Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 96 : Dia Lagi 6


__ADS_3

“Jadi , begitu ceritanya Kak, menurut Kakak apa yang mesti kita lakukan?” Ganding bertanya, mereka semua berkumpul di gua Alka.


“Menurutmu, aku akan melakukan apa?”


“Kau akan menyembuhkan Ratih.”


“Ya, aku akan melakukannya.”


“Tapi Ka, Ratih bahagia kok sama Hendar, Hendar setia, ayah dan suami yang baik.” Aditia membele Hartino yang sepaham dengannya.


“Tuh kan, Har, gue tahu, kalau tanya ke Aditia, pasti begini.”


“Kita voting aja.”


“Ya, udah pasti kamu menang lah, Jarni pasti selalu di jalanmu.” Aditia protes, karena tersisa suara Jarni, Jarni tidak pernah melawan Alka, hanya karena pengaruh sihir dia bisa melawan Alka.


“Baik, begini Dit, kalau kita membiarkan Ratih tetap dalam pengaruh sihir, dia tidak akan pernah memiliki dirinya sendiri, dia akan terus dalam kendali Hendar, kau yakin dia bahagia? Baiklah, katakana Hendar setia, tapi rumah tangga itu masalahnya nggak cuma perselingkuhan aja Kan, Dit? Har? Masalah rumah tangga itu banyak, mereka bahagia, atau terlihat bahagia, karena satu menjadi yang memerintah, satu yang diperintah, selalu begitu.


Rumah tangga mereka hanya soal bagaimana Hendar setuju dan tidak, Ratih hanya akan seperti wadah kosong, bahagia yang semu, karena dalam fikirannya hanya bersama Hendar cukup, padahal di dunia ini bukan hanya soal Hendar. Bagaimana dengan Tuhan yang menciptakannya? Dia bahkan tidak lagi memiliki hati dan fikirannyanya untuk Tuhan, karena di fikirannya hanya Hendar.


Bagaimana dengan ayah, ibunya, teman-temannya, bahkan anak-anaknya, kau sudah menyelidiki bagaimana hubungan Ratih dengan anaknya?”


“Maaf Kak, aku hanya memeriksa Hendar terhadap Ratih, Ratih selalu tersenyum riang saat mengantar kerja sampai depan rumah, Hendar selalu pulang ke rumah saat makan siang, waktu libur pun Hendar selalu di rumah, mereka bahagia.” Hartino menjelaskan.


“Baik, kalau begitu untuk membuktikan dia benar-benar bahagia, kita harus melihat lebih dalam.”


“Maksudnya Kak?” Hartino bingung.


“Karena ini keyakinanmu, maka kau harus mengutus khodammu, untuk masuk ke rumah itu, aku dan Jarni akan mengusahakan membuat Hendar tidak sadar saat khodammu masuk Har, bagaimana?” Jarni bertanya.


“Baik, aku setuju Kak.”


Lalu Khodam Hartino keluar, dia adalah seorang lelaki tampan dan dari kerajaan Majapahit, dulunya dia adalah seorang penasehat kerajana.


Wirjana sang Khodam milik Hartino keluar, dia mengikuti Alka dan Jarni ke rumah Hendar, tentu dengan angkot milik Aditia, Hartino dan Ganding ikut, pasukan lengkap.


Sampai di rumah Hendar, Jarni melempar ular miliknya, dia akan menyelusup dulu, memastikan bahwa Wirjana bisa masuk, Hendar masih menggunakan pagar ghaib dari Alya, tapi tentu itu tidak terlalu kuat lagi, karena Alya sedang sekarat.


“Masuk sekarang Wir, ularku sudah memastikan kalau pagar itu tidak terlalu membahayakan, Hendar tidak memiliki ilmu selain bantuan dari Alya.” Jarni berkata.


Wirjana Masuk ke dalam rumah Hendar, rumah miliknya dimana Ratih tinggal bersama anaknya dan kedua mertuanya.


Saat masuk dia melihat Ratih sedang menggendong anaknya, dia bernyanyi untuk menidurkan anaknya, anak itu dalam gendongan.


“Ratih, makan dulu yuk Nak.” Ibu Mertuanya memanggilnya, Ratih keluar dari kamar dan dia bersiap untuk makan, anaknya masih dalam gendongan, ibu mertuanya melayani Ratih bagaiman majikan, dia memastikan Ratih makan.”


“Bu, cucuku sudah tidur?” Ayahnya Hendar bertanya.


“Sudah, ada dikamar kita.”

__ADS_1


“Baiklah, Ratih, makan yang banyak ya, biar sehat.” Ayah mertuanya mengelus kepala Ratih.


“Ratih, dedenya sini ibu gendong dulu, Ratih makannya biar tenang ya.” Ratih nurut, dia lalu menyerahkan bayi dalam gendongannya, Wirjana kaget, karena itu bukan bayi, itu adalah boneka bayi yang ada di gendongan Ratih, dia tersenyum merasa aneh.


Ratih meneruskan makan, ibu mertuanya ke kamar karena ada suara tangisan dari kamarnya.


“Pak, udah bangun si dede?”  ibunya Hendar bertanya, sedang ayahnya sedang menggendong cucunya dan berusaha menenangkannya.


“Seharusnya dia di berikan ASI oleh Ratih.” Ayahnya Hendar mengeluh.


“Kan Bapak tahu, dia hampir membunuh bayinya saat baru berumur dua bulan, dia meninggalkan bayinya di bak mandi sedang dia sibuk melihat foto pernikahannya sambil tersenyum sendiri. Ibu takut, kalau kita membiarkannya mengurus anaknya, akhirnya akan celaka.”


“Iya saya tahu, apakah Hendar benar Hendar tidak ingin menyembuhkan Ratih? Mereka sudha menikah dan punya anak, tapi kalau Ratih masih begitu, kondisinya sama saja dengan yang dulu, hanya bedanya, dia jauh lebih bersih akibat nurut pada perintah Hendar.”


“Pak, cukup, kita membahas ini setiap hari, ibu lelah, karena ibu mengerjakan semua sendiri, jadi mari kita terima saja keadaan ini.”


“Ibu harusnya menasehati Hendar, agar dia ....”


“Pak, kau tahu anak kita itu kan, dia tidak mau melepas Ratih, karena dia sangat mencintainya. Biarlah ibu lelah, yang penting anak dan menantu ibu bahagia.”


“Satu-satunya yang bahagia di rumah ini hanya Henar, bahkan anak sekecil ini sudah sangat tidak bahagia di rumah ini!” Ayahnay Hendar menyerahkan cucunya pada istrinya lalu berlalu, dia gentian menemani Ratih makan, karena Ratih bisa tiba-tiba pergi memandangi foto pernikahannya dan terdiam begitu saja tanpa melakukan apapun.


Tidak lama Hendar pulang, dia di sambut Ratih, Henar mencium kening Ratih lalu mereka ke meja makan, ayahnya semakin kesal dengan kelakuan anaknya, makanya dia selalu menghindar menemui Hendar.


“Ratih sudah makan?” Mereka di meja makan, Hendar mengambil piring sendir dan menyendok nasi serta lauk yang dimasak oleh ibunya, mereka tidak punya pembantu, karena takut ada omongan soal Ratih yang masih hilang akal, jadi ibunya yang mengerjakan semua pekerjaan rumah di rumah mewah dan besar itu.


“Sudah sayang.” Ratih tersenyum dan memandang Hendar saja, tidak menemani makan, karena saat bersama Hendar, dia tidak akan pernah mau melakukan apapun selain memandangnya.


Ratih berlari ke sofa, karena di sana boneka bayi itu diletakkan oleh ibu mertuanya.


“Ini sayang.” Ratih menggendong bayi itu lagi dan duduk di samping Hendar masih terus memandangnya.


Hendar menatap sedih, tapi dia tidak ada niat menyembuhkan Ratih, karena di tahu, konsekuensi dari menyembuhkan Ratih adalah, sama dengan kosong.


“Aku sudah makan, sekarang mau kerja dulu buat kamu ya, kamu jagain anak kita, makan kalau ibu suruh makan, mandi kalau ibu suruh mandi, jangan ngelawan ibu atau ayah ya.” Hendar mencium kening Ratih, Ratih patuh, dia mengantar Hendar ke depan gerbang, mencium tangannya, tersenyum dengan sangat bahagia, siapapun yang melihat adegan ini, merasa mereka adalah pasangan yang sangat serasi dan bahagia, tapi mereka tidak tahu, betapa kosongnya fikiran Ratih, dia hanya bisa berkata, hal-hal pendek, jangankan beribadah, ingat orang tuanya saja tidak.


Saat terpaksa harus bertemu orang tuanya, Ratih akan diperintahkan Hendar untuk memanggil Papi, Mami dan juga mengatakan hal-hal yang Hendar perintahkan, semua terlihat normal di mata Mami, Papi Ratih, padahal Ratih sedang menjalankan apa yang Hendar suruh.


Seperti hari ini dan hari-hari lain, saat Ratih makan dan mandi serta menjaga boneka bayinya, semua atas perintah Hendar, bahwa dia harus patuh pada ayah dan ibu Hendar.


Ratih bukanlah Ratih, Ratih hanya wadah berisi perintah-perintah Hendar, gadis cerdas dan cantik itu sudah benar-benar tidak ada.


Hendar pergi ke kantor seperti biasa setelah makan siang, dia pergi ke kantor yang membuat dia menjadi lebih mapan, ada seorang Sekertaris yan menunggunya di ruangan.


“Sudah makannya Pak?” Tanya sekertaris itu, sebenarnya dia adalah sekertaris umum, Hendar belum punya Sekertaris Pribadi, karena dia belum Manager, tapi Sekertaris ini gigih sekali mendekatinya.


“Sudah, kau juga sudah makan?” Tanya Hendar ramah.


“Sudah.” Sekertaris itu mendekati Hendar ke bangkunya, dia menyerahkan laporan tapi jarak mereka sangat dekat, hingga parfume Sekertaris itu terasa di hidung Hendar.

__ADS_1


“Baik, saya akan coba cek dulu ya, terima kasih.” Hendar menjauh dia tidak nyaman dengan sikap Sekertaris ini yang selalu sok dekat, tapi dia tidak ingin menolak dengan kasar, karena sudah belajar dari pengalamannya dengan Ratih dulu.


“Pak, nanti makan malam bersama bisa? Soal proyek baru Pak?”


“Maaf Ya, saya harus pulang tepat waktu, istri saya sedang tidak enak badan, saya mau merawat dia, karena kami tidak pakai jasa Baby Sitter ataupun pembantu, jadi saya harus membantunya di rumah.”


“Wah, Pak Hendar ini pria idaman sekali ya, sudah mapan, tapi masih mau membantu istri.”


“Ya, karena saya mencintainya.”


“Andai ada pria yang mencintai saya sebesar Pak Hendar mencintai istirnya.” Sekali lagi Sekertaris itu gagal mendapat perhatian dari Hendar, dia memang terkenal penggoda, beberapa Manager sempat tergoda, sampai pernah seorang istri Manager melabraknya, tapi dia tidak pernah kapok, perusahaan pun tidak pernah memecatnya karena dia adalah keponakan salah satu Direksi.”


Wirjana sedih melihat itu, sungguh ironis, jika Sekertaris itu tahu apa yang terjadi pada Ratih, pasti dia tidak ingin menjadi Ratih, untuk bersama Hendar, dia tidak hanya kehilangan keluarga, teman dan usahanya, dia juga kehilangan dirinya.


Satu hari penuh Wirjana melihat semua yang harus dia lihat, waktunya laporan, mereka berkumpul di bagian belakang angkot, tidak terlalu jauh dari rumah Hendar.


“Jadi gimana?” Alka bertanya.


“Ratih tetap Ratih yang gila, gila akan Hendar, dia tidak bisa menjalankan fungsinya sebagai seorang manusia, apalagi sebagai seorang istri dan ibu, dia hanya orang yang dipenuhi Hendar dan dikendalikan oleh Hendar.” Lalu  Wirjana menceritakan semua yang dia lihat dan dengar.


“Sudah kuduga, semua hanya akal-akalan Hendar, tidak akan ada akhir baik untuk sebuah awal yang buruk Har.” Alka mengingatkan.


“Tapi pernikahan tidak akan terjadi, kalau Tuhan tak Izinkan bukan Kak? Mungkin mereka jodoh.” Hartino masih bersikeras, meski Khodamnya pun sudah berlawanan perndapat dengannya.


“Ini tidak ada hubungannya dengan takdir Tuhan Har, karena tugas kita itu menyembuhkannya, ingat, yang membedakan kita dengan hewan itu adalah akal dan fikiran, kalau Ratih tidak punya itu semua, artinya, dia bukan manusia, dia sama seperti binatang.” Alka sudah mulai kesal dengan Hartino.


“Kak, kalau dia disembuhkan, lalu minta cerai, bagaimana dengan anaknya?”


“Har! Bagaimana jika kita tidak sembuhkan, bahkan Ratih tidak sadar hampir membunuhnya, seiring waktu anaknya akan besar dan tahu, bahwa ibunya tidak sadar akan keberadaannya!”


“Har, aku setuju dengan Alka, maaf, aku fikir apa yang kau katakana benar, dia bahagia, dia tidak bahagia Har, dia dibuat pura-pura bahagia, terlepas Hendar setia, tapi Ratih berhak memilik idirinya sendiri.” Aditia kali ini berpaling dari Hartino.


“Maaf, kali ini aku tidak bisa ikut dalam penyelesaian kasus, aku tidak sanggup melihatnya.” Hartino keluar angkot dan pergi.


“Apa itu baik-baik saja?” Aditia bertanya, kali ini pertama kali Aditia melihat Hartino keras kepala.


“Apa yang dia rasakan saat ini membawanya pada kenangan buruk tentang perpisahan, biarkan, dia akan membaik nanti, yang lebih penting saat ini adalah menyembuhkan Ratih, kita harus cari tahu, bagaimana pelet itu masuk ke dalam tubuhnya, kau tahu, bahwa metode pelet itu banyak, ada yang dikirim dari jauh melalui foto dan rambutnya, ada yang melalui media seperti boneka, makanan atau barang-barangnya yang ditaburi pelet, setelah kita mendapatkan info bagaimana dia memelet Ratih, kita baru cari tahu jalan keluarnya.


“Alya bilang melalui makanan, sampai sekarang masih dilakukan melalui makanan yang diberikan pada Ratih setiap hari, Alya memberitahuku kemarin saat kita berkunjung ke rumahnya.” Aditia berkata.


“Wah kacau! Berarti dia menggunakan tiga elemen dalam tubuhnya, kulit Hendar yang dikerik, air kemih terakhir rambutnya sendiri. Tiga hal itu dicampur ke dalam makanan Ratih lalu dibacakan mantra pelet pemikat.”


“Menjijikan sekali!” Aditia kesal.


“Jin suka dengan hal-hal kotor, makanya hati-hati menerima makanan dari orang ya Dit.” Ganding berkata.


“Yasudah, sekarang siapkan bahan-bahan untuk membersihkan tubuh Ratih.”


“Apa saja yang dibutuhkan untuk membersihkan tubuh ratih?” Aditia bertanya.

__ADS_1


Ganding, Alka dan Jarni melihat Aditia dengan tatapan aneh.


__ADS_2