Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 463 : Kamboja 25


__ADS_3

“Terima kasih atas kemurahan hati yang Mulia, aku sungguh tak dapat berkata apa-apa lagi, beruntung sekali aku memilihmu Ratu.” Jarni membual, karena juga sebenarnya jijik mengatakan itu, tapi harus untuk sekedar menjilat jin tua ini.


“Kita akan tunggu besok lagi, kita akan mencari korban besok, kau dan aku akan keluar besok. Kita akan hadapi mereka bersama, bagaimana kalau habisi beberapa orang dari kelompokmu, pasti menyenangkan mencuri jiwanya.”


Jarni tersenyum, bukan karena akan berburu besok, tapi Ratu akan masuk dalam perangkapnya.



“Dit, Kak, bagaimana kalian bisa masuk?” Ganding heran karena tiba-tiba semua orang terlihat sudah masuk ke dalam terowongan itu.


“Bagaimana kepalamu?” Aditia bertanya.


“Sakit, wanita itu sungguh sangat menikmati aktingnya, hingga memukulku dengan sangat kencang.”


“Tapi kita sama-sama tahu kan, kalau dia tidak akan pernah mengkhianati kita.” Alka berkata untuk meyakinkan.


“Daripada mengkhianati, aku malah takut melihatnya, kau tahu apa yang dia katakan sesaat sebelum dia memukul kepalaku?” Ganding bertanya pada Alka dan Aditia yang mendekatinya sedang yang lain membujuk untuk jiwa-jiwa itu mau dijemput, tapi sepertinya mereka semua akan menolak.


“Dia bicara apa?” Aditia penasaran.


“Dia berbicara tanpa mengeluarkan suara, dia menggerakkan bibirnya, perkataannya adalah, ‘AKU MENCINTAIMU’ lalu dia memukulku tepat di kepala, saat itu jin tua itu ada di belakang Jarni hingga dia tak melihat apa yang Jarni katakan tanpa suara.


Aku merinding melihatnya mengatakan itu saking merasa kalau kekasihku keren sekali, dia memukulku dengan dingin sekaligus mengatakan mencintaiku, wanita mana yang mampu menyaingi caranya menyelesaikan masalah, baginya kawanan adalah yang tertinggi, jika harus melukai aku ataupun dirinya sendiri agar kawanan bisa selesaikan masalah. Dia bisa mengorbankan apapun untuk kawanan.


Aku takut sekaligus makin mencintainya, dia sangat keren bukan?”


“Aku yang takut padamu Nding, habis dipukul, kepalamu sepertinya ada masalah, masa dipukul kau makin cinta, aneh.”


“Tidak lebih aneh dari kalian sih.”


“Kami kenapa?” Alka bertanya, tentu Aditia langsung memelototi Ganding, karena Alka tidak tahu Aditia telah mengetahui Lanjonya, kalau kalian lupa, maka aku ingatkan, bahwa Aditia pernah mengancam kawanan, jika saja Alka sampai tahu kalau Aditia telah mengetahuI Lanjonya, maka Aditia akan membuat kawanan kehilangan Alka, dia akan menjauhkan Alka, kawanan sangat takut, makanya mereka bungkam.


Jadi saat ini Alka tetap menyangka bahwa Aditia mencintainya sejak pandangant pertama di kuburan itu, saat Aditia kehilangan kekuatan karena memusnahkan jin dengan tangannya tanpa alasan yang kuat. Pertemuan pertama merekalah yang Alka sangka sebagai kondisi di mana Aditia mencintanya karena fisik dan keadaan.

__ADS_1


Alka belum tahu kalau mereka berdua sama-sama terkena Lanjo, apakah kita perlu memberitahu Alka bahwa mereka sama-sama pesakitan?


“Tidak Kak, aku kan tahu kalau kalian berdua juga sama soal ini, kalau soal perasaan, kalian juga sama gilanya.”


“Mohon maaf, aku tidak.” Alka menyangkal, seolah lupa, ketika cemburu, dia bisa membumihanguskan satu desa.


“Jarni sedang membawa wanita itu keluar dari sini bukan?” Aditia masih belum menjawab pertanyaan Ganding, dia terus saja mencoba untuk melihat keadaan sekitar.


“Kau harus pulang!” Suara itu terdengar nyaring, Hartino memaksa Sardino untuk mau pulang ke tubuhnya yang masih koma saat ini. Tapi Sardino menolak.


“Kau yakin kalau istrimu tahu, dia akan tetap memilih uang dibanding dirimu?” Hartino memaksa dengan cara keras, sedang Alisha hanya diam, tak setuju dengan cara yang suaminya lakukan tapi tak mau frontal karena tidak ingin suaminya malu.


“Ada apa ini?” Aditia bertanya, Ganding dan Alka ikut serta, yang lain juga berkumpul di sana.


“Dia tak mau pulang, dia ingin emas itu juga untuk istrinya.”


“Yasudah biarkan.” Aditia berkata dengan dingin.


“Aku hanya ingin sampaikan salam dari istrimu yang kemarin mendekam di penjara, kau memakai tubuhnya untuk membunuh dirimu bukan? sayang keburu ketahuan dan beruntung kau masih selamat, istrimu dipenjara sedang menunggu pengadilan dimulai, mungkin dia akan dipenjara beberapa tahun saja, aku tidak membayangkan, betapa sedihnya anakmu tanpa ibu dan ayah, otomatis dia seperti anak yatim piatu bukan?


Lalu hartamu akan jadi apa? akan bisa membuat anakmu sekolah tinggi? kau yakin? setahuku anak yang tidak tumbuh oleh tangan orang tua, kebanyakan akan memiliki lubang di hatinya, kalau dia bijak, akan selamat dan akhirnya berprestasi dan membanggakan, tapi celakalah bisa dia menuruti ego, uangm takkan jadi apa-apa Dino, hanya debu yang mengotori mata, mau bukti? aku bisa antar kau ke penjara sekarang juga.” Kawanan mulai paham apa maksud Aditia.


“Cepat, Ratu itu akan kembali sebelum Adzan Subuh, kita harus segera membujuk semua orang untuk kembali, itu si tukang becak, dia sangat lemah tapi tetap saja mau mengabdi.” Ganding memberitahu yang lain, semua orang masih berusaha membujuk, tapi gagal, jiwa-jiwa itu tetap ingin tinggal.


Kawanan dengan tergesa-gesa tidak sadar, bahwa di pintu jalan masuk, telah berjalan dua sosok yang tadi meninggalkan terowongan.


Ratu Gandarwi murka, dia melihat jiwa-jiwa itu ada yang menghilang, walau banyak di antaranya masih bertahan di sana, tapi sisanya sungguh dapat terlihat mata, sudah tidak ada, pasti mereka yang berhasil masuk, Ratu Gandarwi berlari mencari kawanan di sana, sebelum itu dia menutup semua akses yang mungkin berhasil dijebol oleh kawanan, lalu dia berlari mencari kawanan dengan menyingkirkan jiwa-jiwa itu dari pandangan, saat jalan terbuka, kawanan terlihat, Aditia, Alka, Ganding, Hartino, Alisha, Jajat, Bohra, Dokter Adi dan Ami, mereka terkejut karena jiwa-jiwa itu tersingkir dari hadapan mereka, tak sadar, bahwa si empunya rumah telah datang.


“Bagaimana bisa kalian masuk!” Ratu Gandarwi bingung, karena dia merasa telah memastikan takkan ada yang bisa masuk, dia menggunakan ilmu baru dari yang dia gunakan di gedung dulu saat dia mencuri jiwa para pelamar kerja itu, dia kali ini memasang ajian penarik jiwa.


Dulu tubuhnya Aditia baru terpengaruh setelah berhari-hari kerja di gedung ghaib itu, tetap saja, akhirnya jiwanya lepas secara paksa juga. Tapi itu bukan ajian penarik jiwa, Nitalah yang menarik jiwa Aditia perlahan.


Tapi ajian di terowongan ini berbeda, ajian ini lebih kuat, karena Gandarwi belajar banyak setelah ditipu kawanan, dia membuat terowongan ini terlindungi oleh ajian tersebut, itu sebabnya Kharisma Jagat atau pemilik Khodam tak dapat masuk, karena jiwa mereka hendak ditarik paksa, salah satu hal yang dipelajari Gandarwi, tidak mengizinkan orang istimewa pemegang Karuhun maupun Khodam bisa masuk, agar tak kecolongan seperti dulu saat Aditia akhirnya jadi salah satu korban.

__ADS_1


Tapi tetap saja, semua musuhnya bisa masuk.


“Kau kah yang melakukan itu?” Gandarwi bertanya pada Jarni, Jarni yang tadinya di belakang Ratu, lalu berlari dan masuk ke dalam barisan kawanan.


“Apa kau pikir, kemarau belasan tahun, bisa terhapus oleh hujan satu hari? kau sudah tua tapi masih saja bodoh.” Jarni menertawakan jin tua itu.


“Anak kecil sok tahu, lalu kalian bisa apa? apa setelah masik ke terowongan ini kalian pikir bisa melawanku?” Gandarwi bertanya.


“Tentu saja.” Dokter Adi berkata sambil bersiap pada formasi Kharisma Jagat 4 penjuru.


Dokter Adi di paling depan, lalu di samping kanannya ada Bohra, di samping kirinya Jajat dan di samping belakangnya ada Ami.


Mereka mulai membaca mantra.


Jengandika Angsar Alor kidul nyambit


Dhagdeg sigam barus balor jahum


Nirna salamun jasdir


Sir takdabur baros


Nisak kramakala jahum


Mereka membacanya secara bersamaan, saling menyalurkan energi agar mereka semua dapat mengumpulkan energi 4 penjuru mata angin, setelah mantra selesai, mereka langsung membidik Ratu Gandarwi, sedang kawanan menyiapkan botol, agar setelah kekuatannya dimusnahkan oleh para Kharisma Jagat, Ratu tua itu bisa dimasukan ke dalam botol dan akan dipastikan tak ada lagi yang bisa membukanya.


Ratu itu terdiam, dia menatap Kharisma Jagat yang membaca mantra dengan terdiam.


Setelah mantra itu selesai dibaca, Ratu itu tertawa.


“Apakah kalian dungu, tak kah kau lihat, mantra kalian sudah tak lagi mempan padaku!”


Semua orang terkejut, mereka tak pernah tahu akan ada kejadian semacam ini, mantra dan kekuatan Kharisma Jagat tak mempan lagi!

__ADS_1


__ADS_2