
Bagian 62 : Ruang Ujian
Hari ini Aditia berusaha sebaik mungkin, dia sibuk membaca company profile dan juga peraturan perusahaan dengan sangat hati-hati, karena dia tidak mau melanggar peraturan perusahaan saat masa percobaan ini.
Dia mencoba fokus, tapi tiba-tiba terasa haus, oh ya, ternyata dia belum diberikan minum oleh OBnya, mungkin setiap orang mengambil minumnya sendiri, untung tadi ibu nyuruh Aditia bawa botol minum.
“Pak, pantry di sana ya? Mau ambil minum.” Lelaki yang ada di sampingnya, yang sedang sibuk bekerja, ditanya oleh Aditia, dia lalu nengoh dengan leher yang kaku, entah gerakannya seperti tidak luwes, dia tersenyum aneh, lalu mengangguk, Aditia merasa aneh, tapi dia mencoba mengabaikan, mungkin memang orangnya seperti itu.
Dia lalu berjalan ke pantry, pantrynya ada di ruangan yang sama, hanya berada di pojok saja, ruangan ini memang ruangan besar yang setiap pegawainya tersekat oleh sekatan meja saja, yang memiliki ruangan sendiri hanya staff HRD tersebut.
Aditia mendekati air yang ada di dispenser, mengambil air tersebut dengan botol minumnya.
“Pegawai baru?” Aditia ditanya oleh seseorang, seorang wanita, dia berpakaian sangat rapih dan cantik.
“I-iya Bu, Aditia terdengar sangat gugup, jujur tadi dia melamun saat mengambil air dari dispenser ke botol minum.
“Saya Ganita Darwi, panggil aja Nita.” Wanita itu mengulurkan tangan untuk bersalaman, Aditia menyambut tangan itu, dia senang, akhirnya ada yang bisa diajak ngobrol.
“Bu Nita, udah lama kerja di sini?” Aditia bertanya, botol minumnya sudah penuh terisi.
“Hmm, sudah dua tahun, panggil Nita aja, nggak usah pakai Bu, emang aku setua itu?” Nita mengambil gelas dan membuat kopi.
“Kerja di sini enak, Bu? Eh Nita.”
“Enak atau nggak, kerja ya kerja, ada enak ada nggaknya.”
“Iya, saya baru pertama kerja, sebelumnya hanya kuliah.”
“Oh begitu, yaudah banyak belajar di sini ya Dit.” Nita selesai membuat kopi, dia lalu kembali ke mejanya, ternya mejanya di sebrang meja Aditia.
Sudah punya teman kerja, lumayan menyenangkan bagi Aditia.
Dia kembali ke meja kerja, mulai membaca lagi, staff HRD memanggilnya lalu mengajak ke ruangan.
“Aditia sudah baca buku peraturannya?” Namanya Ibu Ningsih, dia adalah Asisten Direktur HRD, Pak Broto. Karena posisinya tinggi, dia punya ruangan sendiri.
“Sudah Bu.”
“Baik, tidak ada lembur ya, semua harus sudah pulang jam lima sore, lalu datang juga jangan terlalu pagi, kamu datang tepat waktu saja, selalu lapor security seperti tadi, tapi jika bertemu saya baru naik, mengerti?”
“Mengerti Bu.”
“Ada yang mau ditanyain?”
“Kalau kebetulan harus lembur, apakah saya tetap tidak boleh lembur?”
“Iya, tidak boleh lembur.”
“Baik, kalau begitu, kembali ke mejamu, bekerja dengan baik dan giat ya.”
“Baik Bu.”
“Oh ya, satu lagi … emmm. Tidak apa, yasudah, kembali ke mejamu.” Ibu Ningsih tidak jadi bicara, aneh sekali.
“Gimana tadi? Udah tanda tangan kontrak belum?” Tiba-tiba Nita sudah ada di belakang Aditia.
“Udah tanda tangan kontrak mah.”
“Oh, baguslah, nanti kalau udah lulus probation, lu harus minta pembaharuan kontrak ya, kalau nggak, nasib lu bakal sama kayak dia, dia, dia.” Nita menunjuk beberap orang.
“Kenapa mereka?” Aditia berhenti berjalan dan bertanya.
“Mereka jadi stress, karena butuh uang, kerja lama tapi belum naik jadi kartap, gaji segitu aja, jadinya pada aneh deh, udah tahu, kan, kalau kita nggak boleh lembur?”
“Iya, udah tahu.”
“Makanya mereka gila-gilaan kerja ngejar supaya target kerjaan selesai sebelum jam lima, kalau nggak mereka bakal dimaki-maki sama Pak Broto dan Bu Ningsih.”
“Kenapa nggak lembur aja sih?” Aditia berguman tapi cukup terdengar.
“Namanya juga peraturan, perusahaan pasti nggak mau bayar over time atau uang lembur kita, makanya diadain peraturan begitu, sebagai gantinya, dipaksa kerja keras, lu lihat, mereka kayak robot, kerja terus.”
“Kasihan.” Aditia menatap kasihan pada semua orang, pantas pada pucat begitu.
Setelah ini, hari-hari Aditia sangat sibuk, dia dihujani begitu banyak pekerjaan, kadang dia merasa kelelahan, padahal di sini banyak orang, ada Pak Doni, Pak Ikhsan, Pak Anwar, Bu Siska, tapi semua seperti sudah punya pekerjaan sendiri.
“Dit, kamu pucat sekali.” Ibunya datang mendekati Aditia, hari ini akhir minggu, jadi libur.
__ADS_1
“Masa Bu? Tapi aku nggak ngerasa begitu.”
“Beneran pucat Nak, ke Dokter ya?” Ibunya terlihat sangat khawatir.
“Kecapean aja kali Bu, kan Aditia baru aja mulai kerja, jadi kadang stres juga, kerjaan numpuk tersu tiap hari.”
“Oh gitu, tapi makan yang bener ya. Tiap siang, kamu makan di mana?” Ibunya bertanya.
“Hah? Tiap siang … di … di ….”
“Jangan bilang kamu nggak makan!” Ibunya terlihat marah, karena Aditia bingung menjelaskan di mana dia makan.
“Di kantin bu, aku tadi lupa istilahnya, di kantin kantor, biasanya aku beli di sana.”
Ibunya terlihat lega dan masuk ke kamar lagi.
[Kok aku nggak inget ya, makan siang di mana, seingatku, aku hanya kerja saja di sana. Masa aku bisa lupa soal makan siang dan istirahat.] Aditia berkata dalam hati.
…
“Dit, ini bawa bekal aja deh, jadinya nggak perlu keluar uang kan? Sekarang tiap mau kerja ibu bawain bekal aja, kayak Dita.”
“iya Bu, makasih ya.” Aditia lalu pergi dengan ojek onlinenya.
Sudah seminggu ini, Alka dan semua kawannya mencoba menghubungi, tapi Aditia tidak mau menerima, dia tidak bersedia bertemu juga, Aditia hanya butuh waktu dulu, dia tidak mau memikirkan yang lain, saat ini bekerja jauh lebih penting.
“Pak.” Aditia menyapa Security begitu sampai.
“Dit, sudah sampai, tunggu ibu Ningsih dulu ya.” Security itu meminta Aditia menunggu Ibu ningsih datang dulu.
“Iya Pak, Pak kalau temen-temen yang lain udah datang lebih pagi ya? Kok saya nggak boleh ya datang pagi?” Aditia bertanya saat mereka menunggu Ibu Nita, karena Aditia tidak boleh masuk ke gedung kantor kalau Ibu Ningsih belum datang.
“I-iya mungkin.” Pak Security itu mejawab.
Ibu Ningsih datang, lalu Aditia dan Ibu Ningsih masuk ke gedung kantor, Aditia melihat wanita yang berwajah rusak itu masih di sana, entahlah, mungkin karena sedang marah, Aditia tidak tertarik bertanya soal masalah perempuan itu kenapa masih ada di sini, tidak juga berniat mengantarnya ‘pulang’.
Aditia dan Ibu Ningsih sudah di ruangan kerja mereka, seperti biasa, sudah banyak orang di sana, bekerja dengan tekun, Aditia masih sesekali melihat ruang ujian itu, tapi sudah tidak ada lagi peserta ujian yang sama seperti waktu itu, pasti karena dia selama ini terlalu banyak bergaul dengan mereka yang tak kasat mata, makanya jadi sering berhalusinasi.
Aditia seperti biasa mulai bekerja, dia tekun sekali, seperti yang lain.
[Loh, kok, sudah jam 4 sore?] Aditia menatap sekeliling, kenapa dia tidak sadar, bahkan tidak ingin buang air kecil sama sekali, dia duduk dari pagi datang kerja sampai jam 5 sore, total sembilan jam dia duduk dan bekerja.
Tapi entah kenapa dia merasa lapar sekali, jadi dia selesaikan dulu pekerjaannya, lalu setelah jam lima kurang lima belas menit, dia ke pantry untuk makan, bekal dari ibunya.
“Dit, makan apa?” Nita ternyata yang datang, Aditia kadang heran, kenapa Nita terlihat sangat cantik, bahkan sudah sesore ini, dia masih saja terlihat sangat cantik, tapi dalam hati dia berkata, tidak secantik Alka.
“Ini, ibu bawain, niatnya mau di makan pas makan siang tadi, eh taunya malah bablas udah sore aja.”
“Nggak takut diomelin sama Ibu Ningsih? Kan ini udah jam lima lewat?” Nita bertanya.
“Kan cuma makan, bukan lembur, jadi pasti boleh.”
“Yaudah, aku pulang dulu ya.” Nita lalu pamit pulang.
“Dit, kamu kok belum pulang.” Panjang umur, Ibu Ningsih ternyata datang ke pantry juga, dia sudah membawa tas kerja dan juga laptopnya.
“Iya lagi makan aja bu, sebentar aja, ini abis ini juga pulang.”
“Yasudah, pokoknya pulang kalau sudah selesai makan ya, jangan lembur.”
Dalam hati Aditia kesal, apakah setakut itu dia membayar lembur?
Aditia bergegas membereskan meja, tas dan bekal makannya, saat sudah beres dia melihat Nita kembali lagi.
"Nit, kok balik lagi?"
"Ada yang ketinggalan Dit, duh mana udah lewat nih jam kerja." Nita terlihat panik.
"Gue temenin deh, udah sepi juga, nggak takut?"
"Takutlah, gue berani balik karena gue inget elu masih di sini."
"Yaudah gih, ambil dulu sana barang lu yang ketinggalan, abis itu kita turun." Aditia berkata meminta Nita cepat. Walau Aditia tidak tahu apa atau siapa yang sesungguhnya mereka harus takut.
Setelah Nita mengambil barangnya, dia bergegas ke arah pintu keluar bersama Aditia, saat hendak ke lift mereka harus melewati ruang ujian.
Mereka berdua terus berjalan, saat hampir sampai.
__ADS_1
"Kaseepppp, isi dulu kertasmu." Ada yang memanggil dari ruang ujian, Aditia nengok, ruang ujian sangat ramai, tapi bukan oleh peserta ujian, walau orang yang sama saat dia ujian seminggu yang lalu, tapi mereka terlihat mengenaskan, tubuhnya tidak utuh, bau anyir juga merebak memenuhi ruangan.
Aditia tidak mau masuk, karena dia tahu kalau dia masuk, tamat riwayatnya, ada belasan ruh jahat di sana, dia tidak akan mampu menghadapi, karena ... dia tidak membawa kerisnya, sejak kerja hari pertama, dia meninggalkan keris di rumah, karena Aditia merasa keris dan khodamnya bisa saja bentrok energi, makanya pas dia interview langsung diganggu hantu wanita wajah rusak itu.
Di luar dugaan, sekarang dia malah dalam bahaya.
"Aditia melihat Nita malah berbalik jalan ke arah ruang ujian, matanya kosong berjalan seperti melamun.
"Nita! Nita!" Nita tidak menjawab, dia terus saja berjalan.
Aditia akhirnya menarik tangannya agar dia tidak masuk ke ruang ujian itu.
Dia menarik Nita dan langsung berlari ke arah lift. Aditia memencet tombol turun, tapi tidak bisa. Liftnya mati, Nita gemetaran, dia melihat 'mereka' apa yang sebenarnya harus mereka takuti.
Aditia juga dalam keadaan lemah, dia tidak memegang kerisnya, seluruh kawannya juga tidak ada di sini. Lift masih tidak mau menyala.
"Nit, lewat tangga darurat." Aditia berlari mau ke tangga darurat yang ada di sebelah lift, tapi Nita masih saja gemetaran dan terdiam di depan pintu lift.
Aditia berteriak, "Nita! Cepat!" Nita kaget dan saat tersadar dia melihat dari arah pintu ada ruh-ruh jahat keluar dan berusaha mengejar mereka.
Nita berlari mengikuti Aditia lalu mereka masuk ke tangga darurat,
Mereka terus berlari ke bawah, saat sudah menemukan pintu tang seharusnya mengarah ke lobby, Aditia berusaha membukanya, tapi tidak bisa, pintunya terkunci.
"Kaseepppp, ayo isi kertasnua." Suara ruh itu lagi.
"Ke bawah Dit!" Nita berlari ke bawah, Aditia mengikutinya, ternyata masih ada lantai underground, mereka berharap lantai itu pintunya bisa dibuka.
Saat sudah sampai bawah, Aditia langsung berusaha membuka pintunya lagi, tapi masih berat dan terkunci.
"Dit ... Dit ...."
"Bentar Nit, lu bantuin gue buka sini." Aditia fokus membuka pintu.
"Dit!" Nita berteriak agar dapat perhatian Aditian.
"Kenapa?!" Aditia jadi kesal.
"Liat itu." Nita menunjuk angka pada tembok dekat pintu darurat, itu biasanya penunjuk lantai.
"Lantai satu. Bukannya kita tadi udah turun lagi? Seharusnya lantai UG, kan, Nit?"
"Iya tadi kita udah turun, tapi Dit, gue baru inget, lantai paling bawh itu harusnya lantai satu, mereka tidak punya under ground, tadi aku panik jadi lupa dan asal turun aja, Dit, lihat itu." Nita menunjuk tangga turun, bagaimana mungkin ada tangga turun lagi di sana.
"Kita naik." Aditia akhirnya berlari lagi untuk naik, Nita mengikutinya.
Saat sudah sampai, Nita dan Aditia terkejut, merekaasih di lantai satu juga.
"Gue ngerti sekarang, kenapa kita berdua nggak boleh lembur, bukan karena dia nggak mau bayar lembur tapi karena gedung ini ... berhantu, nggak seharusnya kita kerja di sini." Nita terdengar menyesal.
"Selama dua tahun lu nggak pernah lihat yang aneh-aneh?" Aditia bertanya.
"Nggak, ya kalau gangguan sederhana pernah, kayak suara tau sekelebatan, tapi itu kan biasa, kalau ini ga biasa."
"Kita kayaknya lagi masuk dunia mereka Nit, makanya lihat nih tangganya ga masuk akal."
"Hah? Serius? Kok lu tau? Lu ngerti hal-hal kayak gitu?"
"Lumayan, yaudah kita doa aja dulu, biasanya doa akan ampuh."
Aditia menengadahkan tangan, lalu berdoa dengan khusuk, udara menjadi lebih hangat yang semula sangat dingin.
Saat Aditia membuka mata, dia langsung mencona membuka pintu, pintu terbuka dan mereka benar ada di lantai satu dan keluar ke lobby, seketika Aditia dan Nita keluar.
"Hei! Kok masih di kantor, udah jam berapa ini, kan nggak boleh lembur!" Security memarahi mereka.
"Iya pak, tapi tadi ada ketinggalan barang jadi agak lama, tapi bukan lembur kok."
"Bukan lembur! Ini udah jam sepuluh malam, untung bisa keluar."
"Hah, jam sepuluh! Tapi tadi keluar jam setengah enam kok Pak, masa selama itu." Perkiraan Aditia benar, mereka terjebak di dunia lain, makanya sebentar di sana, tapi lama di sini.
"Yaudah, pulang sana, hati-hati di jalan."
Lalu Aditia dan Nita pamit mereka pulang terpisah.
Aditia apes sekali, kerja tapi di tempat aneh semacam itu.
__ADS_1