
Hampir dua bulan Darhayusamang tidak memanggil Meutia, Meutia sudah sangat rindu, tapi dia tidak boleh meminta atau mendatangi Darhayusamang, karena perjanjiannya adalah Darhayusamang yang boleh mengatur pertemuan.
Keadaan Meutia juga semakin lemah, setiap hari dia hanya tidur saja, dia merasa tubuhnya aneh, ditambah, sudah dua bulan ini dia tidak datang bulan, dia tidak tahu harus bagaimana, karena di jaman itu tahun delapan puluhan alat tes kehamilan belum begitu dipakai mandiri.
Makanya dia hanya merasa sakit pada tubuhnya, tidak curiga bahwa telah ada seorang anak dari dua dunia yang ada di perutnya.
“Kamu harus makan, tubuhmu harus sehat karena kalau Tuan memanggilmu kau harus sehat.” Ayah Meutia membujuk anaknya makan, sementara anaknya hanya ingin di dalam kamar saja seharian.
“Aku masih tidak enak badan Ayah.”
“Ini sudah dua bulan Nak, apakah kita dikerjai orang sampai kau sakit terus begini? aku curiga keluarga Haris mengirim guna-guna padamu.”
“Tapi Ayah apakah kau yakin? kenapa kau bicara seperti itu hanya sebuah kemungkinan?”
“Aku hanya sedang tidak bisa melacak saja, aku merasa ada energi jahat di sekitar rumah ini, tapi tidak bisa mendeteksi energi apa itu.” Ayahnya memberikan sebuah argumen yang masih tidak dicurigai.
“Baiklah, tapi aku tidak mau makan nasi, nasi membuatku ingin muntah terus, lalu bau ikan itu, sungguh mengganggu, aku hanya ingin makan ayam dan daging saja, Ayah minta tolong Pelayan siapkan semua makanan dari bahan yang aku sebutkan tadi, antarkan ke kamar saja, aku tidak mau makan di luar, aku ingin istirahat saja.”
“Baiklah, tapi janji makan yang benar ya.” Ayahnya lalu pergi keluar, dia sungguh takut anaknya celaka, padahal anaknya sudah mencelakai banyak orang.
Makanan sudah disiapkan untuk Meutia, seorang Pelayan masuk ke kamar, dia membawakan sup daging hangat tanpa nasi, dia menambahkan kentang yang cukup banyak sebagai ganti nasi.”
Meutia makan, Pelayannya itu sengaja menunggu, karena ayahnya Meutia menyuruhnya memastikan kalau makanannya habis.
“Enak, aku suka sekali sup ini.” Meutia senang sekali makan supnya, dia bahkan tersenyum saat makan itu.
“Bu apakah badan masih kurang terasa sakit?” Pelayan perempuan itu bertanya.
“Ya, masih sangat terasa sakit, semuanya terasa pegal, malas bangun dan makanan terasa tidak enak.”
“Bu, maaf, saya akhir-akhir ini tidak melihat baju yang terkena noda haid, apakah ibu sudah tidak haid beberapa waktu ini?” Pelayan itu bertanya lagi.
“Iya, aku memang sudah tidak haid selama dua bulan ini, memang kenapa?”
“Bu, maaf sekali ya, apakah ibu tidak sebaiknya ke Bidan? mau saya antar?”
“Kenapa saya harus ke Bidan?” Meutia sebagai seorang wanita yang tidak terlalu mengerti arti pernikahan sebenarnya tidak tahu bahwa kemungkinan hamil selalu saja bisa terjadi.
__ADS_1
“Karena itu adalah gejala orang hamil Bu.”
“Apa! kau bicara jangan sembarangan ya! aku tidak mungkin hamil karena ….”
“Bu, Pak Haris memang sudah tidak ibu akui sebagai suami, tapi jika memang anak itu ada, anak itu akan menjadi berkah Bu.” Pelayan itu sok menasehati.
“Aku ingin istirahat, kau keluar dulu.” Meutia gemetar, tubuhnya sangat ketakutan, tentu Pelayan itu mengerti, dalam pikirannya Meutia marah karena ayah dari anaknya adalah orang yang berniat mencelakainya, itu yang semua orang pikir.
Tapi yang mereka tidak tahu, yang membuat tubuh Meutia gemetar adalah jika benar dia hamil, maka kehamilannya jelas bukan karena hubungan pernikahannya dengan Haris, karena dia dan Haris tidak pernah melewati malam pertama, Haris sudah dibuat gila sebelum itu terjadi, jadi kemungkinan janin ini adalah milih makhluk yang paling tidak ingin memiliki bayi manusia.
Meutia menangis terus seharian, dia bahkan memanggil ayahnya untuk mencari jalan keluar.
“Kita keluarkan bayi itu dari dalam perutmu.” Ayahnya mengambil keputusan.
“Iya Ayah itu mungkin jalan terbaik, kita harus mengeluarkan janin itu sesegera mungkin sebelum Darhayusamang mengetahuinya, karena dia pasti akan membenciku dan menjauhiku karena aku tidak mampu menjaga diri dari kehamilan.”
“Aku akan memanggil seorang dukun urut yang biasa melakukan itu, tapi kita harus menjaga dengan baik semua informasi ini, Pelayan yang curiga kau hamil harus dilenyapkan, karena dia bisa menjadi sumber masalah.”
“Bagaimana caranya Ayah?”
“Aku akan memintanya pulang ke kota untuk menemaniku membeli keperluan, tapi nanti di tengah jalan aku akan menyewa centeng bayaran untuk menghabisinya, kita bisa berpura-pura di rampok, kau tahu, keluarganya tidak akan lapor Polisi asal kita beri uang, sedang seluruh Pelayan yang lain harus dipecat, kita harus mengeluarkan semua orang dari rumah, ini semua harus dilakukan hati-hati.”
“Tidak akan kubiarkan apapun menghancurkan kebahagiaan putriku.” Tentu maksudnya termasuk kebahagiannya karena harta itu.
Rencana dijalankan, perampokan palsu itu berjalan dengan lancar, Pelayan itu dilenyapkan dan dikembalikan ke keluarga dalam keadaan sudah menjadi jenazah, keluarganya tidak curiga dan menerima uang sebagai ganti ruginya, tidak ada yang berniat mengusut ke kantor Polisi untuk mencari peampoknya itu.
Lalu dukun urut dipanggil untuk melakukan rencana satunya lagi.
“Semua sudah disiapkan, tolong bantu ya Nek, janin itu harus dikeluarkan.”
“Iya Tuan, saya akan pastikan janin itu keluar.”
Kamar sudah disiapkan sebagai tempat jagal janin, Meutia sudah dalam posisi untuk diurut dibagian perut, pada bagian bawah tubuhnya diatas kasur, diletakkan kain jarik sebagai penahan darah yang mungkin akan keluar, ada baskom besi yang disiapkan juga untuk menampung janinnya nanti.
“Neng, ditahan ya, nanti pasti sakit banget.” Nenek urut itu berkata dan bersiap mengurut bagian perut, sementara kakinya Meutia sudah menekuk dan terbuka.
Nenek itu sebelumnya sudah memastikan bahwa memang Meutia hamil dan menerka bahwa kehamilannya sudah memasuki dua bulan.
__ADS_1
Pada urutan pertama, nenek urut itu sungguh kaget, dia mengurut seperti dengan sangat keras, tapi Meutia tidak kesakitan, nenek itu terus saja mengurut sampai setengah jam, Meutia masih saja bingung, tidak ada rasa sakit, tidak ada darah keluar, hanya peluh dari nenek urut saja yang terus saja mengalir sampai jatuh ke tubuh Meutia.
“Nek, kok nggak kerasa apa-apa sih?” Meutia akhirnya kesal dan bertanya.
“Ini Neng, aneh.”
“Aneh kenapa!” Meutia mulai gusar.
“Janinnya … janinnya lari!”
“Hah! jangan bicara sembarangan! mana mungkin janin lari, dia masih belum bisa bergerak, umurnya saja baru dua bulan!” Meutia protes.
“Ya, tapi setiap saya urut, dia berlari ke sisi lain, lalu saya kejar ke sisi satunya, dia lari lagi, aku tidak bisa menangkap bayi itu untuk di keluarkan, maafkan saya Neng, sepertinya janin ini tidak mau dikeluarkan.”
“Kata ayahku kau adalah dukun urut yang hebat, tapi apa yang kau katakana seperti sebuah kebohongan, kau hanya tidak mampu saja, buang-buang waktu! keluar kau!” Meutia mengusir nenek urut itu, dia kesal karena nenek urut itu tidak mampu mengeluarkan janinnya.
“Ada apa? kenapa kau mengusirnya?” Ayahnya Meutia sudah mengantar nenek urut keluar dari rumah, dia terlihat kesal dengan kelakuan Meutia, nenek urut itu terkenal mampu mengaborsi janin yang bahkan sudah besar, tapi untuk kasus Meutia tentu berbeda, ada campur tangan Tuhan yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun.
“Tapi dia tidak mampu mengeluarkan janinku, itu berarti dia tidak bisa!” Meutia kesal dan marah, janin itu masih ada di dalam tubuhnya.
“Tidak heran dia tidak mampu, karena ini anak Darhayusamang, tentu dia berbeda dari janin lain yang pernah ditangani oleh dukun urut itu, kita harus memikirkan cara lain.”
“Ayah, dukun itu apa tidak kita lenyapkan, dia bisa saja bercerita pada orang.”
“Tidak perlu, dukun itu jauh lebih banyak kelemahan dibanding dengan kita, jadi dia bisa jaga rahasia. Tapi jujur, aku tidak menyangka janin ini ternyata energi gelap yang aku rasakan mengelilingi rumah ini, aku pikir kau diguna-guna, tapi ternyata janin ini penyebabnya, baru janin saja sudah sebesar ini kekuatannya, apakah kau tidak ingin mempertahankannya?”
“Ayah kau gila? janin ini bisa menjadi malapetaka bagi kita.”
“Tapi, sayang sekali janin dengan kemampuan tinggi seperti ini kau sia-siakan dengan mengeluarkannya.” Dukun itu sungguh menganggap janin ini hanya sebagai objek saja, bukan seorang cucu yang harus dilindungi, sungguh Alka sangat tidak beruntung lahir dari janin seorang ibu yang buruk sifat.
Hari demi hari, akhirnya Meutia menjalani semua hal yang mungkin membuatnya mengeluarkan janin itu, seperti makan semua hal yang katanya bisa membuat janin gugur.
Jamu, nanas dan juga semua makanan yang bisa membuat perut terasa panas, tapi gagal, janin itu terlalu kuat, Meutia bahkan memukul-mukul janin itu dengan semua kekuatan yang dia punya, tapi janin itu masih bertahan, Meutia merasakan apa yang nenek itu katakan, dia bilang janin itu melindungi dirinya sendiri dari bahaya.
Saat ini adalah hal terakhir yang akan dia lakukan untuk membunuh bayinya, dia hendak menjatuhkan diri dari sebuah dataran tinggi di pegunungan, dia ingin agar janin itu gugur saat dia menjatuhkan diri, ayahnya menemani Meutia melakukan itu, detik-detik dia akan menjatuhkan diri sudah dekat, bahkan untuk naik ke gunung itu saja Meutia sudah kerepotan, tapi dia terus berusaha naik agar bisa cukup tinggi untuk bisa mencelakai bayinya, dia lupa bahwa dia sedang berhadapan dengan takdir.
__ADS_1