Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 267 : Janur Kuning


__ADS_3

Tanggal 24 Maret


“Ini udah tiga kali loh, kita bolak-balik, tapi nggak ketemu juga.” Beni bertanya pada Sasa, istrinya. Saat ini mereka sedang di atas motor, berkendara, Sasa yang sedari tadi menjadi petunjuk jalan dengan menggunakan telepon pintarnya dan membuka aplikasi GPS, masih saja tidak tahu kenapa jalan mereka seperti diputar-putar. Waktu menunjukan pukul tujuh malam.


Dandanan mereka yang sebelumnya rapih jadi lumayan berantakan, karena perjalanan dari rumah ke tempat hajatan harusnya hanya sekitar tiga puluh menit dan kalau macet, paling hanya sekitar 45 menit, tapi setelah dua jam berputar, mereka masih belum menemukan di mana tempat hajatan itu.


“Bang, berhenti dulu deh, kita tanya-tanya orang dulu.” Sasa akhirnya berinisiatif untuk bertanya pada orang yang lewat jalan ini.


“Dari tadi nggak ada orang, cuma ada kendaraan yang lewatnya pada kenceng-kenceng Sa, coba kamu buka sekali lagi aplikasinya, kalau kali ini kita masih diputer-puter, kita pulang ajalah, soalnya capek, udah dua jam loh kita muter-muter.”


“Iya Bang, sekali lagi aja.” Sasa akhirnya ikut menyerah, ini adalah pernikahan sahabatnya, diadakan di gedung, sebelumnya mereka memang tidak pernah ke daerah di mana gedung itu berada, tidak heran mereka tersesat.


Lalu Beni akhirnya mengikuti lagi aplikasi GPS yang ada di telepon pintar Sasa.


“Bang, coba belok situ.” Sasa tiba-tiba meminta Beni untuk belok ke kiri, sebuah gang yang sebenarnya tidak begitu terlihat, aneh sekali, tiga kali lewat sini, baru terlihat ada gang kecil di situ, apa karena mereka terlalu fokus pada jalanan besar dan GPS, hingga gang itu tidak terlihat.


“Emang GPSnya nyuruh ke situ?”  Beni bertanya lagi, dia sebenarnya ragu untuk belok.


“Kalau salah, siapa tahu kita bisa tanya orang-orang di sana, kan kalau gang sempit pasti padat penduduk di dalamnya, daripada di sini, semua kendaraan berjalan cepat, Bang. Jarang yang bisa kita tanyain.” Sasa memaksa.


“Yaudah ayo.” Beni akhirnya masuk ke gang itu, hanya muat sekitar dua motor, mereka menyusuri gang itu, gangnya cukup panjang, sepanjang gang tidak ada perumahan, hanya tembok besar yang mungkin bangunan kanan kirinya adalah gudang, setelah sampai di ujung gang, Beni dan Sasa lega, karena jujur, saat menyusuri gang itu, Beni agak takut, gang itu sepi, tanpa penerangan sama sekali, gang itu juga cukup panjang, karena setelah keluar dari gang itu, Beni melihat jam tangan, perlu waktu sekitar lima sampai tujuh menit untuk sampai ke ujung gang. Umumya gang sempit seperti ini, bisa ditempuh hanya dalam waktu satu sampai dua menit saja. Jadi, kebayang betapa panjangnya gang sempit ini.


Tapi begitu sampai ujung gang, ternyata tempatnya sangat ramai dan ada janur kuning tepat di ujung gang itu, menempel pada gerbang suatu gedung.


“Bener Sa, ini tempatnya, untung kita belok ke gang ini, jadinya ketemu deh.” Beni lega, Sasa juga.


“Sa, udah sampai nih, bener di sini, panter aja nggak ketemu, gangnya sempit, jadinya kita muter-muter.” Beni berkata dan memarkir motornya tepat di depan gedung pernikahan itu.


“Iya Bang, tapi kok nggak ada namanya ya? itu janur kuning doang.” Sada heran, karena takut itu bukan pernikahan sahabatnya.

__ADS_1


“Lupa kali, lagian nggak ada yang nikah lagi kayaknya, itu lihat deh, jalan buntu.” Beni tetap yakin ini tempat nikah sahabatnya Sasa.


Akhirnya Beni dan Sasa turun dari motor, merapihkan baju mereka yang sudah berantakan, setelah merasa sudah rapih mereka masuk ke gedung tempat pernikahan, saat masuk, mereka melihat ada seorang security yang sedang berjaga, mendekati Security itu, bermaksud bertanya apakah benari ni adalah tempat pernikahan sahabatnya Sasa.


Saat ditanya, Security itu tidak menoleh, dia hanya mengangguk dan menunjuk bagian dalam gedung yang tidak terlihat dari tempat mereka berdiri, pasti karena jarak dari gerbang, sangat jauh, makanya mereka tidak melihat bangunan di mana tempat pernikahan sahabat Sasa berlangsung.


“Tuh bener kan, Sa? Yuk masuk.” Beni menarik tangan Sasa untuk masuk, Sasa agak heran karena Security itu terlalu pendiam, walau di sini sangat terang, kenapa tak ada musik yang terdengar, khas musik pernikahan, trus kemana para tamu? Apakah mereka sudah kemalaman sehingga acara telah selesai? Itu yang membuat Sasa agak bingung. Tapi akhirnya semua itu ditepis karena dia tidak mau Beni jadi kesal, karena ini kan pernikahan temannya Sasa, dia tidak ingin Beni marah dan mengajak pulang, padahal tinggal selangkah lagi sampai.


Mereka terus berjalan, dibutuhkan waktu sekitar lima menit untuk melihat bangunan gedung yang mungkin adalah tempat pernikahan temannya Sasa. Ternyata benar, dari gerbang sampai ke bangunan yang dijadikan tempat pernikahan cukup jauh.


“Sam lihat itu, ramai kan, itu tamu pada datang, lihat deh.” Beni menunjuk tamu yang entah dari mana tiba-tiba berdatangan, tamu itu rapih dan wangi. Sasa jadi lega lagi, karena sepanjang jalan tadi, biarpun terang, tapi sangat sepi, hanya mereka berdua yang jalan.


“Iya Bang, yuk masuk ke dalam, aku takut kita telat.” Sasa yang sedari tadi was-was akhirnya bersemangat lagi untuk melihat pernikahan sahabatnya.


Mereka berdua masuk ke bangunan itu dan kaget, ternyata penuh sekali ruangannya, penuh orang yang darang ke undangan, sangat sesak, membuat mereka bahkan tidak bisa bergerak. Bahkan pengantin yang ada di paling depan, di pelaminan itu tidak terlihat sama sekali karena penuh orang sesak itu.


“Bang, penuh banget nih, kita salamannya terakhir aja pas mau pulang, makan aja dulu ya?” Sasa member usul.


“Iya sih aneh, tapi mungkin itu karena tempat amplopnya ada di dekat mempelai, inget nggak, dulu kita pernah dateng ke tetangga yang nikah juga gitu, tempat amplopnya di dekat pelaminan.” Sasa mengingatkan.


“Iya sih, tapi tetep ada meja buku tamu yang kasih souvenir juga Sa, ini kok kosong di depan itu.”


“Oh, jadi abang ngerasa rugi ya? ngamplop tapi nggak dapet souvenir?” Sasa meledek.


“Nggak gitu, Sa.” Suaminya protes, karena memang bukan itu yang dia khawatirkan.


“Yaudah gini aja, kita makan yang banyak di sini, biar nggak rugi ngamplop, yuk.” Sasa menarik tangan suaminya, hingga mereka keluar dari barisang untuk salaman dengan mempelai.


Sasa meliha begitu banyak makanan yang dihidangkan, saung saja sepertinya ada 10 macam, atau mungkin lebih, sedang tempat makan parasmanan, ada empat baris, sungguh membuat Sasa takjub, sahabatnya pasti menikah dengan pria yang kaya raya, karena sahabatnya Sasa bukan orang kaya, sama seperti dia.

__ADS_1


Sasa ke saung sate kambing, sedang suaminya mengikuti dari belakang, aneh, banyak orang dan makanan sepertinya sudah dibuka, tapi kenapa sepi sekali, semua orang sibuk ingin menyalami mempelai dan jelas-jelas, antrian salaman itu sangat panjang hingga bahkan mempelai dan pelaminannya pun, tak terlihat.


“Pada kekeh mau salaman Bang, kita makan aja dulu.”


Sasa mengambil piring yang ada di bagian paling ujung saung, memang sudah diatur sepertinya, selesai mengambil piring, Sasa menyodorkan piring itu ke petugas yang berjaga, agar diberikan sate kambing dan longtong dengan bumbu kacang.


“Mas, ini ya, banyakin kambingnya.” Sasa berkata dengan bersemangat, sementara petugas jaga saungnya tidak menoleh, hanya mengambil piring itu dan menaruh lontong serta daging kambing dengan kasar, piring itu menjadi penuh, Sasaa tidak tersinggung, dia malah senang, karena dapat daging dan lontong yang sangat banyak. Begitu juga Beni, dia diperlakukan sama, tapi diam saja karena mendapat jatah makanan sangat banyak.


“Bang, enak banget ini sate kambingnya, aku nggak pernah tuh rasain sate kambing sambel kacang pake lontong seenak ini, andai bisa kondangan tiap hari kayak gini, seneng banget aku, nyicipin makanan seenak ini.” Sasa asal bicara.


“Iya Sa, enak banget, kayak mau mati saking enaknya.”


“Bang, kamu kayak anak jaman sekarang aja ngomongnya, kebanyakan nonton video online kamu! tapi bener sih, emang enak banget, sampai kayak mau mati.” Sasa malah mengulang lagi, tiba-tiba lampu mati! Sasa dan Beni yang sedang menikmati sate kambingnya kaget, karena mati lampu tiba-tiba, mereka berpegangan tangan dan mulai mencium bau yang aneh.


“Bang, ini kenapa jadi sepi begini?” Sasa bertanya, bahkan mereka hanya mendengar suara mereka berdua.


“Iya Sa ....”


....


" Sha, jangan pikirin yang lain dulu, kita fokus ke kesehatanmu, kamu tahu nggak, kalau kamu dan Hartino sudah menikah." Alka berusaha untuk menenangkan Alisha yang baru saja tersadar.


"Apa maksudnya kami sudah menikah?" Alisha terlihat kaget, tapi juga tidak bisa menyembunyikan wajah sumringahnya, Hartino sadar, pasti dia menanyakan Rania begitu bangun, makanya dia langsung mendekati Alisha dan berusaha mencari alasan, bukan saat ini menceritakan semuanya.


"Istriku yang cantik, sekarang kau harus segera pulih ya, agar kita bisa bulan madu." Hartino merayu Alisha, dia pasti sangat senang diperlakukan dengan sangat hangat oleh orang yang paling dicintai.


"Har, apakah benar, kita sudah menikah?"


"Ya, tentu saja, aku setelah tahu semuanya, kakak udah cerita, aku tak ingin lagi jauh darimu, dalam wujud Alisha ataupun Lais, ternyata hatiku memang tidak pernah berubah, selalu condong padamu, makanya aku takut sangat takut kehilanganmu, aku menikahimu agar ketika kau bangun, kita akan menjadi pasangan yang halal." Hartino mencoba mengulur waktu agar sementara ini Alisha bisa menerima apa yang Hartino katakan untuk sementara waktu saja dulu.

__ADS_1


Hingga keadaannya membaik, Hartino baru akan ceritakan padanya, apa yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2