
Metode serang langsung yang dikatakan Parmin diadopsi oleh lima sekawan saat ini, mereka turut membawa Parmin ke tempat itu, karena mereka butuh saksi.
Hari kedua setelah kemarin sempat membuat Heru dan Melati dalam tubuh Winda menerima mereka di rumah, sekarang mereka semua sudah berada lagi di sana, waktu yang mereka pilih adalah malam hari, memastikan bahwa semua orang ada di rumah bisa menerima mereka.
“Mau apa kalian?” Heru terlihat khawatir begitu membuka pintu, sudah ada enam orang yang jelas tujuannya bukan bersilaturahmi.
“Kami mau bertemu dengan Winda, orang tuanya bingung, karena anaknya lebih sering di rumah kekasihnya dibanding di rumahnya sendiri.” Rupanya Melati dalam tubuh Winda mengatakan bahwa Heru adalah kekasihnya pada orang tua Winda, agar diizinkan untuk selalu ke rumah Heru, padahal itu semua cuma alasan saja.
Parmin sudah membantu kawanan dengan mengkonfirmasi bahwa Winda memang jarang pulang ke rumah sejak dia keluar dari hutan itu, orang tuanya mengeluh.
“Urusan apa kalian dengan urusan Winda? Kalian mau kutelepon Polisi agar ditangkap?” Heru mengancam.
“Wah ide bagus tuh, sekalian serahkan dokumen ini pada Polisi.” Hartino melempar amplop dokumen berwarna coklat yang cukup tebal.
“Apa ini?”
“Sampaikan ini pada seluruh orang rumahmu, ini hanya copyan, kami memegang dokumen cadangannya, setelah kalian yakin, buka pintu lebar-lebar untuk kami.” Ganding mengancam.
Heru lalu masuk ke dalam rumah, dia terlihat sangat gugup menerima amplop coklat itu.
Tidak butuh waktu lama Heru kembali dan membuka pintu itu lebar-lebar.
Hanya ada kakaknya Melati, suami dan juga Melati dalam tubuh Winda, dia terlihat mendampingi kakaknya.
“Jadi kalian bermaksud mengancam keluarga kami?” Suami kakaknya bertanya.
“Di mana orang tua kalian?” Ganding bertanya.
“Mereka sedang mengurus bisnis di luar kota.”
“Sudah sangat tua, masih saja sibuk mengurus bisnis, bisnis klenik?” Ganding sudah tidak menaruh respect sama sekali pada mereka.
“Bukan urusan kalian, jadi apa maksud kalian membawa dokumen ini? kalian ingin uang?” Kakak iparnya Melati bertanya.
“Uang? bagaimana kalau uangmu kubeli?” Hartino kesal dengan kesombongan kakak iparnya Melati, pasti karena selama ini dia mendapatkan posisi tinggi di perusahaan gajah mereka, makanya dia terlihat sangat angkuh.
“Jadi mau kalian apa?” Kakak iparnya masih terliha tenang, dia bahkan semapt menyeruput tehnya.
“Kami ingin kau keluar dari tubuh Winda.” Aditia langsung menunjuk Melati, mereka tidak perlu saling bersandiwara lagi.
“Maksudmu apa?” Winda terlihat tersenyum dengan licik, itu bukan Winda, dia melepas rangkulannya pada kakaknya sendiri dan berdiri.
Dia melihat dokumennya, membawa dokumen itu dan melemparnya.
“Kalau kalian menyerahkan ini ke Polisi, kami bisa sogok Polisinya, jikapun sampai ke pengadilan, aku masih bisa menyogok semua orang di sana, jadi ... apa yang perlu kami takutkan? Uang adalah sesuatu yang bisa menjadi jalan keluar bagi masalah kami, apapun itu.” Melati duduk lagi di samping kakaknya.
Tenang aja Kak, Mel akan selalu ada di samping kakak. Mereka hanya serangga yang akan segera keluar dari rumah kita.” Melati begitu percaya diri.
__ADS_1
“Siapa bilang kami akan menyerahkannya ke Polisi, kami akan menyerahkannya ke publik, kami akan beberkan apa yang keluarga kalian lakukan kepada keluarga para korban yang mungkin sekarang sudah lupa tentang kecelakaan itu, bus 404. Ketika itu terjadi, bahkan kakakmu dibunuh oleh keluarga korban, melalui perantara Samidi, dukun brengsek itu.
Jika kami akhirnya membuka kembali luka masa lalu itu, apa kau pikir keluarga korban akan diam, mereka jadi punya alasan, mungkin untuk membantai kalian.” Ganding mulai memainkan perannya sebagai orang yang hebat dalam negosiasi.
Melati dalam tubuh Winda terlihat mulai gusar.
“Siapa yang akan percaya bahwa kejadian itu pesugihan? Itu justru tidak masuk akal, aku akan meminta keluargaku untuk menyangkal itu dan menjadikan mayatku sebagai bukti, bahwa aku korban yang harusnya dikasihani, keluarga akan mendapatkan dukungan.” Melati masih terus mencoba bertahan dengan tubuh Winda.
“Kalau mayatmu diketemukan, kau tahu kan, apa akibatnya? Kau tidak akan menjadi jiwa yang tersesat lagi, kau akan menjadi jiwa yang dikuburkan dengan layak dan dimintai pertanggung jawaban oleh malaikat, sudah siap?” Hartino mengejek karena kebodohannya Melati, iblis bodoh.
“Coba saja, tidak akan ada yang percaya, kami pasti bisa membungkam banyak orang dan kehidupan akan kembali tenang.
“Tante, tapi itu akan membahayakan bisnis keluarga kita yang sudah dibangun dengan susah payah oleh kakek, nenek dan juga ayahku!” Heru protes.
“Kau pikir bisnis siapa yang membuat aku mati!” Mata Melati dalam tubuh Winda memerah, dia terlihat sangat marah.
“Tante! Aku mohon, kau akan mengorbankan kakakmu, kakak iparmu, keponakanmu dan juga orang tuamu!” Heru mencoba membujuk, kawanan bersiap, takut kalau Melati akan nekat.
“Diam kau bocah ingusan, kalau kau yang mati, pasti ayah ibumu akan melakukan hal yang sama untukku! aku yakin itu.” Melati mencekik leher Heru agar dia diam, Heru diam karena takut.
“Keluar kalian, aku tidak mau melihat kalian lagi, kalau kalian masih memaksa maka aku akan mencelakakan tubuh wanita ini lebih cepat, tanpa kalian ketahui ....”
Tubuh Winda tiba-tiba terguncang, Heru menjerat tubuh Winda dengan tali pinggang, dia melakukannya sangat cepat, membuat kawanan juga kaget, tidak mengira bahwa Heru akan melakukan itu.
Takut kalau tubuh Winda akan mati, Kawanan lalu membujuk Heru untuk melepaskan tubuh itu.
“Dia bukan Winda, dia wanita iblis!” Heru berkata dengan kasar kepada Ganding.
“Lepaskan dia, kami akan membuatnya keluar dari tubuh itu.”
“Tidak mungkin! Dia takkan keluar dengan sukarela.”
“Kami sudah mempersiapkan semuanya Heru, lepaskan dia, kau akan membuat Winda kehilangan tubuhnya!” Ganding kesal karena tubuh Winda itu terlihat sesak nafas karena jeratan tali pinggang dari belakang tubuhnya yang dilakukan oleh Heru.
“Kalau aku lepas, apa kalian yakin bisa membuatnya secara sukarela untuk keluar dari tubuh Winda?” Ganding meminta garansi.
“Yakin! Bukankah kau sudah melihat kemampuan kami, hanya kami yang bsisa membawa kembali Arif dan Nola, serta membuat semua jiwa tersesat di dalam bus itu pulang?” Ganding meyakinkan, Heru melepaskan jeratannya, itu membuat Winda mengunakan kesempatan itu untuk mendorong Heru dan berusaha untuk lari ....
“Kau pikir kami anak kemarin sore, semua areal terlah dilumuri Jarni dengan bisa ular ghaibnya, kau tidak akan bisa keluar.” Ganding tertawa, Heru sekarang berdiri di belakang kawanan, dia takut, walau dia salah, tentu dia juga sudah membantu kawanan membuat Melati panik.
“Pergi kalian! Pergi!” Melati berteriak.
“Kami akan pergi, tapi kembalikan dulu tubuh Winda.” Aditia berkata dengan tegas.
“Tidak akan!” Melati berteriak, teriakannya itu membuat semua kaca jendela pecah, itu adalah kekuatan iblis yang Melati miliki karena keserakahan yang luar biasa, dia sudah bukan hanya jiwa tersesat saja.
Aditia dan kawanan menahan serangan Melati, sementara, Heru masuk ke kamar orang tuanya dan di depan pintu kamar itu Jarni memasang pagar ghaib, agar Melati tidak bisa masuk dan mencelakai keluarganya sendiri.
__ADS_1
“Kalian tidak tahu rasanya diperlakukan tidak adil! Sakit sekali jantungku, sakit sekali saat dukun itu menusukku dan menguras habis darahku untuk diberikan pada jin itu.
Kemana kalian saat aku dibunuh? Kemana kalian!” Tubuh Winda menghitam, itu adalah refleksi dari dendam yang Melati rasakan, dia menyerang kawanan, Jarni menarik Parmin agar menjauh, dia juga dibuatkan pagar ghaib agar tidak bisa dicelakai, Parmin terlihat sangat bersemangat, diusia tuanya, mendapatkan pengalaman seperti ini adalah suatu hal yang sangat menyenangkan baginya, seru katanya.
“Melati menyerang yang terdekat, Aditia, dia menyerang Kharisma Jagat, saat dia mencoba untuk mencekik Aditia, Aditia menahan tangannya dan berusaha untuk mendorong Melati dalam tubuh Winda, tapi karena dia wanita, Aditia tidak ingin mencelakainya, terlebih itu tubuh Winda, sungguh sangat menyebalkan baginya.
“Ka, Jar, kalian deh yang hajar nih cewek, aku sama Ganding nggak enak, takut kepegang bagian yang tidak semestinya.” Adiita meminya Alka dan Jarni melakukannya.
“Siap Bos.” Alka maju, dia lalu menarik rambut Winda menangkap tubuh Winda yang terlihat hampir jatuh ke belakang, karena tarikan dari Alka, Alka menangkap tubuh itu dan menjatuhkannya di sofa, dia ingin menghajar Melati, tapi itu tubuh Winda, makanya Alka akhirnya memilih untuk menghajarnya di sofa, dia menekan perut Melati dengan dengkulnya, Jarni mendekati mereka dan menahan kepala Winda. Melati dalam tubuh Winda itu berusaha melepaskan diri, tapi tidak bisa.
“Keluar kau!” Jarni menarik jiwa Melati dari ubun-ubunnya, tapi tidak berhasil.
Melati tertawa, itu membuat Alka dan Jarni jadi bingung dan berhenti menyiksa Melati.
“Aku menggunakan mantra yang cukup kuat untuk menempel pada tubuh ini, jika bukan karena inginku, aku takkan bisa dikeluarkan, kalian tahu itu kan, makanya kalian ingin aku keluar secara sukarela dengan ancaman dokumen itu.
Kalian pikir aku Melati yang dulu, Melati dungu yang bahkan tidak tahu pekerjaan orang tuanya, hingga dia menjadi korban.
Bahkan setelah meninggalpun, aku harus ketakutan sendirian di hutan itu karena jadi jiwa yang tersesat.
Kalian pikir ini mudah bagiku! Aku sangat takut saat harus terjebak di hutan itu.
Aku mohon, izinkan aku untuk tetap di tubuh ini, aku akan kembalikan tubuh ini dengan sehat dan selamat, kali ini saja, aku mohon.” Melati akhirnya memohon, tapi itu tentu tidak dapat menipu kawanan, karena bagi pejuang Pasundan, pantang lembek pada jin atau ruh yang penuh tipu daya, kami pejuang Pasundan, tidak bernegosiasi, tapi kami menghajar mereka, jadi jangan harap lima sekawan akan menyiapkan sajen, itu bukan ciri khas Kharisma Jagat.
“Dit, kerismu mana?” Alka meminta keris Aditia. keris mini yang tumpul bagi manusia, tapi tajam bagi jiwa yang tersesat maupun jin.
Aditia memberikan kerisnya Alka bersiap untuk menghujam keris itu di dadanya Melati. Dia bermaksud mengancam saja.
Dia lalu menekan dada Winda yang kerasukan Melati itu dengan keris mini, Melati berteriak, dia kesakitan. Tapi masih belum mau keluar juga.
“Keluar kau, kalau kau masih memaksa di tubuh Winda, kau akan hancur lebur oleh kerisnya, karena keris ini, memang untuk membunuh jiwa yang tidak mau menurut untuk pulang karena merasa waktu hidupnya masih belum tuntas, masih ingin hidup.”
“Tidak akan!” Suara Winda berubah menjadi suara iblis, dia benar-benar terlihat mengerikan.
Alka semakin menekan keris itu, Melati kesakitan, rasanya lebih sakit dibanding dulu saat dia dibunuh Samidi hingga akhirnya dia mati.
“Lepaskan! Sakit!” Melati berteriak.
“Keluarlah, kau harus kembali ke sisi Tuhan! Keluarah!” Jarni meminta Melati keluar, tapi dia masih bertahan, itu membuat kawanan lumayan takjub, karena keris ini pasti sangat sakit menusuk jiwa Melati.
“Aku takkan keluar, lebih baik aku mati atau musnah daripda harus ikut kalian!” Melati menolak.
“Baiklah, itu maumu ya, aku akan membunuhmu di sini, biar sekalian kau musnah! Dasar Melati yang tidak berguna, kata siapa kau cerdas? Kau hanyalah jiwa sesat yang mencoba ingin mengambil hidup orang lain!” Ganding mulai bernegosiasi tanpa disadari oleh semua orang, dia menyentuh ranah paling sensitif, yaitu validasi negatif pada Melati, dia ingin Melati merasa rendah diri dan akhirnya lemah, saat mereka sedang berusaha membuat Melati keluar dari tubuh Winda, tiba-tiba dua orang masuk ke rumah dengan kasar, mereka berteriak melihat Winda yang sedang diserang oleh Alka dan Jarni, seorang lelaki asing berlari dan mendorong Alka serta Jarni agar melepaskan anaknya, ya! dia adalah orang tua Melati.
Alka dan Aditia kaget, karena kedua orang tua Melati, tidak hanya sendirian, dia membawa beberapa jin dalam wujud binatang, berbulu, tinggi besar dan matanya merah.
Kawanan tahu, mereka seharusnya lebih sering untuk pemanasan, karena makin ke sini, kebutuhan bertarung sangat tinggi.
__ADS_1