Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 310 : Bus 404 (13)


__ADS_3

Tahun 2005


Melati bangun dari tempat tidurnya, yang menunggui hanya kakak perempuannya, meninggalkan anaknya di rumah bersama suami. Untuk kakaknya Melati, dia bukan sekedar adik, tapi sudah seperti anak. Melati dan kakaknya sangat dekat walau terpaut umur hingga tujuh tahun, kakaknya menjaga Melati dengan sangat hati-hati, dia sangat menyayangi Melati bahkan banyak hal dia korbankan agar Melati bahagia.


Bukan tidak ada alasan dia melakukan itu, dulu saat masih kecil Melati sakit-sakitan, kakaknya sangat menjaga Melati sejak saat itu, ditambah kedua orang tua mereka sangat sibuk karena pekerjaan, sering meninggalkan mereka berdua saja, hingga dalam pemikiran kakaknya, mereka hanya memiliki satu sama lain.


Kakaknya Melati selalu bersikap seperti ibu dibanding seperti kakak, Melati itu sangat cantik, energik dan populer, kakaknya selalu mendukung dalam kegiatan apapun, selalu mengawasinya, memastikan bahwa tidak akan ada satupun orang yang menyakitinya.


Lagu yang Melati suka adalah lagu potong padi itu, kakaknya menghadiahi Melati dengan walkman dan juga kaset dari lagu itu, katanya untuk membuat Melati semakin bersemangat belajar, karena setiap belajar selama ini, selalu ditemani lagu itu yang diputar di radio rumah mereka.


Melati dan kakaknya hidup dengan sangat baik dan berkecukupan, mereka hanya kurang kasih sayang orang tua, maklum, orang tuanya sangat sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka.


“Mel, nggak bosen apa sama itu lagu? Selalu aja puter lagunya ulang-ulang.” Tanya kakaknya, mereka saat ini sedang berada di pekarangan rumah, kakaknya menemani Melati belajar seperti biasa. Sebentar lagi ujian sekolah untuk kenaikan kelas, saat ini Melati kelas satu SMA, Melati sangat tekun, kakaknya suka menemani Melati, karena dia sendiri tidak berminat kuliah, dia hanya di rumah memastikan semua kebutuhan Melati dan kebutuhan orang tuanya dapat dipenuhi, kakaknya memang lebih suka mengurus rumah.


“Iya kak, suka banget, kalau denger lagu ini jadi tenang, belajarnya jadi berasa lebih cepet masuk karena tenang itu.” Melati terlihat sangat senang belajar bersama kakaknya.


Walau itu membuat Melati tidak punya teman, banyak temannya dulu selalu kesal dengan kakaknya Melati yang terlalu over protectif, kakaknya Melati seperti bayangannya Melati, selain di sekolah, dia selalu ada di manapun Melati berada, itu membuat temannya risih.


“Kak, kata Ayah, kakak mau dijodohin sama pegawainya ayah ya?” Melati tiba-tiba bertanya. Kakaknya diam dan tidak ingin menjawab.


“Kak!” Melati menutut jawaban.


“Mel nggak mau kakak nikah ya?” Kakaknya meledek.


Sebenarnya kalau boleh memilih dia tidak ingin menikah, dia hanya ingin di rumah, mengekor pada semua kegiatan Melati, mengurus ibu dan ayahnya kelak ketika sudah tua. Tapi kakaknya Melati sangat patuh pada orang tuanya, seperti saat dia diamahi menjaga Melati, maka dia menjaganya sepenuh hati.


Maka pernikahan itu dia terima, melihat lelaki itu juga baik, ayahnya sangat yakin lelaki itu bisa membuat kakaknya Melati bahagia. Maka Melati terpaksa menuruti.


“Melati mau kok Kakak nikah, nanti kalau kakak punya anak, gantian, Melati yang jagain.” Melati tersenyum, dia tulus mengatakan itu.


“Kalau kakak punya anak, kamu beneran akan jagain?”


“Iya dong, aku pasti akan jagain, kayak kakak jaga aku.”


“Emang kamu selama ini nggak ngerasa risih kakak selalu ikut kamu kemana aja, sampe kamu nggak punya temen?”


“Nggak, aku nggak pernah risih sama Kakak, aku nggak apa-apa kalau temen-temen nggak suka aku, yang penting, aku sama Kakak terus, karena aku tahu, Kakak jagain aku, mau aku bahagia terus.”

__ADS_1


“Kamu anak pintar, cantik dan tahu kalau Kakak memang cuma mau mastiin Mel bahagia, Kakak lumayan takut pas ada orang yang bilang kalau Mel dijauhin temen karena terlalu anak Kakak katanya, bukan anak mama.” Mereka berdua tertawa, dua anak gadis yang hubungannya sangat dekat.


Pernikahan kakaknya Melatipun berlangsung saat Melati masih kelas dua SMA, tidak lama kemudian, kakaknya hamil, kehamilan itu sungguh sangat berat, hingga kakaknya cenderung sering di rumah dan tidak bisa menemani Melati lagi, itu membuat kakaknya kadang merasa bersalah.


Tapi Melati tidak marah, dia tahu kondisi kakaknya buruk dan dia tidak lagi menemani Melati kemanapun bukan karena tidak sayang, tapi karena kondisinya.


Saat Melati kelas tiga SMA tahun 2002, kakaknya melahirkan seorang anak lelaki, diberi nama Heru, keluarga itu sangat bahagia, Melati juga sama, dia senang dapat keponakan lelaki yang akan membuat keluarga itu menjadi lengkap. Si Pelindung keluarga katanya.


Melati menepati janjinya, karena kakaknya tetap tinggal bersama ibu dan ayah Melati meski telah menikah, jadi Melati selalu membantu kakaknya mengurus keponakan.


Walau dia juga terkadang sibuk mengurus persiapan masuk kampus, kelas tiga SMA adalah masa tersulit karena harus mempersiapkan ujian sekolah sekaligus ujian masuk kampus. Tapi Melati tidak mengeluh, walau bukan seorang yang jenius, tapi Melati adalah seseorang yang cukup cerdas.


“Mel, capek nggak nemenin kakak begadang mulu jagain si dede?” Kakaknya dan Melati sedang di ruang tamu, Melati menggendong keponakannya, ini jam dua dini hari, Heru sakit batuk pilek, khas anak bayi, makanya mereka berdua bangun untuk gantian menjaga. Sementara suami kakaknya harus istirahat karena besok pagi bekerja, begitu juga dengan ayah ibu Melati, mereka memang selalu berdua saja melakukan apapun.


“Kadang capek, tapi kalau liat Dede nangis, kakak juga kan masih sakit badannya, abis lahiran, Mel jadi kasian, jadi Mel paksain aja, lagian Mel kan udah jadi tante, jadi harus jagain dede.” Melati mencium Heru yang masih bayi.


“Maafin kakak  ya, Mel.”


“Nggak usah minta maaf, kakak juga dulu nggak pernah bilang capek, nyupirin Mel kemana aja, temanin Mel ke mana aja, sekarang gantian, Mel yang temenin kakak terus.”


Melati tumbuh menjadi gadis yang semakin cantik, semakin energik, penuh semangat dan pandai berorganisasi, banyak orang yang suka padanya, tapi banyak juga yang tidak, bukan karena Melati sombong ataupun dia jahat pada orang, tapi popularitasnya yang membuat banyak wanita iri padanya.


Kakaknya masih sibuk mengurus anaknya yang saat ini sudah berusia satu tahun, Melati juga masih banyak membantu kakaknya.


Hingga haru naas itu datang, dua tahun kemudian setelah dia diterima di universitas itu, tahun 2005. Melati izin ikut study tour, entah kenapa kakaknya merasa berat mengizinkan, Melati hanya selalu izin kepada kakaknya, karena ibunya sudah mempercayakan kegiatan rumah tangga pada kakaknya Melati.


Tapi Melati terus meyakinkan kakaknya tidak akan terjadi apa-apa, tapi  perasaan kakaknya ternyata kuat, selang tiga jam dari Melati meninggalkan rumah untuk pergi study tour, kakaknya mendapat kabar dari tempatnya kuliah, ada kecelakaan yang menimpa bus itu, kakaknya Melati shock, dia menyetir sendiri ke kampus itu dengan sangat cepat, saat sampai kampus dia mendapati kabar bahwa, semua peserta terpanggang, tidak ada yang selamat, kakaknya lemas dan menangis histeris, hingga seseorang memberi kabar bahwa ada satu orang yang selamat.


Seorang perempuan namanya Melati, karena Melati sangat populer di kampus itu, dia mudah dikenali.


Kakaknya langsung ke rumah sakit tempat Melati dirawat dan saat ini Melati baru saja bangun dari pingsannya, sudah lima jam sejak kecelakaan itu.


“Kak! Kakak! tolong teman-teman Melati!” Melati berteriak histeris, kakaknya melihat itu langsung memeluk Melati dan berteriak memanggil Dokter, orang tuanya masih di luar kota mengurus bisnis dan sedang menuju ke rumah sakit segera setelah dapat kabar dari  kakaknya.


“Mel tenang ya sayang, kakak di sini temani Melati ya.” Kakaknya masih memeluk, sementara Melati masih histeris.


Dokter datang bersama suster, mereka segera memeriksa keadaan Melati dan menyatakan kondisi Melati baik, tapi memang mentalnya tidak stabil karena trauma.

__ADS_1


“Mel, jangan pikirin yang lain dulu ya, pokoknya kamu harus sembuh dulu.”


“Kak, Mel lihat temen-temen teriak dari dalam bus minta tolong, nggak ada yang bisa keluar karena api udah menyebar, Mel kelempar dari jendela yang pecah, cuma Mel yang kelempar dari jendela itu, ada beberapa orang yang Mel lihat mau keluar dari jendela itu, tapi nggak bisa karena apinya semakin besar dan mereka berebut mau keluar dari jendela yang pecah itu, Mel melihat mereka minta tolong, tapi Mel nggak bisa apa-apa karena Mel nggak bisa gerak sama sekali.


“Ya kakak tahu, itu bukan salah Mel, itu pasti karena Mel shock, makanya Mel nggak bisa gerak, itu juga udah takdir Mel.”


“Kak, Mel dengar mereka minta tolong manggil Mel, denger mereka teriak kepanasan, dengar mereka teriak sakit, Kak, tolong ... suara itu terus kedengeran di kuping Mel, apa Mel juga seharusnya mati?”


“Mel! Kakak nggak mau denger Mel ngomong gitu lagi, kalau Mel kenapa-kenapa, kakak juga nggak akan bisa hidup. Jadi Mel, harus hargai kesempatan kedua yang Tuhan kasih untuk kamu, hargai kesempatan itu untuk hidup lebih baik lagi.” Kakaknya terus mencoba menguatkan Melati.”


“Tapi Kak, bahkan Mel lihat dijendela itu, satu persatu tubuh teman Mel gosong, Kak ... Mel bener-bener ....”


“Cukup, jangan diingat lagi ya, nanti juga mungkin akan datang Polisi dan juga pihak kampus, kamu harus kuat saat menjelaskan nanti ya, bantu mereka agar tenang di sana, Mel harus kuat ya.”


Kakaknya memeluk Melati dengan erat.


Sementara di tempat yang sangat jauh, seorang gadis yang menggendong anak perempuan berumur tiga tahun histeris ketika diberitahu bahwa suaminya kecelakaan, dia tinggal di luar pulau kabar itu datang setelah tiga hari kecelakaan itu terjadi.


Ayah ibu dari suaminya akan ke rumah sakit guna mengurus mayat suaminya, wanita itu memang tinggal bersama mertuanya, dia dan suaminya menikah tepat setelah lulus SMA, saat anak mereka sudah berusia satu tahun. Ya, mereka pasangan yang menikah karena hamil duluan. Suaminya meneruskan kuliah sedang dirinya hanya menjadi ibu rumah tangga mengurus anaknya dan tinggal di rumah mertua, karena suaminya belum mampu menafkahi.


Beruntung wanita itu memiliki mertua yang sangat baik, sehingga semua kebutuhan dia dan anaknya dipenuhi.


Ini adalah tahun kedua suaminya kuliah, bahkan sebelum dia pergi study tour, suaminya menelpon ke rumah, berkata bahwa dia akan study tour, dia terdengar sangat senang, suaminya ayah yang baik, dia tidak meninggalkan dirinya saat tahu dia hamil, bertanggung jawab menikahi dan ketika harus kuliah jauh, dia selalu rutin menelpon istri dan anaknya.


Maka ketika dia mendapat kabar ini, runtuhlah hidupnya, saat ini, dalam pikirannya hanya satu, bagaimana anak perempuannya mampu hidup dengan baik tanpa ayah.


“Nola sayangnya Mama, kita ketemu Papa ya, kita temuin Papa bareng kakek dan nenek, Nola harus lihat Papa, Papa adalah orang yang sangat sayang Nola, akan menjaga Nola terus selamanya.” Itu perkataan wanita itu, istri dari salah satu Mahasiswa yang ikut menjadi korban dari bus yang kecelakaan.


Lalu mereka semua menyebrang pulang untuk bertemu dengan lelaki yang tubuhnya ikut terpanggang akibat kecelakaan bus itu.


______________________________________


Catatan Penulis :


Udah tahu dong sekarang siapa Nola dan siapa Papanya Nola?


Udah aku kasih clue terus loh sepanjang part. Ada yang nyangka nggak?

__ADS_1


__ADS_2