki licin itu, yang pasti sudah amat jauh langkahnya di depan kita, maka kita buat saja dia mendatangi kita.”
“Gimana caranya dia mau mendatangi kita? Masa dia mau nyerahin diri? Lu pikir dia dapat hidayah?”
“Bukan bodoh! Kita pakai sandera!” Mulyana bersemangat.
“Sandera? Siapa yang akan kau jadikan sandera? Istrinya? Dia pasti takkan mau datang, dia tahu kita takkan mencelakai istri atau keluarganya.”
“Bukanlah! Memang aku penjahat mau jadikan manusia sandera, aku bisa dipenjara. Kita bisa gunakan selain manusia untuk menjadi sandera.”
“Hah? Maksudnya …. Wulan?!” Dirga tidak yakin.
“Aku tahu, dia sangat kuat dan aku terakhir kali mental saat hendak mendekatinya, tapi aku akan cari cara untuk bisa menyanderanya, mungkin menggunakan botol seperti yang ayahku lakukan.” Mulyana merasa ada harapan.
“Ok, aku ikut saja, tapi apakah ini tak berbahaya?”
__ADS_1
“Belum tahu kalau tak dicoba.” Mulyana tersenyum dengan senang, Dirga sedikit tenang, karena sudah 3 hari ini Mulyana terus saja merengut, pasti dia masih sangat sedih soal omongan Ibu Badrun tentang ayahnya.