Angkot Jemputan

Angkot Jemputan
Bagian 382 : Toko Emas 12


__ADS_3

“Jadi apa alasanmu masuk ke kamar itu?” Papinya bertanya pada anaknya yang baru saja dioperasi.


“Aku hanya ingin lihat saja.”


“Bukankah kau tahu apa isi kamar itu?”


“Kenapa aku tidak boleh masuk? ada apa di sana Pi?”


“Kau tahu ada apa  di sana.”


“Tidak ada, aku tidak lihat.”


“Tapi dia liaht kamu! itu yang kami tidak inginkan!”


“Salah kalian masih saja menahan kamar itu tetap ada, seharusnya kamar itu dibuka dan dikosongkan, bukannya malah ditutup.”


“Kau masih tidak merasa bersalah!” Papinya kesal.


“Tidak, aku tidak salah.”


“Kau Itu sudah dewasa, tidak seharusnya kami masih bertanggung jawab padamu, seharusnya kau yang berbakti pada kami, tapi sekarang kau bahkan masih menumpang hidup pada kami.”


“Aku anak kalian, ANAK KANDUNG KALIAN! Lalu kenapa aku harus susah payah sementar orang tuaku mampu!” Anak pemilik toko itu berkata dengan lantang.


“Setelah kau sembuh, kau harus lebih mandiri, tinggal di sini dan jangan pulang, kami yang akan mengunjungimu di apartemen ini, mengerti!”


“Aku ingin di rumah bersama kalian.” Anak itu merajuk


“Tidak, kau tidak diizinkan pulang lagi.”


“Kalian sungguh sangat jahat, kapan aku boleh pulang!”


“Setelah kami tiada!”


Mendengar itu anak pemilik toko emas itu kaget dan menangis.


“Mau sampai kapan kalian memujanya! Mau sampai kapan!”


“Sampai kami mati!” Maminya datang dengan kesal dan berteriak kepada anaknya.


“Mami dan papi kalian sama saja!”


“Ini semua salahmu! Ini semua salahmu!” Maminya kesal dan hendak memukul anaknya, tapi dihadang oleh papinya dan melerai pertengkaran itu.


Papinya menarik mami ke luar dari kamar, dia awalnya hendak memberi pengertian pada anaknya, tapi selalu saja gagal.


“Kau jangan berbuat kasar padanya, kau harus menahan diri.”


“Aku kesal, karena kalau tidak karena dia! pasti kita takkan begini!” Pemilik toko emas itu menangis karena kesal.


“Sudah ditakdirkan memang begini jalannya, kita harus menerima.”


“Capek aku Pi, kau pikir aku tidak lelah melakukan ritual dari Babah, ritual itu membuat kita semakin lemah, membuat kita semakin sakit, lalu kalau kita kenapa-kenapa, siapa yang akan menjaga kamar itu. Sedang anak kita bisa menjaga dirinya, dia sudah dewasa, kelak jika kita tiada, maka uang mampu menyelamatkannya, tapi bagaimana dengan kamar itu!”

__ADS_1


“Mami, cukup! Sekarang kau istirahat dulu ya, kau pasti lelah karena tiga hari ini kita harus melakukan ritual terus menerus di kamar itu.”


“Aku memang butuh istirahat.”


Maminya akhirnya pergi ke kamar dan tidur.


...


“Nci mana? Kok nggak jaga toko kayak biasa?” Sum yang sedang melayani bersama dengan pembantu senior dari pemilik toko itu ditanya.


“Masih jagain anaknya yang jatuh dari tangga.”


“Oh, trus anakmu gimana Sum?” Karena pelanggan mereka kebanyakan adalah warga sekitar, jadi sudah saling mengenal satu sama lain, hingga kabar sakit anaknya Sum itu terdengar.


“Ya gitu, kadang sembuh, kadang demam lagi, trus sembuh trus demam lagi.”


“Udah dikerok belum? Pakai bawang Sum, masuk angin itu, kalau udah dikerok ntar baikan deh.”


“Udah ... tapi nggak tega aku.”


“Nggak apa-apa kan bawang mah nggak bikin sakit, paling merah doang Sum.”


“Bukan itu, orang belum di kerok aja, punggungnya memar, dari leher ke punggung, tangan juga memar, nggak tahu kenapa, aku tanya anaknya aja nggak tau kenapa, aku juga tanga tetangga, siapa tahu ada yang lihat kalau anakku dipukul atau dianiaya, tapi nggak ada yang lihat, aneh banget. Aku kadang mikir, apa anakku diguna-guna?”


“Eh soal memar, jadi ingat emaknya si Amanda, Almarhum Sum, dia juga punggungnya memar, sama kayak anak lu, apa ini virus ya Sum?”


“Hah, serius? Aku juga agak kaget tuh, pas dia beli emas di sini, keadaannya baik-baik aja, sehat banget keliatannya, tapi malah tiba-tiba dapat kabar meninggal.”


“Dia juga beli emas di sini sebelum meninggal?” Si calon pembeli tiba-tiba mulai berikir liar.


“Beli kalung juga?” Calon pembeli itu bertanya, sedang dia lagi memegang kalung yang dai taksir.


“Sum, nggak jadi ah.” Dia mengembalikan kalung itu.


“Lah, kenapa?”


“Nggak apa-apa, udah ah, saya pulang dulu ya, besok-besok aja lagi ke sini beli kalungnya, baru inget belum matiin kompor.” Calon pembeli itu bergegas untuk pulang, saat dia berkendara dengan motornya dan hendak pulang, anaknya yang menemani untuk beli kalung itu bertanya.


“Kok nggak jadi beli sih Bu? Katanya mau beli kalung, biar entar arisan pake kalung gede.”


“Nggak ah, takut, itu si Sum anaknya sakit, Sum kerja di toko emas, trus ibunya Amanda meninggal abis beli kalung di toko emas itu, jangan-jangan toko emasnya pesugihan, yang beli ditumbalin lagi.”


“Ih, apaan sih Bu, jadi takut.” Anaknya yang baru berumur 15 tahun itu ketakutan.


“Mau bilangin ibu-ibu yang lain ah, takutnya pada beli emas di sini jadi pada dijadiin tumbal.”


“Iya Bu, bilangin aja, kasihan kan kalau ada yang jadi tumbal.”


Ibu sama anak sama saja, padahal berita itu hanya asumsi.


...


“Cari apa Mas? Mbak? mau beli mas kawin ya?” Sudah mau sore dan Sum melihat sepasang anak muda mampir di toko emas itu.

__ADS_1


“Iya, cari mas kawin.” Aditia asal jawab, Alka memukul bahunya, Aditia hanya tersenyum nakal.


“Mau emas putih atau kuning?” Sum bertanya.


“Yang kuning aja, yang 24 ya.” Aditia seperti mengerti saja kadar emas, dia ingat pernah mengantar ibunya beli emas untuk hadiah ulang tahun Dita, kejutan ceritanya, makanya Aditia yang menemani, biasanya dia selalu ditemani Dita kalau ke pasar beli apapun, tapi karena kejutan makanya akhirnya Aditia yang menemani ibunya, ibunya selalu beli emas 24.


“Oh, yang di sini kalau 24, kalau masnya mah yang paladium ya? kita juga bisa buat loh Mas. tinggal pilih aja modelnya nanti kita buat paladiumnya.”


“Iya boleh.”


“Kalau buat kakaknya mau yang mana Mas?” Sum menawarkan cincin untuk mempelai wanitanya, dia menyangka Alka butuh cincin itu untuk mas kawin.


“Bentar, sini lihat dulu sayang, kamu mau cincin apa?”


Aditia menarik tangan Alka, bukannya senang, Alka malah terlihat jijik dengan panggilan sayang, toh kalau mereka benar nikah, takkan membeli cincin jadi, pasti mereka akan membuat cincin eksklusif yang hanya dibuat untuk mereka berdua, cincin yang mungkin akan sangat istimewa hingga mampu menjadi jimat penjaga untuk anak cucu, mengingat Alka mahir membuat ramuan dan mantra.


“Hmm, yang mana ya?” Alka terlihat bingung, ralat ... memperlihatkan wajah bingung.


“Ini bagus nih.” Alka menunjuk cincin paling besar.


“Wah bagus banget pilihannya, ini 8 gram, cincin paling besar, tapi tangannya cukup nggak ya, kebesaran kayaknya.


Sum mengeluarkan cincin yang dipilih itu dan memberikannya pada Alka untuk dicoba.


“Iya kebesaran ternyata.”


Aditia melihat cincin itu terlihat sangat besar di jari manis Alka.


“Yang lain aja coba, yang ini nih, matanya banyak dan manis, cuma 5 gram, pasti muat.”


“Tapi saya sukanya yang gede-gede kayak gini Bu.” Alka menolak, Aditia menatap Alka tahu bahwa dia sedang mengerjai Aditia, dia ingin Aditia membeli cincin itu untuknya. Karena berani-beraninya mengerjai.


“Ya sudah kalau suka yang ini beli saja yang ini.” Aditia menyerah.


“Kalau paladiumnya gimana?” Sum menawarkan lagi


“Pemilik tokonya mana ya Bu?” Aditia tiba-tiba bertanya, Sum kaget.


“Ada apa ya Mas?”


“Saya mau minta diskon, soalnyai Ncinya kenal kok sama saya. Biasa beli sama dia  di sini.”


“Hmm, nggak ke sini Nci, anaknya kecelakaan, jadinya dia nggak ke sini.”


“Minta alamat rumah bisa?” Aditia masih mencoba.


“Duh, kalau itu ....” Alka menjentikkan jari dan Sum terlihat menatap kosong ke depan.


“Kelamaan,” Alka berkata.


Dia lalu menanyakan alamat rumah pemilik toko emas itu pada Sum yang sedang di gendam. Lalu mereka hendak pergi,


“Dit, tapi aku beneran suka cincin ini ya.” Alka mengingatkan, lain waktu dia ingin cincin itu dibeli, Alka terlihat nakal dan menggoda.

__ADS_1


“Kau kan, beli seluruh emas di sini saja aku mampu.”


“Kau sombong sekarang!” Alka dan Aditia bergegas setelah saling menggoda.


__ADS_2