
Ruang penyelidikan ricuh, semua orang bingung dengan keadaan Ardin yang penuh luka hampir di seluruh tubuhnya, yang paling parah adalah wajah.
Mereka semua berkumpul di ruang penyelidikan, tidak ada lagi yang berada di ruang alik kaca, semua ingin melihat fenomena aneh ini, karena dalam ingatan mereka adalah, Ardin terus menyangkal, sedetik kemudian Ardin sudah penuh luka.
“Cek CCTV aja Pak.” Alka tahu dengan jelas bahwa adaCCTV di setiap sudut kantor Polisi ini, akhirnya salah satu penyelidik mengambil file rekaman CCTV di ruang control dan membawanya di ruang penyelidikan, Alka dan yang lainnya melihat apa yang terjadi.
Dalam rekaman CCTV itu terlihat semua orang terdiam, sementara Alka, Aditia dan Ajimantrana berlari ke luar ruangan kaca dan masuk ke dalam ruang penyelidik, Ardin terekam sedang menyiksa dirinya sendiri, dalam rekaman Alka dan Aditia terlihat mencoba membuka pintu ruang penyelidikan dengan paksa dan akhirnya mencoba mencegah Ardin bunuh diri, tentu … ini semua adalah rekaman palsu yang dipotong-potong, sehingga mendukung alibi Alka dan Aditia, rekaman mereka meminum kopi sambil melihat Ardin menyiksa dirinya sendiri, padahal Ajimantrana yang melakukannya di dalam tubuh Ardin, tidak ada, karena sudah dibersihkan oleh Hartino, si jagoan IT, dia sudah memastikan semua masuk akal, bahkan ruang kontrolpun tadi sempat di hipnotis oleh Ajimantrana sehingga Hartino bisa mengambil rekaman asli, memotong rekaman sesuai kebutuhan mereka, lalu memasukkan kembali filenya.
Tidak ada yang sadar, tentu saja, berkat bantuan Ajimantrana dan juga Hartino, kerja tim yang selalu memukau.
“Apa yang dia lakukan pada kita semua?” Tanya salah satu penyelidik.
“Dia kemungkinan sudah menggunakan ilmu hitam untuk menghipnotis kalian, dia bermaksud untuk bunuh diri karena tahu tidak akan selamat, tapi kami berhasil mencegahnya, tapi sayang ….” Alk menunjuk mulutnya Ardin lalu melanjutkan perkataannya, “lidahnya tidak bisa kami selamatkan, dia memotong lidah itu sendiri tepat sebelum kami masuk. “ Alka berakting seolah dia menyesal karena terlambat, padahal dia yang menyuruh Ajimantrana memotong lidah Ardin dengan keris mini Aditia, Aditia sempat keberatan, tapi Alka memerintah Ajimantrana, Aditia sempat marah, tapi Alka tidak perduli.
“Terima kasih kepada kalian, karena kalian kasus ini akan berakhir baik, dia akan dihukum dengan setimpal, walau sekarang dia tidak bisa bicara banyak bukti yang membuat dia bisa dijebloskan ke penjara, tentu saja Pengadilan tidak bisa memakai jasa penerjemah bagi terdakwa yang berkebutuhan khusus baru seperti Ardin karena dia tidak bisa bahasa isyarat, apalagi melihat kondisi seluruh jarinya yang hampir hancur itu, dia pasti kesulitan untuk menulis dan memberikan jawaban kelak di pengadilan.” Pak Polisi terlihat tersenyum melihat itu, karena akan sulit bagi Ardin untuk membela dirinya dan menyangkal pembunuhan itu, karena Alka sudah membuat Ardin tidak mampu melakukan apapun.
“Pak, saya kenal pengacara yang mungkin mau menangani kasus Ardin, dia pasti mau menerima Ardin sebagai clientnya, saya dengar tidak ada yang mau menangani kasus dia kan pak?” Tanya Alka, lalu Polisi itu setuju mempertemukan Pengacara kenalan Alka dengan Ardin.
Setelah selesai, Alka, Aditia, Ajimantrana berkumpul di gua Alka, mereka akan membahas rencana selanjutnya.
“Ok, jadi apa yang kurang jelas menurut kalian?” Alka membuka sesi bertanya.
“Kenapa kau harus memotong lidahnya?” Hal yang sangat ingin Aditia ketahui, karena terasa sangat kejam dan bukan dalam ranah mereka untuk melakukannya.
“Ada yang bisa bantu jawab nggak?” Alka berkata pada yang lain.
Ganding mengangkat tangan, “Lebih tepatnya, lidah dan jari-jari tangan Dit. Kak Alka nggak cuma memotong lidah tapi juga melukai tangan Ardin dengan parah agar dia tidak bisa menulis dengan jari-jarinya, ini berfungsi untuk pengadilan nanti, Kak Alka tidak mau dia mengulur waktu di persidangan, Kak Alka ingin dia cepat dihukum dengan ketidakmampuannya mengatakan dan menulis apapun sebagai peyangkalan, makanya lidah dan jarinya dirusak oleh Kak Alka. Ardin belum bisa bahasa Isyarat, jadi dia sama sekali tidak punya alat komunikasi untuk melakukan penyangkalan lagi.”
“Ganding cerdas.” Alka memuji.
“Tapi, bagaimana jika dia meminta menjawab dengan menunjuk abjad-abjad dan menjadikan serangkaian kalimat, kan bisa aja, dia nanti sama Pengacaranya menggunakan cara itu sebagai cara untuk memberikan pernyataan.”
“Elu lupa, Pengacaranya kan dari Alka, aku kan, ya Ka?” Ajimantrana memastikan.
“Iya kamu, nanti Ajimantrana akan menyamar menjadi Pengacara, lebih tepatnya meminjam wajah salah satu kolega Pengacara kita yang merupakan Indigo juga, biasa bantu kita. Aji akan menjebak Ardin, sehingga cara dia memberikan pernyataan adalah dengan menunjuk abjad-abjad lalu menjadikannya serangkaian kalimat pembelaan, tapi tentu saja ….”
“Tentu saja aku akan mengarang abjad yang ditunjuk oleh Ardin, dari pernyataan pembelaan, menjadi pernyataan pengakuan, jadi nanti rangkaian kalimat yang dibuat Ardin melalui penujukan abjadnya adalah, AKU MEMBUNUH MEREKA SEMUA.” Semua orang tertawa dengan perkataan Ajimantrana.
“Kenapa harus dilakukan dengan memotong lidah Ka? Kan bisa aja, Aji masuk lagi ke tubuh Ardin dan mengendalikan dia supaya mau memberikan pernyataan pengakuan, lebih mudah dan kita tidak perlu mengotori tangan dengan darah dari lidahnya.” Aditia masih merasa janggal.
“Pertama, tubuh lelaki itu bau busuk, aku tidak ingin masuk lagi, menjijikan, penuh dosa dan kedengkian, kedua, kemungkinan dukun yang membantunya akan kembali membantu dia lagi, bisa jadi pengadilan akan menjadi arena pertarungan bagi kita, berbeda dengan ruangan penyelidikan kemarin, di persidangan dukun itu bisa saja datang. Alka mengambil cara yang mudah dan menimbulkan korban paling sedikit, makanya dia lebih baik mengorbankan lidah Ardin dan juga seluruh tubuhnya, termasuk jari-jari, daripada salah satu dari kita atau malah manusia biasa yang nanti akan jadi korban karena ada di pengadilan.” Ajimantrana menjelaskan kembali.
“Baik itu semua masuk akal, tapi, aku yakin, ada alasan personal kan, Ka?” Aditia masih kekeh ingin Alka jujur.
“Maksud lu apa sih Dit? Maksud lu Kak Alka cuma karena kesal atau benci aja makanya dia memotong lidah Ardin?!” Hartino kesal karena Aditia suka bicara seenaknya.
“Mereka yang ingin kau lindungi kan, Ka?” Aditia mengabaikan perkataan Hartino.
__ADS_1
“Dit!” Hartino mendorong Aditia, Ajimantrana juga terlihat kesal, mereka ingin menghajar Aditia.
“Ya, kau benar, aku ingin melindungi semua sanak keluarga Pak Nanto dan juga Ardin, jika dia akhirnya mengaku, maka pasti pernyataan itu akan membuat luka hati yang dalam bagi keluarga yang ditinggalkan, jika dia terus menyangkal dan akhirnya siding berlarut, maka keluarga Ardin yang tidak bersalah, akan kena imbasnya oleh sanak saudaranya sendiri, persidangan ini harus secepatnya selesai, cukup satu pernyatan dari Ardin kalau dia membunuh tanpa harus memberikan pernyataan seperti apa dia membunuh, maka semua orang bisa cepat sembuh dari luka batin kehilangan keluarga.”
“Tapi kau tahu kan, Ka, kalau itu seharusnya tidak boleh dilakukan, kau menghukum Ardin dengan inisiatifmu, padahal itu Haknya Tuhan.” Semua orang diam dan hening, selama ini tidak ada yang mengkoreksi semua sikap Alka, Alka menatap Aditia, dia lalu tersenyum.
“Hanya kau yang bisa mengatakan dan melihat itu, tentu aku tahu, aku tahu aku salah, tapi aku juga masih setengah manusia, siapa yang tahan, melihatnya menghabisi anak kecil bahkan adiknya sendiri, aku bukan malaikat Dit, aku masih punya emosi dan hati.” Alka berkata lalu pergi, semua orang terdiam saja, lupa bahwa mereka terkadang kelewat batas.
“Gue fikir elu anak kecil, tapi gue sekarang mulai ngerti sih, kenapa Alka … ah sudahlah, aku pamit ya, nanti kalau ada kasus di gunung lagi, jangan lupa panggil aku, aku suka ngerjain kasus rumit kayak gini.” Ajimantrana lalu menghilang.
“Dit, kita juga balik ya, lu masih mau di sini?” Ganding pamit bersama Jarni.
Hartino sedang tiduran di kasur Alka.
“Lu nggak balik?” Aditia bertanya.
“Bentar lagi deh.” Dia tampak sedang asik dengan gadjetnya.
Aditia juga memilih istirahat di samping Hartino, naik gunung dan turun lalu harus menghadapi semua masalah ini beberapa hari menyita semua energi Aditia dan juga mungkin semua orang.
…
Aditia pagi ini akan berangkat kuliah, sudah beberapa hari off dari kasus, setelah kasus tersesesat selesai dan Ardin dipenjara seumur hidup, semua terasa tenang sekali.
“Dit, ini uang dari mana lagi?” Ibunya bertanya.
“Oh itu, uang dari kerjaan freelance Adit bu, kan sekarang Adit suka bantu-bantu beberapa perusahaan design websitenya, jadi itu bayarannya.” Aditia berbohong, itu adalah kekayaan yang diwariskan padanya, Aditia memlih mengikuti cara ayahnya untuk tetap tidak memberitahu ibu dan Dita, satu hal yang Aditia jaga, agar ibunya tidak sedih, karena kemarin pun, Aditia terasa sakit saat tahu itu, biarlah Aditia menjaga amanah ayahnya seperti yang dia inginkan.
“Hebat kamu, bikin apa tuh, web-web itu, orderan kue ibu juga makin banyak Nak, Alhamdulillah semenjak ayah tiada, kita masih bisa bertahan, kamu capek ya kuliah sambil kerja?”
“Nggak kok Bu, karena Ibu dan Dita, Adit jadi semangat kerja, tujuan hidup Adit saat ini, menjaga amanah ayah bu, jadi yang penting Ibu sama Dita doain aja terus ya.”
“Pasti Nak, sekarang Adit hati-hati ya, apa kamu nggak malu bawa angkot kuliahnya, nggak beli motor aja Dit, biar kamu keliatan keren kayak anak kuliah lainnya.”
“Ah Ibu, nggak perlu, Adit lebih suka naik angkot, jadi kalau sempet tinggal narik, dah ya Bu, Adit jalan dulu.” Aditia salim lalu pergi kuliah.
Dia hanya perlu berkendara selama lima belas menit, lalu sampai, saat memarkir angkot mobilnya dia melihat ada kerumunan orang di dekat pintu masuk kampus, memang dari gerbang ke pintu masuk agak jauh, dia merasa penasaran lalu menghampirinya.
“Ada apa sih?” teman satu tingkatnya ada di sana, jadi Aditia bertanya padanya.
“Itu si Ami Dit, dia pingsan lagi.” Jawab temannya Adita.
Ami adalah Mahasiswi yang akhir-akhir ini pingsan terus, umurnya mungkin dua puluh satu tahun, mirip seperti Aditia. Lagi-lagi dia pingsan, Aditia belum sempat melihatnya walau dia sedang trending sebagai mahasiswa yang sering banget pingsan.
Ada yang bilang dia cari perhatian kakak kelas, ada yang bilang dia penyakitan da nada yang bilang dia sedang hamil, tapi hamil di luar nikah, perkataan orang memang terkadang kejam-kejam.
“Pingsan doang di kerubungin, udah yuk masuk kelas, kelas bentar lagi mulai loh.” Aditia mengajak temannya itu.
__ADS_1
“Bukan soal itu Dit, jadi tadi katanya, pas digotong, si Ami baunya busuk banget, jadi nggak sengaja kelempar dah tuh tubuhnya, karena pas mereka bawa, bener-bener bau busuk, akhirnya dia dibawa sama penjaga kampus, yang aneh, katanya baju sama celanaanya Ami basah.”
“Basah kenapa? keujanan?” Aditia masih meledek.
“Bukan bodoh, katanya itu basah karena … karena ….”
“Karena apa sih!” Aditia keburu kesal, temannya mendramatis informasi ini.
“Karena nanah dari sekujur tubuhnya.”
“Astagfirullah, lu pada ngasal ah, masa nanah dari sekujur tubuhnya, yang bener kalau ngomong.”
“Serius Dit, katanya penjaga kampus, pas digotong, badannya terasa korengan gitu, karena dia kalau pake baju tipis-tipis gitu kan, makanya terasa banget di tangan, kayak korengan gitu, pas keteken korenngya, tiba-tiba keluar nanah dah tuh badannya si Ami.” Teman Aditia seperti mau muntah mengatakan itu, kalau bau busuk berasal dari nanah seluruh tubuhnya, tidak heran sih kampus jadi heboh, mereka pasti mengira yang tidak-tidak.
Baru juga istirahat dua hari, masa harus nanganin kasus lagi, Aditia menghubungi Ganding dulu, hanya untuk menemaninya, karena Ganding selalu lebih bijaksana, Alka nanti saja, sudah dua hari ia naik gunung sendiri, membalas hari dimana kami tidak jadi naik gunung, dia memang cinta sekali naik gunung, Aditia sempat kesal karena takut Alka bertemu Ajimantrana, tapi akhirnya membiarkan dia naik sendiri, karena jadwal kuliah Aditia padat.
[Nding, bisa ke kampus gue nggak, tapi entar aja datengnya dua jam-an lagi, jangan sekarang, gue ada kelas, kayaknya ada kasus lagi nih, gue mau lu liat dulu orangnya.] kata Aditia di telepon.
[Iya, akhirnya ada kasus lagi, bosen gue di rumah aja.]
[Makanya kuliah lah, biar nggak bosen.]
[Baru kelas S2, ntar dulu lah.]
[Oh iya ya Nding, gue lupa kalau lu udah S2, beda emang kalau anak cerdas mah.]
[Cerdasnya nggak apa-apa, asal jangan lu samain gue ama si Ardin gila harta itu.]
[Nggak akan gue samain, elu mah baik, makanya ntar dateng ke kampus gue ya.]
[Iya bawel, yang lain ajak nggak?]
[Jangan dulu, takutnya ini Cuma keparnoan gue, bukan kasus, keep dulu, sampai kita berdua yakin.]
[Baik tuan muda Aditia.]
[Jijik ah!] Adiita menutup telepon.
Sekilas Aditia melihat ada yang tidak beres dengan ruangan dimana perempuan itu ditidurkan, dia melihat asap putih tebal, tapi hanya sekilas, dia tidak yakin, makanya akan membawa Ganding, semoga ini hanya kasus sakit biasa, bukan kasus yang harus mereka berdua tangani.
Kelas sudah akan mulai, Aditia bergegas ke atas, ruang kelasnya ada di lantai tiga, dia berlari kecil agar sampai di kelas dengan cepat.
“Dit … Dit ….” Aditia terdiam, dia merasa ada yang memanggil, tapi entah suara dari mana, apa hanya perasaan? Aditia melanjutkan jalannya.
Tapi dari kejauhan ada seorang perempuan sedang memperhatikannya, dia terlihat sedih melihat punggung Aditia, dia terus memperhatikan Aditia sampai tidak terlihat lagi karena sudah masuk kelas.
______________________________
__ADS_1
Catatan Penulis :
Tersesat tamat ya, kita masuk ke kasus baru, masih pada suka? Atau udah bosen, kasih tau kalau udha bosen ya, kita tamatin aja kalau bosen, masuk judul baru, tapi kalau masih banyak yang suka, ya kita lanjutin.