Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 468 : Kamboja Tamat


__ADS_3

“Tentu saja, siapa yang menolak kemewahan setelah kasus selesai seperti itu, sembari membahas serangan sempurna tadi.” Jajat bersemangat, yang lain juga.


Lalu mereka masuk mobil dan pulang, meninggalkan terowongan yang sudah netral, nenek yang berteriak seperti orang gila, kelak dia akan diangkut ke rumah sakit jiwa karena selalu menyerang tetangga rumahnya dan berteriak kalau dia punya emas yang banyak, kawanan tidak berniat membantu karena tidak merasa iba.


Malam ini akan diakhiri dengan bakwan atau kami orang sunda menyebutnya, bala-bala dan kopi hitam yang kadang pahit dan manis.


Sembari membahas serangan hari ini yang begitu sempurna.


...


“Baiklah Ganding, terima kasih atas rencana yang begitu sempurna.” Alka memulai obrolan di markas ghaib, dia mengangkat gelas kopinya, bersulang yang biasa dilakukan dengan alkohol, kali ini dilakukan dengan halal, segelas kopi dalam gelas putih yang memiliki pegangan.


“Aku rasa, rencana tanpa pion catur yang mahir, takkan pernah menjadi sempurna, Kak.” Ganding ikut mengangkat gelas agar mereka semua ikut bersulang, ini bukan kebiasaan, tapi hanya perayaan gaya barat, mereka akhir-akhir ini mengadopsi banyak akultural.


“Rencana utama adalah membawa nenek penipu itu untuk membatalkan perjanjian hingga akhirnya jiwa tukang becak itu bebas dan bisa mengaktifkan kembali mantra 4 penjuru pemusnah kekuatan dari 4 Kharisma Jagat di luar terowongan, tapi karena Aku dan Alisha tidak yakin nenek itu baik, maka Ganding membuat rencana kedua atau plan B.


Rencana itu adalah, Aku, Ganding, Jajat, Dokter Adi, Kak Bohra dan Jarni akan masuk dari sisi jalan masuk terowongan sisi lain dengan terowongan samaran dari Jarni.


Mengingat rencana sebelumnya berhasil saat menjemput Jarni dan Ganding, Jarni menyelundupkan kita dengan membuat terowongan samaran di sisi kanan terowongan itu dan menutupnya dengan jiwa yang sudah lemah, lalu kita berhasil masuk, maka seharusnya jika kita menerobos masuk selangkah demi selangkah, dengan melindungi diri melalui terowongan samaran yang Jarni bangun selangkah demi selangkah di bantu Kak Bohra di belakangnya, maka kita bisa masuk terowongan itu, dengan berjalan perlahan, sembari membangun selangkah demi selangkah terowongan samaran yang dibuat Jarni dan Kak Bohra.


Saat berhasil masuk tanpa merasa lemas, karena secara teknis kita dilindungi terowongan yang Jarni dan Kak Bohra bangun sambil kita jalan perlahan itu, kita akhirnya bisa membawa semua jiwa yang sudah melakukan perjanjian, termasuk jiwa dari supir taksi dan juga tukang ojek yang kebelet ingin emas itu.


Kita mengikatnya dengan tali ghaib agar mereka tak keras kepala ingin tetap di terowongan, lalu perlahak keluar lagi dengan kembali membangun terowongan ghaib sembari jalan selangkah demi selangkah, tetap Kak Bohra di belakang Jarni, lalu kami semua di belakangnya untuk mengawasi para tawanan jiwa yang menyerahkan diri pada Gandarwi.


Rencana B dipersiapkan apabila nenek itu melanggar niatnya dan ternyata benar saja, nenek itu masih ingin emasnya, lebih malah.


Aditia harus mengakui bahwa dia naif sekali untuk ini.”


“Bisa teruskan saja rangkumanmu Har? Jangan meledekku, aku sudah cukup malu karena bersikeras nenek itu berniat baik, ternyata niatnya hanya untuk mendapatkan emas lebih banyak lagi.”


“Baiklah, lalu saat kami berjalan perlahan keluar dengan terowongan samaran Jarni dan Kak Bohra, kami melihat bagian punggung Gandarwi, si licik itu rupayanya masih menginjak bagian terowongan yang dia mantrai dengan mantra pengambil jiwa, dia sungguh bersiap, jika saja kita muncul, dia akan langsung masuk lagi dan berlindung di terowongan itu, tapi telat, kami sudah ada di dalam terowongan dan secara bersamaan menendang punggung Gandarwi dengan sangat kencang hingga dia akhirnya terpental jauh dari terowongan yang dia sangat andalkan itu.


Sementara kami masih di dalam terowongan itu masih harus terus berjalan selangkah demi selangkah dengan hati-hati agar tidak lemas di dalam terowongan samaran yang dibuat oleh Kak Bohra dan Jarni.


Pada saat inilah waktu paling krusial bagi kita, jika saja tak ada rencana ketiga atau Plan C, maka kemungkinan kita akan tetap gagal, karena di saat ini, kami memang bisa menendang keluar tubuh jin tua itu keluar dari sarangnya, tapi kami masih di zona mantra yang dia buat, tak bisa langsung menyerang, maka plan C adalah A3 keluar dengan senjatanya, mereka keluar untuk membantu Aditia mengeroyok jin tua itu, mengulur waktu agar Jarni dan Kak Bohra berhasil untuk terus membangun terowongan samaran sambil berjalan perlahan hingga keluar dari zona mantra Gandarwi itu.


Kalian terus menyerang Gandarwi yang tak sadar, bahkan tak memprediksi bahwa kita banyak kepala dan bisa membuatnya lupa tentang batalnya perjanjian dengan tukang becak hingga mantra empat penjuru itu akhirnya berlaku kembali sebagai hukuman berkat tukang becak itu sendiri.”


“Berarti aku tidak benar-benar salah lah, Har. Kalau aku tak bawa nenek tua penipu itu ke hadapan suaminya, mana mungkin suaminya menyesal dan membatalkan perjanjian, ada andilku dalam keputusan tukang becak itu, kan? Lalu aku juga mengulur waktu agar kalian bisa sampai tepat waktu di punggung Gandarwi untuk menendangnya keluar, kalau aku tak biarkan nenek itu untuk mengoceh, mana bisa kalian menendang punggung jin tua itu.” Aditia teringan hal ini, paling tidak bisa menyelematkan muka karena dia malu dengan sikap nenek tua penipu itu.


“Ya, bisa dibilang begitulah, kau ini, sangat selalu ingin menang. Aku lanjutkan ya, setelah itu Kharisma Jagat empat penjuru mulai membaca mantra pemusnah kekuatan dan akhirnya membuat Gandarwi kehilangan kekuatannya secara sempurna.”


“Jangan lupa ini Har, kita memasukkannya ke dalam botol kaca dan membuat pagar  khusus agar ketika dia kembali kabur, kita bisa merasakannya, sekaligus menjaga supaya dia tak mudah kabur.”


“Oh ya Kak, itu bagian akhirnya.” Hartino menutup penjelasan dengan baik, mereka semua makan bala-bala dan minum kopi dengan khidmat.


“Ami ingin liburan dulu di sini? kami bisa antar.” Hartino bertanya, hanya mencoba untuk menawarkan sebagai tuan rumah, agar permintaan tolong mereka tak dianggap tidak sopan, masa selesai kasus, terus disuruh pergi gitu aja.


“Bolehkah?” Ami bertanya dengan mata berbinar, sisi anak kecilnya keluar, sementara Alisha biasa saja, tak cemburu, dia setuju karena tidak seharusnya mereka mengusir orang-orang yang membantu begitu saja.


“Boleh dong, ya kan Dit? Kak?” Hartino bertanya.

__ADS_1


Alka hanya mengangkat bahu, dia merasa itu tak jadi masalah,


“Dit?”


“Terserah Alka saja.” Aditia lalu pamit untuk pergi mandi, dia tidak terlalu suka kotor, dia juga tidak terlalu ingin liburan, apalagi ramai-ramai, kalau berdua saja dengan Alka, mungkin itu lebih menyenangkan.


“Kalau begitu, kita besok akan ke taman bermain di kota ini ya, taman bermain terbesar di seluruh kota di negeri ini, kau sudah pernah ke sana?”


“Belum, aku mana punya waktu, kau tahu kan, aku dan timku juga sama seperti kalian, menangani kasus, walau tak seberat kalian, karena timku hanya menangani kasus sederhana seperti kerasukan, tetap saja waktuku tercurah ke sana, karena Aki Dadan selalu memintaku berlatih terus, padepokan akan diturunkan padaku kelak.” Ami sedih karena dia juga kehilangan masa kecil yang indah saat bermain, waktunya sama seperti kawanan, hanya berlatih untuk menolong umat manusia.


“Kalau begitu, besok kita ke sana, kita semua, bagaimana?”


“Aku juga?” Kak Behra yang sedang hamil bertanya.


“Ya, kau juga, kan nanti tak perlu naik wahana, Kak. Hanya ikut saja dan lihat kami bermain.”


“Oh maksudmu jaga tas, Har?” Behra pura-pura kesal, padahal dia hanya bercanda.


“Tidak begitu Kak, hanya ingin pergi bersama orang-orang yang selalu sibuk ini, untuk bersenang-senang sedikit.”


“Har, kau siapkan semua ya, kita liburan sehari besok ke taman bermain itu.” Alka memerintahkan.


“Siap Kak, apakah perlu juga aku mengosongkan taman bermain itu agar kita bermain dengan tenang?” Hartino bertanya, ini memang kelakuan sultan muda kita, merasa dirinya bisa membayar apapun.


“Tidak perlu, aku ingin kita berbaur saja, jangan terlihat menonjol, kalau kau lakukan itu, akan ada yang mengambil gambar kita, lalu membaut status, sultan ibu kota mengosongkan taman bermain untuk keluarganya, maka wajah kita akan terekspos, setelah itu akan ada orang yang mencari tahu tentang kita, maka perlahan semua orang akan tahu siapa kita, apa kita dan apa yang kita lakukan.”


“Maaf aku tidak berpikir sejauh itu kak, karena terlalu senang.”


“Kau lelah kan?” Ganding mengusap kepala Jarni, dia tahu, sejak tadi Jarni terlihat sangat lemah.


“Membangun terowongan samaran itu berat, aku hampir saja menyerah saat akan keluar tadi, untuk Kak Bohra membantuku, sungguh itu menguras semua energiku, tapi jangan bilang kakak dan yang lain ya.”


“Jangan terlalu memaksa diri ya, aku takut kau akan celaka kelak kalau memaksakan dirimu terus.”


“Nding, kakak juga lemah sampai sekarang karena tragedi Bali itu, lalu apakah aku harus setengah-setengah saat tahu bisa sepenuhnya? Nding, yang aku takutkan adalah, mungkin aku akan mencelakaimu kelak kalua sampai ada pilihan kawanan atau kau, mungkin aku akan selalu memilih kawanan, maafkan aku, aku tidak bisa menjadi orang yang selalu memilihmu.”


“Aku marah.” Ganding menatap Jarni dengan mata yang terlihat tajam.


“Maaf ya, aku mencintaimu, tapi ....”


“Aku akan marah kalau kau merasa bersalah, seolah kau melakukan hal yang salah, kau ini benar, kau melakukan hal yang benar, kalau kau memilihku dan mengorbankan kawanan, kau pikir aku bisa hidup bersamamu lagi? kau itu semakin dewasa, caramu bersikap mirip kakak, mungkin karena kakak memeprhatikan dan melatihmu dengan instens, maka gayamu menyelesaikan masalah mirip kakak, aku suka itu, kau adalah wanita paling cerdas yang pernah aku kenal, selain kakak tentunya.”


Jarni tertawa sambil tetap meneteskan air mata, dia bersyukur punya Ganding dan kawanan, dia merasa semuanya cukup.


...


“Toloooonggggg ....” Suara wanita yang merintih terdengar setiap kali lelaki itu membersihkan lantai bagian depan pintu ini, entah ini pintu apa, karena dia dan juga Cleaning Services lainnya tak diizinkan masuk, ada orang khusus yang membersihkan tempat ini.


“Si-siapa di dalam!” Lelaki itu bertanya denganb berteriak, karena dia hanya takut benar ada wanita yang sedang terluka di dalam sana.


Tak ada jawaban, lelaki itu terus mendengar sambil memegang gagang pelnya.

__ADS_1


“Toloooongggggg ....” Suara itu kembali berbisik, lelaki itu semakin yakin ada perempuan di dalam ruangan ini, tapi pintunya selalu tertutup, apakah ada orang jahat di tempat ini?


Lelaki itu lalu ditelepon seseorang, itu membuat konsentrasinya buyar.


[Iya Amanda? Kakak masih di tempat kerja, kenapa?] Lelaki itu mengangkat telepon adiknya. Rupanya dia adalah kakaknya Amanda, kalian ingat? Lelaki yang ibunya meninggal dalam keadaan tubuh yang menghitam, Amanda sempat bermusuhan dengan kakaknya karena kakaknya meminta kalung pemberian Amanda untuk bayar kuliahnya, padahal kalung itu diberikan oleh Amanda untuk ibunya, hadiah gaji pertama.


Kalung emas yang dia beli di sebuah toko emas yang mengerikan itu ... di mana anak ambar menempel pada emas itu dan membuat pemakainya akhirnya perlahan meninggal dunia karena digerogoti rasa iri dan dengki dari anak ambar tersebut yang berwujud noda hitam pada bagian tubuh yang memakai emas itu.


Kakaknya Amanda di terima kerja di sini sebagai cleaning services, rencananya kawanan akan menaikkan posisinya kalau kerjanya bagus, tapi sekarang, dia masih menjadi Cleaning Services, karena belum lama dia bekerja di gedung ini, walau terkadang banyak hal janggal di sini, tapi dia terus tekun bekerja.


[Kak, nanti makan malam mau dimasakin apa?] Amanda sekarang kuliah sambil kerja, kakaknya membantu membayar kuliah dan makan sehari-hari, adiknya mengatur keuangan agar semuanya cukup, dia juga ingin kakaknya melanjutkan kuliah.


[Apa aja Amanda, pokoknya yang ga susah, sebentar lagi kakak pulang ya.] Lalu kakaknya menutup telepon dan hendak membereskan sisa pekerjaan, tapi entah kenapa, dia masih merasa risih dengan permintaan tolong dari suara perempuan di balik pintu ini, dia jadi ingat adiknya, karena suara di dalam itu, suara minta tolong perempuan.


“Toloooooonggggg ....” Suara bisikan itu makin jelas terdengar, dia melihat ke sekeliling, sepi, tak ada orang yang lalu lalang.


“Aku akan mencoba masuk, aku akan mencari kunci, siapapun kamu, bersabarlah.”


Lalu kakaknya Amanda berlari, dia mengendap ke ruangan atasannya, atasannya sedang tak ada di tempat, sepertinya sedang memeriksa pekerjaan seluruh Cleaning Services, dia lalu membuka kotak kunci yang tidak terkunci, mencari kunci ruangan yang hendak dia buka diam-diam, semua kunci ada labelnya, labelnya adalah nama ruangan.


Setelah menemukan apa yang dia cari, kakaknya Amanda lalu kembali lagi ke pintu itu dan membuk pintunya dengan hati-hati sambil melihat keadaan sekitar. Karena sepi, kakaknya Amanda lalu masuk ke dalam dengan cepat dan menutup kembali pintunya.


Gelap, tak ada yang terlihat, kakaknya Amanda lalu mencari saklar lampu, lalu dia menyalakan lampu, karena semua ruangan sama, saklar lampu selalu ada di dekat pintu masuk.


Begitu lampu menyala, betapa terkejut kakaknya Amanda, karena di dalam ruangan itu aneh sekali, ada rak yang mengelilingi ruangan itu, rak itu sampai tinggi sekali menyentuh langit, mengeliling ruangan dan berbaris, di dalam rak tanpa pintu dan kaca, hanya rak saja, ada botol-botol kaca yang aneh, botol itu terlihat kosong, tempat apa ini? itu yang kakaknya Amanda bingung, untuk apa botol-botol kaca kosong ini, ditata dengan sangat rapih pada rak stenlis yang mengkilat dan bersih tanpa penutup, tanpa kaca ataupun pintu, rapih tapi terbuka dan berderet di dalam rak menjulang hingga tinggi.


Kakaknya Amanda terus masuk ke dalam, mencari sumber suara, tapi makin masuk makin banyak botol kaca itu dan dia tidak melihat siapapun di sana.


Karena takut ketahuan, dia akhirnya bermaksud keluar, tapi saat dia berbalik, suara itu muncul lagi, kakaknya Amanda terus mendengar dengan seksama, mengikuti sumber suara itu, aneh ... ada sebuah botol yang dalamnya terlihat asap berwarna hitam. Botol kaca itu seperti mengeluarkan ... suara!


Penasaran, kakaknya Amanda lalu mendekati botol itu, “Tolooooonggggg.” Dia terkejut dan mundur, karena suara itu ternyata dari botol kaca yang berasapkan hitam itu.


Kakaknya Amanda hendak lari, tapi sayang, saking takutnya, dia terselandung dan tangannya tanpa sengaja menjatuhkan botol kaca itu.


Botol itu pecah, awan hitam perlahan keluar dari botol itu, kakaknya Amanda ketakutan, dia mencoba untuk lari, tapi sayang, kepulan asap itu makin besar dan mulai membentuk sebuah siluet seorang wanita, siluet itu lalu mendekati kakaknya Amanda, di titik ini dia tidak bisa bergerak.


Wanita dengan kepulan asap hitam yang keluar seperti jin dari botol itu, menyentuh kepala kakaknya Amanda lalu mengucapkan mantra.


Kakaknya Amanda tiba-tiba terdiam, tatapannya kosong, lalu dia bangkit dari jatuhnya, berdiri dan berjalan ke luar, setelah itu dia mengunci kembali pintunya, mengembalikan kunci itu ke tempatnya, lalu dia pergi begitu saja.


Dia kembali ke dapur dan tertidur di sana, kelak saat dia bangun, dia lupa kejadian di ruangan aneh itu, dia hanya ingat tertidur beberapa saat karena kelelahan, tak ingat bahwa ada jin tua yang dia lepaskan dari botolnya, dari penjara yang seharusnya menawan dia hingga akhir jaman kelak.


Di sinilah Gandarwi memulai memilih tempat lagi untuk menjangkau korban-korbannya, di sinilah awal mula Gandarwi memantrai terowongan itu dengan mantra pengambil jiwa, memilih korbannya dan mulai mengantisipasi banyak hal, agar tidak tertangkap lagi oleh kawanan. Dia membangun terowongan perlahan, memilih jiwa yang ingin dia lahap dengan hati-hati, membuat perjanjian dan mulai menari di atas mayat-mayat kepala keluarga itu.


Sementara saat ini kawanan sedang sibuk menyelesaikan kasus di Bali, mereka tidak tahu, bahwa jin tua itu telah dilepas oleh seorang pengkhianat yang bahkan tak ingat kalau dirinya sudah berkhianat, tak paham kalau dia sudah melakukan kesalahan besar, karena dia terpanggil oleh panggilan Gandarwi, botol itu memang menawan tubuhnya, tapi dia mengerahkan seluruh kekuatan dirinya untuk memanggil siapapun yang terpanggil.


Karena kakaknya Amanda pernah bersinggungan dengan energi negatif anak ambar, maka dia menjad sangat sensitif pada panggilan Gandarwi yang sama kelamnya, lalu saat itulah dia masuk dan secara tak sadar membebaskan Gandarwi.


Walau kita akhirnya tahu, Gandarwi tetap bisa kembali dibekuk kawanan dengan siasat yang sempurna.


Pertanyaannya, menurut kalian, perlukah kita menghukum kakaknya Amanda? Apakah dia pantas disebut pengkhianat?

__ADS_1


__ADS_2