
“Kenapa kita ke sini?” Adik bertanya pada kakak, karena kakak meminta adik untuk datang ke suatu tempat.
“Ini rumah sakit, tempat kamu lahir.” Kakak menjelaskan.
“Oh ya, aku tidak tahu, Mami pernah cerita, tapi kita tidak pernah ke sini lagi setelahnya.” Tubuh yang ditempati dua jiwa itu berbicara sendiri menyusuri lorong rumah sakit.
“Waktu kamu lahir, aku tidak datang, aku tidak mau walau papi ajak, karena ada tetangga yang bilang gini, kalau kamu lahir, Cici nggak disayang lagi sama mami papi, makanya aku nggak mau datang, karena tahu, pasti kamu akan ambil semuanya.”
“Aku nggak ambil semuanya.”
“Tapi kenyataannya, mami dan papi tetap hanya dua orang yang memiliki 1 hati saja, yang dibagi dua untuk memberi kasih dan sayang pada kita, sedang porsimu lebih banyak.”
“Nggak! kita sama-sama disayang kok.” Adik menyangkal.
“Tentu saja porsimu lebih banyak, kau tidak ingat, karena kau masih bayi, belum bisa mengingat apa yang terjadi padamu. Mungkin saat usiamu 5 tahun saja, ingatan itu akan samar. Makanya aku juga tak ingat ketika porsi itu diberikan padaku ketika aku baru lahir, porsi yang sama ketika mami dan papi berikan padamu, kasih sayang sutuhnya, perhatian seutuhnya dan rasa khawatir yang berlebihan.
Semua itu tidak aku ingat, bahwa kasih sayang yang mereka berikan berlebih itu, juga sempat diberikan padaku, saat aku lahir hingga kau lahir.
Karena aku saat itu masih kecil juga, ingatanku terbatas, maka yang aku ingat adalah, porsi kasih sayang kau mereka berikan padamu tidak aku dapatkan.
Yang aku ingat pada ingatan masa kecilku adalah, kasih sayang terbatas, perhatian terbagi dan rasa khawatir yang mulai pudar. Itu yang aku ingat.
Sedang kau juga sama, punya kenangan samar, dari umur 5 tahun hingga saat ... kematianmu.
Kau tidak ingat bahwa orang tuamu memberikan kasih sayang berlebih dibanding saudaramu, yang mami dan papi pikir, aku sudah cukup besar untuk mengerti, padahal belum tentu.
Itu memupuk rasa yang tidak menyenangkan bagiku, luka masa kecil yang meracuni hati, semakin hari rasa iri itu semakin besar, membuat cairan yang pekat pada hatiku, cairan itu membuat hatiku menjadi gelap.
Aku menolak usulan untuk berbagi denganmu, karena aku merasa kau sudah mendapatkan porsi agn jauh lebih besar dibandingkan aku, hingga aku berjanji, takkan pernah lagi membiarkanmu mengambol apapun dariku.
Perlahan aku menjadi dewasa, tapi masih ada anak kecil itu di dalam jiwaku, anak kecil 10 tahun yang ketakutan tidak disayang lagi. Orang pikir itu mudah, orang pikir aku semakin dewasa pikiranku akan terbuka dan hatiku akan membaik.
Mereka salah Dek, apakah ketika kau jatuh, lalu luka, jatuh lagi dan luka di tempat yang sama, luka itu semakin dalam, jatuh lagi dan luka di tempat yang sama, maka luka itu semakin dalam. Hingga tiba saatnya luka itu akan membaik seiring dengan waktu, tapi ... bukankah karena tingkat kedalaman luka itu, membuatnya meninggalkan bekas?
Maka bekas luka itu tetap ada, hingga tiba waktunya kau meminjam kaus putih itu secara paksa, bukan nilai kausnya, bahkan bukan karena kausnya, kaus itu tidak berharga, tapi cara kau memaksa mengambil apa yang aku punya, membuatku mengingat rasa sakit luka itu, luka yang berkali-kali di tempat yang sama, ditorehkan oleh orang tua kita, melalui pilih kasih dengan alasan kau masih kecil dan aku sudha besar, padahal hati dan pikiranku jauh lebih mengingat hal-hal itu dibanding dirimu, kau butuh perhatian karena masalah dasar, seperti makan dan buang kotoran, sedang kasih sayang, kau belum paham.
__ADS_1
Sedang aku, aku mudah terluka, mudah sakit dan mudah malu karena merasa tidak diinginkan. Maka ketika orang bilang kau lebih butuh kasih sayang, sebenarnya salah. Kau lebih butuh perhatian, tapi aku lebih butuh kasih sayang, karena perasaan ketakutan itu.
Tapi aku bukannya dirangkul aku malah diusir dari rumah.
Ketika itu aku tidak mau menyerah dan memaksamu untuk memberikan kembali kausku, hingga aku mengejarmu ke luar jalanan dan menyebabkan kau meninggal dunia, itu bukan karena kausnya, tapi itu karena harga diri yang lagi-lagi harus aku berikan padamu. Padahal dalam pemikiranku, kau mengambil porsi yang jauh lebih banyak, lalu kenapa aku harus kehilangan harga diri lagi?
Apa kau pikir kehilanganmu tidak menyakitkan bagiku? Aku sedih dan memikirkan untuk bunuh diri berkali-kali, tapi ternyata aku pengecut, aku sering berdiri di pinggir jalan itu, di mana kau akhirnya menghembuskan nafas terakhir dengan memegang kaus itu, aku menatap jalan itu, aku berkali-kali berpikir untuk ikut mati seperti dirimu.
Karena aku sedih, aku rindu padamu, aku sangat rindu, aku ingin kau ada di saat-saat terpentingku, walau mungkin aku harus kehilangan lagi dan lagi kasih sayang orang di sekitarku, tapi aku ingin mengulang hari itu, setiap hari, aku ingin kau mengalah dan tidak ambil kausnya dan mengerti rasa sakit akan luka itu yang kau kau torehkan bahkan tanpa tahu bahwa kau lagi-lagi mengingatkanku luka batin itu.
Maafkan aku, maafkan aku karena tidak mau mengalah waktu itu, maka kali ini kita akan menemui seseorang.”
Kawanan terlihat di hadapan mereka, mereka sedang berada di suatu lapangan yang gelap, hanya penerangan yang tidak terlalu terlihat.
Kawanan mendatangi kakak beradik dalam satu tubuh itu.
“Jadi, apa keputusannya?” Aditia bertanya.
Papi ada di sana, dia terlihat tenang.
“Aku kali ini akan menebus kesalahanku, aku akan mengalah kali ini.” Kakak berkata, adik hanya diam saja, entah apa yang dia inginkan.
“Mami!” satu tubuh dengan 2 jiwa itu berlari menghampiri ibu yang mereka rindukan.
“Anak-anak mami.” Mami memeluk mereka.
Kakak juga kaget, karena yang dia tahu, kawanan yang akan menemui mereka, bukan mami, ini kejutan untuk mereka berdua.
“Jadi, siapa yang akan ikut mami pulang?” Mami bertanya pada tubuh itu, isinya masih 2 jiwa.
“Cici Mi, Cici yang akan ikut mami, adik biar di sini aja, temenin papi, ya kan Pi?” Kakak berkata, papi hanya mengangguk.
Kakak benar-benar tulus kali ini, karena dia ingin menyelesaikan luka masa lalunya, sakit sekali harus menanggungnya sendirian selama ini, karena ketika dia cerita rasa sakit itu, orang-orang akan bilang bahwa dia tidak dewasa, bodoh karena bisa dikendalikan masa lalu atau bahkan kurang memiliki iman pada Tuhan.
Tapi mereka tak tahu, betapa kakak menderita, tidak heran, bahkan baru-baru ini tahukah kalian, ada seorang anak remaja bunuh diri karena tidak mampu menahan luka di hati.
__ADS_1
Maka lihat kanan dan kiri kalian, jika kalian melihat orang yang berubah dan memiliki mental yang lemah, peluklah, rangkullah dan katakan, dunia tidak seburuk itu, bertahanlah.
Jangan pernah bilang mereka lemah, mereka tidak punya iman bahkan bodoh. Karena tidak setiap orang lahir dengan mental baja, mentalmu baja, kau kuat, lalu apakah kau berhak menghina orang yang bermental lemah, mana kau tahu, mungkin kau harusnya mampu melindungi orang-orang bermental lemah itu bukannya malah menambah luka yang mereka rasakan.
Kakak memeluk jiwa adik untuk terakhir kalinya, kakak sudah siap keluar dari raganya, kakak akan pergi bersama mami.
Lalu keluarlah dia dari raganya ....
“Loh! Dik!” Kakak bingung, karena dia tidak keluar dari raga itu, padahal sudah bersiap, adik menahannya dan dia keluar sendiri dari raga itu.
“Kau sudah memberikan tubuhmu selama ini padaku, kau tidak memaksaku mengembalikan tubuh ini padamu selama seminggu ini, walau sebelumnya kau merengek, Ci. Itu sudah cukup, aku tidak ingin lagi menjadi dirimu, terlalu berat menjadi dirimu.
Maka aku yang akan ikut mami, kau ikut papi.”
“Dik, aku benar-benar ingin kau yang memiliki tubuh ini, izinkan aku yang mengalah kali ini.”
“Kau sudah melakukannya Ci, kau sudah melakukannya, aku berterima kasih, karena seminggu ini kau menjadi kakakku, hari itu, ketika kita ke taman bermain, hari itu hari paling bahagia dalam hidupku, aku bersamamu, Ciciku yang paling aku sayang.”
Adik berlari ke arah mami, mami lalu menggandengnya dan mereka berdua bersiap untuk ‘pulang’.
“Hei ... aku tahu kau bukan Mami. Tapi, terima kasih ya, aku memang rindu padanya.” Adik berkata pada maminya, maminya tersenyum dan mereka berdua akhirnya siap untuk ‘pulang’.
...
KETIKA ITU, SEBELUM ADIK MASUK KE TUBUH KAKAK.
“Jadi gini rencananya, kita akan pura-pura tidak tahu kalau adik masuk ke tubuh kakak, itu pasti terjadi, karena pasti itu yang adik inginkan." Alisha mengemukakan idenya,
"Trus?" Hartino bertanya.
"Trus ...."
_______________________________________________
Catatan Penulis :
__ADS_1
Sabar yaaaaa, besok penjelasannya.
Makasih semua.