
Setelah mengetahui bahwa pelakunya adalah kakeknya Hartino, mamanya memutus hubungan dengan keluarga mantan suami itu, tidak dia biarkan siapapun untuk bertemu Hartino lagi, dia akan mengabaikan kasus ini dan tidak membawa ke ranah hukum, tapi dia tidak akan juga membiarkan keluarga mantan suaminya bertemu Hartino lagi, sudah cukup, dia akan membesarkan Hartino dengan tangannya sendiri, lagian law firm yang orang tuanya buatkan dulu masih bisa diselamatkan dan dihidupkan lagi.
Kelak perusahaan pengacara tersebut akan menjadi perusahaan tiga terbesar di negara ini, tentu itu karena kecerdasan dari mamanya Har.
Tapi saat ini, Har tidak dibiarkan memiliki kekuatannya, Mulyana tidak pernah datang lagi, mamanya Har memohon untuk tidak membuat Har tertarik lagi dengan dunia ghaib, Mulyana setuju.
Apakah benar Mulyana setuju?
“Bapak yakin mama nggak akan tahu?”
“Orang sebelummu juga mengatakan ini, sebentar.” Mulyana memanggil seseorang, tapi bukan, itu ternyata sesuatu.
“Ba-bagaimana dia bisa sangat mirip denganku?”
“Dia itu jin yang membantu kita, ucapkan terima kasih dulu, selama kau dilatih nanti, dia akan menggantikan tugasmu di rumah, tapi kalau di sekolah, kau tetap akan mengerjakannya sendiri, ini hanya untuk membuat mamamu tenang, aku tidak ingin mamamu khawatir lalu hubungan kalian menjadi rusak. Jadi, kamu harus menyembunyikan kekuatanmu darinya ya, kau masih mau berlatih dengan senjatamu atau berhenti sampai di sini?”
“Tentu saja aku mau berlatih, aku suka dengan goloknya.”
“Bukannya kau takut dengan golok itu? kau bahkan menangis meraung-raung kemarin saat dibawanya ke dunia lain.”
“Aku kan dulu takut karena belum tahu, kalau sekarang tidak takut, sesekali aku melihatnya di rumah saat aku lepaskan dari tubuhku.”
“Baiklah, kalau begitu, ayo kita bertemu yang lain.”
“yang lain? memang ada orang lain?” Hartino bingung.
Sementara jin yang menyerupai Har pulang ke rumah, Har bersama Mulyana ke gua Har.
Saat sampai, dia menunjukan ekspresi senang, berbeda dengan ganding, si jenius yang penuh perhitungan dan curiga itu. Har malah langsung menerobos tubuh Mulyana dan masuk duluan sembari berlari kecil senang, Mulyana melihat itu hanya tertawa kecil.
Ketika pintu dibuka, Mulyana melihat yang lain berkumpul, seperti biasa Alka sedang meracik ramuan obat, Ganding dan Jarni sedang bermain dengan ular mini milik Jarni.
Semua kaget melihat kedatangan Hartino, dia yang ramah dan periang langsung memperkenalkan diri.
“Halo, namaku Hartino, aku murid Bapak seperti kalian, semoga kalian semua bisa menerimaku ya, aku orangnya ramah dan hangat, jadi jangan sungkan untuk dekat denganku ya, halo semua, hei kau, kau manis sekali.” Hartino menyapa Jarni mungil yang memang manis sekali.
Jarni mengangkat tangannya untuk menyapa balik, tapi Ganding buru-buru menangkap tangan itu agar tidak jadi menyapa balik Hartino.
“Kau siapa? Jarni, jangan bicara pada orang asing, kita tidak tahu apa tujuannya ke sini, bisa jadi dia bukan anak baik, lihat saja dari caranya menyapa.” Ganding terlihat kesal dan tidak suka.
“Hei, aku anak baik, memang ada yang dibawa bapak tidak baik di sini?” Hartino memberikan pertanyaan yang membuat Ganding jadi kaget dan bingung menjawab, tapi bukan si anak jenius namanya kalau kalah.
“Belum pernah, mungkin kau orang pertamanya.”
“Hei! aku orang baik tahu, ya kan Pak.”
“Sudah, sudah, Hartino akan bergabung dengan kita, Alka akan melatihnya ya, Alka, satu tanggung jawab lagi, apakah kau bisa?”
“Aku akan berusaha, Pak.” Alka masih sibuk mencoba membuat ramuan obat, dia memang tertarik dengan itu.
Sejak hari itu Hartino mulai bergabung dengan Alka dan kawan-kawan.
…
“Aku mulai lelah dengan kalian berdua, selalu saja bertengkar, tidak bisakah kita berlatih dengan damai?” Setelah beberapa bulan melatih, Alka mulai kesal dengan pertengkaran yang selalu Hartino dan Ganding ributkan, padahal kadang hanya masalah sepele.
“Kak, kita saja sedang berlatih untuk entah perang apa, masa kau suruh kami berdamai.” Biasa, si jenius membantah, dia habis pukul-pukulan dengan Hartino, hanya karena Hartino memegang ular Jarni.
“Hei kau anak sok pintar, diam.” Alka kesal karena dijawab.
“Aku memang pintar.” Ganding masih saja membalas perkataan kakaknya.
Alka kesal, dia lalu menyabet kaki Ganding dengan cambuknya, seketika tubuh Ganding jatuh karena kakinya terlilit cambuk Alka.
Hartino tertawa terbahak-bahak melihat itu, Alka kesal dan melakukan hal yang sama pada Ganding.
Mereka berdua jatuh karena cambuk Alka.
“Yang terpenting dari pelatihan ini adalah kerja sama, kalau kalian tidak bisa kerja sama, bagaimana kita bisa menjadi tim kelak?” Alka mulai serius.
“Memang kita menjadi tim untuk apa sih kak?” Hartino bertanya, tubuhnya sudah bisa bangun, begitupun dengan Ganding.
__ADS_1
“Untuk membantu orang-orang yang butuh, sesuai perintah bapak.”
“Aku tidak sabar melakukannya.”
“Kau masih kecil, jadi jangan terlalu terburu-buru, sekarang latihan saja dulu, kalian saja sekarang berantem terus, gimana mau fokus?” Alka kesal lalu membawa Jarni masuk ke gua, tapi sebelum itu dia berkata, “selesaikan apapun itu masalah kalian, karena kalau sampai aku melihat kalian bertengkar lagi, aku akan memilih satu diantara kalian.” Alka malas berdebat, jadi dia langsung memberi hukuman saja.
Setelah Alka berlalu, Hartino langsung mendekati Ganding.
“Sebenarnya apa sih masalah kamu Nding? kok selalu saja marah denganku, kau selalu duluan loh memukulku?”
“Aku? itu hanya pikiranmu saja, kau terlalu GR!” Ganding marah dituduh.
“Apa ini karena … Jarni?”
“Kau gila!”
“Kita ini masih terlalu kecil Nding untuk suka-sukaan gitu, buatku Jarni itu seperti adik kecil yang manis, aku menganggapnya keluarga dan aku sedang berusaha juga menganggapmu keluarga, kalau kau tidak mau aku dekat-dekat dengan Jarni aku marahlah, karena dia keluargaku, bapak bilang, kalau kita itu keluarga, jadi kau harus jujur, kalau ini semua karena Jarni, percayalah, aku sayang dia sebagai adik kecil, karena aku anak tunggal, tidak punya adik, aku sayang dia seperti adikku.”
Ganding diam tidak berbicara apapun, dia sebenarnya memang melakukan itu karena cemburu, cemburu anak kecil, iri kalau apa yang dia suka diambil orang lain, walau Hartino tidak pernah mengambil apapun, Jarni memang selalu lebih dekat dengan Ganding daripada Hartino, tapi Ganding terlalu serakah ketika mengenal Jarni, sayangnya, perasaan itu bukan perusahaan seorang keluarga, Ganding akan menyadarinya ketika sudah remaja, makanya sikap tertutup Jarni dan tidak mau berbicara membuat Ganding merasa aman, setidaknya tidak akan ada orang yang bisa dengan mudah mendekati Jarni, tapi Hartino berbeda, Jarni terlihat bahagia melihat kedatangan Hartino.
Sekarang, Ganding jadi mengerti, bahwa pandangan Hartino dan Jarni satu sama lain sama, mereka menganggap satu sama lain keluarga, tapi Ganding berbeda, dia tidak mau kalau Jarni jadi keluarganya, saat ini dia belum mengerti perasaan apa itu, tapi kelak, dia akan tahu, bahwa hanya Jarni yang akan mengisi hari-harinya, dengan semua hal tentang bagaimana membuat Jarni bahagia.
Hartino pergi, dia sudah berusaha untuk mendekatkan diri dengan Ganding, tapi Ganding hanya diam saja sedari tadi.
“Har!” Ganding memanggil, “aku akan berusaha untuk menjadikanmu keluarga.” Ganding mengejar Hartino, dia merangkul Hartino, pertama kalinya dia merangkul Hartino yang selalu saja dia musuhi selama beberapa bulan lebih mereka kenal.
“Jadi, gimana? apa kalian sudah memikirkannya?” Alka bertanya setelah Ganding dan Hartino masuk gua.
“Ya, kami sudah menyelesaikan masalah, sekarang kami akan berusaha kooperatif Kak, maafkan kami ya.” Ganding berbicara duluan, dia tahu, kalau dia yang menyebalkan sebenarnya.
“Kalau begitu kalian sudah siap untuk berlatih lebih banyak lagi?” Alka bertanya.
“Iya Kak.” Yang ditanya menjawab dengan serempak.
Alka lega, selalu menjadi penengah atas semua pertikaian Ganding dan Hartino itu melelahkan, Alka bukan tidak tahu apa akar masalahnya, tapi mereka seharusnya fokus pada apa yang menjadi tugas yang harus diselesaikan.
“Baiklah kalau begitu, cukup untuk hari ini ya, kalian pulanglah, ingat untuk berganti peran setelah pengganti kalian keluar dari rumah, jangan sampai tertangkap basah sedang bersama sang peniru wajah kalian.” Alka mengingatkan lalu mereka pergi.
“Pak lagi tulis apa sih?” Alka bertanya, dia penasaran karena selama ini dia selalu melihat Mulyana menulis di meja gua Alka, menulis di sebuah buku sederhana, khas anak sekolah.
“Ini? warisan untuk Adit.”
“Hah? warisan untuk Adit anak Bapak?”
“Iya.”
“Bukannya seharusnya ditulis lebih rapih Pak? pakai mesin ketik di kantor Bapak?”
“Kan Adit dan ibunya nggak tahu kantor Bapak, lagian ini bukan tentang perusahaan.”
“Oh bukan tentang kantor, kirain Alka warisan hanya soal uang.”
“Bukan soal uang Ka, kalau uang sudah Bapak atur lebih rapih, tapi ini jauh lebih berharga soal uang.”
“Apa emang Pak yang lebih berharga dari uang?”
“Bagaimana caranya dia nanti bisa membantu orang dari pengalaman yang Bapak sudah lewati selama ini.”
“Hah? jadi warisannya pengalaman Pak?”
“Betul Nak.”
“Alka boleh baca?”
“Boleh, kenapa tidak?”
Mulyana memberikan bukunya itu, buku yang selalu dia taruh di laci dashboard angkotnya.
“Wah ini seperti diary yang Jarni suka bawa itu ya Pak, tapi kalau Jarni pakai buku yang lebih bagus dan lucu, tapi ini kenapa Bapak hanya buku tulis anak sekolah?” Alka tertawa.
“Supaya nanti kalau Aditia sudah pakai, tidak repot bawanya, tahukan kalau buku ini bahkan bisa diselipkan di kantung celana sekolah kalau dilipat dua memanjang? itu karena saking fleksibelnya ini buku, makanya Bapak tulis di buku seperti ini, agar Aditia tidak malas membawanya kemana-mana.”
__ADS_1
“Wah Bapak benar-benar sudah memikirkan hal itu ya.” Alka takjub, Mulyana selalu memikirkan bagaimana menjaga keluarganya, Alka kadang iri sama Aditia, karena dia punya ayah super baik dan Alka ingin ayah seperti itu juga, andai ayahnya juga seperti Mulyana, atau paling tidak mengakuinya saja, Alka pasti sudah senang sekali.
“Iya, Bapak sudah pikirkan semua, nanti kalau Bapak nggak ada, Alka harus bantu Adit ya.”
“Memang Alka boleh ketemu Adit Pak?”
“Boleh.”
“Benar sudah boleh?”
“Boleh, tapi ….”
“Tidak boleh terlalu dekat, kan, Pak?” Alka menunduk.
“Alka tahu, kan, kenapa Bapak begini? kenapa Bapak melarang Alka terlalu dekat dengan Aditia, ini untuk kebaikan kalian berdua .”
“Alka mengerti, Pak.”
“Alka, takdir adalah urusan Tuhan, tapi memaksakan kehendak karena ilmu, itu hal yang tidak baik, Alka dan Aditia akan terluka kelak jika itu terlepas, jadi, Alka mesti sangat menjaga, kalau akhirnya kalian bertemu kelak, Alka harus pastikan, tidak akan pernah terlalu dekat dengan Adit.”
“Iya Pak, Alka mengerti.” Alka lalu tersenyum, perih rasanya, tapi dia tidak ingin melanggar janji pada Bapak, yang sudah mengurusnya selama ini.
Bapak lalu pulang setelah menyelesaikan tulisannya.
Alka termenung di dalam gua, dia sulit tidur, mengingat pembicaraan tadi, semua akan baik-baik saja jika dia tidak bertemu Adit, tapi kalau dia harus bertemu, itu akan sangat sulit, pasti akan ada efek yang harus dia tanggung, Alka tidak menyesal tapi dia takut, takut kalau takdir akhirnya harus membuatnya bertemu.
Kalau takdir akan sekejam itu, Alka bisa apa?
Tidak terasa bertahun-tahun lewat, semua orang sudah semakin dewasa, Alka sudah berumur tiga puluh tiga tahun, sedang semua adiknya sudah berumur dua puluh tahun, belasan tahun telah dilewati bersama, ribuan latihan telah di lakukan bersama, ratusan kasus diselesaikan tim dengan baik.
Sampai tiba waktunya mereka harus melepaskan kepergian orang yang tidak pernah lalai membimbing mereka menjadi anak-anak luar biasa dengan kemampuan istimewa.
Alka, Jarni, Ganding dan Hartino, hari ini memakai pakaian serba putih, itu adalah pakaian yang mereka pakai jika berkabung, mereka datang pagi sekali di pemakaman.
“Pak, biar Hartino sama ganding aja yang gali lubangnya, ya.” Hartino membujuk para penggali lubang menggali lubang kuburan, si penggali tidak menolak karena mereka pikir Hartino dan Ganding adalah keluarga, walau mereka heran, menggali tanah kuburan dengan pakaian serba putih, apakah itu tidak merepotkan nantinya saat akan mencuci baju, tapi terserahlah, itu pikiran para penggali dan menyerahkan urusan gali pada dua orang lelaki muda itu.
Setelah menggali selesai, mereka menjauh, karena sudah terdengar iring-iringan jenazah.
“Kita tunggu di sini saja, ya.”
“Aku mau melihat jasad Bapak Kak.” Hatino membujuk.
“Tidak! jati diri kita tidak boleh ada yang tahu, kita yang harus menjaga mereka dari jauh, bukan mereka yang kaget dengan kedatangan kita, jadi aku mohon, tetaplah kalian tenang.” Alka menolak mendekati jenazah Mulyana.
“Memang kenapa kalau keluarga Bapak tahu tentang kita?” Hartino kesal dia menahan tangis.
“Karena kalau satu kebohongan bapak ketahuan, kebohongan yang lain akan dituntut untuk ada, Bapak akan dicap sebagai pembohong oleh keluarganya, jadi sekarang diam adalah cara yang terbaik untuk kedamaian. Kita pantau saja dari jauh ya, setelah mereka pergi, kita bisa mellihat makam Bapak.”
Iring-iringan jenazah datang, Alka dan semua adiknya menangis, menangis karena hanya melihat Bapak dari jauh ditidurkan di tempat peristirahatan terakhirnya.
Alka memandang terus ke arah kuburan itu, dia tidak ingin memandang yang lain, begitupun semua adiknya, mereka fokus ingin melihat Bapak yang dikubur di liang lahat oleh anak lelakinya dan keluarga laki-laki yang lain.
Tidurlah Pak, tidurlah, terima kasih sudah membawa kami menjadi anak-anak yang hebat, karena kalau bapak tidak melakukannya, Pasti Jarni sudah ketergantungan obat dan mungkin masuk rumah sakit jiwa, Ganding pasti telah menjadi anak bodoh yang dicekoki obat dan Hartino menjadi buruk sifat, karena diasuh kakeknya, sedang Alka, Alka mungkin menjadi makhluk yang selalu dipengasingan, di gua yang ditakuti dan menjadi gadis mengerikan.
Berbeda dengan saat ini, walau keberadaan mereka tidak diketahui, tapi sudah banyak orang yang mereka tolong, itu menjadi sebuah kepuasan batin yang membuat mereka merasa berharga.
Terima Kasih Pak.
_____________________________________
Catatan Penulis :
Ini hadiah yang aku janjikan untuk 2 orang yang mendapatkan Giveaway dari aku ya, sudah jadi ternyata, selanjutnya tolong bantu aku infokan fb kalian ya, tulis saja akun FBnya di coment nanti aku DM kalian dari FB untuk minta alamat.
Part selanjutnya SABA ALKAMAH ya.
Terima kasih selamat malam.
__ADS_1