Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 484 : Nyebrang 16


__ADS_3

Perkataan itu membuat Eman jadi cukup dikenal dan ditakuti, walau saat mengatakannya, Eman agak gemetar, dia tak seberani itu, tapi untuk istri dan anaknya, dia akan maju paling depan, apalagi hal seperti ini, di mana dia tahu dengan jelas, istri dan kawannya tidak salah.


“Pak RT, terima kasih ya sudah mau mengumpulkan orang-orang desa ini, saya sungguh terbantu.” Eman menyalami Pak RT dan menyelipkan amplop putih berisi uang pada Pak RT.


Dia tahu, kalau birokrasi tanpa uang, adalah kemustahilan. Maka dia sudah bersiap soal ini, dia memberikan sogokkan pada Pak RT, Pak RW dan tentu saja, Pak Polisi agar mau mendampingi kasus ini.


Apakah ada yang tahu siapa perempuan itu?


“Kenapa kau melakukannya?” Aep bertanya, mereka sedang berada di sawah yang sedang Aep garap, Eman datang membawakan singkong dan ubi rebus buatan istrinya.


“Kau makan dulu, aku tak tahu, apakah selama ini kau makan dengan baik.”


“Man, kau itu bukan bapakku, kenapa kau sangat perhatian?”


“Aku ini dua bersaudara Ep, kakakku meninggal saat dia masih remaja, dia itu ... mirip denganmu, orang baik, tidak pernah mau melawan saat ada orang yang menjahati, hingga saatnya dia dipukuli oleh teman-temannya hanya karena tidak mau membantu mencuri toko emas di pasar.


Lalu dia pulang dalam keadaan babak belur, Ep. Kami membawanya ke rumah sakit, tapi sayang, ternyata lambungnya robek dan paru-parunya juga bocor karena pukulan dan tendangan yang sangat keras.


Dia meninggal masih dalam keadaan memperhatankan hal baik dalam hidupnya. Kami melapor kepada Polisi, para pemuda itu ditangkap, tapi sayang, karena masih di bawah umur, mereka hanya dipenjara selama 2 tahun saja, apalagi kakakku tidak meninggal ditempat, jadi dianggap sebagai kematian yang tidak direncanakan dan tidak disengaja.


Sedih hatiku Ep, saat melihatmu, aku seperti ... melihat kakakku lagi, orang baik tapi banyak yang jahat pada kalian, pada kakakku dan kamu Ep.


Saat dulu, aku masih kecil dan tak bisa membantunya, sekarang, aku cukup dewasa dan tahu kalau kau bukan orang jahat.


Kau tidak pernah berpura-pura atau membohongiku, soal gosip itu, aku percaya padamu, terlebih pada istriku, kalian berdua, adalah dua orang yang selalu menjaga rasa percaya orang pada kalian, makanya ketika gosip itu berhembus, aku khawatir pada istriku dan kamu.


Aku melakukan itu, bukan hanya untukmu, ada kepentinganku di dalamnya, aku ingin membersihkan nama istriku dan juga nama rumah tanggaku, jadi aku melakukannya bukan hanya untukmu.”


Eman mengangingatkan bahwa memang dia melakukan untuk dirinya sendiri juga.


“Man terima kasih ya, kau tetap bertahan denganku yang bukan orang baik ini.”


“Baik tidaknya seseorang bukanlah hakku untuk menilai, karena itu haknya Allah Ep, untukku, kau sahabatku yang tidak palsu, aku tahu kau orang baik karena kau tetap menjaga kehormatan istriku ketika aku tidak ada di rumah kau menjaga istriku seperti saudara, maka aku tahu, kau orang baik Ep.”


“Sudah, jangan terlalu memujiku, kau harus tahu, semua orang punya sisi jahat juga.”


“Ya, aku tahu kok, maka kau tenang saja ya, sekarang kita sudah terbebas dari fitnah itu, jujur aku ingin tahu soal dukun-dukun yang menyerangmu, apakah suara ledakan yang aku dengar beberapa malam itu, di atas rumahku, itu karena memang mereka menyerangku?” Eman penasaran soal itu.


“Ya, maaf Man ya, ternyata mereka juga menyerangmu, aku selalu berjaga setiap malam. Memastikan bahwa keluargamu tidak akan pernah celaka.”


“Aku tahu itu, di balik kau yang kasar kemarin, Aep temanku tetaplah teman yang baik.”


...


“Kang Jaka!” Mang Eman berteriak begitu Hartino datang dengan seseorang yang terlihat lemas tapi masih bisa berjalan.


“Itu Kang Jaka? Hartino kau menemukan Kang Jaka di mana?” Aditia terlihat terkejut sama seperti yang lain.

__ADS_1


“Di Bogor Dit, udah masuk dulu ya, ini udah makan tadi di Bogor, tapi belum istirahat, kami ke sini naik taksi online dia pasti kelelahan, belum aku tanyai, sengaja tak aku beritahu Pak RT dulu, biar di istirahat.”


Hartino memapah Kang Jaka yang bisa jalan tapi lemas itu, Alisha di belakangnya, yang lain juga ikut masuk ke dalam.


Pintu rumah ditutup, karena mereka tak ingin ada yang melihat dulu, urusan warga nanti saja.


“Hartino, kau bisa ceritakan saja dulu, apa yang terjadi di Bogor itu?” Aditia bertanya, mereka semua sudah duduk di ruang tamu dengan tikar saja.


“Saat aku dan Alisha menyebrang, kami melihat kerumunan, kau sedang menelponku saat itu kan dan aku bilang ada kerumunan, itu adalah Jaka yang kami ketemukan sedang terkapar di pinggir jalan, katanya dia tiba-tiba muncul dari hutan yan ada di pinggir jalan, lalu seperti orang linglung bertanya di mana, setelah tahu di Bogor dia pingsan.


Awalnya aku tidak tahu kalau itu adalah Jaka, kan aku dan Alisha belum pernah melihat lelaki itu. Tapi entah kenapa, aku memiliki firasat lelaki ini adalah Jaka, karena kemunculannya yang tiba-tiba.”


“Lalu, bagaimana kau memastikan bahwa benar beliau adalah Jaka?” Aditia bertanya lagi.


“Saat Kang Jaka pingsan untuk beberapa saat, akhirnya dia terbangun setelah digotong ke suatu warung di tempat itu, Kang Jaka bangun, aku langsung bertanya benarkan dia Jaka, lalu dia mengangguk, aku bilang pada semua orang, bahwa Kang Jaka ini adalah orang yang aku kenal dan keluarganya mencari dia karena menghilang, aku tidak ingin mereka menghubungi Polisi, karena bisa jadi berita besar, kau tahulah, kalau sampai jalan persawahan itu tenar, akan banyak orang yang datang, bahkan biasanya para pemburu konten akan datang dan menantang maut.


Nanti akan banyak korban dan juga kemungkinan sulit bagi kita untuk membersihkan tempat itu dan menggali kasus di sana.” Hartino menjelaskan, untuk dia segera mengambil keputusan cepat untuk membawa Jaka pulang, karena akan sangat menakutkan kalau saja hal itu terjadi, tempat itu menjadi tenar karena Kang Jaka ini.


“Kami membawanya untuk makan dulu setelah keluar dari kerumunan itu, setelah makan, aku langsung memesang taksi online untuk ke sini, aku memintanya untuk tidur saja dulu selama perjalanan, aku belum menanyakan apapun padanya, karena aku ingin dia istirahat, sekarang, kita bisa mulai untuk menanyainya.” Hartino kembali menjelaskan.


Kang Jaka juga sudah terlihat lebih segar, dia tidak seperti sebelumnya terlihat sangat linglung.


“Kang apakah Akang tahu, sudah berapa lama Akang hilang?” Aditia bertanya.


“Maaf, kalian ini siapa?” Kang Jaka tentu bingung, dia memang kenal dengan Mang Eman, tapi dengan kawanan? Tentu saja tidak.


“Sama seperti Mang Aep ya? orang pintar?” Kang Jaka bertanya.


“Iya, begitulah kurang lebih.” Mang Eman tidak mau menjelaskan detail, nanti jadi panjang.


“Oh begitu.”


“Kang, saya tanya lagi ya, Akang tahu tidak? sudah  berapa lama Akang hilang?”


“Tidak tahu, seinget saya mah, baru semalam saya dan teman saya lewat jalan itu untuk ke pos ronda bareng, tapi kami melihat ... melihat ... apa ya ... kami melihat sesuatu yang mengerikan, cigana mah setan (kayanya sih setan), tapi poho euy (lupa), jurigna teh naon (setannya tuh apa).


Trus kami memutuskan balik lagi, mau lewat jalan memutar, tapi ... kok nggak sampe-sampe, kami berhenti lagi, jalan lagi, berhenti lagi, jalan lagi, terus begitu, tapi tiba-tiba temen saya hilang euy! Itu si akan gimana ya? dia hilang, duh, ngomong apa saya sama istrinya?!” Jaka baru teringat temannya hilang.


“Baik Kang, pertama temen Akang udah balik duluan ke desa ini, jadi nggak usah khawatir,” andai Jaka tahu bagaimana temannya memfitnah dia, “sekarang Akang harus tahu, kalau akang sudah hilang selama 4 hari, beruntung akang bisa balik, karena memang orang bertahan tidak minum itu 3 sampai 4 hari, motor Akang pasti bensinnya habis, makanya akang keluar dari tempat itu.” Ganding menjelaskan.


“Oh iya, motor saya memang bensinnya habis, tadi makanya di bawa pakai mobil towing, disewain sama si Aa Hartino ini, nuhun ya.” Jaka baru ingat kalau motornya juga ikut dibawa pulang tapi pakai mobil towing, mungkin lebih lama sampainya.


“Nah itu dia, kalau motor temennya Kang Jaka lebih dulu habis bensinnya, makanya dia kembali ke desa ini lebih cepat, nyebrangnya juga nggak jauh.”


“Iya, dia emang cerita pas kami mau lewat jalan itu, kalau bensinnya pas-pasan, makanya dia nggak mau muter, takut bensinnya nggak sampai besok, dia bujuk saya kayak gitu, saya kasihan kalau biarin dia jalan sendirian di tempat itu, pikir saya mah, siapa tahu setan di tempat itu nggak ganggu kalau kita jalannya berdua, eh malah sama aja, saya malah hilang 4 hari, astagfirullah, pantas saya lapar banget, makan juga ampe 3 piring ya?” Kang Jaka meminta tanggapan dari Hartino.


“Wajah Kang, kalau makan 3 piring mah, orang nggak makan 4 hari, harusnya mah 4 kali 3 aja udah 12 kali makan, 3 piring doang mah wajar, nggak apa-apa.”

__ADS_1


“Nanti saya ganti ya uang makan, uang anter ke desa ini dan uang antar motornya pakai mobil towing.”


“Nggak usah Kang, kan saya juga nyebrang, nggak tahu deh kenapa bisa selama sejauh itu, padahal nggak sampai beberapa jam udah nyebrang.”


“Ah! Ari si Aa juga nyebrang?” Jaka bertanya.


“Iya, saya dan Alisha juga nyebrang dari jalan itu.”


“Oh, untung kita ketemu di sana ya, kalau nggak, saya juga nggak tahu deh, bisa balik ke desa ini gimana.”


“Kang, nanti saat semua orang sudah tahu kalau akang udah pulang, jangan kasih tahu ya, kalau kami juga menyebrang, jangan kasih tahu juga kalau kami adalah kerabat Paman Aep, kami ingin memberishkan jalan itu dengan senyap, tidak perlu ramai, karena bisa jadi akan ada fitnah lain, ya, kadang niat baik, tidak selalu disambut dengan baik pula.” Aditia membicarakan ini dengan hati-hati.


“Iya, saya juga nggak mau apa-apa sekarang mah, saya cuma ingin istri saya tahu saya selamat, dia pasti sudah khawatir.”


“Kalau begitu, saya antar pulang, kita ke Pak RT saja dulu, karena kita harus melapor, ingat ya Jaka, jangan bicarakan soal mereka ke siapapun. Oh ya satu lagi, warga desa juga tahunya kau yang bujuk temanmu itu untuk lewat jalan itu, dia berbohong soal itu.”


“Apa! ah! Dia memang nggak berubah, suami dan istri sama saja. Mereka selalu sukanya bikin masalah!” Jaka menyesal telah berniat membantu temannya, tahu gitu, biar saja dia hilang sendiri.


Mang Eman mengantar Jaka untuk ke rumah Pak RT, istrinya pasti senang suaminya telah pulang.


“Dit, kenapa aku dan kamu terlemparnya jauh sekali, maksudku, jarak dari desa ini ke tempatmu menyebrang itu hanya satu jam perjalanan, sedang aku jauh sekali, Bogor Dit!” Hartino protes.


“Mana aku tahu! Ada kabut yang menjadi tanda kalau perjalanan kita di tempat itu telah berakhir. Kau menemukan kabut juga kan?” Aditia memastikan.


“Ya, sebelum akhirnya kami sampai ke Bogor, kami melihat kabut itu, lalu kami tiba-tiba ada di Bogor.”


“Temannya Jaka juga bilang, sebelum dia akhirnya keluar dari jalan itu, dia melihat kabut.” Ganding ingat dia dan Jarni telah menyelidiki kesaksian temannya Jaka, di malam yang sama saat Aditia dan Hartino bersama pasangan masing-masing ke jalan itu dan sekaranglah mereka baru bertemu untuk diskusi.


“Kabut penanda jalan keluar dan juga, susunan waktu yang acak, dari jalan itu aku menyebrang lebih pendek dibanding Hartino, tapi dalam waktu yang sama, apa yang membedakannya?” Aditia bingung, padahal analisis seperti ini tugas Ganding, seharusnya Ganding yang ikut menyebrang.


“Lalu bagaimana dengan gendam yang ditularkan Wang Eman pada istrinya teman Kang Jaka itu? berhasil?” Alka bertanya, karena saat dia menggendam Wak Eman agar melihat Ganding dan Jarni sebagai petugas kelurahan juga, seperti teman Jaka dan istrinya melihat, Alka juga menempelkan mantra gendam pada tangan Wak Eman.


Alka tidak dapat ikut mereka untuk menggendam istrinya teman Jaka itu karena harus ke lokasi kasus, makanya dia memberi mantra pada tangan Wak Eman agar dapat menularkan gendam melalui tangan, itu alasannya kenapa Wak Eman bisa menggendam istrinya teman Jaka itu.


Kenapa bukan Jarni dan Ganding yang melakukan gendam itu? karena mereka adalah subjek yang akan menjadi akibat dari gendam itu sendiri, jadi mana mungkin bisa mereka melakukan itu.


“Tentu saja berhasil, mana ada mantramu meleset, kecuali kita bertemu jin setua Gandarwi.” Jarni memuji kakaknya, Alka hnay tersenyum.


“Dit, kita pakai kendaraan saja, mobil, kita isi bensinnya full, biar bisa lama di sana, mereka mungkin melempar kita keluar dengan cepat karena kita jalan kaki, jangan-jangan jin  di tempat itu adalah penadah bensin, makanya hanya yang memakai kendaraan yang dikerjai sampai bensinnya habis.”


“Kau sedang bercanda, Har? Kalau iya, itu lucu.” Mereka semua tertawa, karena ini sebuah lelucon yang seharusnya tidak dilontarkan di situasi seperti ini. Aditia terbahak-bahak dengan lelucon sederhana seperti itu.


“Tapi apa menurut kalian itu jalan yang bijak?” Ganding bertanya.


“Maksudnya?” Aditia tidak paham.


“Jangan hanya mengisi bensin mobilnya full, tapi bawa beberapa dirigen berisi bensin, biar kalau mau habis dan kita belum dikeluarkan, isi lagi, biar makin lama di tempat itu, lalu bawa juga makanan dan minuman, jadi kita tidak kelaparan, siapa tahu kita juga ditahan disana.”

__ADS_1


“Nding, ide bagus tuh.” Mereka sepakat, karena kalau pakai motor, mereka harus pergi terpisah lagi, tidak efisien.


__ADS_2