Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 48 : Janggit Benthangan 3


__ADS_3

“Ya, saya sempat terbangun ketika kecelakaan itu terjadi, saya berusaha membangunkan Sakidi tapi … tapi ada perempuan yang mengerikan itu lagi, dia mendekati saya sembari … sembari berkata ILA, dia terus mengulangnya sembari mendekati saya dengan wajah mengerikannya itu.” Pak Yatno menjelaskan sembari berusaha mengusir rasa takutnya.


“Aku pernah baca di buku ayah, di setiap tol di Negeri ini memang banyak luka mengerikan, akibat dosa pembangunan. Tapi, mereka kebanyakan sudah mengadakan perjanjian dengan para pemimpin desa, bahwa tidak akan saling mengganggu kecuali ada yang salah atau melanggar perjanjian. Makanya makin ke sini, korban kecelakaan semakin sedikit.”


“Perjanjian?” Pak Dirga bingung.


“Ya, waktu pembangunan tol jaman dahulu kala banyak sekali rakyat Negeri ini yang menjadi korban, ada yang bilang hal itu dijadikan alasan bagi para jin untuk menakut-nakuti manusia dengan perwujudan para korban, karena selayaknya manusia yang telah mati, harus kembali kepada Tuhannya.”


“Bisa saja Qorinnya yang tertingal di sana,” Pak Dirga berkata.


“Ya bisa saja, tapi Qorin juga adalah jin, Pak. Di sini letak masalahnya, tempat yang dijadikan tol kebanyakan adalah kerajaan para jin dan rakyatnya, walau kita berada di dimensi yang berbeda, tapi terkadang dimensi itu akan saling bertubrukan pada satu waktu karena ulah manusia atau ulah jin itu sendiri, berjalannya waktu, jalan tol sudah mulai digunakan, maka korban semakin banyak, kecelakaan dengan penyebab ganjil tidak terhitung lagi. Itu semua karena baik manusia atau jin tidak akur lalu saling kirim serangan ghaib, maka dari itu, para petinggi desa dengan kemampuan keberkahan yang tinggi dari Tuhan, akhirnya diadakanlah perjanjian, agar baik manusia maupun jin tidak saling mengganggu kecuali ada yang melakukan pelanggaran pada perjanjian itu.” Alka membantu menjelaskan.


“Tapi Nak Alka, kalau memang ada perjanjian, gimana caranya kita tahu kalau kita melanggar atau tidak, kan, tidak ada di Undang-Undang Negeri ini.”


“Ada Kitab Prasamaya, kitab itu mengunci dimensi manusia dan jin agar tetap tertutup dengan sempurna, kitab tersebut dipegang oleh para pemanggu desa, diturunkan ke anak cucu mereka, tapi tidak bisa dilihat oleh yang bukan keturunannya, kitab tersebut adalah kitab ghaib perjanjian antara jin dan manusia untuk tidak saling mengganggu.”


“Kamu pernah lihat kitab itu, Ka?” Aditia bertanya.


“Pernah, dulu sekali waktu sedang … menyusun peperangan dengan Ayi,” Alka tertunduk, lalu melanjutkan, “waktu itu kami harus membuat upaya memecah belah pasukan Ayi yang memang kerajaannya ada di jalan tol Neger ini, mereka semua termakan hasutan, makanya Ayi harus melipir ke seluruh hutan dan gunung Negeri ini, karena sisanya sudah dikuasai oleh kelompok ayahku.


Dan Kitab Prasamaya itu sudah terbubuhkan dua darah dari manusia dan jin sehingga jika ada salah satu yang melanggar, otomatis kitab itu akan membuka pintu gerbang dimensi dua alam dan mempersilakan siapapun untuk saling menyebrang demi memberikan … hukuman bagi pelanggar perjanjian.” Penjelasan Alka sangat panjang.


“Apakah Bapak melakukan suatu yang salah hingga harus melihat hal mengerikan itu?” Istrinya bertanya dengan nada menuduh.


“Saya tidak melakukan apapun, saya hanya datang ke Bandung melewati tol tersebut untuk tujuan bisnis, kami murni kerja tidak melakukan apapun yang salah. Kami juga tidak melakukan tabrak lari atau sejenisnya.” Pak Yatno berusaha membela diri.


“Terlalu awal jika kita menuduh Pak Yanto, harus diselidiki dulu, tapi kita tidak bisa ke sana Pak. Karena, kalau kami kesana beramai-ramai, kemungkinan setan itu tidak akan mau menunjukan diri, Bapak tahu sendiri, kami semua punya Khodam, sejenis dengan mereka, mereka akan saling mendeteksi, jadi maksudnya, gimana kalau Bapak saja yang pergi melewati tol itu.” Aditia bertanya pada Pak Dirga, Pak Dirga terlihat lumayan bimbang, dia selalu bisa membantu, tapi semua administrasi saja, bukan praktek lapangan melihat kejadian.


“Saya … apakah saya mampu? Kalau saya ternyata tenggelam dalam ketakutan seperti Pak Yatno bagaimana?” Pak Dirga bertanya.


“Pak, tenang aja, Adit jagain Bapak dari jauh.” Aditia menenangkan.


“Tapi Pak Yatno, apakah hantu itu sangat mengerikan?” Pak Dirga ternyata bertanya tentang testimony dari korban sebelumnya.


“Iya Pak, matanya bolong dan ….”


“Cukup Pak, sudah, kita langsung saja menuju lokasi malam ini, bagaimana?” Aditia melarang Pak Yatno untuk memberitahu lebih lanjut, takut Pak Dirga jadi ketakutan.


“Kamu yakin Dit, Pak Dirga mampu?” Ganding bertanya, Aditia dan Ganding sedang sedng menuju ke angkot mempersiapkan kepergian Pak Dirga.


“Alka sih yakin, kalau aku nggak begitu yakin.”


“Kapan Kak Alka ngomong?”


“Tadi, loh, kalian nggak denger?”


“Hah? Wah elu berdua udah komunikasi batin? Gila, udah makin tinggi ilmu lu Dit.”


“Hah? Nggak kok, tadi pas Pak Yatno jelasin, gue sama Alka ngobrol, lu aja kali nggak denger.”


“Di grup ini, pendengaran gue itu yang paling baik, maksudnya fokus gue baik, Kak Alka pasti udah buka jalur komunikasi batin sama lu, tapi cuma manusia yang punya ilmu tinggi yang bisa denger, contohnya Bapak. Salut gue sama lu, anak cupu udah tinggi ilmunya sekarang, kita aja nggak ada yang mampu terima komunikasi batin dari Kak Alka.”


“Bentar deh, anak cupu? Jadi selama ini dalam pandangan kalian, gue anak cupu? Termasuk Alka?”


“Nggak tau deh, kalau Jarni, Hartino sama gue, selalu anggap lu anak bawang, cupu.” Ganding meledek, Aditia panas hatinya.


“Kurang ajar kalian!” Aditia menepak bahu Ganding, sementara Ganding tertawa melihat reaksi sahabatnya.

__ADS_1


Mereka berdua lalu kembali ke ruang perawatan setelah mempersiapkan segalanya, Alka terlihat sedang tertunduk di pojok ruangan, dia diam saja, mungkin semedi, sementara Jarni duduk di samping kakaknya, dia adalah adik yang paling setia.


Sementara Hartino ngobrol di samping Pak Dirga, dia memang seorang yang ramah dan suka membangun relasi.


“Udah Dit?” Hartino bertanya.


“Udah siap, sekarang tinggal tunggu magrib aja, abis magrib, Pak Dirga jalan,” Aditia berkata.


Pak Dirga terlihat sudah siap walau ada sedikit rasa takut.



Waktu sudah petang, mereka solat magrib berjamaah, selesai solat, Pak Dirga pergi dengan mobil jeep Polisinya, dia berjalan menuju tol itu, titik di mana Pak Yatno sempat akan menepikan mobilnya.


Pak Dirga berkendara sendirian, dia sudah minum kopi dan makan cukup, sehingga tubuhnya tetap fit untuk berkendara.


Pak Dirga terus melajukan mobilnya, ada sedikit rasa takut, tapi dia coba menenangkan diri. Sekarang sudah lumayan dekat dengan lokasi, mungkin sekitar satu kilometer lagi, karena dia tadi harus keluat tol dulu lalu putar balik dan masuk tol, posisi hantu itu berada ada di arah tol Jakarta, sedang Pak Dirga dari Jakarta. Makanya, dia harus putar balik dulu keluar tol lalu masuk lagi.


Pak Dirga terus mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang konstant dengan peraturan lalu lintas, semakin lama semakin dekat dengan lokasi yang dituju, dia semakin deg-degan. Ada rasa takut yang menyelusup sekaligus rasa tanggung jawab yang besar sebagai aparatur Negara.


Sudah sangat dekat lokasinya, dia terus mengemudi, tapi tidak diketemukan apa-apa di sana, tidak ada siapa-siapa, bahkan bayangan saja tidak ada, memang di titik itu gelap sekali, tidak ada lampu jalan, karena lampu jalan berjarak, kebetulan pada titik itu tidak ada lampu yang meneranginya.


Pak Dirga kesal karena tidak ada wanita itu, dia lalu terus berkendara, mencari jalan keluar tol terdekat, putar balik, masuk tol lagi, lalu keluar tol, putar balik masuk lagi untuk mencapai titik hantu wanita itu.


DIa terus berkendara, saat sudah dekat, sial! Tidak ada apapun lagi, Pak Dirga kesal karena harus mengulangnya, dia keluar tol lagi, lalu menelpon Aditia.


[Dit, Bapak udah kelaur masuk tol bolak-balik dua kali nih, kok nggak ada apa-apa ya?]


[Hmm, sebentar saya pastikan lagi.]


[Bu, maaf, bisa saya berbicara dengan Pak Yatno.] Aditia tanpa basa-basi langsung minta disambungkan dengan Pak Yatno.


[Ya, ini saya Dit, gimana?]


[Pak, inget nggak, jam berapa pas kejadian itu terjadi?] Aditia bertanya.


[Hmm, itu sekitar jam dua belas malam, waktu itu kami masuk tol jam sebelas malam, lalu ketika peristiwa itu terjadi hamper jam dua belas, jadi sekitar jam itu Dit.]


[Baik, berarti ini masih terlalu cepat, sekarang baru jam 8 malam, lalu apakah Bapak ingat melakukan apa sebelum masuk tol? Seperti buang sampah, berbicara kotor atau ngelantur, pokoknya sesuatu yang negatif.]


[Seingat saya sih, nggak ya Dit, sebentar saya ingat-ingat dulu, kami masuk tol, lalu ngobrol seperti biasa saja, tidak lama kemudian saya  merasa bahwa udara di dalam mobil jadi dingin, lalu Sakidi katakan untuk menaikan suhu AC, tapi saya tidak merasa itu karena AC-nya, tapi karena udara di luar memang seperti mendung, lalu tiba-tiba Sakidi melihat sosok yang kami kira meminta bantuan di pinggir jalan.]


[Baik jam dua belas malam, udara menjadi dingin, coba ingat-ingat Pak, obrolan kalian tentang apa? Coba diingat lagi.] Aditia memaksa.


[Saya rasa tidak ada lagi … sebentar, kami sempat membicarakan tentang proyek perusahaan, lalu obrolan itu menjadi ngalor ngidul tentang bos kami, tapi apakah itu berpengaruh?]


[Mungkin, bisa jelaskan lebih detail Pak?]


[Jadi saat kami ngobrol tentang bos kami itu, Sakidi bilang bahwa kesal sekali, kadang menyuruh mereka berdua dinas pada hari libur bukan hari kerja, jadinya terkadang tidak ada waktu buat keluarga. Lalu kami bergurau, gimana kalau kita berdua sesekali ajak bos untuk dinas dan meninggalkannya di tengah jalan, pasti dia jadi ketakutan, itu hanya obrolan sambil lalu saja, apakah itu penyebab kami kecelakaan?] Pak Yatno merasa semakin menyesal.


[Bukan obrolannya Pak, tapi hati kalian, apakah pada saat membicarakan tentang bos itu, hati kalian merasa sangat kesal dan marah?]


[Iya betul Dit, jujur saat membicarakannya saya merasa sangat marah dan kecewa hingga saya sesekali mengumpat di dalam hati, mungkin Sakidi juga sama.]


[Baiklah, sekarang saya sudah tahu gimana cara memancing hantu wanita itu. Terima kasih Pak, selamat malam.]


Lalu Aditia menelpon Pak Dirga kembali.

__ADS_1


[Pak, kita tunda sampai jam 12 malam saja, jadi sekitar jam setengah dua belas Bapak baru jalan lagi, sekarang masih jam delapanan. Jadi istirahat saja dulu, selain itu saat Bapak sudah dekat dengan titik hantu itu memunculkan dirinya, Bapak harus memikirkan sesuatu yang tidak baik mengenai seseorang, dalam hati Bapak, fikirkan orang yang Bapak paling benci.]


[Lah kok gitu? Kalau lebih malam ok, tapi memikirkan orang yang kita benci sulit, Bapak kayaknya nggak punya deh orang yang sangat Bapak benci.] Pak Dirga menjawab melalui telepon dengan bingung.


[Ok, kalau memang Bapak nggak punya orangnya, coba ingat-ingat kejadian yang bikin kesal sampai Bapak rasanya ingin sekali memukul orang itu, walau sekarang Bapak tidak membencinya, tapi kalau ingat kejadian itu Bapak kesal kembali.]


[Oh kalo itu ada, kamu kenal orangnya tuh, Dit.]


[Siapa, Pak?]


[Alya! Bapak kalau ingat kejadian itu, rasanya ingin sekali memukul anak gadis licik itu.]


Wajah Aditia mendung, dia mengingat kejadian wanita yang pernah dia cintai dulu.


[Yaudah Pak, nanti kalau sudah mau jalan, berkabar ya.] Aditia menutup telepon.


“Kenapa?” Alka bertanya, mereka semua ada di angkot Aditia, bersiap untuk menyusul Pak Dirga jika butuh sesuatu.


“Nggak apa-apa.” Aditia terdiam.


“Jadi, apa yang Pak Dirga ingat untuk memunculkan hal negative dalam dirinya?” Alka bertanya lagi.


“Tentang, seseorang.” Aditia menjawab singkat.


“Siapa?” Entah kenapa Alka penasaran.


“Alya ….”


“Oh pantas kau terlihat sendu, rindu dia ya?” Alka bertanya sambil senyum sinis.


“Tidak! Sama sekali tidak.” Aditia menjawab dengan mimik wajah kesal.


“Kalian berdua kenapa sih? Diem-dieman sembari liat-liatn gitu, ceritain Dit, tadi Pak Dirga ngomong apa, malah liat-liatan sembari diem-dieman.”Hartino bertanya.


“Wah, kalian berdua komunikasi batin lagi ya!” Ganding protes, Aditia lagi-lagi tidak sadar sedang komunikasi batin dengan Alka.


“Emang kalian tidak dengar kami berdua ngobrol tadi?”


“Tuh kan, bener, ati-ati mereka berdua pengkhianat!” Ganding kesal karena mereka berdua saja yang bisa komunikasi batin.


“Bisa pada diem nggak! bisa serius!” Alka kesal.


Seketika semua hening.


Waktu menunjukan pukul setengah dua belas malam, Pak Dirga sudah mengabari Aditia dan kawan-kawan bahwa dia sudah mulai jalan lagi masuk tol.


Pak Dirga sedikit mengantuk karena ini sudah sangat malam, kendaraan juga tidak terlalu banyak walau ada satu dua mobil lewat jalan tol ini, sebelum sampai titik pertemuan dengan hantu itu, Pak Dirga buru-buru mengingat kejadian dengan Alya, hatinya seketika menjadi kesal dan kecewa, udara menjadi dingin sekali, Pak Dirga mulai merasa tidak enak hati.


Dari kejauhan dia melihat seseorang, tidak, itu sesosok, dia terlihat seperti seorang wanita mengenakan gaun hitam dan kacamata hitam dari kejauhan, sementara tangannya seperti meminta bantuan untuk diberi tumpangan.


Pak Dirga mengendarai mendekati wanita itu, begitu semakin dekat, terlihat jelaslah bahwa persis seperti yang Pak Yatno katakan, tubuh itu penuh darah dan matanya bolong, bukan gaun merah dan kaca mata hitam seperti saat terlihat dari jauh.


Semakin mendekat, Pak Dirga mendengar hantu wanita itu membisikkan sesuatu.


“Ila … Ila … Ila ….” Saat semakin dekat udara semakin dingin, ketakutan yang dirasakan semakin tinggi juga, mobil terus melaju mendekati perempuan itu, tapi semakin dekat, Pak Dirga akhirnya tidak kuat, semakin dekat, wajah itu begitu mengerikan, dia sontak kaget dan mencoba untuk kabur kembali ke tengah jalan, dia merasa jalanan sepi dan cukup aman baginya kembali ke jalan, dia hendak membanting setir kembali ke jalanan, tapi aneh, tangannya tidak bergerak sama sekali, tangannya tertahan, setir itu tetap menuju hantu wanita, Pak Dirga terus mencoba menggerakkan tangannya tapi gagal, bahkan kakinya juga, seluruh tubuhnya pun tidak bisa dia gerakkan sama sekali.


“To-to-tolong!!!” Pak Dirga bahkan tidak bisa berkata, dia hanya berteriak dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2