Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 439 : Kamboja


__ADS_3

“Mau kemana?” Supir taksi itu bertanya.


“Jalan Kamboja.” Wanita dengan kerudung asal yang tidka menutupi seluruh rambutnya itu berkatal.


“Iya Mbak, kita jalan sekarang ya.” Supir taksi itu hanya bicara sesuai SOP, setelahnya mobil taksi dengan warna biru yang terkenal terpercaya itu melaju ke arah yang disebutkan penumpangnya.


Taksi melaju dengan santai, saat ini taksi itu berhenti karena harus menunggu kereta api lewat, supir taksi mencoba mencairkan suasana yang dari tadi terasa dingin, karena penumpang diam saja.


“Mbak mau pulang?”


“Supir taksi itu melihat ke arah kaca spion yang ada di atasnya, untuk bisa melihat penumpang tanpa harus menengok ke belakang, walau fungsinya bukan buat itu.


“Penumpang itu hanya tersenyum, supir taksi kaget, karena baru sadar, betapa cantiknya penumpang itu.


Tapi karena tanggapannya hanya senyuman, supir taksi mengambil kesimpulan, bahwa penumpang tidak suka diajak bicara, maklum, perempuan cantik memang kadang sombong, hanya ingin bicara dengan orang yang dia anggap sepadan. Apalagi taksi ini terkenal taksi yang profesional, maka supir menyudahi sikap sok kenal dan sok dekatnya ke penumpang itu.


Dia lalu fokus untuk menyetir, setelah berkendara selama 20 menit, tiba pada persimpangan yang harus ditanyakan pada penumpang arah yang harus diambil.


“Mau belok mana Mbak? Atau lurus?” Supir itu bertanya.


“Lurus,” jawabnya singkat.


Supir pun melajukan taksinya sesuai arahan, lalu mereka melewati terowongan, gelap … lampu terowongan tiba-tiba mati. Supir tetap melajukan mobilnya walau gelap dan jarak pandangan hanya sejauh lampu mobil.


“Pak, berhenti sebentar.” Penumpang itu tiba-tiba berkata.


“Ada apa ya Mbak? Jangan di sini, soal gelap.”


“Di sini aja.” Supir merasa bahwa suara wanita itu sangat dekat, seolah … seolah dia berada tepat di belakang supir itu.


Buluk kuduknya merinding.


“Di … di ujung terowongan aja ya Mbak, pasti ada lampu yang nyala.” Supir itu bersikeras tak mau berhenti.


“TURUNKAN AKU SEKARANG JUGA!”  Penumpang itu berkata dengan suara yang aneh, suaranya menjadi seperti nenek-nenek yang serak.


Supir taksi terkejut, tapi seluruh tubuhnya tidak dapat bergerak, bahkan kepalanya saja tidak dapat dia gerakkan, dia hanya mampu menggerakkan kelopak matanya saja, aneh ... tubuhnya seperti bergerak sendiri, kakinya menginjak rem perlahan, padahal dia merasa kesulitan menggerakkan tubuh, sementara terowongan itu gelap. Tidak ada cahaya sama sekali. Supir taksi itu takut, kalau dia asal berhenti kemungkinannya hanya dua, pertama dia menabrak mobil di depannya, kedua dia ditabrak dari belakang, walau ada lampu mobil, tapi bagaimana dengan jarak pandang yang terbatas, mengingat lampu hanya dari mobil saja.


Bagaimana jika dia berhenti dan di depannya ada mobil yang sedang berhenti juga. Supir taksi itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena tangannya entah digerakkan oleh siapa atau apa, karena setirnya melipir ke kiri jalan, perlahan taksi berhenti.


Supir masih tidak bisa menggerakkan tubuhnya, gelap, karena mesin mobil tiba-tiba mati.


Supir mencoba untuk menggerakkan bagian tubuhnya, karena ini sungguh di luar nalar, selain makluk tak kasat mata, supir taksi sungguh lebih takut dengan begal yang mungkin akan mencelakainya.


“TERIMA KASIHHH ....”Suara lirih nenek-nenek kembali terdengar di telinga.


Supir taksi tak mampu berbuat apa-apa selain memejamkan matanya.


Dia ketakutan, karena saat suara itu terdengar di kuping sebelah kirinya, bersamaan dengan itu, ada hembusan dingin yang menyeruak masuk ke dalam tubuh lelaki itu.


Merinding yang amat sangat dia rasakan, sedetik  kemudian seluruh tubuhnya bisa digerakkan.


Memanfaatkan moment itu, supir taksi tidak mau lagi melihat ke arah belakang, tempat penumpang aneh itu berada, sebagian dirinya yakin bahwa penumpang itulah penyebab semua peristiwa janggal ini terjadi.


Supir buru-buru menghidupkan mobilnya kembali, sayang ... mobil tidak dapat menyala dengan normal, supir mencoba untuk memutar kembali kunci mobilnya agar mobil dapat menyala, ini kali kedua dia mencoba, masih gagal juga.


Dia terus mencoba hingga percobaan kelima akhirnya mobil itu bisa menyala lagi, lampu mobil menyala, itu membuatnya lega, supir bersiap untuk melajukan mobilnya kembali, tapi saat dia melihat ke arah depan.


Betapa terkejutnya dia, ada begitu banyak ... orang? makhluk? Sosok? Entah apa karena semua terlihat sangat berantakan ... maksudnya ... tubuh mereka terlihat lusuh, sebagian bahkan tak mengenakan baju, supir taksi melihat itu hanya dapat melongo saja, mulutnya bahkan terbuka sulit ditutup lagi, rahangnya seperti mengunci hingga dia kesulitan untuk berteriak.


Dalam keadaan genting seperti ini, instings pengemudinya tetap jalan, karena dia masih berusaha untuk mengemudikan taksinya, tapi jelas, maju tidak bisa, karena mereka begitu banyak, apapun itu, sangatlah mengerikan hingga membuat supir akhirnya memutuskan untuk mundur, tapi sebelum mundur, dia harus lihat ke atah belakang, karena terburu-buru maka supir itu spontan melihat ke arah belakang yang membuatnya lupa tentang ... penumpang itu!


Perempuan itu ternyata masih ada di sana, dia masih duduk dengan santai di sana.


Supir kaget karena begitu dia melihat ke belakang, ternyata perempuan itu masih ada di sana, dia terlihat duduk seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa.

__ADS_1


“Mbaakkk ... mbakk masih di sini?” Supir itu merasa sedikit lega, karena dia ternyata tidak sendirian.


Pengemudi itu hanya mengangguk, supir tidak peduli dengan tanggapannya, karena dia hanya ingin keluar dari terowongan ini, sungguh dia ketakutan.


“Mbak, maaf saya akan mundurnya ngebut, mbak pegangan ya, mbak lihat nggak mereka?” Supir itu menunjuk arah depan tanpa mau melihat ke sana, karena satu-satunya yang dia anggap manusia hanya penumpang yang sempat dia curigai tadi.


“Mana?” Penumpang itu akhirnya bersuara, karena selain menyebutkan tempat tujuan, dia tidak bicara apapun lagi, kalau memang dia bukan suara nenek-nenek mengerikan tadi.


Supir taksi itu menunjuk arah depan tanpa melihat ke sana, dia hanya menggunakan tangannya saja tanpa mau melihat.


“Tidak ada apa-apa.” Mbak itu berkata dengan tenang, benar-benar sangat normal seperti penumpang pada umumnya.


“Itu Mbak, liat di depan deh.” Supir itu masih tidak mau lihat ke depan, tapi memaksa penumpangnya melihat.


“Tidak ada apa-apa.” Penumpang itu menjawab lagi, supir taksi itu terdiam, dia dengan ketakutan yang sangat besar, mencoba memberanikan diri untuk melihat sekali lagi ke depan.


Dia mulai memalingkan wajahnya, semula ke arah belakang, hingga badannya ikut condong ke belakang, sekarang dia mulai melihat ke arah depan, perlahan dia gerakkan tubuhnya dulu, lalu kepala, saat kepalanya sudah lurus ke depan, dia terdiam semakin bingung.


Terowongan terang benderang, lampu di terowongan itu sangatlah terang, ada begitu banyak kendaraan lalu lalang di sana, aneh, tadi itu terasa sangat sepi dan gelap gulita, kenapa sekarang keadaannya berbeda, kenapa sekarang terlihat ramai, banyak mobil yang lewat, banyak motor yang lewat juga, bahkan ada pejalan kaki di sana, sungguh seperti terowongan pada umumnya.


“Mbak, saya tadi beneran lihat banyak ... banyak.”


“Apa?” Penumpang itu bertanya, Supir masih melihat ke arah depan, memastikan bahwa semua sudah normal kembali, tapi dia masih berbicara dengan penumpang tanpa melihatnya.


“Setan Mbak! banyak banget, badannya mengerikan semua, mereka sedang menatap ke arah mobil ini, saya takut mbak.” Supir itu bicara dengan bergidik karena teringat dengan rasa takut sebelumnya. Dia masih bicara menghadap depan.


“Pak ....” Penumpang itu memanggil.


“Ya?” Supir taksi itu menjawab, masih tanpa menoleh.


“Pak ....” Penumpang itu memanggil lagi.


“Iya Mbak?” Supir itu akhirnya kembali melihat ke arah belakang, kepala dan tubuhnya condong ke arah bangku penumpang, dia ingin mendengar penumpangnya berbicara karena sudah memanggil dua kali.


“Apa setannya ... kayak saya?” Penumpang itu berkata dengan tenang, supir taksi itu tidak mengerti maksudnya, tapi sedetik kemudian dia paham, karena penumpang itu akhirnya menyingkap kerudungnya, kerudung yang menutup rambut dan lehernya dengan asal itu.


Tidak hanya sampai di situ, setelah beberapa detik dia membuka kerudung dan wajahnya terlihat sempurna oleh supir taksi, tiba-tiba kepala penumpang itu jatuh tepat di kaki penumpang itu sendiri.


Kepalanya seperti terpenggal, karena jatuh begitu saja, lepas dari tubuh penumpang itu. Peristiwa ini mengingatkan kita pada sebuah hukuman pancung yang sedang dilakukan, karena kepala itu meluncur dengan sempurna, jatuh ke bawah kaki penumpang, seolah dipenggal oleh algojo.


Supir taksi berteriak, lalu gelap ....


...


“Liburannya udah selesai ya?” Alisha bertanya, mereka sedang berjemur di pantai, tentu pantai sekitar resort yang mereka tinggali, walau tidak keluar dari pulau zona netral, tetap saja, liburan hal yang sangat menyenangkan dan langka bagi mereka.


“Iya, kita harus siap-siap pulang sore ini, private jet akan menjemput kita.” Pak Hanif menjwab pertanyaan Alisha.


“Cepat sekali rasanya satu minggu ini.” Alisha mengeluh.


“Sha, masih mending kita dapat libut, kau kan tahu, biasanay nyambung, abis satu kasus masuk ke kasus lain.” Jarni mengingatkan.


“Tapi aku benar-benar masih ingin liburan.” Alisha merengek seperti anak kecil.


“Nggak bisa.” Alka tegas menjawab rengekan Alisha, Alisha diam. Hartino hanay mengusap kepala istrinya dengan lembut dan merangkulnya.


“Yaudah, beberes yuk.” Aditia hendak bangun untuk beberes.


“Dit, aku temani, yang lain berjemur saja dulu, nanti setelah semua siap, kalian baru mandi dan bersiap pulang.” Pak Hanif berbicara, Aditia paham, Pak Hanif mencoba untuk menjauhkan yang lain, dia sepertinya ingin berbicara empat mata dengannya.


Pak Hanif dan Aditia masuk ke dalam tempat menginap mereka, setelah sampai kamar Aditia, Pak Hanif menutup pintu dan menguncinya.


“Pak, serius? Kenapa mesti dikunci sih? saya jadi takut loh.” Aditia meledek, karena Pak Hanif terlihat mencurigakan sekali.


“Huss! Kamu tuh ya, saya nggak niat aneh-aneh kok!” Pak Hanif merasa kesal karena diejek oleh Aditia.

__ADS_1


“Maaf Pak, abis dikunci segala, ingat Pak, saya tidak menyembunyikan apapun dari kawanan.”


“Tapi dari Alka kamu sembunyikan sesuatu kan?” Pak Hanif tiba-tiba berubah menjadi serius, dia duduk di atas kasur, Aditia ikut duduk di sampingnya.


“Ini soal apa ya Pak?”


“Lanjo yang menjangkiti kau dan Alka, Ayi minta kalian berdua segera disembuhkan.” Pak Hanif berbicara dengan sedikit khawatir.


“Itu bukan prioritas kan pak?”


“Bukan, tapi sampai kapan kalian memelihara sakit itu?”


“Saya harus pikirkan lagi Pak, karena kasus kami banyak, sedang kami tidak bisa egois untuk menyembuhkan diri sendiri ....”


“Justru kau yang egois Dit, kau ingin penyakit itu tetap ada di antara kau dan Alka kan?” Pak Hanif menembak pertanyaan.


“Pak! jangan melewati batas!” Aditia mengingatkan, karena posisinya Pak Hanif lebih rendah di hadapan Aditia walau sama-sama Kharisma Jagat.


“PIkirkan ini baik-baik ya, kalau bukan karena Ayi perintahkan aku untuk sampaikan, aku juga tak suka ikut campur.”


“Baik Pak, maaf.” Aditia sadar, kalau Pak Hanif tidak pernah melewati batas, dia memang diperintahkan Ratunya Kharisma Jagat.


“Satu lagi, soal kerismu ....”


“Sudah kuberikan pada Balian untuk syarat bantuan, aku juga sudah melepas keterikatan kami.” Aditia menunduk.


“Baiklah, kau tidak salah, tanpa bantuan Balian, kau tidak akan bisa masuk ke pura itu dan menyelamatkan begitu banyak jiwa untuk dijempuat ‘pulang’, maka pertaruhannya sepadan.”


“Ya, tetap saja aku sedih.”


“Bagaimana dengan tombak milik Pak Mulyana, ayahmu?”


“Tombak kutukan itu?”


“Iya, tombak Badha.” Pak Hanif menyebut namanya.


“Ini Pak.” Aditia bangun dan mengeluarkan tombak itu dari tubuhnya, lalu tombak itu berada secara ghaib di tangan kanan Aditia.


Pak Hanif menerima tombak itu, dia lalu mengelurkan sebuah selendang berwarna hijau.


“Selendang pasukan Ayi!” Aditia berkata dengan semangat.


“Ya, ini hadiah darinya untukmu, karena kau mau ke sini dan kalian berhasil menyelamatkan Sak Gede. Semua orang akan mendapatkan selendang ini, termasuk Alisha, artinya kalian resmi diangkat menjadi pasukan Ayi Mahogra.”


Aditia ingat, bagaimana dulu Malik mendapatkan semua makhluk ghaib dengan ilmu tinggi dan menyematkan karembo hejo ini pada setiap pasukan, penanda bahwa mereka pasukan Ayi, bahkan sebelum Seira dinobatkan menjadi Ayi Mahogra.


“Kita semua akan dapat?” Aditia bertanya lagi dengan senang.


“Ya, tapi begini cara pakainya.” Pak Hanif lalu melilitkan karembo hejo khas pasukan Ayi ke tombak yang dia pegang, tombak itu seketika menjadi lebih cantik setelah dililitkan karembo hejo dari atas hingga ke bawah.


“Kekuatan Tombak Badha ini akan semakin besar begitu  dililitkan dengan Karemobo Hejo milik Ayi, dalam keadaan tertentu, kau bisa menggunakannya terpisah, kau akan tahu kondisinya kelak jika butuh.


Lalu untuk semua temanmu, senjatanya akan dililitkan juga Karembo Hejo ini.”


“Tapi Alisha tak punya senjata.” Aditia mengingatkan.


“Punya kok, dia mendapatkan hadiah berbeda dari Ayi, selain Karembo Hejo ini, dia juga mendapatkan senjata khusus dari Ayi.”


“Apa itu Pak?”


“Rahasia, kan bukan untukmu.” Pak Hanif berjalan ke luar karena dia sudah selesai bicara.


“Pak! nanti dulu.” Aditia menahan sebelum Pak Hanif keluar setelah membuka pintu.


“Apa lagi!” Pak Hanif bertanya dengan kesal.

__ADS_1


“Katanya mau temenin dan bantuin packing?” Aditia menagih janji.


“Kau mau kuhajar berani suruh Kharisma Jagat senior!” Pak Hanif emosi karena lagi-lagi Aditia berkelakar padanya.


__ADS_2