
“Ila … Ila … Ila ….” Saat semakin dekat udara semakin dingin, ketakutan yang dirasakan semakin tinggi juga, mobil terus melaju mendekati perempuan itu, tapi semakin dekat, Pak Dirga akhirnya tidak kuat, semakin dekat, wajah itu begitu mengerikan, dia sontak kaget dan mencoba untuk kabur kembali ke tengah jalan, dia merasa jalanan sepi dan cukup aman baginya kembali ke jalan, dia hendak membanting setir kembali ke jalanan, tapi aneh, tangannya tidak bergerak sama sekali, tangannya tertahan, setir itu tetap menuju hantu wanita, Pak Dirga terus mencoba menggerakkan tangannya tapi gagal, bahkan kakinya juga, seluruh tubuhnya pun tidak bisa dia gerakkan sama sekali.
“To-to-tolong!!!” Pak Dirga bahkan tidak bisa berkata, dia hanya berteriak dalam hatinya.
Ketidakmampuan Pak Dirga mengendalikan seluruh tubuhnya membawa dia semakin dekat dengan perempuan mengerikan itu.
Pak Dirga akhirnya hanya menutup matanya, karena semakin dekat, tentu manusia biasa tidak akan mempu bertahan melihat sesuatu yang mengerikan seperti itu.
Mobil berhenti, tepat di depan wanita itu, tangan PaK Dirga bergerak sendiri membuka pintu mobil, bahkan kakinya sekarang berjalan sendiri. Dia keluar mobil dengan cara yang aneh karena gerak tubuhnya tidak dikendalikan oleh dirinya sendiri.
Perlahan tubuh Pak Dirga berjalan mendekati wanita itu, sementara Pak Dirga hanya bisa memejamkan mata ketika tubuhnya bergerak sendiri, tanpa bisa dia kendalikan.
Bau anyir terasa saat mereka semakin berdekatan, Pak Dirga bahkan sedikit mengeluarkan air mata karena saking takutnya.
Mereka berdua berhadapan, tentu sekarang semua lekukan makhluk mengerikan berwujud wanita itu semakin terlihat.
Tubuhnya sempurna ditutupi oleh darah, hingga tidak jelas lagi lekukannya, dari kejauhan dia terliaht mengenakan gaun berwarna merah, kedua matana bolong, hingga Pak Dirga bisa melihat pemandangan di belakan wanita itu melalui bolongan mata itu, bibirnya menyeringai tanda dia memang bermaksud buruk dengan rupanya yang menyeramkan itu.
Tangan dan kaki dari makhluk ini juga tidak utuh, rambutnya hitam terurai berantakan.
Wanita berlumuran darah itu melayang mendekatkan dirinya pada Pak Dirga, rasanya ingin sekali lari, tapi Pak Dirga tidak mampu, karena tubuhnya tidak mampu bergerak sedikit pun. Wanita itu melayang semakin dekat, dia terus menggumamkan kata-kata yang sama selagi melayang.
“Ila … ila … ila.” Gumaman itu semakin dekat terasa semakin pelan, tapi bisikan itu semakin mengerikan.
Saat mereka berdua benar-benar berhadapan hingga jarak hanya tinggal satu langkah, tiba-tiba leher wanita itu dicengkram oleh tangan Pak Dirga, Pak Dirga melihat itu langsung berteriak, karena tangannya memegang wujud wanita itu yang sangat mengerikan.
Wanita itu kaget dan berusaha melepaskan cekikan yang dilakukan oleh tangan Pak Dirga, karena begitu merasa jijik dan takut, akhirnya Pak Dirga pingsan, tapi pingsan tubuhnya tidak membuat cekikan itu lepas, tangan Pak Dirga memang sudah lepas dari leher wanita itu, tapi tangan lain tetap mencengkramnya.
Alka dengan wujud jinnya ternyata selama ini menyelusup masuk ke raga Pak Dirga, pantas seharian ini dia terdiam saja, ternyata sedang mengadakan perjanjian dengan Qorin Pak Dirga agar diijinkan masuk ke raga Pak Dirga dan lepas raga untuk beberapa saat.
Tidak lama kemudian, angkot Aditia sudah menepi di tempat Pak Dirga menghentikan mobilnya juga, melihat Pak Dirga sudah pingsan, Aditia dan Ganding buru-buru mengangkat tubuh itu dan dimasukan ke angkot, Jarni menebar bisa ular ghaibnya di sekeliling angkot, takut ada makhluk lain menyerang sedang Pak Dirga sedang lemah jadi bisa saja digunakan sebagai media.
Alka kembali ke tubuhnya lagi, jadi selama mereka menunggu Pak Dirga memancing wanita itu, angkot Aditia ada di pintu tol dekat dengan titik wanita itu datang. Sedang selama Pak Dirga mulai jalan lagi sekitar jam setengah dua belas, Alka sudah lepas raga, agar bisa masuk ke tubuh Pak Dirga dan bersembunyi di sana agar tidak tercium baunya, tentu Pak Dirga tidak menyadarinya, jadi saat Pak Dirga hendak kembali ke jalanan lagi ketika baru saja melihat wanita mengerikan itu, Alka buru-buru mengendalikan tubuh Pak Dirga, karena lagi-lagi setan wanita itu membuat seolah tidak ada kendaraan yang lewat, padahal ada beberapa kendaraan yang sedang lewat dan bisa saja tabrakan beruntun itu kejadian lagi.
Setelah dicekik Alka setan itu lemah, Alka tidak nyaman dengan tubuh jinnya, makanya dia buru-buru kembali ke tubuh manusianya.
Saat sudah kembali ke tubuh manusia dia mulai berkomunikasi dengan setan itu.
“Jangdika manasuk?” Alka menggunakan bahasa yang tidak dipahami oleh semua temannya kecuali Jarni, Jarni sudah belajar begitu lama dari Alka, dia yang jarang ngomong akhirnya harus terpaksa menerjemahkan pembicaraan Alka dan setan itu.
“Mereka berbicara bahasa arwah, kemungkinan wanita ini bukan jin.” Jarni memulai pembicaraan, jarang sekali mendengar suaranya, memang suaranya hanya keluar kalau ada hal yang mendesak saja, seperti sekarang ini.
__ADS_1
“Apa kata Alka?” Aditia bertanya pada Jarni.
“Jangdika Manasuk, kamu siapa?” Jarni mulai menjadi penerjemah bahasa arwah.
“Ila … ila … ila ….” Setan itu masih hanya mengulang.
“Babarak kandi?” Alka kembali bertanya.
“Mau kemana? (Babarak Kandi?)” Jarni kembali menerjemahkan.
“Ila!!! Ila!!!” Wanita itu hanya berteriak dengan pengulangan kata itu.
“Ila tuh artinya apa sih Jar?” Aditia bertanya.
“Ikut, dia minta ikut.”
“Hah? Jadi selama ini dia berteriak begitu pada Yatno dan mungkin Pak Dirga juga karena dia mau ikut? Ila tuh artinya ikut?”
“Ssstt.” Jarni meminta Aditia diam, karena dia sedang memperhatikan komunikasi itu, perlu konsentrasi tinggi baginya karena dia manusia yang belajar bahasa bukan Alka yang memang murni bisa bahasa itu seperti bahasa ibu.
“Jangdika manasuk?” Alka kembali bertanya tentang siapa makhluk itu.
“Kantari Jaratan.” Jawab setan wanita itu.
“Jadi dia korban pembunuhan?” Hartino seperti biasa selalu mengambil kesimpulan sendiri.
“Belum tentu.” Ganding menebak-nebak juga, “ tapi yang pasti tidak diperbolehkan di arela ini mengubur karena aka nada pergesekan antara qorin mayat dengan jin setempat. Kalau nggak salah, hutan pinggir tol ini masuk ke wilayah perjanjian itu.”
“Dedak pajaratan karti mun dahiyang.” Alka kembali berbicara pada wanita setan itu.
Jarni menerjemahkan, “Alka akan membantunya mengambil jasad yang dikubur tidak baik itu.”
Alka mengeluarkan kendi mini yang ditutup kain putih diatasnya, Alka memasukkan setan wanita itu ke kendi terlebih dahulu, tentu kalau dipaksa ‘pulang’ saat ini dia tidak akan mau, makanya mereka harus membantu menyelesaikan masalahnya dulu.
“Kemana kita Ka?”
“Masuk ke hutan, cari jasad wanita ini.”
“Dia kenapa?”
“Nanti saja, kita temukan dulu, ingat, ini wilayah perjanjian kerajaan jin dengan manusia, sudah dijaga ketat, makanya ketika ada yang mengubur seenaknya, pintu gerbang dua dunia terbuka otomatis.” Alka hanya menjelaskan seadanya, karena mereka harus cepat.
__ADS_1
“Pak Dirga gimana?”
“Gue yang bawa pulang, bahaya kalau dia di sini.” Hartino akan mengendarai mobil Pak Dirga membawa Pak Dirga pulang, sementara sisana akan masuk ke dalam hutan perjanjian.
Alka memimpin perjalanan, Aditia dibelakangnya, lalu Jarni dan Ganding.
“Ingat, jangan pernah berbicara dengan siapapun, jika itu terlihat seperti aku, atau salah satu dari kita, ini kata sandinya.” Alka membisiki mereka berempat, kata sandi untuk memastikan bahwa mereka memang kumpulan yang seharusnya, bukan sosok yang menyamar.
Mereka kemudian mulai berjalan lagi, menerobos pohon-pohon besar, walau jalan mereka tidak sulit karena memang hutan pinggir jalan ini sebenarnya dirawat dan dibuatkan jalan bagi orang yang mau lewat, tapi tetap saja, tidak akan ada yang berani lewat jika itu malam hari, terlebih sekarang sudah dini hari.
“Mas, ngopi dulu yuk.” Aditia menoleh ke arah kiri, di mana suara itu terdengar, Aditia langsung kaget, kenapa tiba-tiba ada warung kopi di sini? bukankah tadi gelap sekali?
“Nding lu liat warung kopi?”
“Ya kali, di tengah hutan warung kopi, siapa yang mau beli. Masih aja ketipu, Dit.” Ganding meledek, Jarni langsung menepak pundah Ganding, agar dia tidak bercanda, di tengah hutan aja masih bercanda.
“Kok nggak mampir?” Tiba-tiba mbak yang menjaga warung kopi ghaib itu ada di depan Aditia, tentu dengan wajah pucat, mata yang hanya bagian putihnya saja dan melayang, sekarang penampilannya terlihat lebih berantakan dengan rambut panjang yang terurai.
“Minggir.” Aditia hanya berkata seperti itu.
Yang lain juga diganggu tapi oleh jin yang berbeda, penghuni di sini memang berbeda, mereka bukan sembarang jin dengan kemampuan rendah, mereka para punggawa kerajaan dari penguasa jalan ini.
“Dit, diem, jangan jawab, jangan ngomong apapun.” Alka mengingatkan.
Lalu mereka fokus lagi ke jalanan, mereka sudah hampir menyentuh tengah hutan, lalu Alka berhenti.
“Kenapa?” Mereka yang di belakang Alka bertanya.
“Ke kanan.” Alka lalu belok Kanan, Ganding, Jarni dan Aditia belok ke kiri.
Seperti yang sudah diprediksi Alka, bahwa mereka akan terpisah dari hutan ini.
Mereka mendengar hal yang berbeda saat Alka berbicara, sehingga mereka akhirnya terpisah dan berjalan sendiri-sendiri.
Aditia baru sadar kalau Alka sudah berbeda, dia berjalan lebih kasar dari biasanya dan lebih pendek dari …. Aditia tersadar itu bukan Alka.
Aditia berhenti berjalan, sementara makhluk yang menyerupai Alka, tiba-tiba berbalik dan berkata, “Sudah tahu ya?” wajahnya sama sekali tidak mirip Alka, wajah itu gosong, bibirnya menyeringai dengan senyum yang sangat lebar melewati garis bibir.
Sementara Jarni begitu sadar sudah pisah dari kawanan, dia memilih untuk berdiam saja, Alka mengajarkan padanya, jika dia kehilangan arah, jangan berjalan lagi, sampai kau dijemput. Karena kalau dia berjalan, potensi dia semakin jauh dengan kawanan semakin tinggi.
Ganding yang akhirny sadar bahwa di depannya bukan Jarni asli, akhirnya panik dan berlari kembali ke jalan sebelumnya, dia berharap arahnya benar.
__ADS_1
Perjalanan mereka memang selalu tidak mudah, lagi-lagi harus berusaha sendiri, mana hutan ini adalah hutan perjanjian, apakah mereka akan selamat?
Next part ya.